
Cuaca Siang ini begitu menyengat. Meskti sudah memakai AC diruangannya, Briana masih terlihat menyeka keringat di leher dan dahinya.
Apalagi ditambah setumpuk pekerjaan yang sudah ditinggalkan selama beberapa hari Ke Brazil.
Adam memasuki ruangan bosnya. Dia mengetuk pintu pelan pelan karena Bosnya terlihat sangat serius dari tadi pagi.
"Bu, direktur dari EM Jawellery ingin bertemu dengan anda" Jelas Adam mengatakan pada Briana yang masih berkutat di depan komputernya.
Briana sungguh malas menemui seseorang, bukan karena dendamnya pada Martin, melainkan karena banyak pekerjaan yang tak bisa ditundanya.
"Suruh saja dia masuk, aku tak memiliki banyak waktu" Sahut Briana
"Baik Bu" jawab Adam keluar dari ruangan Briana.
Tak berapa lama masuklah seorang lelaki dewasa menemui Briana di ruangannya.
"Kakak ipar, kasihanilah aku" Martin membuka percakapan antara dirinya dengan Briana.
"Kenapa aku harus kasihan kepadamu ?" Tanya Briana intens membaca pikiran Martin.
"Aku tak sengaja melakukannya kak, aku bahkan tak tahu Bar itu milik siapa ?" Jelas Maxim meminta belas kasihan kakak iparnya.
"Kau pikir aku melakukannya karena dendamku ? aku memberikan pelajaran padamu agar bisa tanggung jawab atas sikapmu" Nasehat Briana pada Pria yang lebih tua darinya.
"Aku tahu kau cemburu kak, aku minta maaf sekarang ini perusahaanku sedang krisis ditambah gugatan darimu bisa menurunkan sahamku" Jelas Maxim mengiba.
"Apa untungnya buat diriku" Balas Briana tak ingin menolak permintaan Martin.
"Suamimu sudah berinvestasi pada proyekku, dia akan rugi" Imbuh Martin mulai merayu Briana.
"I don't care" Sahut Briana dengan ketusnya disela sela membaca dokumen perusahaannya.
"Suamimu sedang banyak pikiran, kasihan kalau dia harus gagal di proyekku" jelas Martin menatap baik baik mata kakak iparnya.
"Apa masalahnya, aku sebagai istrinya saja tak diberitahunya" Ungkap Briana
"Kau tak tahu, proyek Reklamasi teluk Sunda terancam dihentikan karena masalah perijinan" Jelas Martin dengan berapi api.
"Bukankah dia sudah mengantongi ijin dari pemerintah dan lingkungan sekitarnya" Sindir Briana.
"Aktivis lingkungan menolaknya, dan mendaftarkan gugatan untuk Dua Benua" Imbuh Martin.
Briana kemudian terdiam, Manik matanya menatap keatas langit langit ruangannya. Sekiranya ada saja jawaban di atas langit langit yang sedang dia cari.
"Jadi inilah jawaban dari kecurigaan ku selama ini, kenapa dia tak memberitahukan masalah ini padaku" Kata kata tersebut terlontar dari mulut manis wanita dewasa tersebut.
"Dia sungguh tak ingin mengkhawatirkan dirimu kak, dia sangat menyayangimu kecurigaanmu kemarin itu salah besar" Bujuk Marin meyakinkan Briana.
"Lalu apa yang harus aku lakukan ?" Tanya Briana dengan nada datarnya.
"Bantulah kakakku kak, aku mohon" Pinta Marin mengiba pada Briana.
"Bagaimana caranya, Maxim yang lebih senior daripada aku saja tak bisa memecahkan masalahnya apalagi aku" Keluh Briana menggelengkan kepalanya.
"Kau Dewi penyelamat Maxim kak" Puji Martin kali ini.
"Aku akan memikirkannya, untuk masalahmu aku tunggu itikad baikmu" Kalau saja Martin macam macam, Briana tak akan segan segan menghabisi perusahaan milik Martin tersebut.
"Oke baik, aku akan pergi sekarang" Pamit Martin kemudian.
Sepeninggalan Martin, Briana nampak berpikir keras. Bagaiman caranya dia mengatasi masalah Suaminya.
Kemudian dia memanggil Adam dan Shinta untuk mendapatkan informasi mengenai masalah suaminya.
Begitu mendapatkan perintah dari Briana, Adam langsung mengecek ke lokasi tempat dibangunnya proyek reklamasi Dua Benua.
Kini Adam telah tiba di lokasi proyek reklamasi Maxim. Proyek tersebut sedang dihentikan sementara. Adam baru saja melihat hasil dari awal pengerjaan tersebut barulah pembentukan sebuah pulau buatan.
Adam mulai melakuan pendekatan kepada para pekerja proyek. Dia menyamar sebagai pegawai Dua Benua yang ditunjuk untuk menginvestigasi masalah tersebut.
Adam mengumpulkan banyak informasi untuk dibawanya kembali ke Sandjaya Grup. Dirinya sudah siap memberikan pernyataan mengenai permasalahan Reklamasi Dua Benua.
ππ
Briana sangat serius mendengar informasi yang didapatkan Adam. Selain itu Adam mengambil bukti berupa foto foto mangkraknya proyek Maxim.
"Saya dengar dari sumber informan, bahwa lusa akan ada demo dari para penduduk sekitar yang menamai dirinya kelompok Nelayan" Jelas Adam
"Apa informanmu itu akurat ?" Selidik Briana
" Tentu saja Bu, Saya sudah mendapat kartu as nya" Imbuh Adam dengan nada serius.
"Apa dia pikir aku akan diam saja, dasar laki laki Sialan" Umpat Briana memaki Maxim di depan Adam.
"Kemungkinan besar pak Maxim tak ingin membuat anda khawatir terhadap dirinya, apalagi anda sedang mengandung anak anak beliau" Bujuk Adam meyakinkan Briana.
"Aku akan berkonsultasi pada papa" Kata Briana sambil mengepak berkas berkasnya.
"Masalah Mr Smith bagaimana Bu ?" Tanya Adam
Briana sudah berjanji pada Dosennya itu akan bertemu Minggu depan untuk membahas desain Super Block.
"Dia sudah meng aprove undanganku minggu depan" Sahut Briana dengan bangga.
Adam memberikan jempol kanannya sebagai tanda mengapresiasi hasil kerja Bos besarnya.
"Aku akan menjemput anakku dirumah orang tuaku dan berbicara pada Papaku mengenai masalah Dua Benua" Kata Briana buru buru pergi.
"Bu, saya bisa mengantar anda" Adam menawarkan diri menjadi Supir Briana
"Maxim sudah memberiku Scurity tambahan ?" Sindir Briana
"Tenang, saya masih dipihak Anda Bu" Goda Adam mengedipkan matanya.
"Aku memang sedang bayak pikiran, itu bukan ide buruk Adam" Jawab Briana
"Baik, saya akan menyiapkan mobil Anda" Sahut Adam
"Kau pasti lelah Adam.." Kata kata Briana tiba tiba terlontar melihat bagaiman kinerja Adam sejak pagi tadi.
"Saya senang membantu Anda, karena saya sudah mengabdi pada Pak Tomi sejak dulu" Jelas Adam.
"Aku bersyukur dikelilingi orang orang baik seperti kalian" Ujara Briana mentap punggung Adam dari belakang mengikuti Langkah Adam menuju parkiran.
Karena Adam juga sudah berjanji kepada Maxim untuk menjaga dan menemani Briana saat Maxim tak bersamanya.
Maxim memang menawarkan sebuah tawaran untuk menjaga Briana, dia bisa memberikan imbalan yang besar untuk dirinya. Tapi ditolaknya, dia ingin melindungi bosnya bukan karena imbalan melainkan karena rasa setianya pada Briana dan papanya yang sudah banyak membantunya dan sangat baik padanya selama ini.
"Briana sungguh beruntung memiliki teman sepertimu" Pujian Maxim yang selalu dia ingat sampai saat ini.
Selama ini Briana dan papanya tak menganggap Para karyawannya sebagai bawahannya melainkan sebagai partner kerja dan sebagai teman. Dan selalu ada kapanpun saat dibutuhkan.
πΌπΌπΌ
Tom Holland as Adam Suganda
Sosok Pria yang sempurna mendampingi Briana dimanapun berada. Karena Adam adalah mantan Assisten Papa Briana yang kini menjadi Assisten Briana.
Hoammm... Author akhir akhir ini sibuk banget jadi kalau up nya lama dan keteteran maaupkeun ya π
Tapi jangan khawatir, author akan usahakan up setiap hari meski waktunya tak bisa di tentukan.
Makasih atas waktu yang Readers gunakan untuk membaca novel ini.
Thanks a lot π
Big Huge from me π»