
Kepada pagi yang akan pergi,
Kembalikan kepingan-kepingan hatiku
Kepada mentari yang meninggi,
Kembalikan semburat tipis di bibirku
Pada waktu yang tak pernah berhenti
Pada siapa kan kutambatkan hati ini
Setelah cinta yang kudamba berakhir sia-sia
Tak berbalas dan tak berbekas,
Tak mampu lagi kuukir dengan indah perasaan ini
Saat cinta hanya menjadi sebuah angan
Yang mengendap dalam hati nan sanubari
Tapi, tak kunjung menjumpai bahagia yang telah dinantikan
**
Sudah sejak tadi, Keana tak menampakan diri dari kamarnya. Entah apa yang telah dilakukan gadis manis itu. Sejak tadi malam, ketika ia dan Daddynya bersitegang Keana memang tak mengucap sepatah katapun.
"Max, apa kau tak keterlaluan pada putri kita?" tanya Briana sembari menyiapkan sarapan yang akan mereka santap bersama.
"Itu lebih baik agar ia bisa mengambil apa yang harus ia pelajari sayang," sahut Maxim cuek. Pria paruh baya itu mengamati sekeliling rumah Sang putri sambil mengunyah roti gandum yang berada di depan tempat ia duduk.
"Max, kalian berdua memiliki prinsip yang sama yakni sama-sama tak mau mengalah!" ejek Briana. Wanita yang masih terlihat cantik diusianya yang tak muda lagi itu kini sedang menuangkan susu untuk Maxim dan dirinya.
Selesai menuangkan segelas susu untuk Maxim, kini Briana berjalan untuk mengontrol keadaan Keana putrinya. Briana mengkhawatirkan Keana karena sejak tadi malam gadis itu masih saja terlihat sedih.
Tok ... tok ... tok ... Briana mengetuk pintu kamar Sang putri, namun tak ada jawaban. Ia mengulangi apa yang barusan ia lakukan yakni mengetuk pintu kamar Keana.
"Keana, bisakah Mommy bicara sebentar nak?" panggil Briana dengan lantang. Agar Sang Putri bisa mendengar suaranya.
Keana yang mendengar panggilan Sang Mommy dari dalam kamarnya berjalan mendekat pintu agar Sang Mommy bisa masuk ke dalam kamarnya.
"Kok apa sayang? ayo sarapan sayang Daddy sudah menunggumu!" ajak Sang Mommy menarik tangan sang putri dengan lembut.
"Daddy masih marah pada Anna kah Mom?"
"Tidak sayang, Daddy tak bermaksud seperti itu. Dia ingin yang terbaik untukmu nak!" bujuk Sang Mommy.
Namun wajah cantk yang dimiliki sang putri masih tetap sama, yakni ditekuk sebagian. Briana makin memutar otaknya agar ayah dan anak itu bisa berbaikan.
*
Akhirnya dengan segala macam bujuk dan rayunya, Keana bersedia untuk sarapan bersama dengan Daddy dan Mommy. Briana harus mengeluarkannya jurus rayuan mautnya agar kedua orang yang ia cintai dan ia kasihi mau melakukan gencatan senjata.
"Setelah ini, kemasi barang-barangmu Anna, kita pulang untuk ke Indonesia. Daddy lihat kehidupan mu sini cukup memprihatinkan. Daddy tak mau putri Daddy dalam kesulitan." titah Sang Maxim Lautner membuka percakapan antara keluarga kecilnya minus Edgar.
"Daddy curang, Ed boleh belajar di luar negeri, kenapa Keana tak boleh?" protes Keana pada Sang Daddy.
"Daddy tak mau putri Daddy menderita, cukup Daddy saja yang memiliki masa muda yang susah. anak-anak Daddy tak boleh bernasib malang seperti Daddy dulu,"
Bukan perkara mudah Maxim bisa mencapai posisi tertinggi di dalam bisnisnya. Maxim dulu juga merangkak dari bawah. Berasal dari keluarga bisnisman, sejak kecil Maxim sudah mendapatkan skill mengolah bisnis dari keluarganya. Ia tak ingin kedua buah hatinya akan bersusah payah dalam membangun bisnis yang akan membawa kedua sukses. Maxim hanya ingin kedua anaknya mewarisi apa yang ia miliki.
"Menurut lah apa kata Daddy sayang, Keana bisa belajar bisnis konstruksi atau perhiasan dari pamanmu Martin!" bujuk Sang Mommy.
Terlahir dari kalangan atas, membuat hidup Keana serasa diatur oleh kedua orang tuanya.
Maxim, Martin serta Handri memang para pesohor dari kalangan bisnis. Apalagi Sang Mommy yang memang memiliki perusahaan kakeknya.
"Dad, kau curang!" protes Gadis cantik itu berlalu meninggalkan kedua orangtuanya tanpa menyelesaikan sisa sarapannya. Keana merasa kecewa karena Maxim telah pilih kasih padanya. Ia membiarkan Edgar mengambil pendidikan di luar negeri namun ia kenapa harus dipaksa untuk pulang.
"Max, caramu terlalu keterlaluan kau tahu?" bukan hanya Keana yang merasa tak puas atas keinginan Maxim. Briana juga tak suka dengan keputusan Suaminya.
Apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Apa yang diperintahkan oleh Maxim, harus dipatuhi oleh seluruh anggota keluarganya. Jadi mau tak mau Keana harus menahan egonya dan mengikuti apa kata Daddynya. Sama halnya dengan Briana, Mommy Keana itu pun sama ia harus mengikuti anjuran dan perintah dari Maxim.
*
Maxim akhirnya mendapatkan apa yang ia mau, Daddy Keana tersebut telah berhasil membawa dengan paksa anak dan istrinya untuk kembali ke Tanah Air. Kini ketiganya telah berada dalam satu penerbangan privat untuk pulang ke Indonesia.
Selama berada di dalam pesawat, Keana tak banyak bicara, ia juga belum sempat berpamitan pada sahabat baiknya selama berada di kota Koln, yakni Imelda. Keana sangat menyayangkan bahwa kepulangannya ini tak sempat memberi kabar.
Kota Koln telah memberi Keana banyak kenangan baik suka maupun duka. Memang niat Keana untuk menuntut ilmu di kota Koln bukan semata-mata ingin belajar Biola dari hati, namun ingin mengenal alat musik tersebut karena Kriss. Kriss lah yang menjadi alasan utama Keana hingga ke tahap ini.