
Amc dine-in fashion district 8
Tepat seperti yang diharapkan Hana, Cloud menuruti permintaannya untuk menonton sebuah film di bioskop yang terletak fashion district. Tempat yang tepat untuk berkencan, dan film bergenre horor tidak telalu buruk.
Keduanya duduk di kursi yang berada di sudut atas ruangan. Cloud sengaja memilih tempat disana, tentu atas persetujuan Hana.
Yeah... bagi gadis itu, dimana saja asal bersama Cloud tidak akan menjadi masalah untuknya.
Film yang diputar sudah berjalan satu jam lamanya. Beberapa kali Hana menguap, dan ia berusaha menahan rasa kantuknya.
Sekilas Cloud memperhatikan Hana, kemudian ia menarik sisi tubuh Hana, merangkul bahu dari kekasihnya itu. Reflek, Hana menempelkan kepalanya di atas bahu lebar Cloud.
Dalam dekapan Cloud, Hana mendorong tangannya untuk memegang tepian jaket denim yang dipakai Cloud dan meremasnya. "Cloud, " panggil Hana dengan tempo pelan. Hana mulai jenuh. Entah karena alur film yang sedang berlangsung membosankan atau memang karena ia sebenarnya tidak menyukai film bergenre horor yang menjadi penyebabnya.
"Hmm, " Cloud bergumam seraya menggerakan kepalanya, mengalihkan pandangan dari layar besar yang berada di depan untuk membalas tatapan Hana lalu ia pun tersenyum samar. "Ada apa? Kau mulai mengantuk?" Cloud membawa jemarinya menyentuh pipi Hana.
Hana menapas dalam. "Sedikit," jawab Hana lalu ia pun mengerjap.
"Tidurlah, kalau begitu!" Perhatian Cloud, ibu jarinya bergerak mengelus permukaan wajah Hana.
"Tidak mau." elak Hana, nada suaranya terdengar merengek manja. Hana tidak ingin melewati untuk tidak menatap kekasihnya meski ruangan bioskop keadaan tamaram sekalipun.
Cloud menyukai suara lembut manja Hana, lantas ia mengeram gemas. Dikecup kening Hana, pelan dan dalam namun berhasil membuat jantung Hana berdebar-debar. Hana memejamkan matanya dan tersenyum, menikmati ungkapan rasa kasih sayang dari kecupan manis kekasihnya itu.
"Cloud," Hana memajukkan tubuhnya ke depan dan sedikit miring untuk menatap Cloud dengan leluasa. "Bagaimana jika kita mengobrol. Sungguh aku sangat jenuh. "
Cloud tertawa pelan, karena tidak ingin mengganggu penonton lainnya yang menikmati film. "Baiklah, Nona. Apa perlu kita keluar dari sini dan pergi ke tempat lain?"
"Ku rasa itu tidak perlu Cloud, abaikan saja penonton disini, terutama netijen yang senyum-senyum membaca kisah kita." Bisik Hana.
"Sekarang, katakan makanan apa yang kau sukai Cloud?" tanya Hana, manik coklatnya terlihat antusias. Dia belum pernah menanyakan makanan kesukaan kekasihnya dan berniat akan belajar membuat makanan tersebut.
"Lasagna, spaghetti carbonara, steak, dan sandwich berisi daging asap dengan keju yang melimpah." Cloud terdiam sesaat, ia menghela nafas panjang merasakan ada sesuatu yang menghantam hatinya.
"Kenapa kau terdiam Cloud? Apa hanya itu saja?"
"Ah, aku jadi rindu dengan sandwich buatan ayah."
Cloud tersenyum samar, namun maniknya berubah nanar. Hana memperhatikan lekat wajah kekasihnya, dan tangannya mengenggam tangan Cloud dan membawa ke atas pangkuannya. "Kau pasti sangat merindukan ayahmu." Cloud pun mengangguk.
Hana menghempaskan tubuhnya kebelakang. Memeluk tubuh Cloud, Hana dapat merasakan gemuruh di dalam tubuh kekasihnya dan ia juga merasakan tarikan napas Cloud yang berhembus tidak beraturan. Dengan satu tangannya, Hana memberikan sentuhan dari jemarinya untuk menenangkan kekasihnya itu.
"Bagaimana kabar Ibu, Cloud?" tanya Hana memecah keheningan yang terjadi beberapa menit yang lalu.
Cloud menundukkan wajahnya, dan memandang Hana. "Ibu sangat baik Hana. Beberapa kali ibu bertanya-tanya tentangmu."
" Kau serius, Cloud??" tanya Hana. Manik Hana menyipit dan meruncing.
Cloud langsung menjawab dengan gerakan di kepalanya.
"Apa yang ditanyakan?" Hana memajukan kembali tubuhnya. Ia tidak bisa menepis rasa penasarannya. Apa sekiranya yang ditanyakan ibu dari kekasihnya itu. Hana tidak bisa menerka, namun ia memiliki firasat yang baik dengan sosok wanita yang melahirkan kekasihnya itu. Jelas, kesan pertama bertemu dengan Ariana pada saat ia mengembalikan jaket milik Cloud, wanita itu begitu hangat seperti Ibunya.
"Ceritakan Cloud!" Hana mulai menuntut, namum memohon. Persis seperti Abangnya bukan.
"Ibu menanyakan kabarmu, dan menanyakan prihal tentang kita."
"Lalu kau jawab apa??" sungguh rasa penasarannya tidak memudar. Belum puas dengan jawaban Cloud yang menggantung. Kali ini ia penasaran dengan jawaban Cloud atas pertanyaan Ibunya.
"Mendekatlah!" titah Cloud. Hana begitu saja melakukan intruksi dari sang kekasih, tidak mengetahui jika dibalik semua ada maksud tersembunyi.
"Katakanlah Cloud." Hana mendekat, lalu menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinganya.
Cloud tersenyum dan bibirnya pun mendekat hingga hembusan nafasnya mengenai kulit Hana. "R-a-h-a-s-i-a," ejaan Cloud di akhiri kecupan singkat di pipi Hana yang nyaris mengenai bibirnya.
Dasar kang sosor!! otor said
"Shhh....Cloud." Hana mendesis pelan, rona alami langsung muncul di sisi wajahnya. "Kau sangat menyebalkan." Suara Hana yang melengking dan menggema, berhasil membuat penonton terganggu dan menoleh ke arah mereka.
Hana menyapu tatapannya mengitari ruangan, lanjutnya ia mendesah pelan seraya memundurkan tubuhnya, dan merosot pelan. Sumpah demi apapun, rasa-rasanya ia ingin menenggelamkan dirinya sendiri ke dasar lautan.
Cloud berusaha menahan rahangnya agar tidak melepaskan tawanya. Sungguh kelakuan Hana yang polos adalah suguhan menarik yang membuatnya terhibur.
"Ini ulahmu Cloud, " bisik Hana, gemas. Mendelik, pun ia mendengus kasar.
"I'm sorry..." Ucap Cloud serius dan tulus.
"Tidak ada maaf bagimu," Hana berpura-pura memalingkan wajahnya, dengan kedua tangan yang menyilang diatas dadaanya. Hana berusaha senetral mungkin, padahal dalam hatinya ia ingin di rayu.
"Please maafkan aku," ucapnya Cloud lagi. Hana masih bergeming. "Aku akan membelikanmu es krim rasa vanila dengan toping coklat kacang, jika kau memaafkan. "
Hana menatap kekasihnya dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya. "Baiklah aku akan memaafkanmu, Cloud. Tetapi, tepati janji mu terlebih dahulu."
"Aku akan memepati janjiku. Selanjutnya kita akan berkencan kemana, hmm?"
"Ke rumahmu, bagaimana? Aku ingin sekali bertemu dengan Ibu mu Cloud."
"Baiklah. Aku pastikan ibu akan menyambutmu dengan suka cita."
Akhirnya penayangan film pun selesai. Mereka beranjak dari sana dan menuruni anak tangga. Beruntung tidak terlalu ramai, Cloud dan Hana, tidak perlu mengantri untuk keluar dari ruangan tersebut.
🍃🍃🍃
"Dua tiket untuk dua orang, Nona." Permintaan Ayden kepada seorang wanita yang berprofesi sebagai kasir.
"Baik, sir... Mohon untuk menunggu."
Ayden berdiri di depan meja kasir dengan Alana berada disampingnya. Ya, setelah menikmati makan siang bersama, Ayden begitu saja memutuskan harapan Alana. Pria itu mengajak Alana untuk menonton sebuah film.
Sembari menunggu, Ayden mengehentak-hentakan ujung jemarinya diatas meja. Pandangannya memeriksa ke setiap sudut ruangan, dan maniknya berhenti begitu ia melihat adiknya yang baru saja keluar dari lorong bersama seorang pria.
"Ha-na... "
Nah lohhh ketauan kan 🤣 selanjutnya kira kira apa yang terjadi hayooo.. Kuy tinggalkan komen n likenya. Terimakasih ❤