
Jika kamu membiarkan rasa takut tumbuh lebih besar dari imanmu, maka kamu menghalangi impianmu menjadi kenyataan.
🍁🍁🍁
Briana sudah tak tahan dengan rasa sakitnya dia menuju ke Klinik temannya di dekat rumahnya.
Kini dia sudah antre menunggu giliran diperiksa oleh dokter.
Sekitar 15 menit Nama Briana di panggil oleh seorang perawat
" Nyonya Briana .." Panggil perawat klinik tersebut.
Briana masuk keruang pemeriksaan dengan menahan rasa sakitnya.
" Briana Lautner .." Sapa Cindy
Cindy adalah tetangga Briana, dulu dia sering main bersama saat masih anak anak . Mama Briana sering mengijinkannya menginap dirumah Cindy atau sebaliknya.
" Jangan banyak basa basi, asam lambungku kambuh ..." Kata Briana
" Makanya jangan telat makan " sahut Cindy memeriksa tensi Briana dahulu dan memberi Briana obat anti nyeri.
" Bi... kau sendirian ?" Selidik Cindy kemudian
" Tentu saja, kau pikir aku bersama hantu " Jawab Briana dengan kesal.
" Mana suami mu yang fenomenal itu ?" Sindir Cindy.
" Kalau kau hanya menggodaku, mending aku ganti dokter saja " Gerutu Briana membereskan pertanyaan Cindy.
" Aku ingin bertemu dengannya.." pinta Cindy
" Untuk apa ?" sindir Briana
" Mengucapkan selamat atas pernikahan kalian, kenapa kau tak mengundangku?" imbuh Cindy lagi.
" Cindy... ini tak lucu, dia sedang bekerja." kata Briana meyakinkan temannya.
" Telpon lah, suruh kesini ini menyangkut masa depan kalian " Perintah Cindy dengan tegas.
" Baiklah, aku tak janji dia akan mau " sahut Briana membalas Cindy.
Briana mengabari Maxim bahwa dia sedang di klinik pribadi dokter Cindy dekat rumahnya. Dia ingin Maxim menjemputnya.
🍁🍁
Tak berapa Lama Maxim pun datang menemui Briana di ruang dokter Cindy..
" Bi... bagaiman denganmu ? apa terjadi sesuatu ?" tanya Maxim memeluk Istrinya dengan khawatir tanya memperdulikan ada dokter dan perawat di ruangan itu.
" Tenang saja Tuan, Briana tak harus opname kok..." Ejek Cindy yang sedari tadi memperhatikan mereka dengan juteknya.
" Dia sakit apa ? apa perlu kita langsung cari dokter spesialis ?" Maxim memberondong pertanyaaan pada Cindy.
" Aku juga tak tahu, aku tak makan tadi pagi dan asam lambungku kumat saja. Hanya itu " Jelas Briana dengan lugunya
" Kau memang perlu ke dokter spesialis.. " Kata Cindy..
" Penyakitnya apa ?" Tanya Briana heran
" Kau perlu ke Obgyn Bi.. sepertinya kau hamil" Jelas Cindy..
" Ini tidak mungkin dodol aku sudah meminum pil kontrasepsi" Kilah Briana dengan tegas.
" Apa ????" Bentak Maxim
" Denyut nadimu ada dua Bi.., aku kira ini sudah hampir 4 Minggu" jelas Cindy
" Coba jelaskan masalah pil Kontrasepsi" Umpat Maxim
Briana menekuk wajahnya mendengar pertanyaannya suaminya.
" Aku selalu meminumnya sebelum kami berhubungan .." Jelas Briana masih tak terima pada Cindy.
" Dasar Bodoh, Aku kira seorang model profesional akan lebih pintar dari anak SMA. Anak SMA saja tahu cara pakai yang benar " Ejek Cindy
" Maksudmu apa membandingkan aku dengan anak SMA? " maki Briana
" Pil itu diminum tiap hari Nyonya ... bukan karena akan berhubungan doang " Imbuh Cindy mengejek Briana
" Kau tak memberi tahuku" Gerutu Briana kesal.
" Lalu apa anda punya rekomendasi dokter Obgyn terbaik untuk istri saya ?" tanya Maxim
" Aku punya teman di Siloam" kata Cindy diikuti mengeluarkan sebuah kartu nama seseorang dokter kandungan.
" Kau bilang tadi hampir 4 Minggu ?" Tanya Briana masih tak percaya.
" Iya, berarti sebelum kalian menikah kau sudah hamil.." Ejek Cindy melihat dua orang didepannya.
" Apa kita perlu ke Mount Elizabeth Hospital ??" Tanya Maxim
" Max.. aku hanya hamil, bukan memiliki penyakit kronis " Sindir Briana tak suka dengan sikap suaminya
Mereka lalu undur diru dari dokter Cindy..
Cindy sampai iri dengan kemesraan mereka berdua. Baru kali ini Briana sangat berbahagia terlihat dari wajahnya.
" Kita akan ke Singapura.." Kata Maxim pada supirnya.
" Sayang ... kau berlebihan .." sambung Briana
" Aku tak ingin kau kenapa kenapa sayang .." sahut Maxim
" Semua wanita akan merasakan apa yang aku rasakan, so don't be Panic " jelas Briana
" Aku sangat bahagia bi..." Kata Maxim tak henti hentinya memeluk istrinya
" Aku juga " jawab Briana
" Benarkah ??? kau merencanakan meminum pil kontrasepsi" Sindir Maxim mengingatkan lagi.
" Maafkan aku sayang, aku masih belum berencana hamil apa lagi sebelumnya aku belum menikah dan kau selalu menerkam ku " Jelas Briana.
" Berarti aku cukup hebat kan Bi ? aku berhasil menghamilimu .." Goda Maxim menggelitik pinggang Briana .
" Sangat hebat... aku sampai terkesan " Puji Briana pada Maxim.
" Itu pujian atau sindiran sayang ?" Tanya Maxim menciumi leher istrinya.
" Hentikan... Ada drivermu " Bisik Briana pelan karena malu ada supir Maxim di depan.
" Aku tak peduli " sahut Maxim.
" Jangan Max.. please " Pinta Briana
" Berati feeling Daddy kuat ya sayang .." kata Maxim sambil mengelus Elis perut Istrinya
" Maksudmu ?" tanya Briana
" Aku sudah menduganya dari dulu, karena akhir akhir ini napsu makanmu bertambah Bi " jelas Maxim
" Kita Ke Siloam saya ya sayang, itu lebih dekat...!" Bujuk Briana pada suaminya.
" Mana bisa, dalam kartu nama dokternya laki laki Bi..." Sahut Maxim dengan kesalnya.
" Lalu apa masalahnya ?" Tanya Briana
" Aku cemburu ..." Akui Maxim tegas
" Aku akan mencari dokter Obgyn wanita terbaik meski sampai ke ujung dunia.." Imbuh Maxim dengan kesalnya.
" Mau laki laki atau perempuan dokternya sama saja, yang penting anak kita sehat itu sudah cukup sayang .." Bujuk Briana menyakinkan suaminya.
" Aku tak suka kau di pegang pegang lelaki lain !!!" Gerutu Maxim masih tak mau kalah.
" Sayang, itu hanya profesi mereka dan mereka sudah ada sumpah kerjanya " Jelas Briana memeluk suaminya untuk meyakinkan nya lagi.
" Aku tak bisa ..." Jawab Maxim
" Berhenti merengek seperti Keana, kau sudah dewasa sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah" Briana memarahinya karena kesal dengan sikap Maxim.
" Bi .. Kenapa kau marah marah sayang .." Sindir Maxim
" Karena kau kekanak kanakan Max" sahut Briana
" Baiklah aku mengijinkanmu, dengan satu syarat .." kata Maxim yang akhirnya luluh juga
" Apa itu ?" selidik Briana penasaran.
" Setiap kali kau bertemu dokter, kau harus bersamaku" Pinta Maxim.
" Baiklah, hanya itu saja ?" Ejek Briana
" Kita lanjutkan nanti malam " Goda Maxim melirik Briana dengan genitnya.
" Jangan menyakiti anakmu " Bentak Briana
" Ayolah..., anak kita akan senang sayang" Rayu Maxim
" yang benar saja" Gerutu Briana dengan kesal.
Mereka tak jadi ke Mount Elizabeth Hospital, Karena Briana menginginkan di Rumah sakit di Jakarta saja.
Karena tak ingin meninggalkan Keana lagi.
"Toh ini juga hanya masalah biasa untuk wanita " Menurut Briana.
🍁🍁🍁
dr Cindy Hapsari
Teman masa kecil Briana yang kini menjadi Dokter umum dan membuka praktik pribadi di dekat rumah Papa Briana.