
Sang Surya kini akan menuju ke peraduannya, Menjelang senja tiba, Tubuh Wanita yang telah kehilangan anaknya tersebut kini sedang mondar mandir di kamarnya.
Dirinya kini sedang berpikir bagaimana caranya untuk meyakinkan suaminya agar mau menandatangani surat perjanjian yang saat ini sedang dia genggam di tangannya.
Apalagi melihat respon suaminya tadi, Briana tak bisa melupakannya sedikitpun. Begitu marahnya Maxim sampai sampai seharian ini dia tak menghubunginya sama sekali.
Dilihatnya jam sudah menunjukan pukul 18.00 petang, sudah waktunya suaminya pulang kalau menurut jadwal. Kalau ada keperluan lain bisanya bisa hingga tengah malam baru sampai di rumah.
Samar samar dia mendengar suara deru mobil suaminya memasuki rumah mereka dan masuk kedalam Basement untuk parkir.
Briana kemudian membuka tirai jendela untuk memastikan bahwa berita itu benar adanya. Deru langkah yang tegap membuat Briana yakin bahwa suaminya telah masuk kerumah.
Dia binggung bagaimana akan menjelaskan pada Maxim.
Dia telah menunggu hingga setengah jam, tapi Maxim tak kunjung naik dan masuk ke kamar mereka.
Karena kesal, Briana memutuskan untuk pergi ke kamar Keana. Untuk apa dia menunggu suami yang menghindarinya.
"Mau kemana ?" Langkah kaki Briana terhenti tatkala mendengar Maxim mencerca pertanyaan untuknya.
"Menemani Keana" Jawabnya singkat tanpa menoleh kearah Maxim.
"Aku baru saja pulang, dan kau meninggalkan aku Bi" Protes Maxim menghadang jalannya.
"Aku lelah, aku ingin istirahat" Sahut Briana masih tetap dengan raut wajah datarnya.
"Mau masuk sendiri ke kamar kita atau perlu aku angkat tubuhmu" Ancam Maxim kini dengan nada Arogannya.
Karena takut membuat Suaminya makin marah padanya, terpaksa dia mengikuti kemauan Suaminya. Toh ada hal yang ingin dia bicarakan padanya.
"Apa aku boleh berbicara sesuatu padamu ?" Briana membuka obrolan ketika dirinya duduk ditepian tempat tidurnya.
"Katakan saja Bi ada apa" Sahut Maxim tanpa menoleh ke arah Istrinya karena sedang berusaha melepas jas kerjanya.
"Kau ini sudah tua, tapi melakukan pekerjaan sepele seperti melepas jas saja perlu waktu lama" Gerutu Briana yang kesal karena Maxim mengabaikannya.
"Ya Sudah, mau gimana lagi istriku tak melayaniku" Sindir Maxim memecahkan kekesalan istrinya.
"Cari saja istri baru" Sindir Briana dengan kesalnya mendengar jawaban Maxim.
"Apa segampang itu untuk ku meninggalkanmu sayang ?" Maxim mendekati istrinya dan menggodanya agar tak kesal lagi.
"Max, aku seriu tadi sebelum bertemu Clara dan teman temanku aku sempat mampir ke kantor pengacara Prab and Partner Law Firm untuk berkonsultasi masalah tadi pagi" Jelas Briana panjang lebar.
Maxim mengerutkan dahinya mendengar penuturan Istrinya barusan. Dia tak menyangka bahwa Briana akan bertindak sejauh ini karena hal sepele.
Kemudian Briana mengeluarkan sebuah dokumen yang bersampul Map warna kuning dari lacinya. Kemudian dia memberikan kepada Maxim untuk membacanya.
"Surat Perjanjian Pernikahan" Maxim mencoba mencerna tulisan pada dokumen tersebut.
Pada Poin pertama, Intinya pada pihak kedua yakni Maxim apabila melakukan tindakan kekerasan atau penganiayaan akan diproses hukum dan tidak akan mendapatkan hak asuh anak anak mereka kelak.
Untuk Poin kedua, Bila pihak kedua ketahuan menduakan atau berselingkuh, Pihak pertama wajib mengajukan gugatan cerai ke pengadilan.
Poin Ketiga, Briana minta waktu satu tahun untuk berusaha memiliki seorang anak dari Maxim, kalau dalam setahun belum berhasil Terserah pada pihak kedua akan dilanjutkan atau dihentikan pernikahan tersebut.
Lalu untuk poin keempat, bila mana terjadi perpisahan, untuk pembagian aset akan di bagi berdasarkan aset sebelum terjadi pernikahan.
ππ
Maxim heran, bisa bisanya Briana melakuan hal seperti ini ?
"Apa dia pikir cintaku ini tak tulus padanya ?" Gerutu Maxim dalam hati.
"Sayang, heii ..." Briana membuyarkan lamunan Maxim.
"Max, apa kau setuju ?" cecar Briana lagi.
Dengan geram Maxim merobek dokumen tersebut berkeping keping di depan istrinya langsung.
"Bi, apa aku begitu jahatnya dimatamu ?" Kini Maxim duduk bersimpuh memegang tangan istrinya seraya menundukan kepalanya.
"Aku tulus mencintaimu sayang, aku tak main main" Ungkap Maxim dengan mata berkaca kaca.
"Oh no Max, don't be sad" Bujuk Briana kini mengelus kedua pipi suaminya layaknya membujuk Keana.
"Kau masih tak mempercayaiku ?" Sindir Maxim yang dia rasa sudah dapat melunakkan hati Briana.
"Maafkan aku karena meragukanmu" Briana kini memeluk suaminya karena merasa bersalah.
"Aku ingin lebih dari ini !" Protes Maxim setelah yakin sudah dapat mendinginkan suasana.
"Max, jauhkan pikiran mesummu" Briana kini yang protes mendengar rayuan Maxim barusan.
"Aku harus berpuasa berapa lama Bi, aku sudah tersiksa" Celoteh Maxim dengan manjanya mirip seperti putrinya Keana.
"1 hingga 2 Minggu masa nifas" sahut Briana dengan kesal.
"Dan kau menemui lelaki lain tanpa se ijin dariku" Protes Maxim lagi.
"Siapa ? aku bersama Adam" Jawab Briana masih tak terima dengan tuduhan Maxim.
"Prabasonta Adiwiyata" Jawab Maxim singkat.
"Pria itu tak ada apa apanya dengan dirimu sayang" bujuk Briana menenangkan Maxim dengan memuji suaminya.
"Dia pintar, dan tampan bukan ?" Gerutu Maxim.
"Aku rasa beliau sudah memiliki kekasih Max, Beliau diingin sama seperti dirimu" ejek Briana lagi.
"Tapi aku lebih Tampan kan Bi ?" Rengek Maxim melihat Briana memihak Praba.
"Tentu saja kau lebih tampan, kalau tidak mana mungkin aku mau" Bujuk Briana lagi.
"Jangan temui dia lagi, aku tak suka" Protes Maxim merasa tersaingi dengan pengacara tersebut.
"Oke sayang" sahut Briana singkat.
"Bram mengusulkan agar kita berbulan madu setelah aku menyelesaikan proses akuisisi" Kata Maxim mengalihkan pembicaraan ke arah lain.
"Lalu jawabanmu ?" Briana malah berbalik bertanya pada Maxim.
"Aku sih menyetujuinya, malah ingin mengajak mereka sebagai hadiah pernikahan" Jawab Maxim mengingatkan pembicaraan antara dirinya dan Bram.
"Bram bilang apa Max ?" Tanya Briana antusias.
"Dia menolaknya, alasanya belum mempertimbangkan dengan Clara" Jawab Maxim mengebu gebu
"Tentu saja dia tak mau, kita bisa menggangu mereka kalau kita ikut juga" Karena gemas dengan suaminya yang tak berpikir sampai kesitu Briana mencubit pinggang Maxim.
"Bi, kau membangunkan singa yang sedang berkuasa tak makan" Rengek Maxim mulai protes pada Briana.
Wajah Briana kini merona merah lawaknya sebuah tomat masak mendengar rengekan Maxim.
"Ku mohon tahanlah Max hingga aku selesai nifas" Bujuk Briana dengan memeluk Maxim.
"Bi, aku tersiksa lebih baik aku kelilangan proyek atau sahamku turun daripada tak bercinta denganmu" Rengak Maxim.
"Kau ini ada ada saja, persis seperti Keana kalau sedang merayu Mommynya" Ejek Briana kini naik Ke tempat tidur untuk berbaring dan kini menarik selimutnya hingga keleher.
"Kau harus membayar untuk waktu waktu ini nanti sayang aku mau berdobel dobel" Ancam Maxim mengikuti Langkah istrinya tidur untuk menurunkan hasratnya.
"Selamat malam sayang" Kata Briana mencoba menggoda Suaminya.
"Malam istri Maxim Lautner" Sahut Maxim
πΌπΌπΌ
Keana :"Rasain tuh Daddy, emang enak"