Reckless

Reckless
MISI LEON BERHASIL



Alston bergerak bangun, mencium aroma kopi yang begitu kuat di sekitarnya. Ia mengedarkan pandangannya keseluruhan kamarnya tidak menemukan istrinya. Alston pun mengambil ponselnya, lalu ia berpindah, duduk di sofa yang berada di dekat jendela kamarnya.



Pria itu mengambil cangkirnya, satu tangannya lagi bergerak mencari kontak anak buahnya di layar ponselnya, Bruno. Ketemu. Dengan segera ia menghubungi anak buahnya itu.


"Halo Bruno, kau sudah melakukan apa yang aku perintahkan?" tanyanya setelah anak buahnya menerima panggilan darinya. Alston menunggu jawaban anak buahnya selaras menyesap cairan pekat dari dalam cangkir yang dipegangnya.


"Sudah tuan," singkat Bruno dari tempat yang berbeda. Bruno masih berada di kawasan Kensington Avenue setelah mengerjakan apa yang di perintahkan ketuanya.


Mendengar jawaban Bruno, senyuman smirk, menakutkan muncul langsung diatas garis rahangnya. Senyuman itu berubah menjadi kekehan mengerikan yang di akhiri desahaan napas panjang dari mulutnya. Melegakan. Kata hatinya. Malam ini ia tidak perlu mengkonsumsi obat tidur untuk membuatnya terlelap.


"Kerja yang bagus Bruno, " di layangkan pujian untuk anak buahnya yang baru genap satu tahun bergabung menjadi bagian dari black eagle. Ini pekerjaan pertama yang penuh tantangan untuk Bruno, dan wow hasilnya tidak mengecewakan. Rasa-rasanya, ia ingin menemui pemuda berusia 27 tahun itu untuk mentraktir minum kopi bersama.


"Aku akan mentransfer bonus untukmu," diletakkan cangkirnya diatas meja, tidak jauh dari posisinya. "Kirimkan nomer rekening mu, oke." Lanjutnya tidak sama sekali memudarkan senyuman.


"Lalu bagaimana dengan tuan Aisley, tuan? "


Alston menggerus rahang yang ditumbuhi bulu halus. Lalu, ia berkata. "Bereskan besok malam. Lakukanlah dengan benar, tanpa meninggalkan jejak apapun. Kau mengerti, Bruno?"


Kyle yang baru saja masuk ke dalam kamar, berniat menuju sang suami, menghentikan langkahnya.


Tanpa meninggalkan jejak apapun. Jejak apa? tanya Kyle dalam hatinya. Ah, mungkin aku salah dengar.


Alston melihat kehadiran istrinya yang berdiri di dekat pintu, ia tersenyum seperti biasanya, sosok suami yang hangat penuh cinta. "Aku akan segera mengabari mu, jika liontin yang kau pesan sudah selesai di kerjakan. Baiklah mr. Victor. Sampai jumpa. " Alston mengakhiri sambungannya.


"Kenapa kau masih berdiri di sana sayang? kemarilah." Perintahnya, meletakkan ponsel di atas meja, bersebelahan dengan cangkir yang masih menyisakan kopi di dalamnya. Kyle pun meneruskan langkah kakinya yang sempat tertunda.


"Siapa yang menghubungimu?" tanya Kyle menjatuhkan diri di samping Alston. Ia mengambil bantalan sofa lalu diletakkan di atas pangkuannya.


"Rekan bisnisku sayang, " jawabnya menyambar pinggang Kyle, menggeser, hingga tubuh istrinya tertarik semakin dekat dengannya.


"Disaat libur seperti ini, kau masih saja menerima panggilan dari rekan kerja mu untuk membahas pekerjaan. Kapan kau punya waktu untuk ku?"


Kalimat protes, diutarakannya menciptakan garis melengkung terbentuk di bibir suaminya. "Kau sedang marah?"


"Sedikit, akhir-akhir ini kau menyebalkan Alston! "


Ya, akhir-akhir ini Alston kerap pulang terlambat. Bahkan dihari libur pun Alston melakukan pertemuan dengan kliennya tepatnya menghabiskan waktu liburnya untuk mengurusi kartelnya. Sehingga menyita quality time mereka.


"Jadi kau ingin aku mematikan ponselku, agar klien ku tidak menghubungiku, seperti itu?" Kyle mengangguk pelan. Alston pun menonaktifkan ponselnya. "Sudah," lalu diletakkan kembali alat komunikasi miliknya diatas meja. " Apakah malam ini Ayden akan pulang? "


Alston mengambil cangkirnya lagi, lalu menyesap sisa kopinya hingga habis. Kembali ia meletakkan cangkir yang sudah kosong itu.


Kyle menggelengkan kepalanya. " Satu jam yang lalu dia menghubungiku."


"Kenapa kau tidak membangunkan ku?" tanya Alston, ia ingin membicarakan tentang pekerjaan.


"Okey, terus apa yang dikatakan anak itu?"


"Dia menunda lagi kepulangannya, Alston. Katanya, ada sedikit masalah dalam pengadaan dana proyek yang ia garap. Mungkin tiga hari mendatang dia akan usahakan pulang."


"Semoga dia bisa menepati janjinya. Lalu, bagaimana hubungannya dengan Alana?" tanya Alston lagi.


" Semua berjalan dengan baik Alston. Ayden dan Alana sudah memutuskan kapan mereka akan menyelenggarakan pernikahan mereka."


"Ah baguslah, kapan rencananya? apa Harry sudah mengetahuinya? "


"Dua bulan lagi, dan ku rasa Harry belum mengetahuinya."


"Kita harus mengatur pertemuan antara keluarga sayang, untuk membahas ini semua." tanyanya seraya merapikan rambut istrinya penuh perhatian.


"Ya kau benar Alston, nanti aku akan sampaikan kepada Alana."


Keduanya mendadak terdiam. Kini Alston menatap istrinya dengan tatapan sayu, menginginkan istrinya kini. Sudah lama mereka tidak melakukan aktifitas yang menyenangkan, mendebarkan itu.


Tangan Alston masih bergerak membelai rambut coklat istrinya. Lalu, ia menarik pengikat rambut, hingga rambut istrinya terurai dengan indah. Rambut bergelombang, wangi, Alston menghidu aroma lavender dari sana.


Kyle tersenyum mendapatkan perhatian dari sang suami. Alston ya type pria setia, berbeda dengan Chalk. Keromantisan yang di lakukan Alston murni karena perasaanya kepada Kyle.


"Sudah lama kita tidak melakukan penyatuaan sayang," bisik Alston yang mulai terbakar gairaah, mengecup leher istrinya tepat dibawah telinga.


"Yah, berhari-hari kau membiarkanku kekeringan sayang," keluhnya membuat Alston tersenyum semakin bersemangat ingin mencuumbu istrinya.


Terlebih dirasanya jemari Kyle menyelinap ke pakaiannya, menjelajah otot-otot yang terbentuk di tubuhnya.


"Kau benar-benar kehausan rupanya, " kekehnya tersiar, dengan cepat Alston meraup bibir ranum Kyle dengan bibirnya seraya mengangkat tubuh istrinya itu.


"Aku akan memberikan mu, dahaga sebanyak-banyaknya sayang. Kau bersiaplah."


.


.


.


.


Ada yang rindu dengan mas Ayden? otor pun 🤭 dah cuma itu saja.