Princess Connect

Princess Connect
S2. In Violin Am in Love



"Das Leben ist ein Traum für die Weisen, ein Spiel für die Dummen, eine Komödie für die Reichen und eine Tragödie für die Armen,"


Artinya :


"Hidup adalah mimpi bagi mereka yang bijaksana, permainan bagi mereka yang bodoh, komedi bagi mereka yang kaya, dan tragedi bagi mereka semua yang miskin,"


🎻🎻


Pagi ini Keana dapat bangun tidur di tempat yang sudah lama ia rindukan. Tempat yang sudah rela menampung bagi dirinya.


Yakni dekapan seorang Mommy.


Selama menjadi putri Briana Lautner, keana benar benar bisa merasakan kasih sayang layaknya seorang anak dari ibunya.


Briana dengan ikhlas menjadikannya sebagain anaknya sendiri.


Kasih sayang Mommynya tak ada bedanya antara dirinya dengan adik lelakinya Ed.


Keana mengerjapkan matanya perlahan lahan, dilihatnya sosok ibu yang selama ini merawatnya dari kecil.


"Morning Mom, love u,"


"Morning to baby,"


"Mom, Keana ingin berolahraga," Celetuk Keana tiba tiba.


"Pergilah bersama Edgar baby, anak itu merindukan dirimu,"


Setelah mengecup kedua pipi Mommynya, Keana beranjak keluar untuk menemui adik lelakinya.


Ia menemukan adiknya sedang berbincang dengan Daddynya.


Keana tiba tiba duduk diantara kedua lelaki tersebut, Dia juga sangat merindukan adik dan Daddynya.


"Kak, apa kau tak jetlag ?"


"Aku ? jetlag ? mana mungkin ."


"Sayang bagaimana sekolahmu ? kapan kau akan tertarik terjun kedunia bisnis seperti mommymu dulu ?"


"Apa Mommy dulu juga berkarir di dunia properti Dad ?" Tanya Edgar antusias ingin mendengar cerita Mommynya.


"Itu berkat usaha dan siasat Daddy, akhirnya Mommy mau kembali ke dunia bisnis dan meninggalkan dunia modelingnya."


"Dad, Keana ingin pergi jogging bersama Edgar,"


"Bersenang senanglah sayang agar Daddy bisa berduaan dengan mommy kalian," Goda Daddynya.


"Dad, Uang jajan." Sahut Gadis yang beranjak dewasa tersebut sambil menadahkan kedua tangannya dengan tatapan memelasnya.


Maxim tersenyum menatap kedua anaknya, Bagaimanapun juga mereka adalah anak kesayangannya. Meski umur mereka tak lagi anak anak lagi.


"Daddy akan mentransfer ke rekening kalian,"


"So Sweet dad, Thanks Dad," Keana menyanjung Mesra Daddynya dengan sebuah ciuman di kedua pipi Maxim.


🍁🍁


Kedua kakak beradik tersebut kini sudah sampai di salah satu taman terkenal di kota tempat tinggal mereka.


Dengan tak lupa memakai atribut jogging lengkap.


Keana dan Edgar saling berlari lari kecil mengelilingi sekitar taman tersebut.


"Kak, kau berubah semenjak kuliah lagi di Kohl." Kata Edgar basa basi.


"Berubah bagaimana ?"


"Kau jadi makin pendiam, tak banyak bawel seperti dulu. Apa Daddy melakukan sesuatu padamu ?" Cecar Edgar merasa ada yang tak beres dengan Kakak perempuannya.


"Aku hanya ingin menjauh dari hiruk pikuk kehidupan kita," Sambut Keana pelan.


Langkah kaki Keana tiba tiba berhenti lantaran ia mendengar alunan merdu alat musik klasik.


Keana meminta Ed agar melanjutkan jogging nya seorang diri, Karena Keana akan mencari tahu sumber suara tersebut.


"Kau masih punya hutang jawaban padaku, karena aku merasa tak puas dengan jawabanmu tadi kak," Tutur Edgar mulai melanjutkan jogging nya.


Keana kemudian berbalik arah dan mengikuti kemana alunan merdu musik yang telah ia dengar hingga kini.


Pandangannya tertuju pada sekelompok anak kecil yang sedang duduk bersila di pinggir sebuah kolam di tengah taman tersebut.


Keana kemudian mulai mendekati kerumunan anak anak tersebut, dari sisi yang lain Keana melihat seorang lelaki sedang memainkan alat musik Biola. Keana merasa tak asing pada lelaki tersebut.


Ingatannya tertuju pada beberapa tahun silam, Ia yakin pasti dia adalah orang yang selama ini Keana cari.


📍📍


Keana teringat beberapa tahun yang lalu, Ingatannya mulai menyeruak ketika ia pulang sekolah.


"Sorry dear, Mommy has late,"


"Don't worry Mom,"


"Ayo, Ed sudah menunggu di mobil !"


Kedua Ibu dan Anak tersebut kemudian masuk ke mobil dengan posisi masing masing.


Seperi biasanya, Briana bertugas menjadi pengantar jemput kedua anaknya.


Saat itu ia memang sudah off sama sekali dari dunia modeling dan karirnya di dunia bisnis.


Ketika melewati sebuah jalan, Tepat disisi kiri dari mobil Briana, Ada sebuah pertunjukan di jalan raya.


Melihat anaknya sangat antusias melihat pertunjukan tersebut, Membuat Briana terketuk hatinya untuk berhenti di samping pertunjukan tersebut.


Keana sangat antusias melihat permainan biola seorang anak laki laki yang sedang mencari donasi untuk korban bencana Alam.


Karena di depannya ada sebuah kotak sumbangan yang bertuliskan untuk korban bencana alam.


Merasa takjub pada permainan anak lelaki tersebut, membuat Keana tak mengedipkan matanya.


Keana sangat terpesona dengan permainan indah bocah lelaki yang Briana taksir sekitar umur 17 an tahun.


Hingga permainan itu selesai, Keana masih terpaku melihatnya, Kemudian Briana mengambil inisiatif untuk mengajak anak perempuannya tersebut menuju Violinis tersebut.


Keana dan Briana tiba di depan anak tersebut, Briana memberikan apresiasi pada anak berbakat tersebut.


Disamping menyumbang mommy Keana juga memberikan kartu namanya supaya Anak tersebut bisa mencarinya bila memerlukan seorang Donatur tetap.


Anak lelaki tersebut memberi hormat dan berterima kasih pada Briana karena bersedia membantu memberikan sumbangan pada korban bencana alam.


"Siapa namamu nak, Orang tuamu sungguh mulia telah mendidik mu menjadi pribadi Seperti ini," Puji Briana


"Nama saya Kriss.. Tante, senang bertemu dengan Tante dan putri Tante namun saya pamit dulu banyak hal yang harus saya kerjakan."


Kriss, nama pemuda itu pemuda yang hangat dan penuh cinta.


Sejak pertemuan pertama kali dengan Kriss Keana langsung bertekad ingin bisa menguasai alat musik tersebut.


"Kau menyukai pemuda itu sayang ?" Goda Mommynya di dalam mobil sambil menyetir pulang.


"Siapa mom ?" Sahut Edgar ingin tahu arah pembicaraan mereka.


"Hei, kau masih anak Sekolah dasar jangan sok tahu !" Balas Keana tak senang dengan pertanyaan Edgar.


"Kau pikir karena kau lebih tua dariku lalu bisa seenaknya saja, dasar bawel,"


Mulai lagi perang antara dua kubu anak anak Maxim dan Briana.


Seperti itulah pertemuan pertama dan terakhir kalinya Keana dengan pemuda tersebut.


📍📍


Kini setelah sekian lama ia meninggalkan negaranya, barulah Keana dapat bertemu pemuda yang Keana yakini Kriss, seorang Violinis yang mencari donasi Tersebut.



Dibalik Rimbunnya pehon Maple di taman tersebut, Keana mengamati permainan Kriss.


Kelihatannya Kriss sedang mengajar anak anak tersebut belajar biola.


Ketika Kriss telah selesai memberi materi, kemudian ia berseru pada murid muridnya.


"Keluarlah nona, bila kau ingin belajar kau bisa bergabung dengan mereka !" Tutur Kriss ketika ia sadar sedari tadi ada seorang gadis yang telah diam diam mengamatinya bermain Biola.


Mau tak mau Keana harus keluar dari tempat persembunyiannya lantaran sudah ketahuan.


Keana berjalan mendekati kerumunan anak dan Kriss yang sedang belajar alat musik tersebut.


🌼🌼🌼


Sampai sini dulu adakah yang tak puas ?


Pasti ada, ini karya Penulis yang out off the book.


Soalnya penulis harus benar benar menjelma menjadi Keana agar mendapatkan feel Keana.


Sedangkan Penulis amatiran ini bukan ahli musik 😭🤧.


Maafkan tulisan ala kadarnya ini ya, Karena hasil tulisan iseng ini masih dari kata sempurna.


Semoga kalian pembaca suka dengan jalan ceritanya kedepan nanti.


Kecup sayang 😘


Penulis Amatiran