Princess Connect

Princess Connect
Sembilan Puluh



Cinta tidak pernah meminta, ia senantiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta, disitu ada kehidupan. Berbeda dengan kebencian yang membawa kepada kemusnahan.


Mahatma Gandhi


🌼🌼🌼


Laura merasa terpojok, kini sekujur tubuhnya kaku. Napasnya menderu deru disetiap hembusannya karena ini merupakan akhir dari hidupnya.


Ini merupakan konsekuensi dari bermain main dengan Lelaki yang sekarang ini sedang menatapnya dengan tatapan bengisnya.


Pria tersebut mengarahkan senjatanya lagi, kali ini dia benar benar mengarahkan ke arah wanita yang sedang meratapi nasibnya.


Tanpa ampun Maxim ingin menghabisi dengan segera Laura. Karena dialah kedua calon anaknya tak bisa diselamatkan.


Laura histeris dan menjerit jerit memohon agar Maxim menghentikan niatnya.


"Aku tak berharap kau memaafkan ku Tuan, setidaknya beri aku kesempatan" Pinta Laura mengiba.


Plaaakkkkkk "Jangan banyak bicara" Hendry memukul pipi Laura dengan sekuat tenaga hingga disudut bibirnya keluar darah segar.



Maxim mencoba ingin menarik pelatuknya,


Senjata buatan Israel ini sudah punya pamor yang mendunia akan kemampuan mematikannya. Kalau biasanya pistol lain hanya seperti menusuk saja, Desert Eagle mampu membuat obyeknya tertusuk dan meledak. Daya hancurnya memang gila dengan sematan peluru 325 gram-nya.


Lalu bagaimana dengan nasip anak buah Maxim yang tertembak tadi ?


Lelaki tersebut tadi telah diamankan dan dibawa untuk mendapatkan pertolongan pertama.


Senjata ini sudah lama dipakai oleh militer dunia. Kemampuannya memang sangat dahsyat, entah dari kecepatannya, mekanisme, sampai daya hancurnya yang luar biasa.


Laura kini menelan ludahnya dengan kasar karena tenggorokannya kering, Dia merasa ajaknya sudah datang. Mau tak mau dia harus menghadapinya.


Semua orang sangat menantikan hukuman yang akan Maxim berikan kepada wanita lakn*t tersebut.


"Hentikan..... " Seorang wanita yang tak tahu dari mana arah datangnya kini memeluk Maxim dari belakang.


"Apa yang kamu lakukan sayang ?" Maxim masih berdiri tegar dalam posisi siap melepaskan pelatuknya.


"Max, kumohon hentikan dengan kau membunuh Wanita itu anak anak kita tak akan kembali" Suara Payau dan serak Briana membujuk Suaminya.


Didengar dari suaranya, Briana tentu telah berhari hari menangis hingga membuat suaranya serak dan payau.


"Nyawa harus dibayar nyawa Bi" Bentak Maxim melepaskan Pelukan tangan Briana.


"Kau pikir anak kita akan senang dengan melihat Daddy mereka menjadi seorang pembunuh Max" Briana tak kalah membentak dari Maxim. Wanita itu benar benar keras kepala hingga membuat Maxim kesal dibuatnya.


"Berarti kau memaafkan ku ?" Tanya Laura dengan sedikit ada rasa lega dihatinya.


Briana kini berjalan mendekati Laura dan menyentuh wajahnya dengan kasar.


"Hari harimu sudah berakhir Laura, Segeralah pergi dan jangan menampakkan wajah burukmu dihadapan ku" Bentak Briana dengan rasa kesal kepada Laura.


Laura kini benar benar merasa terpojokkan, dia sangat takut melihat kemarahan Briana. Lebih takut dari saat Maxim akan membunuhnya. Dia sudah siap bila orang yang dia cintai selama ini akan membunuhnya.


Melihat respon Laura yang tenang dan biasa saja, membuat Briana menyambar pistol yabg yang dibawa oleh Hendry.


Karena posisi Hendry masih memegangi Laura agar dia tak macam macam dan kabur.


"Kau adalah hal yang membangkitkan insting membunuhku" Maki Briana tepat diwajah Laura.


Bila Briana sudah murka, tak ada seorangpun yang berani melawannya termasuk Maxim suaminya sendiri.


"Dan yang membuatku tak mampu membunuhmu adalah kedua anakku yang telah di Surga" Briana menambahinya dengan tangis yang jatuh dipipinya.


"Maafkan aku, aku berhak mati setelah apa yang aku lakukan pada dirimu dan suamimu" Ucap Laura yang kini bergetar melihat kemarahan wanita di depannya.


"Pergi dari sini, jangan berani muncul di hadapanku" Titah Briana kini merendahkan suaranya.


Briana kemudian memberikan Pistol Hendry dan melangkah menjauhi tempat Laura.


Hatinya benar benar bergejolak di satu sisi dia ingin membunuh Laura dengan tangannya sendiri tapi di sisi lain dia masih berperikemanusiaan agar tak membunuh Laura.


Maxim mendekati Briana yang berjalan menjauhi kedudukan Laura dan Hendry.


Dipeluknya wanita itu erat erat.


"Kita bertiga akan memulai hidup baru lagi" Kali ini Maxim menatap kedua mata sayu Briana dengan tulus.


"I love you"


Mendengar kata kata singkat dari istrinya yang berisi ungkap rasa cintanya Briana kepadanya itu membuat Maxim tak dapat menahannya dan mencium lembut bibir Briana.


Suasana haru menyelimuti ruang bawah tanah tersebut. Seluruh tim Maxim dan Hendry sama sama terenyuh dengan sikap kesatria Briana.


Kesempatan tersebut tak di sia-siakan oleh Laura. Dengan sigap dia merebut paksa pistol Hendry dan ingin mengarahkan ke pasangan suami istri tersebut.


DOoooRrrr.... Terdengar bunyi senjata menyeruak mengelilingi ruangan tersebut.


Bruuuuuuuukkkk.. Suara tubuh terjerembab jatuh ke lantai yang berbahan marmer tersebut.


Sebelum sempat Laura menarik pelatuk pistol Hendry, dia telah ditembak oleh salah satu dari segerombolan Polisi setempat yang mendapat Laporan dari Maxim dan Bram.


Briana dan Maxim masih dalam posisi berciuman. Maxim tak membiarkan Briana melihat bagaimana Laura tertembak.


Maxim sambil menutupi mata Briana membawa Briana keluar dari ruangan tersebut dan membiarkan polisi menanganinya.


"Apa yang terjadi Max ? apa kau terluka ?" Tanya Briana khawatir karena tadi mendengar suara tembakan dan buru buru Maxim membawanya pergi.


"Tak ada yang perlu dikhawatirkan, aku selalu bersamamu" Maxim memberikan penjelasan yang mengambang untuk istrinya.


"Siapa yang tertembak ? apa kau sayang ?" Briana masih tak bisa menyingkirkan rasa khawatirnya hingga keluar dari rumah tersebut dan dibawa oleh Maxim ke dalam mobil.


Kini setelah Maxim merasa kondisi Briana aman, dia membuka mata Briana. Meraka berdua telah di dalam Mobil dan sudah ada Bram di kursi kemudi.


"Laura tertembak, dia mencoba membunuh kita berdua" Jelas Maxim dengan santainya.


"Siapa yang menembaknya ? Hendry ? atau Bram ?" Tanya Briana penasaran.


"Polisi" Jawab Hendry yang tiba tiba masuk ke mobil mereka.


"Sekarang kita pulang, anak kita sudah menunggu" Ajak Maxim yang kini bisa tersenyum lega.


"Lalu bagaimana keadaan Laura ?" tanya Briana.


"Polisi sudah mengamankannya" Jawab Maxim sambil memeluk Briana.


"Bagaimana kondisi anak buahmu kak ?" Tanya Hendry yang khawatir dengan anak buah Maxim yang tertembak tadi.


"Tenang saja, kami sudah mempersenjatai diri kami dengan senjata dan baju Anti peluru" Jawab Bram dengan bangganya.


"Anak buahmu tertembak sayang ?" tanya Briana.


"Aku menembaknya untuk melepaskannya dari sandera Laura " Jelas Maxim tak ingin membuat Briana khawatir.


"Sekarang dia dimana?" Briana masih kepikiran, bagaimanapun Maxim harus bertanggung jawab terhadap anak buahnya.


"Dia sudah ditangani tim medis Bu, saya dapat laporan bahwa peluru Pak Max hanya menyerempet kulit luarnya saja karena dia memakai baju Anti peluru seperti yang sudah saya katakan tadi " Bram menjelaskan duduk perkara dengan sangat jelas.


"Syukurlah kalau begitu, lain kali kau tak boleh menggunakan senjataku dengan sembarang Max" Kali ini Briana memarahi suaminya.


Maxim merasa Briana berlebihan, kenapa dia marah marah yang dia lakukan kan justru menyelamatkan anak buahnya.


"Kau melarangku bermain-main dengan pistol, tapi kau juga suka bermain dengan pistol" Goda Maxim yang mulai memainkan trik andalannya yakni mencium area leher Briana.


"Hentikan, kalau kau macam macam aku akan menembakmu " Ancam Briana, tapi ancaman istrianya tak membuat Maxim gentar.


"Hendry, berikan pistolmu !" Perintah Briana pada adik sepupu nya.


"Daripada kakak bermain main dengan pistolku, lebih baik bermain dengan pistol kakak ipar agar aku lebih cepat dapat ganti keponakan lagi" Ejek Hendry


"Maksudmu ?" Bentak Briana.


🍁🍁🍁


Briana kini kembali bisa marah marah, tandanya Briana telah kembali ke sediakala. Hal tersebut membuat semua orang di dekatnya merasa bahagia setelah berhari hari berduka karena kehilangan kedua bayinya.