
"Setiap orang memiliki cerita hidup sendiri, satu dan yang lain sering kali berbeda. Ada kalanya hidup terasa sangat membahagiakan, namun sekali waktu hidup juga bisa terasa berat"
πΌπΌπΌ
Briana masuk ke Apartemen yang sudah lama dia tinggalkan. Wanita cantik itu sesekali memegang beberapa furniture yang masih tersusun rapi ditempat semula.
Apartemen tersebut masih dalam kondisi sama seperti saat dia tinggalkan dulu. Masih terlihat bersih, Pasti ada seseorang yang membersihkannya.
Briana mengganti sepatunya dengan alas kaki yang dulu telah ia sediakan di sebelah pintu masuk Apartemen tersebut. Sandal tersebut masih sama dengan yang ia pakai dulu. Malah sandal Clara yang sempat tertinggal juga masih tersusun rapi.
Wanita itu kini menepuk jidatnya, kemudian dia masuk ke bagian dalam Apartemen tersebut. Sebuah ruang tamu kecil yang dulu ia sering gunakan untuk sedikit bersenang senang dengan teman temannya masih sama letak dan posisinya.
"Untuk apa dia membelinya kalau masih sama seperti ini ?" Gumam Briana mengeluh hal tersebut pada Suaminya.
Kemudian dia masuk ke dalam bekas kamarnya dulu,
Kamar tersebut adalah saksi bisu tempat Briana pindah dari rumah papanya ke Apartemen ini. Tak terasa butiran butiran bening merangsak keluar dari manik indahnya.
Briana merasa sedih mengingat semua momen momen yang telah ia lalui selama ini. Jatuh bangun karirnya di dunia Modeling dan juga permasalahanya dengan keluarganya dulu.
Briana kini menyusuri isi kamarnya untuk mengenang masa lalunya.
Kemudian ia membaringkan tubuh lemahnya di kasurnya untuk sekedar melepas lelah.
"Apa yang kau lakukan ? kenapa kau mempermainkan aku suamiku ?" Keluh Briana memikirkan kemungkinan ini semua.
Tepat saat dia memikirkan Maxim, Suaminya tersebut menghubungi dirinya.
Briana dengan berat hati mengangkat telpon dari suaminya.
"Hallo Max, any matter ?" Sapa Briana menjalankan dramanya.
"Kau dimana sayang ? Diana bilang kau sedang keluar sebentar setelah tiba di kantorku" Cerca Maxim dengan berbagai Pertanyaan karena tak menemukan istrinya diruangannya.
"Aku sedang beristirahat sejenak sayang, mungkin malam ini aku tak akan pulang" Keluh Briana dengan nada dibuat semanja manjanya untuk mengerjai Maxim.
"Apa maksudmu tak pulang ? kau dirumah Papa Tomi ?" Maxim masih membombardirnya dengan banyak pertanyaan susulan.
"Tidak, aku sedang tak disana coba temukan aku kalau bisa" Briana kini mulai mempermainkan suami arogannya.
"Jangan bercanda Bi, aku bisa mati gila bila tak menemukanmu" Keluh Maxim dengan suara hampir meninggi.
Briana tertawa renyah mendengar keluhan suaminya itu. "Rasakan emang enak" Ejeknya dalam hati.
"Awas saja kalau aku menemukanmu" Ancam Maxim kesal dengan tingkah menjengkelkan istrinya.
"Oh aku takut sekali sayang" Sahut Briana lalu memutuskan sambungan teleponnya. Kemudian mematikan daya Handphonenya.
Emosi Maxim makin tak tertahankan manakala dia mengetahui bahwa istrinya mematikan daya di handphonenya. Dia kini mencoba berfikir kemana seharusnya dia akan pergi.
Kemudian Maxim keluar dari ruangannya untuk mencari kemana istrinya pergi. Otaknya berfikir dengan keras kita kira dimana tempat yang bisa dikunjungi Briana.
Diana menyapanya sewaktu Maxim berjalan berpapasan dengan sekretarisnya tersebut.
"Diana .. apa Briana sudah dari tadi keluar ?" Tanya Maxim mencari informasi.
"Sudah sejak tadi, Bu Briana mengeluh bosan diruanagan Bapak waktu saya masuk untuk memberikan laporan bukti pajak" Jawab Diana mencoba mengingat ingat kejadian.
"Bukti Pajak ?" Maxim lupa untuk mengecek laporan hasil pajak yang tadi tergeletak diatas meja kerjanya karena cemas tak menemukan Briana di ruangannya.
"Aku belum mengeceknya Diana, Pajak dari aset mana saja ?" Tanya Maxim
"Hotel Mega Kuningan, Apartemen Pondok Indah..." Belum sempat Diana menyebutkan tiba tiba Maxim memotongnya.
"Apartemen Pondok Indah Golf" Sebut Maxim mengulang jawaban Diana.
"Pasti wanita itu telah membacanya" Keluh Maxim dalam hati. Dengan langkah seribu Maxim berjalan cepat meninggalkan Diana yang masih mematung heran melihat perubahan sikap Bosnya.
"Apa jawabanku tadi ada yang salah ?" Pikir Diana sesaat setelah Maxim berlalu pergi.
ππ
Pria tampan yang berkharisma tersebut kini memacu kendaraannya menuju salah satu aset miliknya. Dia sangat yakin bahwa istrinya tercintanya sedang berada disana.
Maxim mengemudikan mobilnya dengan tergesa gesa takut jikalau istrianya akan kabur seperti biasanya.
Dia pun juga sudah mempersiapkan resiko terburuknya yakni mencekal paspor istrianya agar tak bisa bebas keluar negeri.
Setengah berlari Maxim menuju ke Unit Apartemen miliknya.
Karana ini merupakan aset miliknya, tak sulit bagi Maxim untuk dapat masuk ke Apartemen miliknya kini.
Maxim pun mengamati sekeliling Apartemen tersebut, Dia menyisir setiap jengkal dari apartemen tersebut untuk menemukan istrinya. Matanya menemukan sepasang heel milik Briana berada di pojok pintu masuk Apartemen tersebut.
Kini dia berjalan mendekati kamar tidur Apartemen tersebut. Maxim membuka pintu kamar tersebut pelan pelan dan mendapati istrinya sedang tidur pulas di kamarnya dulu.
Hatinya lega setelah menemukan wanitanya baik baik saja, Maxim mendekati Tempat dimana Briana tertidur kemudian mengelus kepalanya dengan lembut.
"Kau membuatku khawatir sayang, Bisa bisanya kau mengerjai suamimu ini" Keluh Maxim mengamati setiap inchi tubuh Briana yang masih tertidur.
Maxim tak tega membangunkannya untuk mengajaknya pulang, Dia merasa Briana sudah nyaman berada disini.
"Kita bisa menginap disini untuk malam ini Bi" ucap Maxim kemudian mencium kening Briana.
Sedangkan Briana sendiri tak bergeming dari tidurnya, tidurnya Sangat pulas hingga tak tahu kedatangan suaminya.
ππ
Hingga pagi menjelang, Briana merasa ada yang tak beres dengan tumbuhnya. Dia merasa ada sesuatu yang merangsak di tubuhnya.
Briana mencoba membuka matanya sedikit demi sedikit. Matanya kini mulai mencerna keadaan sekitar. Dan mendapati Lelaki yang tak asing baginya sedang memeluknya mesra.
"Apa yang kau lakukan disini Max ?" Teriak Briana saat melihat Maxim didekatnya.
"Bi, ini masih pagi kenapa kau sudah berteriak teriak" Goda Maxim dengan suara khas bangun tidur.
"Apa yang kau lakukan dengan Apartemenku ?" Briana kini mulai mencerca Maxim dengan pertanyaan pertanyaan menyudutkan.
"Dimana ada Istri, pasti selalu ada suami Bi jadi Dimana ada dirimu pasti ada aku disampingmu" Balas Maxim dengan kata kata rayuannya.
"Aku tak butuh jawaban ngawurmu itu, yang aku butuhkan adalah penjelasan darimu tentang Apartemen ini" Briana masih tak puas dengan jawaban Maxim.
"Aku Pengusaha bidang properti, apa salahnya bila aku berinvestasi membeli Apartemen ini" Sahut Maxim masih dengan pede nya.
"Kenapa jadi kau yang membelinya ? aku menjual pada orang lain" Briana masih tak terima mendengar jawaban suaminya.
"Karena kau dulu menolak bantuan dariku, jadi aku menggunakan alasan ini untuk membantu mu" Kali ini Maxim sudah berkata jujur.
"Kau tak perlu melakukan ini Max, aku bisa mengatasi masalahku sendiri" Ucap Briana kini beranjak dari tempatnya tidur.
"Sayang, aku melakukan ini semua untukmu" Jelas Maxim masih mencoba menjelaskan masalahnya pada Briana.
"Kalau kau terus terusan membantuku aku tidak akan berkembang" Keluh Briana yang berdiri di dekat jendela bekas Apartemennya dulu.
"Aku melakukan ini karena aku menyayangimu sayang" Maxim memeluk istrinya dari belakang.
"Aku harus bisa mandiri, supaya tak bergantung padamu" Bantah Briana yang merasa gagal kali ini.
"Maafkan aku Bi, aku tak bisa melihatmu berada dalam kesulitan dan selama aku hidup akan aku pastikan kau selalu bahagia sayang" Ucap Maxim.
"So beautiful of word" Ejek Briana tersenyum kecut.
"Jangan menggoda suamimu ini, aku tak akan memakan istri saat sedang nifas" Keluh Maxim.
"Kita harus pulang, Keana menungguku" Briana mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kau sudah setuju setelah aku mendapat hak atas Akuisisi kita akan berbulan madu" Bujuk Maxim.
"Apa tak sebaiknya setelah Clara menikah dengan Bram saja Max" Usul Briana.
"Aku mau saat ini juga" Jawab Maxim tegas
"Kita bahkan belum memberitahu anak kita untuk mengajaknya" Briana masih tak mau kalah.
"Bi, dimana mana honey moon itu berdua" Bantah Maxim.
Briana menunjukan ekspresi sedihnya.
"Jadi Keana tak diajak ?" Rengek Briana
"Next time kalau Keana libur sekolah ya sayang" Maxim mencoba membujuk Briana
πππ
Keana Says "Terus aja Dad, tinggalin Keana terus" π€π€