
Rutinitas pagi hari di keluarga Lautner. Seperti biasa, pagi ini indah. Langit masih kelabu. Udara sekitar terasa dingin menyentuh kulit. Burung-burung terdengar riang bernyanyi. Kicauannya menemani aktifitas manusia di pagi itu.
Seorang wanita dewasa dengan cekatannya memasukan buku buku kedalam sebuah tas sekolah berwarna Jingga. Si empunya tas masih terlelap setelah semalaman mengerjakan pekerjaannya sekolahnya.
"My daughter Keana ,,, wake up dear !" Briana memanggil putri kecilnya yang masih terlelap.
"What time is it Mom ?" Sahut Gadis tersebut masih dengan nada mengantuk nya.
"No, it was late Keana,, Daddy akan marah kalau kau sampai telat !" Jelas Briana menyarankan putrinya agar tak mendapatkan ceramah pagi dari Maxim.
Baru saja membangunkan Keana, Briana sudah mendapati sebuah tangisan dari Anak lelakinya lagi.
"Mommy tunggu di bawah, segeralah bersiap sebelum Daddy marah !" Seru Briana meninggalkan putri sulungnya yang kini telah berumur 10 tahun.
Selesai membangunkan putri sulungnya, kini waktunya ia mengurusi anak lelakinya tersebut.
Hari ini adalah hari pertama Edgar si bungsu masuk ke Kindergarten, orang biasa menyebutnya taman kanak kanak.
"Baby,,, why you so Cry ?" Tanya Briana menenangkan Edgar dengan memeluknya.
"Mom, Daddy tak bisa memasangkan baju Ed ..." Keluh Edgar dengan tangis pecahnya.
Disampingnya, dengan berlutut di samping putranya, seorang CEO Dua Benua dengan susah payah memakaikan baju putranya.
Briana gemas sekali dengan tingkah laku kedua pria di depannya hingga membuatnya geleng kepala.
Kini, dengan sangat telaten Briana memasangkan baju Edgar. Dia melakukannya dengan sangat sabar.
Saat ini prioritas utamanya adalah merawat kedua buah hatinya, meski masih sering berkelahi lantaran Maxim melarangnya untuk kembali bekerja.
Dan untuk hasil akhirnya, Briana terpaksa menerima Kemala atas pendiriannya. Kini status Istri dan Mommy di keluarga Lautner membuat dirinya sepenuhnya menjadi seorang ibu yang selalu ada untuk kedua buah hatinya.
Sedangkan untuk statusnya di Sandjaya Grup, sudah beralih tangan ke Hendry Rodriguez. Kini Hendry merangkap jabatan menjadi Direktur Utama di perusahaan tersebut setelah melalui pemilihan dari masing masing pemegang saham.
Meski Hendry tak memiliki saham di perusahaan Tersebut, dia dipercaya oleh Briana dan Papanya untuk menggantikan posisi Dirut.
"Memakaikan baju anak sendiripun tak bisa ?" Ejek Briana menghilangkan tangan di dadanya setelah selesai mendandani Edgar.
"Aku lebih suka memakaikan baju Mommy Edgar ... " Goda Maxim mengedipkan matanya kearah Briana.
"Sembarangan, Mommy tunggu kalian di Meja makan ,," Ucap Briana sambil berlalu meninggalkan kedua lelaki beda generasi tersebut.
"Apa putri kita sudah selesai ?" Tanya Maxim berjalan mengekori istrinya ke meja makan, dan Edgar pun mengikuti langkah kedua orang tuanya tersebut.
"Dia masih mandi, Kau tak tahu semalam dia berusaha keras berkutat dengan tugasnya di sekolah !" Jelas Briana mengingat betapa kerasnya Keana belajar.
"Itu bagus, aku ingin anakku pintar seperti Daddynya !" Sahut Maxim menyombongkan diri.
"Pintar dari mana ? aku rasa kalau bukan karena kau kaya tak mungkin aku mau denganmu .." Ejek Briana protes dengan sikap narsis suaminya.
"Buktinya, lahir juga Ed .." Goda Maxim memeluk Putra bungsunya itu.
Setelah menyusuri bagian rumah mewah di kediaman Lautner, kini mereka telah tiba di dining room keluarga Lautner.
Briana menyiapkan beberapa mangkuk untuk wadah Oatmeal yang akan mereka santap sebagai sarapan.
Tak berselang lama, Putri sulungnya datang dengan cerianya.
Wajahnya berseri seri bagai mentari pagi. Gadis kecil itu kini telah menjelma menjadi putri cantik kelas 4 sekolah dasar.
"Morning Mom, Dad and Ed ...." Sapa Keana dengan senyum sumringahnya.
"Morning too my sweetness.." Sahut Daddynya yang sedang menunggunya bergabung.
"Morning too Kakak bawel !" Sahut Edgar singkat.
"Mom, Edgar mengejek Keana ..." Gerutu Keana melaporkan kepada Briana yang sedang menuang susu untuk seluruh anggota keluarganya.
"Kalian sehari saja gak ribut apa tak bisa ?" Kini Briana malah mengeluh tentang kedua anaknya.
"Sudah jangan berisik, baik Keana maupun Edgar jangan berkelahi saat makan ?" Ucap Maxim menganjurkan kedua buah hatinya.
"Ed yang mulai Dad,," Lapor Keana tak mau mengalah.
Briana dengan sigap menyuapkan sesendok oatmeal ke dalam mulut Keana ketika ia berbicara.
"Kenapa hanya kakak yang disuapi Mom ?" Protes si kecil Edgar. "Ed mau juga disuapin Mommy..." Keluh Edgar cemburu.
"Oke, kemarilah Ed.. " Briana meminta Edgar mendekatinya untuk duduk di sebelahnya supaya gampang untuk menyuapinya.
"Punya dua orang anak ternyata melelahkan.." Batin Briana. Meski bukan mengeluh, namun memang itu yang saat ini ia rasakan.
Setelah selesai sarapan bersama, kini mereka bersiap untuk menjalani aktivitas mereka seperti biasanya.
Setiap harinya, Briana bertugas untuk mengantar kedua anaknya sekolah, kemudian ia baru bisa menjalankan jadwalnya.
Meski kini tak lagi menjabat sebagai direktur lagi, namun aktivitas Briana masih tetap banyak. Seperti menghadiri seminar perempuan atau menerima pemotretan bila ada temannga yang meminta bantuan memasarkan produknya secara cuma cuma.
Hanya saja dia sering mengambil suatu event atau acara setelah selesai mengurus kedua anaknya, atau lebih sering saat weekday. Karena bila satu hari saja saat weekend dia tak dirumah, bisa protes seluruh penghuni isi rumah.
Seperti contoh hari ini, selesai mengantar kedua anaknya, dia akan melaksanakan photoshoot untuk mengiklankan toko roti milik temannya. Tentu saja setelah negosiasi ijin yang panjang dari suaminya.
Pagi ini Maxim akan mengantar Briana serta kedua anaknya untuk pergi ke sekolah. Biasanya Briana selalu ditemani seorang supir. Tapi kali ini berhubung Maxim tak sibuk, jadi dia akan mengantar istri dan anaknya dahulu.
🍂🍂
"Nanti Mommy akan menjemputnya bersama Aunty Clara .." Ucap Briana membukakan pintu mobil untuk putrinya.
"Manue akan bersama kita Mom ?" Sahut Keana mengecup pipi Mommynya.
"Iya, Mommy akan menemani Aunty Clara kemudian menjemput Edgar .." Jelas Briana.
"Bye Dad, " Kata Keana mencium pipi Maxim sebelum melangkahkan kakinya masuk ke kelasnya.
"Bye juga Ed .." Imbuh Keana pada Adik lelakinya.
"Bye sayang, belajar yang rajin ya ?" Ucap Briana melepas kepergian putrinya masuk kelas.
Kini tinggal mengantar Edgar untuk mendaftar di sekolahnya.
Anak lelaki itu sangat mirip dengan Daddynya, tatapan matanya yang bengis dan sikap acuhnya, namun bedanya Edgar lebih sensitif dari pada Maxim. Dia sangat peka pada perasaan Briana.
Dengan memakai pakaian yang senada namun beda warna, Ed dan Maxim bagai pinang dibelah dua.
Edgar adalah potret masa kecil Maxim saat ini. Postur tubuhnya, tatapan matanya semuanya mirip Daddynya.
Briana kemudian mengantar Edgar untuk mendaftar ke sekolahnya, Maxim mengikutinya dari belakang.
"Sayang, kau akan telat ! aku bisa mengurusnya sendiri .." Bujuk Briana yang melihat Suaminya mengekorinya.
"Aku ingin memastikan bahwa sekolah ini pantas untuk Putra Maxim Lautner !" Sahut Maxim dengan sikap Arogannya.
"Ssssttt jaga ucapanmu Max, tak enak kalau ada yang mendengar !" Protes Briana pada Maxim.
"Aku ingin yang terbaik untuk anak anakku !" Sahut Maxim menggandeng anak dan istrinya masuk ke sekolah Edgar.
"Oke terserah padamu, tapi jangan macam macam dan jaga sikap kalian berdua ..."Ancam Briana memperingatkan kedua lelaki tersebut.
Pasalnya, Briana takut Maxim dan Edgar tak bisa menahan sikapnya saat berbicara pada Guru Edgar. Maxim kan terkenal sebagai pengusaha sukses Briana takut ucapannya nanti bisa menyinggung Guru di sekolah Edgar.
🍂🍂🍂
Ini adalah secuil kisah singkat Briana Lautner yang kini beralih profesi dari Model Internasional menjadi seorang ibu rumah tangga.
Semua karirnya telah dipertaruhkan sebagai istri Dari pengusaha sukses Maxim Lautner.
Meski begitu, untuk urusan bisnis Briana masih memegang peranan penting. Dirinya masih aktif sebagai pemenang saham terbesar di perusaan papanya.
Meski dirinya kini tak diposisi Direktur, Briana masih aktif Wira Wiri di perusahaan papanya. Dan juga Bisnis Management Modelnya yang ia rintis bersama Mona masih tetap jalan.
Meski tak menyita cukup banyak waktunya, namun pikirannya harus dipecah dalam berbagai aspek.
Mampukah seorang Briana Lautner menjalani hidupnya sebagai seorang Istri dan Mommy dari anak anaknya ?
Kisah Selanjutnya akan tersaji dalam waktu dekat ini.
Bye all
❤️❤️