
Sebuah mobil mewah melintasi jalanan Ibu kota dengan membelah keramaian di malam hari.
Sepasang pasangan yang sedang dimabuk asmara kini berada dalam satu mobil menuju kediamannya.
Tanpa rasa canggung pada Sopirnya, Maxim melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.
Briana saja heran, apa dia tak puas dengan apa yang sudah dia kerjakan tadi sebelum turun dari pesawat.
"Terimakasih sayang, berkatmu besok Aku dan Mr Vugo akan menandatangani kesepakatan" Maxim membisikan kata kata tersebut dengan hati hati di telinga istrinya.
"Aku kan sudah bilang padamu, aku bisa membantumu Max" ucap Briana dengan sombongnya.
"Kau pintar sekali bernegosiasi seprti suamimu nyonya" Kini suaminya tak malu malu lagi mengecup bibirnya didepan supir pribadi mereka.
"Hentikan ! atau kau sudah bosan tidur di kamarmu" Ancam Briana yang jengkel melihat tingkah laku nyeleneh suaminya yang menciumnya di depan umum.
"Bi, apa yang kau lakukan untuk bernegosiasi ?" Selidik Maxim yang masih tak percaya dengan bantuan Istrinya.
"Nyonya Hidako itu adalah hamba kemewahan, sekali aku memancingnya dia tak akan melepaskan umpannya" Jelas Briana kini mulai gemas dengan sikap suaminya.
"Istriku yang terbaik" Puji Maxim memeluknya dengan erat.
"Terimakasih sayang" Kata kata Briana manja menikmati dipeluk suaminya.
"Aku yang harusnya berterimakasih padamu sayang, kau hebat dalam segala aspek" Maxim tak henti hentinya memuji istrinya hingga membuat Briana bosan.
"Apa saja itu ?" Sindir Briana yang mulai kesal dengan Maxim yabg terus merayunya.
"Hebat dalam modeling, bisnis, mengurus anak dan satu lagi hebat dalam melayani suami" Puji Maxim sambil tertawa dengan renyahnya.
Terus saja mereka saling ejek selama diperjalanan pulang menuju rumah mereka. Meski ada sopir di depannya, mereka tak malu malu lagi saling ejek bahkan bermesraan. Harus kuat sih jadi supir Daddy.
🍁🍁
Keesokan paginya, Maxim sudah mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Mr Vugo. Dia dalam sebuah dilema antara mengatasi penolakan Pulau reklamasi ataukah hadir menemani Mr Vugo.
"Apa yang bisa aku bantu sayang ?" Tanya Briana yang melihat kegelisahan suaminya.
"Tetaplah jadi istriku apapun yang terjadi itu saja" Sahut Maxim yang kini melarang Briana melakukan tugas rumah tangganya.
Biasanya setiap pagi, Briana akan menyiapkan keperluan Suaminya, Keana dan juga dirinya sendiri. Kini pekerjaan tersebut dilarang dilakukan olehnya karena Maxim tak ingin dirinya lelah.
"Kalau ada masalah, katakan saja aku ini istrimu" Keluh Briana meyakinkan Maxim agar mau berbagi masalah dengannya.
"Doakan saja urusan suamimu ini lancar, karena aku bekerja hanya untuk Kalian semua" Maxim kini memeluknya.
"Jangan terlalu keras Max, aku sudah cukup dengan kehidupanku yang sekarang" Briana mulai melonggarkan pelukan suaminya.
"Kedua calon anak kita, dan juga Keana bila mereka hobi belanja seperti Mommynya aku harus menyiapkan dana ekstra bukan" Maxim mencoba menggoda istrinya kali ini.
"Baiklah, kalau begitu carilah uang yang banyak, karena aku ini mata duitan" Ejek Briana.
"Ayolah sayang, suamimu ini kaya" Sindir Maxim yang kini melepaskan pelukannya dan berjalan menemui anaknya untuk berangkat bersama.
Sedangkan Briana sendiri akan diantar supir mereka ke kantornya. Maxim tak mengantarnya Karena dia harus datang lebih pagi supaya dapat menyiapkan semua keperluan kontrak kerja samanya.
🍁🍁
"Bu Briana, kini massa sudah mulai berkumpul" kata Adam memberikan informasi kepada Briana.
"Kita kesana Adam, untuk meredamkan amukan massa" Perintah Briana yang kini menyambar handphonenya lalu memasukan kedalam tas warna merahnya.
"Baik Bu, saya juga telah menyiapkan mobil untuk anda" Jawab Adam.
"Maxim tak mungkin bisa mengatasinya, karena dia sedang ada pertemuan dengan orang lain oleh karena itu aku akan berusah semampuku Adam" jelas Briana memberikan perintah dan arahan.
Kini mereka berdua segera menuju ke parkir dimana mobil yang Adam siapkan berada.
Adam membantu membukakan pintu untuk Briana masuk kedalamnya.
Jalanan Ibukota di sianga hari cukup lenggang, sehingga Adam dan Briana bisa sampai ke lokasi lebih cepat dari perkiraan.
Jarak waktu massa berkumpul dan melakukan aksi begitu cepat, sehingga massa yang mengatasnamakan mereka aktivis lingkungan dan nelayan kini sudah melakukan tindakan anarkis yakni mulai saling dorong mendorong dengan petugas keamanan.
Briana yang baru saja tiba shock melihatnya, Pasalnya baru kali ini dia melihat secara langsung bagaiman kerusuhan demo itu.
Secepat kilat dia keluar dari mobil dan menemui para peserta unjuk rasa untuk menjelaskan perihal masalah yang dialami suaminya.
"Hati hati Bu" Keluh Adam yang kini mengikuti langkah kaki Briana.
"Semuanya Mohon untuk menjaga sikap kalian, jangan sampai melakukan tindakan anarkis dan menciderai siapapun" Ucap Briana dengan lantangnya.
Semua peserta aksi melihat siapa yang sedang berbicara, siapa perempuan cantik tersebut dan darimana datangnya.
"Saya disini sebagai perwakilan suami saya, yakni saudara Maxim Lautner akan menyampaikan bahwa apa yang saudara saudara pikirkan adalah sebuah kesalahpahaman" Tutur Briana kini tak gentar menghadapi para massa.
Adam begitu kesulitan menjangkau tempat Briana berada. Karena kerumunan massa yang banyak sekali jumlahnya.
Tiba tiba saja saat Briana menyampaikan penjelasannya, seorang lelaki bertubuh besar mendorongnya hingga jatuh tersungkur.
Semua orang yang mulai mereda justru panik melihat Briana jatuh ke tanah dengan kencangnya. Yang lebih parah lagi Tubuh Briana mengalami pendarahan hebat.
Para masa yang awalnya kontra, kini malah mulai menolong wanita yang sedang jatuh tersebut. Adam pun menjadi panik takut bosnya kenapa kenapa.
🍁🍁
Adam dan dibantu para petugas keamanan membawa Briana ke Rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Dengan suasana guyuran hujan menambah kekhawatiran Adam, Kemudian dia lalu menghubungi Maxim selaku suami Briana.
Tubuh Briana yang tak sadarkan diri kini telah sampai di Rumah sakit terdekat. Para petugas dengan sigap menangani Briana dan membawanya ke IGD.
Dokter pun mulai memeriksa Keadaan Briana. Dan tak ada seorangpun yang boleh masuk ke ruangan tersebut.
Deru langkah jenjang seseorang berlari menuju IGD tersebut, dia adalah Maxim suami Briana.
Wajah tampannya kini memendam kesedihan yang mendalam. Tatapannya kosong seakan melukiskan guratan guratan kesedian dihatinya.
Sampailah dia di depan pintu IGD rumah sakit tersebut. Dengan ditemani sang assistennya Bram, Maxim berdiri menunggu hasil pemeriksaan dari dokter dengan wajah khawatirnya.
Pintu Ruang IGD pun dibuka, Dokter keluar dengan wajah pilunya.
"Apa yang terjadi pada istri saya ?" Tanya Maxim setengah berteriak di Depan dokter tersebut.
"Istri anda kehilangan banyak darah, kondisinya kritis dan maaf saya tak bisa menyelamatkan calon bayi anda" Tutur dokter tersebut.
Seketika seluruh dunia Maxim hancur mendengar penuturan dokter didepannya.
"Apa maksudmu ?" Bentak Maxim mencengkeram kerah dokter tersebut.
"Bos tenanglah, dokter sudah berusaha menyelamatkan istri anda" Bujuk Bram menenangkan Maxim.
"Ini semua salahku, tak seharusnya aku menceritakan masalah ini padanya" Keluh Maxim dengan frustasi.
🍁🍁🍁
Selamat malam readersku tersayang, bagaimana kabar kalian ??
Menjelang akhir dari novel ini apa kalian bosan ?
kuharap tidak ya 😋
Aku ingin segera menamatkan novel ini karena mau konsentrasi pada kedua novel aku yang lain.
Terimakasih karena telah Sudi mampir ke novel ini ya teman teman.