Princess Connect

Princess Connect
Delapan Puluh Tujuh



Genggam tanganku saat tubuhku terasa linu. Kupeluk erat tubuhmu saat dingin menyerangmu. Hingga nanti di suatu pagi salah satu dari kita mati. Sampai jumpa di kehidupan yang lain.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Maxim begitu cemas memikirkan keadaan istrinya. Ini semua terjadi karena Briana ingin berusaha membantu dirinya. Jadi bila terjadi apa apa dengan Briana dialah orang pertama yang akan disalahkan.


"Kita akan melaksanakan prosedur Kuretase" ucapa dokter yang menangani Briana telah membuyarkan lamunan Maxim.


"Apa terjadi sesuatu ?" Tanya Maxim begitu cemas mengkhawatirkan keadaan Briana.


"Kami akan membersihkan jaringan dirahimnya setelah Bu Briana keguguran" Jelas Dokter tersebut nampak ketakutan melihat aura suram dari Maxim.


Bukan hanya Maxim seorang yang mengkhawatirkan Briana, Kini Tomi dan istrinya Maria telah sampai dirumah sakit tersebut.


Mereka tampak begitu cemas mengetahui kabar kecelakaan yang dialami putri mereka.


"Aku gagal pa" Ucapa Maxim ketika Tomi duduk di sampingnya.


"Tenang lah Max, kita harus berpikir jernih papa sudah mendapatkan siapa pelaku pendorongan Briana" Kata Tomi Sandjaya.


Bukan hal susah untuk papa Briana menemukan pelaku penindasan anaknya. Bagaimanpun juga Tomi telah kenyang dalam dunia perbisnisan.


Dengan memanfaatkan hubungannya dengan para kerabatnya, dia bisa langsung menciduk pelaku tersebut.


"Aku yang bersalah pa" Maxim mendegus dengan kesal sambil mengepalkan tangannya.


"Kita doakan saja semoga Briana baik baik saja" Bujuk Maria menenangkan Maxim dengan mengelus pundaknya.


Hendry pun telah tiba di Rumah Sakit tersebut. Amarahnya begitu ketara melihat penderitaan yang dialami kakaknya.


"Aku akan cari orang tersebut meski hingga ke ujung dunia" Umpat Hendry.


"Tenanglah, jangan emosi kita belum tahu apa maksud dan tujuannya mereka berdemo selain menggagalkan proyek Maxim" Tegas Tomi menenangkan keponakan dari istrinya.


"Bagaimana kondisi kakak ?" Tanya Hendry dengan nada lebih pelan pada Maxim.


"saat ini dia sedang menjalani proses Kuretase" Jelas Maxim masih enggan untuk berbicara.


"Berarti dia kehilangan bayinya ?" Hendry masih tak percaya dengan penjelasan Maxim.


Maxim kemudian teringat akan salahnya, kini rasa bersalahnya kembali muncul saat Hendry membahas kedua Bayi Briana.


🍁🍁


Lampu ruang operasi pun berhenti menyala, itu tandanya proses kuret telah berakhir. Biasanya lama Kuretase berkisar antara 15-20 menit.


Kini pintu ruang operasi telah dibuka, dan keluarlah dokter yang telah menangani Briana. Dokter tersebut menghela napas lega setelah berhasil menangani istri dari Maxim, Bagaimana tidak, dia bingung ingin menjelaskan pada Suami Briana.


Dokter itu tahu dia akan berhadapan dengan siapa, jadi dia sangat hati hati dalam bertutur kata. Bila Maxim sedikit saja tersinggung, bisa hancur karir yang sudah dibangunnya dari awal.


"Bu Briana sudah melewati masa kritis, kini tinggal menunggu efek anastesinya habis" Tutur dokter tersebut pelan pelan.


Maxim hanya diam saja tanpa menatap sedikitpun dokter tersebut. Yang dia rasakan kini hanya duka dan rasa bersalah saja.


🍁🍁


Pagi menjelang, hangat sinar mentari menerobos masuk ke dalam jendela kaca kamar rawat inap ruang VIP yang Briana tempati.


Briana membuka matanya pelan, dan mengamati sekeliling ruangan. Disana dia melihat Maria tertidur dalam posisi duduknya.


Raut wajah Maria menunjukan lelahnya dari guratan guratan halus diwajahnya.


Kemudian Briana mengamati tubuhnya yang masih dibalut oleh selimutnya. Dia merasakan nyeri di bagian perutnya. Diam diam dia mengintip dibalik selimutnya dan mendapati bekas jahitan yang ditutup perban.


Air matanya mengalir begitu tanpa dikomando. Dia benar benar merasakan kegagalan menjadi seorang ibu.


Namun kini Runtuh juga harapannya, harapan yang sudah dia rencanakan. Harapan memiliki bayi kembar dari pernikahannya.


Briana mulai terisak dalam tangisnya. Dan hal tersebut membuat Maria membuka matanya mendengar suara Isak tangis Briana.


Dengan kasih sayang, Maria memeluk putri tirinya tersebut. Dia sangat tahu betapa sedihnya Briana karena telah kehilangan anaknya seperti dia kehilangan Krystal beberapa tahun yang lalu.


"Menangis lah, aku selalu bersamamu" Bujuk Maria menenangkan Briana.


Briana tak membalas apapun perkataan Maria, dia hanya menangis dan menangis hingga sesenggukan.


"Ini semua salah Mommy anak anakku" Batinya sambil mengusap bekas jahitan Briana.


"Aku tak bisa menjaga kalian" imbuhnya dalam hati.


"Kau ingin sesuatu Bi ?" Tanya Maria mengusap kepala anaknya.


Briana menjawabnya hanya dengan menggelengkan kepalanya. Dia masih merasa kehilangan atas anak anaknya.


"Atau kau mau mama meminta Maxim datang kemari ?" Usul Maria mengkhawatirkan anaknya.


Briana bahkan tak sanggup lagi bila bertemu suaminya, Rasa bersalahnya memenuhi pikirannya. Dia takut bila Maxim akan marah dan kecewa padanya karena tak becus untuk menjaga anak anaknya.


"Aku ingin pulang kerumah papa" Terucap sebuah kalimat pendek dari mulut Briana. Dia merasa akan tenang bila pulang kerumah papanya dan bertemu dengan Keana.


"Dia mengkhawatirkan dirimu Bi, semalaman dia menjagamu bersama Mama dan tak sedetikpun dia meninggalkan mu" Tegas Marian mengingat semalam Maxim menunggui putri tirinya.


"Aku takut dia akan marah padaku" ucap Briana tertunduk tiba tiba.


"Jangan berpikir aneh aneh, segeralah pulih dia pergi pagi buta untuk menyelesaikan masalahnya dan meminta mama menjagamu" Bujuk Maria.


"Aku tahu sekali sifat dia, dia sudah sangat menanti anak anak ini dia pasti sangat terpukul" Isak Briana diikuti tangisnya.


"Semua orang juga terpukul Bi, bukan hanya kau saja" Bujuk Maria tak henti hentinya memenangkan putri tirinya.


Maria kemudian meminta ijin dokter untuk membawa pulang Briana atas kemauan anaknya. Dirinya meminta dokter untuk melakukan home care dirumahnya.


Tak lupa sebelum pulang, dia menghubungi Maxim selaku suami Briana untuk meminta ijin pulang atas anaknya. Dan juga suaminya yakni Papa Briana sendiri.


Dengan dibantu Hendry, sepupu Briana Marian membawa pulang Anaknya. Briana dibantu Hendry mendorong kursi rodanya karena kondisi fisiknya tak memungkinkan untuk berjalan.


Selama diperjalanan pulang, Briana hanya terdiam tak bersuara sedikitpun. Dia hanya mengamati jalan jalan Ibukota dari dalam mobil Hendry.


Di rumah papanya, Keana Putri kecil Briana sudah menyambut kepulangan Mommynya.


Briana tak kuasa menyembunyikan kesedihannya melihat Keana di depan matanya.


"Mommy don't be sad, i Will always beside of you" Bujuk Keana memeluk Mommy nya yang sudah berlinang air matanya.


"Forgive me, forgive me baby" Isak Briana tersedu diperlukan anaknya.


"All be good Mom, Daddy Will protect us" Kata Keana dengan manisnya.


"Mommy lelah, biarkan Mommy istirahat Ana" Kata Maria agar Briana tak makin larut dalam rasa bersalahnya.


"Keana akan menjaga Mommy" Suara lantang Keana mengajak Briana untuk mengikuti dirinya.


Kemudian Hendry membantu Briana untuk masuk ke kamarnya. Melihat Uncle Hen nya bersusah payah menggendong Mommynya Keana pun bergumam "aku akan meminta Daddy untuk menjaga Mommy" .


🌼🌼🌼


Bonus chapter kali ini adalah si cantik dan imut Keana.