
"Hidup terlalu singkat jika hanya menyesal. Hidup hanya sekali, namun jika digunakan dengan baik, sekali saja cukup"
🍁🍁🍁
"Bagaimana hasil pendekatanmu dengan Mr Vugo ?" Tanya Briana disela sela membereskan kamar hotelnya pagi hari ini.
"Kami belum mencapai kesepakatan" Sahut suaminya dengan nada sedikit kesal.
"Apa aku boleh membantumu Max ?" Tanya Briana kini menawarkan diri melihat perubahan raut wajah suaminya.
"Kau bisa membantuku dengan tak pergi jauh dariku sayang" Goda Maxim melingkarkan tangannya kini di tubuh istrinya.
"Aku serius, aku akan membantumu" Bujuk Briana kini melepaskan tangan suaminya. Dia kesal karena Maxim menganggapnya hanya sebuah gurauan.
"Aku tak ingin melibatkan Masalah ini denganmu, kau akan kelelahan dan aku tak ingin anakku kenapa kenapa" Jelas Maxim kini tak kalah seriusnya.
"Kalau aku berhasil meyakinkan Mr Vugo bagaimana ?" Ejek Briana
"Aku tak yakin Bi, dia orang yang keras kepala sedangkan kemarin dia ingin menaikan nilai jualnya" Jelas Maxim dengan wajah kusutnya
"Aku akan mendapatkan apa bila aku bisa menghasilkan kesepakatan ?" Tanya Briana kini gemas dengan sikap suaminya yang gengsian tersebut.
"Terserah lah, kau mau apapun" Jawab Maxim
"Benarkah ? apapun ?" Tanya Briana dengan kata kata penekanan pada suaminya.
"Kau ingin apa ? uang ? kekuasaan ?" Tanya Maxim menawarkan semuanya kepada istrinya.
"Aku ingin sahammu" Jawab Briana singkat
"Saham apa ?" Kini Maxim tak singkatnya .
"Saham Keana ?" sahut Briana dengan wajah berseri seri
"Kenapa harus saham Keana ?" Tanya Maxim dengan heran pada istrinya
"Karena dia masih kecil, dan aku yang akan bertanggung jawab pada saham Keana sayang" Bujuk Briana kali ini dengan nada merayu
"Masih ada banyak saham yang aku punya, kenapa kau memilih saham Keana ?" Selidik Maxim masih tak percaya
"Aku Mommynya, apa kau tak percaya padaku Max ?" Kali ini Briana bertanya dengan nada tinggi.
"Apa kau berfikir aku sudah merebut saham orang tuamu ?" Sindir Maxim
"Kenapa kau bertanya begitu, aku hanya meminta apa yang aku dan anakku berhak dapatkan !" Jawab Briana benar benar dengan kesalnya.
"Aku tak merebutnya Bi, karena Keana masih dibawah tanggung jawabku makanya saham itu aman berada ditanganku" Jelas Maxim
"Terserah apa katamu, aku sudah tak tertarik lagi dengan bisnismu" Sahut Briana kini berjalan keluar kamar.
"Sayang kau mau kemana ?" Tanya Maxim menghentikan langkah istrinya.
"Makan, aku lapar" Sahut Briana dengan sekenanya
"Wah anak anak Daddy kelaparan ya" Goda Maxim mengelus perut rata Briana.
Briana tak memperdulikannya, dengan santai dia berjalan menyusuri hotel tersebut dan mencari sesuatu yang bisa dimakan.
Naluri berburunya sedang diatas, apalagi ditambah percakapan yang berakhir sengit antara dirinya dan Maxim membuat dia sangat kesal dan melampiaskannya ke makanan.
Mereka berdua menikmati breakfast servis dari hotel dan bertemu dengan Mona dan suaminya.
Tak ada kata yang terucap dari mulut Briana saat sarapan. Hal tersebut membuat Mona curiga. Sangat aneh bahwa Briana tak berceloteh atau sebagainya. Apalagi saat Mona mengajaknya berbicara Briana hanya menjawabnya dengan seperlunya.
"Bukankah tadi malam mereka sudah berbaikan, bahkan sudah tidur dalam satu kamar" Pikir Mona penasaran.
Setelah selesai sarapan, diajaknya Briana menemui Clara di kamarnya. Dia bilang bahwa Clara sedang PMS.
PMS atau premenstrual syndrome adalah sebuah sindrom ketika wanita merasakan rasa sakit secara fisik maupun emosi menjelang menstruasi.
🍁🍁
"Ku kira kau akan menyusul Briana juga nenek" Ejek Mona melihat Clara meminum obat nyeri haidnya.
"Dia wanita baik baik Oma" Sindir Briana tak kalah pedasnya dengan kata kata Mona
"Kalian berdua keterlaluan" Sahut Clara sehabis meminum tablet nyeri haidnya.
"Lalu kapan Bram akan menikahimu ?" Tanya Briana dengan antusias mengorek informasi dari sahabatnya.
"Kenapa dia tak senekad Bosnya ?" Sindir Mona
"Jangan bahas dia, aku sedang kesal dengan laki laki sialan itu" Umpat Briana pada Mona, Dia masih mengingat perseteruan antara dirinya dengan Maxim tadi.
"Kalian belum berbaikan ?" Tanya Clara tak kalah keponya.
"Kami memang tak berencana baikan" Jawab Briana dengan ketusnya.
"Ayolah Bi, dia sangat menyayangi dirimu" Nasehat Clara pada Briana.
"Dia tak membiarkan aku mengambil saham anakku" Jelas Briana dengan kesal mengingat kejadian tadi.
"Mungkin dia punya alasan" Bujuk Mona tak mau kalah.
"Bagaiman kalau kita berfoto bersama sebelum kita pulang" Ajak Clara mengalihkan pembicaraan agar suasana hati sahabatnya bisa kembali mereda.
"Bi, kau kelihat lebih berisi" Seru Clara melihat hasil fotonya
"Benarkah ? kalau begitu hapus saja jangan sampai kau upload ke medsos kita" Pinta Briana
"Bayimu kelihatanya sehat Bi, kau terlihat lebih buncit" Kata Mona menambahkan.
"Tidak mungkin, aku bahkan baru sebulan hamil. Kemungkinan ini karena aku banyak makan barusan" Jelas Briana tak mau kalah.
"Aku ini manager sekaligus temanmu, jadi aku tahu bagaimana bentuk tubuh seorang model" Sindir Clara.
Briana masih tak terima dengan apa yang kedua sahabatnya telah katakan.
Dengan memakai atasan dari Brand terkenal Zara dan dipadukan celana jeans casual merk Brand Topshop, Briana meminta Mona mengambil pose pose nya sekali lagi. Kali ini dia memang ingin berpose sendiri karena ingin memastikan apakah benar yang dikatakan kedua sahabatnya.
satu lagi
"OMG... benar Oma, lenganku kelihatan lebih besar dari sebelumnya" Kata Briana sedikit terisak.
"Ya sudah, kau kan sudah mundur dari dunia modeling jadi untuk apa mempermasalahkan ?" Bujuk Mona
"Dia takut gendut, karena takut Maxim direbut oleh pelakor" Ejek Clara dengan sekenanya.
"Jangan mencoba untuk diet, kau sedang hamil" Bujuk Mona melihat perubahan di raut wajah Briana.
"Aku tak masalah, aku menyayangi anak anakku" Sahut Briana
"Anak anak ?" tanya Clara dengan memperjelas.
"Baby twins" Imbuh Briana kemudian
"Benarkah Bi, Selamat ya kau beruntung sekali sekalinya hamil langsung dua" Puji Mona dengan harunya.
"Iyalah langsung dua, keburu tua suaminya" Ejek Clara.
"Siapa yang anda sebut tua Nona ?" Tanya seorang laki laki yang tak asing suaranya bagi mereka bertiga.
"Kenapa kau disini sayang ?" Tanya Briana dengan nada menyesal karena perkataan Clara barusan.
"Sudah lama, hingga kalian menggosipkan aku" Jawab Maxim dengan nada kesalnya.
"Jangan marah marah, tak baik untuk kesehatan sayang. Kau sudah tak muda lagi" Ejek Briana
"Meski aku tua, aku masih sanggup menerkammu semalaman" Jawab Maxim tak mau kalah dari Istrinya.
Mereka pun tertawa mendengar perdebatan antara sepasang suami istri tersebut.
🍁🍁🍁
Malem Semua, makasih ya sudah menunggu saya update untuk hari ini.
Saya minta maaf bila cerita ini tak sesuai dengan harapan kalian. Saya memang berencana menamatkan novel ini. Makanya konfliknya dikurangi. Toh ini genrenya Romantis, bukan action atau melow juga. Dari awal saya konsisten kok tak ada adegan berantem berantemnya.
Jadi maaf ya bila kalian tak berkenan.
Peluk sayang sari Author