Princess Connect

Princess Connect
Delapan Puluh Delapan



Bukanlah kesabaran jika masih mempunyai batas dan bukanlah keikhlasan jika masih merasakan sakit.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ada yang datang, pasti ada yang pergi seperti itulah adanya kehidupan di dunia ini.


Mau di tangisi dan disesali seperti apa juga tak akan merubah segalanya. Setidaknya itulah kata kata yang saat ini terlintas di benak Briana Rodriguez.


Sambil memeluk mesra putri kecilnya tertidur dikamar bekas dirinya sewaktu muda. Kemudian dia berdiri di depan cermin dari sebuah meja rias di kamarnya.


Dia mengamati keadaanya yang menyedihkan saat ini. Air matanya kembali mengalir menerobos keluar dari manik birunya yang indah.


"Apa yang selanjutnya akan aku lakukan tanpa mereka ?" Pikir Briana dalam hati seraya mengusap bekas jahitannya kemarin.


"Aku seorang ibu yang gagal untuk anakku" gumamnya menyesali nasibnya saat ini. Kemudian dia beranjak ke kamar mandi dan merendamkan seluruh tubuhnya di bathtub.


Setidaknya dia merasa nyaman saat ini, meski hanya saat ini. Bila dia mengingat kembali kedua calon anaknya dia akan murung lagi.


Bahkan sampai saat ini Briana tak berani untuk berjumpa dengan suaminya. Dia takut Maxim akan kecewa terhadap dirinya.


Hampir sejam, Briana membenamkan dirinya di bathtub. Kini dia melangkah keluar kamar mandi dan mendekati Keana putri kecilnya.


Dilihatnya baik baik wajah mungil tersebut, dia begitu polos tanpa beban. Andai saja Keana memiliki adik dia pasti akan sangat senang.


"Maafkan Mommy keana, im so so sorry" Ucapnya lirih diiringi derai air mata. Sambil mengisi Briana memeluk Anaknya. Dia merasa tenang saat berada di dekat Keana.


Tanpa disadari dirinya hanyut dalam rasa tenang tersebut dan berangsur angsur tertidur.


🌼🌼


"Mom wake up" Kata Keana mengoyang goyangkan tubuh Mommynya. Dia tak menyadari bahwa bukan hanya neraka berdua yang berada di dalam kamarnya.


"Daddy" Panggil Keana dengan herannya.


Mendengar Keana memanggil Maxim, Briana kemudian membuka matanya dan mendapati suaminya berada disebelahnya masih tertidur.


Briana kemudian bangun dan mengajak Keana untuk bersiap-siap ke sekolah.


"Kenapa kalian berdua membangunkan Daddy " Keluh Maxim yang kini sudah tersadar dari tidurnya.


"Ini sudah siang" Kata Keana protes dengan ulah Daddynya.


Briana masih terdiam tak bereaksi apa apa melihatnya berada di dekat mereka.


"Kalian tak merindukan Daddy ?" Maxim mencoba untuk mencairkan suasana sambil memeluk ke duannya.


Briana melepaskan pelukan suaminya dan beranjak keluar dari kamar Keana. Hal tersebut membuat Maxim dan Keana saling pandang.


"Apa Mommy sedang marah Dad?" Keluh Keana pada responya.


"Tidak" Maxim kemudian menyusul kemana istrinya diikuti langkah kecil putri kecilnya Keana.


Mereka berdua mengikuti Briana hingga ke Parkir mobil di Basement keluarga Rodriguez.


Dengan langkah gontai Briana akan masuk ke dalam mobilnya, lebih tepatnya mobil mendiang mamanya.


Melihat keadaan istrinya saat ini, Maxim begitu khawatir Briana akan melakukan tindakan nekatnya.


"Mau kemana ?" Maxim menghadang istrinya yang bersiap pergi. Dia menggenggam tangan istrinya dan memeluknya.


"Aku minta maaf, aku tak bisa menjaga kalian bertiga" Ucap Maxim dengan sedihnya.


Isak Briana disela sela tangisnya.


"Aku tahu sayang, kau sangat kehilangan tapi kumohon jangan berlarut larut dalam kesedihan bagaimanapun juga Keana masih membutuhkan dirimu" Maxim masih memeluknya dan mengajak istrinya kembali kerumah mertuanya.


Briana sampai melupakan seseorang yang sangat dia cintai dan masih membutuhkan kasih sayangnya. Keana gadis kecil tersebut menjadi Oase di dalam hatinya saat ini. Sebagai pengobat rasa sedihnya.


🍁🍁


"Saat ini Daddy memperbolehkan kamu ijin untuk tak masuk sekolah dengan catatan untuk menemani Mommymu" Maxim melakukan penawaran pada Putri kecilnya.


Dengan senang hati, Keana akan menjaga Mommynya dengan segala hatinya.


"Max, aku ada yang ingin dibicarakan padamu" Ujar Tomi kepada anak menantunya.


Kelihatannya ini mengenai hal penting karena Tomi hanya ingin berbicara berdua saja dengan Maxim.


Mereka mengobrol ke ruang kerja Tomi, mereka berdua kelihatan sangat serius saat ini. Mungkinkah ini ada hubungannya dengan Briana atau dengan masalah di perusahaan Maxim.


"Kau sudah menemukan siapa pelakunya ?" Tanya Tomi pada Maxim dengan mata tajamnya.


"Seluruh bukti mengarah ke keluarga Halim, dari penyelidikan dilapangan saat Orang tersebut kabur dan masuk ke mobil Dengan plat nomor yang sudah aku selidiki" Tutur Maxim dengan jelas tanpa mengurangi sedikitpun.


"Aku tak memiliki masalah dengan keluarga Halim, kenapa dia menyerang putriku" Umpat Tomi dengan emosi yang memuncak di ubun ubunnya.


Maxim kemudian menjelaskan masalah Briana dengan Laura Halim. "Briana telah menghancurkan bisnis Laura Karana Laura telah mencoba menggodaku" tutur Maxim.


"Bukannya kapok dia malah menyakiti anak anakku lewat papanya" Gerutu papa Briana yang telah tersulut amarahnya.


"Aku akan membalasnya pa, Ini menyangkut anak anakku juga" Maxim juga sudah siap untuk membalas dendam pada Laura dan keluarganya karena telah berani mengusiknya.


"Dia meminta bantuan papanya, Dan sekarang papa Briana yang akan turun tangan siapa yang berani macam macam dengan anakku aku pastikan tak akan selamat" Ancam Tomi menutup perbincangan antara Maxim dan dirinya.


Maxim sudah menempuh jalur hukum untuk melaporkan kerusuhan di lokasi proyeknya dan akan melayangkan tuntutannya pada Lukman Hakim papa Laura.


Dia sudah lama berkecimpung di dunia Bisnis banyak tantangan dan hambatannya tetapi baru kali ini ada musuh yang berani menyentuh keluarganya.


Maxim bersumpah akan membalaskan dendam kedua anak nya. Karena Nyawa harus dibayar nyawa.


🌼🌼🌼



Lalu apa yang akan dilakukan oleh Briana ?


Apa dia juga akan membalaskan dendam anak anaknya ?


Briana dikenal sebagai wanita yang keras dan juga bar bar.


Dia tak akan segan segan membalas dendam kepada orang yang telah menyakiti dirinya.


Bersambung...


🍁🍁🍁



Minta dukungannya ya teman teman untuk novel kedua saya.


😘😘😘