Princess Connect

Princess Connect
Sembilan Puluh Dua



Berita tentang ditangkapnya Laura telah tersebar ke seluruh media. Baik dari media elektronik maupun media internet.


Hal tersebut membuat saham Perusahaan Lukman Halim makin mengalami penurunan.


Para pemegang saham lainnya dari perusahaan Lukman kini berbondong bondong melakukan pendekatan ke kubu Maxim.


Lampu di ruang kerja Maxim masih tampak menyala, berarti si empunya masih tetap menghuni ruanagan tersebut. Sesekali Briana menengok sekilas di depan ruangan tersebut.


"Kelihatannya dia masih rumit memikirkan masalahnya" Gumam Briana yang mengurungkan niatnya untuk mengecek kondisi suaminya.


Kemudian dia berbalik dan berjalan menuju ke arah kamar putri kecilnya Keana.


Gadis tersebut telah ditidurkan oleh Briana dari tadi setelah dia pulang dari Karawang.


Kini dia akan merebahkan tubuhnya yang terasa lelah disamping putrinya yang telah terlelap dalam mimpinya.


🍁🍁


Pagi pun menjelang, kini Keluarga Lautner telah kembali ke kebiasaan lama mereka. Briana yang sejak pagi sibuk mengurusi anak perempuannya dan menyiapkan sarapan untuknya.


Sedangkan Daddy, masih sibuk berkutat di depan MacBook nya. Istri dan anaknya sengaja tak ingin mengganggunya. Alhasil dia merasa telah di abaikan.


"Tidakkah kalian melihat disini ada Daddy ?" Sindir Maxim saat melihat kedua wanita yang dicintainya dalam satu meja makan.


Saat ini Briana sedang menyuapi putrinya sebelum berangkat ke sekolah.


"Daddy ngomong apa sih Mom" Celetuk Keana yang masih tak mengerti situasinya.


"Mungkin dia lelah" Sahut Mommynya yang tak menghiraukan Suaminya.


"Kenapa kau ketus sekali padaku Bi ?" Sindir Maxim melihat perubahan tak biasa di wajah istrinya pagi ini.


"Lebih baik kau siap siap saja tuan, sepertinya kali ini kau akan memiliki perusahaan baru lagi" Briana kali ini membuka suaranya untuk mengejek Suaminya.


"Jadi itu masalahnya ? kau tak memperdulikan suamimu karena itu ?" Maxim kemudian melingkarkan tangannya ke pinggang istrianya yang kini sedang menuang susu untuk putrinya.


"Aku sampai heran, siapa yang anak Tomi Sandjaya ?" Sindir Briana


"Lucu sekali sayang, kau iri padaku karena papamu mengalihkan saham saham orang itu padaku ?" Goda Suaminya melihat raut wajah Briana yang terlihat kesal.


"Setelah aku mengakuisisi The Great of Ocean aku akan melegalisasi atas namamu sayang" Bujuk Maxim lagi kali ini.


"Buat apa, itu bukan milikku aku tak mau sesuatu yang bukan milikku. Lagian aku juga tak bekerja keras mendapatkannya" Briana berusaha melepaskan diri dari suaminya lalu memberikan susu pada Keana yang telah menunggunya dari tadi.


"Semua hartaku juga milik kau dan Keana Bi" Kali ini Maxim agak meninggikan suaranya karena tingkah Briana sudah berlebihan padanya.


"Sebaiknya kita membuat perjanjian Max, untuk semua asetmu dan asetku kalau sewaktu waktu kita berpisah" Saran Briana


Bak petir di siang bolong Maxim mendengar penuturan Briana barusan. Bagaiman mungkin dia berpikiran bahwa mereka suatu saat akan berpisah.


"Divorce ?" Tanya Maxim dengan nada tak percaya.


"Siapa tahu kau ingin bercerai dariku kelak, itu bukan hal yang mustahil kan ? dan kita bisa memakai perjanjian tersebut untuk menyelesaikan pembagian harta" Jelas Briana panjang lebar.


"Kenapa kau berpikir aku akan menceraikan dirimu Bi ?" Dengan sangat lembut kini Maxim memberi pertanyaan pada istrinya.


"Karena aku tak bisa melahirkan anak darimu" Jawab Briana singkat.


"Jadi kau pikir aku akan menceraikan dirimu karena hal sepele seperti itu ?" Bentak Maxim dengan kesal.


"Hal sepele katanya, bukankah dia sangat mengharapkan seorang anak ?" Briana menggumam lirih saat Maxim meninggalkan dirinya yang masih di meja makan.


Pria tersebut kini telah berangkat ke kantornya lebih awal karena kesal dengan kata kata Briana atau mungkin karena dia banyak pekerjaan yang harus dia kerjaan saat ini.


Hari ini adalah pengambilan kesepakatan untuk proses akuisisi Perusahaan milik Lukman Halim. Akan diadakan sebuah rapat di kantor Dua Benua yang akan langsung dipimpin oleh Maxim.


Sedangkan Lukman Halim sendiri dan putrinya sedang melakukan tahap penyidikan kepolisian atas kasus kerusuhan di Teluk Sunda dan juga penggelapan dana Pajak.


Mereka berdua kini sedang ditahan karena kasus yang melibatkan mereka berdua.


Laura sendiri kini masih ditangani secara intensif dirumah sakit akibat luka tembakan. Tetapi proses penyelidikan tetap berjalan sesuai aturan.


🍁🍁



Saat ini Semua pemegang saham di perusahaan milik Papa Laura sedang mengadakan rapat dengan Maxim. Mereka akan menandatangani perjanjian pelimpahan kekuasaan atas The Great of Ocean yang akan dilimpahkan kekuasaannya di tangan Maxim.


Rapat tersebut berjalan cukup lancar, karena bukan hanya kali ini saja dia melakukan. Pasalnya Maxim juga pernah melakukan hal yang sama pada suatu perusahaan juga dulu.


Pikirannya terpecah belah menjadi dua antara memikirkan masalah Akuisisi dan kata kata Briana tadi pagi.


Selesai penandatangan kesepakatan bersama, Maxim melamun di dalam ruangannya.



"Apa aku terlihat seperti suami yang tak berperasaan ?" Keluh Maxim di kantornya.


Dia tak menyadari bahwa Bram sudah berada disampingnya.


"Aku rasa tidak Bos" Sahut Bram


"Sejak kapan kau sudah disini ?" Maxim tak menyadari kapan Bram masuk ruangannya.


"Saya sudah mengetuk pintu, tetapi anda mengabaikan saya" Kata Bram sambil menyodorkan sebuah kertas putih bemotif Bungan Bungan dengan foto dirinya bersama Clara.



"Undangan ?" Tanya Maxim mengerutkan dahinya.


"Saya akan menikah" Sahut Bram malu malu mengungkapkannya di depan Bosnya.


"Kau yakin akan menikah ? menikah itu tak gampang" Keluh Maxim mencoba mengingat kata kata Briana tadi pagi.


"Saya sudah siap" Jawab Bram kali ini dengan sangat yakin.


"Para istri istri itu tak seimut saat sedang menjalin kasih dulu, kau tak lihat betapa mengerikannya Briana ?" Gerutu Maxim pada Bram.


"Aku rasa Bu Briana memiliki alasan Bos" Bujuk dirinya saat melihat perubahan di raut wajah Bos besarnya.


"Dia mengira aku akan meninggalkannya karena dia kehilangan anaknya" Gumam Maxim menceritakan permasalahan rumah tangganya.


"Anda tak mungkin akan melakukannya bukan ?" Selidik Bram


"Tentu saja tidak, susah payah aku mendapatkannya dengan memaksa menikah denganku lalu untuk apa aku akan menceraikan dia" Jawab Maxim panjang lebar.


"Setelah legalisasi Kesepakatan ini sebaiknya anda Berbulan madu juga Bos, untuk menumbuhkan rasa cinta kalian" Usul Bram yang membuat Maxim memikirkannya.


"Itu bukan hal buruk, apa kalian mau bareng juga berbulan madu bersama kami ?" Maxim menawarkan usul untuk Bram juga.


"Kami akan berbulan madu sendiri Bos, sesuai rencana" Jawab Bram


"Anggap saja ini hadiah pernikahan dariku" Bujuk Maxim.


Bram menolaknya, dengan alasan akan berunding dengan calon istrinya dulu.


🍁🍁


Briana sendiri sekarang sedang bersama dengan para sahabatnya. Tak lupa ditemani dengan Keana juga tentunya.


Mereka sedang berunding mempersiapkan pernikahan Clara dengan Bram. Briana sungguh iri dengan Clara. Betapa tidak Bram sangat menyayangi Clara. Terbukti Bram membolehkan Clara menyusun pernikahannya.


Diselingi dengan Canda tawa mereka menyusun rencana pernikahan Clara dan Bram di sebuah restoran pasta.


Keana sendiri sangat antusias dengan pernikahan Aunty Clara. Bahkan tak tanggung-tanggung dia juga ingin menjadi orang yang terlibat di dalamnya.