
Kota London merupakan kota bersejarah bagi Briana, Semenjak mamanya meninggal Briana hidup jauh dari Indonesia dan menetap di London.
Jadi kota London tak bisa lepas dari kenangan Briana, dia teringat bagaimana dulu ia mengais tersedu saat tiba di London Heathrow Internasional Airport. Karena dulu papanya menikah lagi dengan Maria, Oleh karena itu Briana memutuskan untuk meninggalkan negaranya.
Kini tujuan Honeymoon mereka adalah Negara kelahirannya. Yakni Swiss, Lebih tepatnya ke Zurich.
Kini mereka yakni Briana dan Maxim telah siap untuk melanjutkan perjalanan mereka ke tempat berikutnya. Ini semua adalah ide Briana, Dia menginginkan Mereka berdua untuk sejenak melupakan semua aktivitas hariannya untuk relaksasi ke tempat tempat indah di Dunia.
"Sayang, kau sudah mengecek semua barang bawaan kita ?" Sindir Briana yang terlihat kesal pada Suaminya karena sedari tadi matanya tak lepas dari gawainya.
"Sudah Bi, tunggu sebentar aku sedang memeriksa laporan harian tunggu saja di Airport Lounge Maskapai kita !" Pinta Maxim
Dengan kesal, Briana meninggalkan Suaminya yang sedang berdiri di ruang check in masih dengan Handphone ditangannya.
"Mau sampai kapan dia tak melepaskan bisnisnya untuk saat ini" Batin Briana kesal pada Suaminya.
Sambil menikmati suguhan yang disediakan oleh Maskapai yang akan mereka pergunakan, Briana dapat melepaskan penat untuk sekedar minum teh dan menikmati suasana di Bandara Heathrow London.
Sekitar 15 menit kemudian, Maxim datang menghampirinya tanpa rasa bersalahnya.
Briana pun tak memperdulikan Sumainya yang kini mengambil alih untuk duduk disampingnya.
Wajahnya terlihat masam karena memendam rasa kesal terhadap suaminya. Dia tak memperdulikan Maxim dan sibuk mengutak atik Handphone ditangannya.
"Aku sudah memesan hotel untuk beberapa hari kedepan selama kita di Zurich sayang !" Ucap Maxim memulai percakapannya antara dirinya dengan Briana.
"Kita bisa menginap dirumah keluargaku !" Usul Briana.
"Jangan menyusahkan keluargamu sayang," Maxim meminta Briana jangan menyusahkan keluarganya. Dia menggenggam tangan Briana.
Pesawat mereka kini akan segera lepas landas. Maxim dan Briana bergegas ke Boarding Room sebelum memasuki pesawat.
Selama kurang lebih 10 menit di boarding room kini Maxim dan Briana dipersilahkan untuk naik ke pesawat sambil di periksa Boarding Pass mereka.
Ini terlihat rumit untuk Maxim, karena dia terbiasa naik pesawat pribadi. Dia tipe orang yang malas untuk ribet karena sistem. Dia juga lebih suka naik pesawat pribadi karena menurutnya itu bisa menghemat waktu.
Kalau bukan karena Briana yang bersikeras untuk naik pesawat umum, mungkin dia tak akan mau repot-repot seperti ini.
🍁🍁
Meski tak senyaman Pesawat pribadi miliknya, namun untuk flight First Class dari British Airways cukup nyaman dan terlihat mewah.
Dengan kondisi kabin Pesawat yang nyaman, mereka bisa beristirahat di dalam kabin pesawat. Karena penerbangan ke Zurich bukan merupakan penerbangan berjangka waktu lama.
Hampir sekitar 2 jam, mereka akhirnya tiba di kota tujuan mereka. Yakni Zurich.
Salah satu kota kecil di Eropa yang menyimpan sejuta pesona alamnya.
Bagi yang menyukai pemandangan alam dari ketinggian, boleh dicoba menelusuri Old Town Zurich, dan mampir ke sebuah taman bernama Lindenhof Park. Taman kecil ini terletak di ketinggian 25 meter di atas permukaan Sungai Limmat.
Kini mereka telah berhasil Landing dengan selamat. Butuh beberapa saat agar mereka bisa keluar dari pesawat. Kemudian mereka menuju Bandara Internasional Zurich.
Setelah tiba di Bandara Zurich, mereka kemudian pergi untuk mengambil beberapa koper mereka berdua.
Briana dengan santai menunggui beberapa koper miliknya, hal tersebut berbanding terbalik dengan Maxim. Dia begitu kesal karena harus menunggu lama.
Beberapa koper mereka telah mereka dapatkan, Cukup lama Briana menunggu hingga koper terakhir keluar dari ban berjalan.
Tetapi koper tersebut bukanlah miliknya, lalu kemana perginya koper miliknya.
"Max, koper kita hilang satu !" Ungkapnya serius.
Maxim menanggapinya dengan kesal, dia sangat kesal dengan pelayanan maskapai tersebut.
"Inilah sebabnya aku lebih suka memakai pesawat pribadi Bi" Keluh Maxim.
"Lalu harus bagaimana ?" Briana binggung dengan hal ini.
Maxim mengajaknya untuk melaporkan kepada customer servis British Airways di Bandara tersebut.
"Ini tidak akan terjadi kalau kau tidak sibuk dengan semua urusanmu !" Gerutu Briana emosi di ruangan Customer servis British Airways.
"Kenapa kau menyalahkan aku Bi ? kau sendiri belanja terlalu banyak makanya satu koper saja tak cukup dengan barangmu !" Balas Maxim tak mau kalah.
"Oh iya, jadi kau menyalahkan aku juga ?" Keluh Briana makin Emosi dengan sikap suaminya.
Mereka berdua saling adu argumen di ruangan Customer servis, para kru darat pun tak ada yang berani melerai mereka berdua karena mereka adalah pelanggan VIP.
Kini Posisi duduk Briana membelakangi Maxim, masih dengan sikap marahnya. Kedua tangannya ditekuk di depan dada menunggu hasil pengecekan Pegawai maskapai tersebut.
Seolah tak ingin disalahkan, Maxim pun juga melakukan hal yang sama yakni sama sama mendiamkan pasangannya.
"Ternyata sifat buruk seseorang akan terlihat setelah kita menikahinya !" Gerutu Briana dalam hati.
Setelah melapor di bagian Lost and Found serta mengisi data identitas diri, mereka diharapkan membuat surat keterangan hilang di Pusat Keamanan Bandara tersebut.
Kejadian kali ini benar benar membuat Briana kehilangan kesabaran, bukan masalah seberapa besar nominal barang yang hilang, Melainkan masalah suaminya yang masih saja tak bisa lepas dari masalah pekerjaannya.
Sepanjang perjalanan menunju Hotel yang sudah Maxim Booking Briana hanya diam saja tak memperdulikan suaminya. Hal tersebut membuat Max khawatir.
"Bi, ayolah apa kau masih kesal karena koper itu ?" Bujuk Maxim yang kini sedang mengamatinya di sebelahnya.
"Aku bukan kesal karena koper itu, tapi kesal karena kau Max !" Protes Briana keras pada Maxim.
"Apa masalahnya?" Maxim masih tak mengerti kenapa istrinya mendiamkannya.
Tapi Briana masih kekeh dengan pendiriannya, dia tak bergeming sama sekali mendengar Maxim merayunya dengan berbagai cara.
🍁🍁
"Kalau aku ingin liburan, lain kali aku ingin pergi sendiri atau bersama Keana !" Sela Briana ketika Maxim membuka pintu kamar hotel yang sudah mereka pesan sebelumnya.
Maxim melihatnya heran, ada apa dengan istrianya kali ini. "Apa salahku Bi ?" Tanya Maxim dengan nada polosnya.
"Sepertinya bisnismu lebih penting dari istrimu," Sindir Briana dengan muka masamnya.
"Oh ayolah sayang, kau nomer satu di hatiku!" Ujar Maxim mulai membujuk Briana yang sedang ngambek tersebut.
"Besok aku akan melanjutkan perjalanan kita sendiri !" Ancam Briana kemudian.
"Itu tak akan aku biarkan sayang, tujuan kita liburan kali ini kan untuk bersenang senang bukan mengisi dendam!" Rayu Maxim mencoba meluluhkan hati Briana dengan memelukanya.
"Lepaskan aku sedang bad Mood!" Protes Briana mencoba melepaskan diri dari cengkraman Suaminya.
🍁🍁
Hai are three anyone missing me ??
Aku kembali lagi ya Readers, bila kalian masih merindukan aku aku akan segera buat Season duanya 😋😋