
Kedekatan yang terjalin antara Kriss dan Keana yang semakin hari semakin intim dan harmonis, membuat Aiden makin mengerutkan dahinya. Pasalnya Sang anak dari konglomerat ini tak ingin rencananya gagal dalam mendekati kerjaan bisnis Daddy Keana.
Maxim Lautner yang merupakan seorang pebisnis sukses, gaungnya memang sudah lama terdengar hingga ke seluruh rekanan dan saingan bisnisnya. Tak dapat dipungkiri bahwa Aiden pun ingin berlomba-lomba menepikan perahunya ke dermaga bisnis Daddy Keana.
Aiden harus membuat otaknya bekerja lebih keras lagi agar bisa mendapatkan kepercayaan dari Maxim Lautner.
Kini ia meninggalkan Keana bersama Kriss yang masih di Negara Jerman, lebih tepatnya lagi di kota Koln. Aiden terus mengumpulkan cara agar mampu menembus lahan bisnis Daddy Keana tersebut.
*
"Mom ... Dad...." seru Keana yang baru tiba di kediamannya. Ia sangat terkejut lantaran kedua orang tuanya secara tiba-tiba menjenguknya.
Rumah bertipe minimalis itu memang pilihan Sang Princess, Keana sengaja ingin hidup mandiri meski jauh dari kemewahan yang Daddynya kucurkan.
"Siapa yang mengantarmu Anna?" tegur Maxim dengan tajam pada Sang Putri.
Sedangkan seperti biasa, Briana telah memeluk Sang Putri karena sudah sangat merindukannya. "Mommy has Miss u baby, Miss u alot!" tuturnya tanpa menunggu jawaban dari Keana untuk suaminya.
"Jawab Daddy, Keana!" tegur Maxim mulai mengulangi pertanyaannya dengan nada Sedikit lebih tinggi.
"He's my friends Dad,"
"Not longer Keana, Daddy tak suka kamu bergaul dengan orang yang tak jelas asal-usulnya!" Maxim menaikan nada suaranya, ia bersikap seolah-olah Keana telah salah bergaul karena melihat seorang lelaki biasa telah mengantarkan Keana pulang kerumahnya.
"Max, itu berlebihannya bukankah Keana masih muda? Bersikaplah santai dan jangan emosi!" bujuk Sang Mommy yang tak terima putri semata wayangnya di marahin oleh Daddy-nya.
"Bi, kamu selalu saja membela dia!"
"Kalau bukan aku, lalu siapa lagi?" sahut Briana tak terima Maxim terus saja memarahi Sang Putri. Dan Briana terus saja memprotes suaminya lantaran masih tetap emosi.
"Tapi Keana menyukainya Dad," ungkap Keana dengan sangat hati-hati. Gadis itu takut bila Daddynya masih saja tak mengijinkan dirinya berhubungan dengan Kriss.
Menyadari ada sebuah ketegangan diantara ayah dan anak tersebut, Briana dengan tanggap menggandeng Keana untuk masuk ke kamarnya. Briana memang ingin menyelamatkan Sang Putri dari amukan Suaminya. Ia masih sangat hapal bagaimana sifat dan kejelekan dari Maxim Lautner. Pria paruh baya itu masih tetap sama bengisnya dari beberapa tahun yang lalu.
*
"Mommy akan selalu bersamamu Keana, jangan khawatir Daddy melakukan itu semua demi kebaikanmu percayalah pada Mommy!" Briana membujuk putri tercintanya untuk tak menangis. Keana masih saja menangis meski sudah berusaha menahannya.
"Mom, Anna sudah menyukai Kriss sejak pertama kali Anna bertemu dengannya."
Briana makin menguatkan pelukannya, ia tak ingin putri tercintanya tersebut mengalami hal yang sama dengan dirinya seperti dahulu, yakni sakit hati.
Karena suhu dingin di Kota Koln akhir-akhir ini semakin turun, Briana kemudian menaikan suhu penghangat udara yang berada di dalam kamar Sang putri tercintanya.
"Ceritakan pada Mommy, kapan kau menyukainya sayang?" dengan lembut Briana mengusap kepala Keana untuk mendengarkan keluh kesahnya. Ia sangat tahu apa yang dirasakan Sang putri. Meski kisah cintanya dulu tak seperti yang Keana alami. Namun wanita yang kini berumur hampir 50tahun ini sangat tahu bagaimana rasanya jatuh cinta.
"Anna, bertemu dengan Kriss dulu ketika Mommy menjemput Keana pulang sekolah. Kita berhenti sejenak dari perjalanan pulang ke rumah karena kita berdua terpaku dengan kemahiran Kriss memainkan Biola Mom," jelas Keana secara rinci awal mula ia mulai merasakan getaran-getaran asmara.
"Jadi, pemuda itu yang bernama Kriss Ann. Pemuda yang memainkan biola lalu Mommy berdonasi ke kelompok musiknya?" Briana tampak terkejut atas penuturan anaknya.
Ia dulu memang menjadi donatur utama di yayasan yang menaungi Kriss, ia juga tahu bahwa pemuda yang menjadi alasan Sang Putri untuk belajar biola adalah pemuda yang berbudi mulia. Tapi mengapa Maxim bersikeras menolak Kriss?
"Mommy suka dia Ann, dia pemuda yang tepat!" ungkap Briana kemudian.
"Benarkah Mom?" Manik Remaja itu kini mulai berbinar-binar manakala Sang Mama menyatakan memberi dukungan untuk Kriss secara langsung.
"Tapi Daddy?"
Keduanya kini sama-sama saling memutar otak untuk menjalankan misinya. Yakni misi merayu Maxim agar menerima Kriss dengan senang hati. Karena Kriss adalah pemuda yang baik dan pantas bersanding dengan Keana.
"Mommy akan membujuknya," Briana beranjak dari kamar Keana. Ia ingin mencari perhitungan dengan Maxim yang seenaknya saja meminta Keana untuk menjauhi Kriss.
"Apa yang Anna katakan Bi?" dengan suara pelan, pria paruh baya itu bertanya pada Sang istri ketika Briana masuk ke dalam kamar yang akan mereka gunakan untuk menginap.
"Putri kita sudah dewasa Max, dia tahu mana yang baik dan yang tak baik untuknya,"
"Aku hanya ingin putriku hidup bahagia sayang dengan menikahi pria yang tepat untuknya!" Maxim mencoba menjelaskan pada Briana. Ia mulai merayu istrinya dengan melingkarkan tangannya ke tubuh Sang istri.
"Menikah dengan orang yang Keana cintai bisa membuatnya bahagia Max, bukankah kita juga seperti itu?"
Mata Briana berkaca-kaca, ia mengingat betapa menderitanya ia dulu. Setelah ibunya meninggal wanita cantik itu merasakan kekosongan di dalam hatinya.
"Orang yang bisa membahagiakan Keana adalah orang yang berasal dari status sosial yang sama dengan kita Bi," Maxim mulai memangkas habis pernyataan dari Briana.
"Sayang, segala sesuatu tak bisa diukur dari uang Max!"
Keduanya pun akhirnya memilih untuk berselisih paham. Maxim masih kekeuh dengan pendapatnya bahwa Keana harus hidup bersama dengan orang yang sekelas dengan mereka. Sedangkan Briana lebih memilih Keana hidup dengan orang yang Keana cintai.
Keduanya pun masih berperang dingin sedingin udara kota Koln yang mencapai suhu -7 derajat. Dinginnya kota Koln juga serasa sedingin hati pasangan suami istri tersebut. Keduanya memang memiliki ego yang tinggi. Maxim dengan sikap arogansinya tak berubah sedangkan Briana dengan sifat tak mau kalahnya.
Kini yang menjadi korban adalah Keana, gadis itu mau tak mau harus mengikuti kemauan Sang Daddy. Maxim meminta Keana untuk tidak berhubungan dengan Kriss. Kalau tidak, Maxim mengancam tidak akan memberikan apapun untuk Sang putri kesayangan mereka.
Mempunyai suami yang arogan dan berpengaruh, bisa membuat Briana sedikit nyeri kepala. Pasalnya sudah sejak dulu ia memang sangat tak suka dengan sikap dan perilaku sang suami.