
Kecurangan adalah hal paling tidak pantas yang bisa dilakukan seseorang kepada orang lain. Jika kamu tidak bahagia dalam suatu hubungan, akhiri sebelum memulai yang lain. (unknown)
...****************...
"Siang Albert," sapa Mariana begitu ia membuka pintu ruang kerja teman kampusnya. Albert seorang investigator yang di beri kepercayaan oleh Mariana untuk menyelidiki adanya perselingkuhan yang dilakukan Chalk.
Albert meluruskan pandangannya, tersenyum saat ia melihat Mariana. "Siang Mariana, masuklah." Pria bermata biru itu pun berdiri.
"Bagaimana kabarmu Mariana?" tanya Albert, ia mengambil berkas yang baru saja ia cetak. Berkas berisi tentang bukti-bukti yang ia dapatkan.
"Entahlah, membaca pesanmu membuatku resah." Jujurnya. Selama perjalanannya dari panti asuhan miliknya ke kantor Albert. Mariana dilanda rasa gelisah dan tidak tenang. Ada rasa takut, jika kecurigaannya kepada Chalk benar adanya.
Albert mengangguk mengerti. Ia begitu memahami perasaan Mariana saat ini. "Duduklah, Mariana."
Mariana pun duduk di sofa panjang, di ikuti Albert. Pria itu mengambil posisi disamping Mariana seraya meletakkan beberapa lembar kertas diatas meja.
"Fakta apa yang kau temui Albert?" tanya Mariana tidak sabar. Ketahuilah, ia memiliki firasat jika kecurigaannya benar.
Albert menghela napasnya yang memberat. "Kecurigaanmu terhadap Chalk, memang benar adanya Mariana. Suamimu berselingkuh."
"Be-benarkah?" bibirnya bergetar dengan kata-kata gagap. Ia tidak memutus pandangannya kepada Albert hanya untuk memastikan lagi. Meskipun ia sudah mencurigai Chalk, namun fakta yang di ucapkan Albert sungguh sulit untuk ia terima. Seperti mimpi buruk yang begitu nyata. Ia tidak menyangka jika suaminya benar-benar bermain curang. Selama ini Chalk selalu menciptakan kebahagiaan untuknya, membuatnya melambung, dan hari ini fakta yang mengejutkan telah menghempaskannya.
Albert mengangguk, membalas menatap temannya mengiba. "Iya Mariana, semua bukti sudah aku dapatkan. Suamimu menjalin hubungan dengan seseorang wanita bernama Amora." Jelasnya.
Mariana mengerjap pelan. " Ya Tuhan," lirih Mariana, ia tersenyum miris. Dugaannya selama ini benar, bahwasanya pelayan itu yang menjadi kekasih dari suaminya. "Sejak kapan mereka menjalin hubungan Al?" Mariana berusaha setegar-tegarnya, menahan rasa sakit dihatinya.
"Hampir satu tahun lamanya, Mariana."
Mariana menutup mulutnya, irisnya nampak berkaca-kaca. "Selama itu.... Kenapa aku baru menyadarinya." Keluh Mariana sulit untuk percaya.
Mariana menatap lembaran-lembaran yang berada di atas nakas. Dengan tangannya bergetar, Mariana mengambil lembaran tersebut, dan melihat bukti yang dikumpulkan Albert.
"Ini sangat menggelikan." Kekeh Mariana, melihat foto Chalk dengan Amora yang nampak keluar dari hotel. Chalk begitu mesranya memeluk pinggang Amora, keduanya nampak tersenyum bahagia. Dan foto berikutnya, mereka berciuman.
Mariana berdecak. "Dasar, tidak tau malu, mereka menghabiskan waktu di hotel, dan.... " Mariana kembali mengingat saat ia pulang dari Prancis, ia menemukan helaian rambut milik wanita siaalan itu. "Bahkan, di ruangan kerja Chalk, entah apa yang mereka telah lakukan disana. Apakah mereka bercinta?" Mariana lagi- lagi tertawa.
"Oh astaga, bagaimana bisa Chalk memiliki selera yang begitu murahan Albert. Ah ya aku mengetahuinya, wanita itu sangat cantik, memiliki tubuh yang sangat seksi, bibir bawahnya tebal, dan juga mulus. Tidak seperti diriku, yang berpenampilan sangat sederhana. Jauh dari seleranya. Lantas, kenapa dia menerima perjodohan diantara kita!"
"Mariana, hei tenanglah. " Albert mengelus pundak Mariana, merasa khawatir. Ekspresi Mariana terlihat kacau, dan sangat menyedihkan. Banar-benar terlihat buruk.
"Mereka sangat cocok bukan?" tanya Mariana lagi seraya menunjukan foto Chalk kepada Albert. Albert hanya bergeming, enggan menanggapi pertanyaan Mariana. Tepatnya, ia tidak tau harus menjawab apa atas pertanyaan Mariana.
"Aku ingin mengetahui, apa yang diberikan suamiku kepada wanita istimewa itu."
Mariana membuka lembaran berikutnya berisi transaksi yang dilakukan Chalk dengan nominal yang tidak sedikit. "Wow fantastik!! tidak heran jika wanita itu begitu mulus, dan wangi. Ternyata suamiku begitu perhatian kepadanya dengan memberikan uang sebanyak-banyaknya. Aku yakin jika pelayanan itu melakukan perawatan di salon yang terbaik. Jawablah Albert, apakah ucapanku benar??" Albert masih bergeming.
"Ck, kenapa kau hanya diam?" tanya Mariana melangsa. "Kau tidak seru Albert!!"
"Mari kita lihat lembaran berikutnya." Dengan cepat Mariana membuka lembaran kertas berikutnya, dan memperhatikan setiap detail isi kertas tersebut.
"Roland," Mariana mengernyitkan dahinya, melihat ada nama mantan kekasihnya disana. Lalu, ia kembali menatap Albert, menuntut penjelasan.
"Eghm..." Albert berdeham. "Dari bukti transaksi akhir.... Roland membeli sebuah apartemen dan juga satu unit mobil atas nama Amora." Jelas Albert sontak membuat Mariana terkejut. Mariana menyimpulkan jika Roland mengetahui semua.
"Artinya, Roland mengetahui jika suamiku berselingkuh?" Mariana sedikit menaikan nada suaranya satu oktaf, ia tidak percaya.
"Yah, aku rasa seperti itu Mariana. Roland mengetahui hubungan Chalk dengan wanita itu." Jelas Albert dari sudut pandangannya. Ia mengetahui jika Roland berkerja dengan Chalk. Ya, kemungkinan Roland melakukan sesuai apa yang diperintahkan Chalk, tentunya ada ancaman membuat Roland mengiyakan kemauan rivalnya.
Albert mengenal baik siapa Roland. Pria itu pernah menjalin hubungan dengan Mariana. Namun, harus kandas karena Mariana menerima perjodohannya dengan Chalk. Sampai saat ini, dia masih menyimpan perasaanya terhadap Mariana. Terbukti, Roland betah melajang sampai saat ini.
Mariana tertunduk lesuh. Ia menatap nanar ke arah pijakannya. Kedua tangannya bergetar, Ia mencengkram kertas yang masih berada di genggamannya untuk meluapkan emosinya. Marah, sedih, kecewa melebur jadi satu. Dan pada akhirnya air matanya yang mengenang sejak tadi, tumpah membasahi pipinya. Mariana pun terisak.
"Apakah ini sebuah hukuman untukku, Albert?" lirih Mariana, disela tangisannya. Punggungnya pun bergetar hebat.
"Tidak Mariana... " singkat Albert.
"Lalu kenapa?? Apa kesalahanku??" tanya Mariana yang lagi-lagi tidak ada jawaban. "Mereka mempermainkanku, Albert!!"
"Mereka mempermainkanku." Ucap Mariana lagi, ia menutupi sebagian wajahnya.
"Aku harap kau bisa tenang Mariana. " Albert mengelus punggung Mariana yang masih bergetar.
Mariana mencengkram erat kepalanya tangannya. Tubuhnya terasa lemas seakan-akan ada bebatuan berat yang memikul di punggunya. "Bagaimana aku bisa tenang?? hatiku telah hancur. "
"Sungguh ini sangat menyiksa." Maria menyeka air matanya. Lagi, ia terseyum lirih, dan wajahnya pias.
"Aku telah kalah Albert, aku kalah."