Princess Connect

Princess Connect
Sembilan Puluh Empat



"Prestasi bukanlah sebuah kebetulan, dan impian tidak akan pernah menjadi kenyataan tanpa kerja keras."


🌼🌼🌼*


Berhari hari ini, Briana disibukan oleh persiapan pernikahan Bram dan Clara. Hingga melupakan kesedihannya tentang kehilangan kedua calon bayinya.


Hari ini dirinya diminta menemani teman karibnya Clara untuk Fitting terakhir weddingdress yang akan dia pakai.


Dengan ditemani seorang supir, mobil Briana membelah jalanan Jakarta pada siang hari ini.


Jalanan di Jakarta siang hari ini cukup padat, hal tersebut membuat Briana sedikit mengerutkan dahinya. Dia khawatir bila Clara akan marah padanya.


Cukup lama juga Briana menuju Butik tempat Clara memesan weddingdress untuk Pernikahannya dengan Bram.


Briana telah sampai di Butik Top milik perancang Justin Alexander. Meski tak setenar Sarah Burton, Justin adalah designer tangan dingin. Semua gaun rancangannya tak pernah gagal.


Clara telah berdiri melipat kedua tangannya saat Briana datang, dengan ditemani Mona juga tentunya. Tatapan matanya menyelidik kearah pintu masuk saat Briana memasuki Butik tersebut.


"Maaf aku telat, aku harus menjemput putriku dulu kemudian kemari" Jelas Briana kepada kedua sahabatnya yang masih memonyongkan kedua bibirnya.


Clara tak menanggapinya dan berlalu bersama Mona mendiamkan Briana.


"Kalian marah padaku ?" Briana menanyai kedua sahabatnya dengan hati hati.


Kedua sahabatnya itupun berbalik badan kepada Briana dan langsung memeluknya.


"Kenapa aku harus marah padamu Nenek ?" Ejek Clara yang sangat tahu betul watak Briana. Clara sangat tak bisa marah bila bersama Briana.


"Kau sudah berubah sekarang Oma, semenjak menikah kau jadi Mommy yang sibuk" Sindir Mona pada Briana.


"Oh ayolah, ada 2 balita yang harus aku urus, yang satu bawel dan yang satu arogan" Jelas Briana mengingat Anak dan suaminya.


"Tapi kurasa kau menikmati jadi Nyonya Lautner" Goda Clara menggandeng Briana menuju Fitting room.


"Apa dia masih perkasa seperti dulu Bi ?" Imbuh Mona tak mau kalah mengorek informasi dari sahabatnya tersebut.


"Pertanyaan macam apa itu ?" Umpat Briana menekuk senyum di bibirnya.


"Dengan stamina suamimu itu, paling tak lama lagi kau akan hamil lagi" Bujuk Mona kini menguatkan Briana yang tertunduk kesal.


"Seorang Maxim Lautner tak perlu dikomando, dia pasti akan menggempur abis istrinya" Sahut Clara dengan terkekeh sendiri.


"Girls... sudah selesai ngerumpinya ?" Seorang lelaki bertubuh kekar memprotes ketiganya saat asyik mengobrol.


"Justin jangan bercanda" Keluh Briana yang memang telah lama mengenal Justin sebelumnya.


"Jadi siapa yang ingin mencoba gaunnya ? apa tiga tiganya ?" Sindir Justin Alexander seorang desainer kelas dunia ini.


"Sembarangan, kami berdua telah menikah" Mona menjawabnya dengan ketus ke arah Justin.


"Hahahaha... aku hanya bercanda Ladies" Keluh Justin.



Baju pesanan Clara telah selesai dikerjakan, kini tinggal menunggu untuk Fitting terakhir saja si empunya.


Gaun dengan model Long Sleeve dipadukan dengan kain file mendetail tersebut terlihat simple tapi mewah.


"Amazing" Ucap Briana


"Hei, weddingdress pernikahan jebakanmu lebih luar biasa nenek" Sahut Clara mengingat momen dimana dirinya dan Mona bekerja sama diminta oleh Maxim menjebak Briana.


"Kalian bersekongkol dengan Maxim" Cibir Briana yang kesal setengah mati karena merasa dipermainkan waktu itu.


"Tapi kau mau juga" Sindir Mona


"Aku terpaksa, bagaimana tidak disana banyak tamu yang hadir kalian menjebaku" Keluh Briana masih kesal.


"Kalau kami tak bersekongkol dengan suamimu, apa kau akan melajang seperti itu terus ?" Ejek Clara ikut ikutan tak mau disalahkan.


"Kau tak mau menikah, tapi kalian terus saja tidur bersama" Kali ini Clara gemas dibuatnya.


"Sudah sudah konferensi pers nya" Buruk Justin menengahi keributan para ladies di butiknya.


"Baik aku akan mencobanya" Kata Clara mengikuti langkah sang desainer kondang tersebut.


🌼🌼


Selesai bersama Mona untuk menemani Clara Fitting weddingdress yang akan dipakainya untuk pernikahan Clara, Briana ditemani sang supir pribadi menuju ke kantor suaminya.


Maxim berpesan kepadanya untuk datang ke kantor Dua Benua dan menunggu kepulangannya dari kantor Notaris.



Di dalam ruangan yang kurang lebih berukuran 5x6 m tersebut Briana dapat beristirahat dengan nyaman.


Ruangan tersebut memang di design khusus seperti kemauan si empunya perusahaan.


Dengan nuansa Monochrome yakni Hitam putih abu abu membuat ruanagan tersebut sangat Klop bagi pemiliknya.


Ketika Briana sedang bersantai di dalam ruangan kerja Maxim, tiba tiba Diana yakni sekretaris Maxim meminta ijin untuk masuk memberikan sebuah Map.


"Bu, apa saya mengganggu anda ?" Tanya Diana sangat hati hati takut menyinggung istri Bosnya tersebut. Bagaimana tidak kalau sampai Briana tersinggung bisa bahaya akan nasib Diana di Perusahaan ini.


"Tentu saja tidak, aku malah bosan berlama lama disini" Jawab Briana menunjukan mata sendunya.


Apa boleh buat, Diana tak berani untuk menawari atau mengajak Briana keluar hanya untuk sekedar jalan jalan di area kantor.


"Saya kemari membawa Surat Setoran Pajak" Ucap Diana menyodorkan sebuah tumpukan kertas hasil pembayaran pajak yang ia bawa.


Briana hanya menerimanya kemudian diletakkan ke meja kerja suaminya. Setelah memberikan surat surat tersebut kemudian Diana undur diri kembali bekerja lagi.


Karena iseng dan tak ada kerjaan, Briana pun melihat sekilas surat surat tersebut. Dia ingin tahu apa saja aset yang di bayarkan pajaknya oleh perusahaan Maxim.


Betapa terkejutnya dirinya saat melihat Surat Bukti pembayaran pajak tersebut. Sebuah Bukti pembayaran pajak dari apartemen yang sangat dia ketahui.


Surat tersebut berada di tumpukan paling atas, Yakni bukti pembayaran pajak Sebuah Apartemen di Pondok Indah Golf. Apartemen tersebut adalah miliknya dulu yang ia jual untuk modal pembangunan proyeknya.


Otak Briana mau tak mau dipaksa untuk mencerna semua bukti ini. Kemudian dia menghubungi Adam dan Shinta yakni pegawainya. Bagaimanapun juga mereka tahu siapa pembeli Apartemen miliknya dulu.


Tak berselang lama, Shinta pun memberikan laporan bahwa Apartemen miliknya dulu telah dibeli oleh sebuah perusahaan Mebel. Memang bukan individu yang membeli Apartemen nya Briana melainkan sebuah perusahaan.


Bagaimana tidak pusing kalau jadi Briana, Dia terpaksa memutar otaknya untuk mencari jawaban hal tersebut.


"Bagaimana bisa bukti pajaknya ada di tangan Maxim ? Siapa kira kira yang membeli Apartemen miliknya dulu ?" Pertanyaan pertanyaan tersebut kini berada di sekeliling kepala Briana.


Kemudian Briana bergegas keluar meninggalkan Kantor suaminya untuk mencari tahu jawabnya. Dia ingin pergi menyelidikinya sendiri tanpa ditemani supirnya.


Briana kini mengemudikan mobilnya ke arah Pondok Indah Golf Apartemen di daerah Pondok Indah.


Sesampainya di parkiran bekas tempat tinggalnya dulu, Briana kemudian masuk ke Lobby Apartemen dengan tergesa gesa.


Para satpam yang dulu sering bertemu dengannya masih mengingatnya dan memberikan senyum hormat kepada Briana.


Tepat di depan pintu Apartemennya, Briana berhenti dan mengamati sekelilingnya. Pikirannya masih bermacam macam. Kemudian dia mencoba memasukan Password untuk Apartemen tersebut sama seperti yang dulu ia gunakan. Ternyata hasilnya nihil.


Berarti pembelinya sudah mengganti Passwordnya. Namun Briana masih tak menyerah dia sudah kepalang tanggung atas semua ini. Terlintas sebuah kombinasi angka dibenaknya.


Kemudian dia menginput ya ke dalam Pintu Apartemen di depannya. Terjadi sebuah keajaiban. Pintu tersebut terbuka ketika Briana memasukkan tanggal pernikahannya dengan Maxim.


"Kau akan membayar ini semua Max, lihat saja kau kan habis ketika bertemu denganku" Umpat Briana dengan kesal.


Tangannya mengepal keras mengetahui Maxim berada di balik ini semua.


"Awas saja" Ancam Briana kemudian masuk ke dalam Apartemen miliknya dulu.


❤️❤️❤️