
"Of course..." Chalk merabai pinggang Mariana, tangannya bergerak kebawah. Menyelinap ke bawah gaun Mariana, ia menyentuh bookong istrinya, dan meremas dengan gemas.
Mariana menaiki kedua sudut bibirnya, melihat tampilan manik Chalk yang sudah tersulut api gairaah. Ia pun membungkam bibir Chalk, melahap bibir bawah penuh suaminya, memberikan isapan-isapan. Menggoda Chalk yang berusaha bertahan. Mariana semakin mempercepat mencyumbu bibir Chalk, linggualnya masuk ke mulut, menjajahi rongga mulut Chalk.
Chalk mulai terpancing, ia semakin mengeratkan tubuh Mariana, mulai membalas sentuhan di bibirnya dengan tempo yang seirama. Suara lengguhan bergaung, dan desaah panjang keluar dari keduanya ketika pangutan mereka terlepas.
Napas mereka saling beradu. Mariana kembali membungkam bibir Chalk. Kedua tanganya turun, dengan gerakan liar, Mariana membelai leher Chalk lalu turun ke pundak, ia mencengkram kemeja Chalk.
Srakkk....Sekali gerakan, tangan Mariana berhasil menyobek kemeja Chalk dan membukanya. Tidak melepaskan pangutan, Mariana mengusap dadaa keras Chalk, memainkan titik sensitif membuat sang ketua kartel mengeram.
Chalk tidak tahan, sekujur tubuhnya semakin memanas, bergetar di rasai jemari Mariana membelai turun, menyentuh perutnya. Ia menegang, intinya tubuhnya terasa berkedut.
"Mariana," panggil Chalk disela ciumaan mereka. "Malam ini kau benar-benar nakal... Shh." Desahnya, ia semakin bergayrah dan siap meledak.
" Kau menikmati, hmm?"
" Tentu Mariana... Aku sudah tidak tahaan."
Chalk dan Mariana menghabiskan waktu berdua sesudah malam panas mereka. Kini sepasang suami istri itu menyaksikan film yang Chalk putar di home teater. Mariana merebahkan kepalanya di atas dadaa polos Chalk, ia menyaksikan film namun tatapannya kosong.
"Kau ingin minum wine?" tawar Mariana yang langsung di iyakan Chalk.
Mariana segera bangun, membawa kakinya menuju meja kecil yang diatasnya terletak ice bucket berbahan kaca. Di dalamnya terdapat satu botol wine diantara balok es. Mariana mengeluarkan botol wine, ia membuka penutup, dan menuangkan cairan berwarna merah ke dalam dua gelas.
Chalk menatap punggung Mariana sekilas, kemudian ia kembali menyaksikan film yang masih berputar. Mariana datang membawa dua gelas berisi wine, dan memberikan satu gelas kepada Chalk.
Notifikasi dari ponsel Mariana berbunyi, Chalk menatap Mariana. "Periksalah ponselmu sweety, barangkali putra kita yang mengirim pesan."
"Tunggulah sebentar, honey. "
Mariana meraih ponselnya yang ia letakkan di atas meja bersebelahan dengan home teater. Ia segera memeriksa pesan berupa vidio yang satu jam lalu dikirim suruhannya. Mariana tersenyum puas.
Prang... Gelas yang berada di genggam Chalk terjatuh. "Kenapa kepala ku tiba-tiba terasa berat." Keluh Chalk wajahnya terlihat pucat. Ia menyadarkan kepalanya di sofa kemudian memejamkan matanya.
Mariana membalikkan tubuhnya. "Oh ya Tuhan kau berkeringat Honey." Mariana beralih, mengambil handuk kecil dari dalam lemari. Ia kembali mendekati Chalk, mengusap peluh di wajah Chalk.
Chalk meraih pergelangan tangan Mariana. "Apa yang telah kau masukkan ke dalam minumanku, Mariana?" tanya Chalk, sorot matanya menajam.
"Aku tidak memasukkan apapun," jawab Mariana bibirnya bergetar. "Ka-Kau menunduhku?"
"Hentikan dramamu, Mariana!" Chalk semakin mengeratkan genggamnya di pergelangan Mariana.
Bukan meringis kesakitan, Mariana justru tertawa. "Hahahaha... Cengkramanmu tidak membuatku sakit Chalk. Lepaskan!"
Chalk berusaha bangkit, ia menerjang Mariana dan mencekiik leher istrinya. Mariana tersenyum. "Buunuhlah aku Chalk. Agar kita mati bersama." Kekehnya semakin membuat Chalk murka.
Mariana langsung berdiri, seraya mengusap lehernya, dan menyaksikan kesakitan yang di rasakan Chalk. "Bawalah aku ke rumah sakit."
"Jika aku tidak mau bagaimana??"
"Brengsek!! kau wanita iblis!!"
Mariana ternganga mendengar umpatan Chalk untuknya. "Jika aku wanita iblis, lalu kau apa honey? malaikat? hahaha."
Brug.. Chalk terjatuh dari sofa. "Kasihannya suamiku. Kau perlu bantuan? uum, ku rasakan kau tidak butuh. Oh ya aku akan menunjukkan sesuatu padamu. Kau pasti terkejut. Bertahanlah sebentar honey."
"A-apaa yang kau mau lakukan, hah?"
Mariana menyambungkan kabel usb ponselnya ke media player. Tidak lama kemudian, tampilan layar berganti dengan foto anak perempuan berusia 9 tahun.
"Namanya Jessylia Grecy, putri dari mendiang Eilaria Grecy. Wanita Malang yang bernasib mengenaskan setelah seminggu ia bekerja di perusahaan yang dia minati. Apakah kau mengingat nama Eilaria, honey?" Chalk terdiam, wajahnya, bibirnya semakin memucat.
"Ini adalah foto Eilaria, jangan katakan jika kau melupakan ibu dari putrimu Chalk. Hahahaha, kenapa terdiam? kau terkejut?"
"Ada lagi yang aku ingin memperlihatkan kepadamu." Mariana memutar vidio yang dikirim suruhannya tadi. Vidio Amora berada di bar sedang bercumbuu mesrah dengan seorang pria.
"Mantan pelayan kita. Wanita jalaang itu adalah kekasihmu kan?" Mariana tersenyum puas melihat ekspresi Chalk. "Kenapa kau hanya diam Chalk?? kau tidak marah kekasihmu berselingkuh disaat kau sedang merenggang nyawa?"
Chalk menatap nanar ke arah layar. "Kau pasti sakit hati?? seperti itulah perasaanku saat mengetahui kau berselingkuh honey. Sekarang, kau tidak perlu khawatir, kekasihmu sebentar lagi akan merasakan apa yang kau rasakan. Kau tenanglah, aku sudah membalaskan dendam mu kepadanya." Mariana tersenyum lirih. Pria bersama Amora yang berada di vidio adalah salah satu orangnya yang diperintahkan Mariana untuk membunuh jalaang itu.
Tampilan gambar, tiba-tiba menggelap. Hanya suara teriakan, dan desaahan yang terdengar. Suara Amora, dan Chalk ketika mereka menghabiskan waktu bersama di Mexico. Mariana memasang penyadap di arloji Chalk. Semua ucapan Chalk terdengar. Termaksud pembahasan soal charlie. Ya Mariana sudah mengetahui siapa Chalk sebenarnya sehingga ia memilih untuk meracuni pria yang paling berbahaya.
Chalk semakin merasakan kesakitan, racun ditubuhnya sudah menyebar ke seluruh pembuluh darahnya."Mari--" Chalk kesulitan bernapas."aaa-aaa-aaa..." Matanya semakin melebar. Beriringan tarikan napasnya yang terakhir, cairan putih keluar dari dalam mulutnya.
Mariana menyaksikan semua, kakinya terasa lemas. Ia pun meluruh beriringan isak tangisannya memecah keheningan. Tidak ada perasaan yang tenang setelah ia menyaksikan kematian Chalk karenanya. Ia pun bangkit, mengambil botol berisi racuun, Mariana membuka botol tersebut, dan meminumnya.
Prang......
.
.
.
.
Gimana part kali ini? ^^ Jangan lupa like dan komentarnya. Terimakasih..♡♡♡