One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 99 Tidak Setuju



Dara menyambut calon menantunya dengan bahagia. Dia langsung memeluk Farida dengan erat.


"Aku sangat khawatir, Kaisar tidak bisa membawamu pulang kemari. Acara akan berlangsung satu jam lagi dan aku rasanya mau mati tadi karena membayangkan harus membatalkannya," katanya panjang lebar.


"Maaf, Mom. Ada sedikit masalah tadi, tapi bisa kuatasi. Kini aku membawa calon menantu yang kau idamkan," ujar Kaisar.


"Jagoan kecil Kakek. Huft, kau meninggalkan kakekmu yang telah tua ini tanpa kabar," ujar Alehandro menyapa dan memeluk gemas Maulana.


"Kakek ganteng yang lupa punya cucu aku kan?"


"Tentu saja tidak, kakek sangat merindukanmu, hanya saja ibumu sangat pandai menyembunyikan keberadaanmu," kilah Alehandro.


Maulana ingin menjawab, tapi Farida menggelengkan kepala.


"Kita sangat deg-degan barusan, takut jika kalian tidak datang. Ayo, sekarang kamu bersiap," ungkap Dara. "Kita dikejar oleh waktu."


"Aku akan mandi dulu," kata Farida.


"Tidak perlu," ujar Dara memperlihatkan angka di jam tangannya. "Kau masih cantik."


"Hanya lima menit," ujar Farida tersenyum. "Lengket, Mom. Tidak enak kalau dipaksakan."


"Lima menit, mandi apa itu?" celetuk Kaisar. "Acara bisa diundur sampai kau siap."


"Wanita bisa mandi dengan cepat jika dibutuhkan. Kami biasa melakukannya ketika mengurus anak kecil," terang Dara. "Namun, apa yang Kaisar katakan benar. Kita bisa mengundurkan jamnya sampai kau siap."


"Sekarang, ayo kita keluar dan biarkan para penata rias menyiapkannya."


"Aku menunggu di sini saja," pinta Kaisar duduk di kursi sofa dengan malas. Dia baru saja dalam perjalanan dan ingin duduk sambil menatap Farida.


Semua tertawa. Dara lalu menarik Kaisar keluar dari ruangan itu.


Acara lamaran itu berlangsung sangat meriah. Keluarga dari pihak Kaisar dan Fadil sudah diundang semuanya untuk menyaksikan semuanya.


Walau kebanyakan mereka bergosip tentang hal yang tidak mereka mengerti, seolah Farida yang melakukan kesalahan karena menggoda iparnya, hal itu tidak menyurutkan semangat Kaisar. Juga tidak membuat dia terbawa emosi. Dia malah lebih fokus dengan acara yang akan berlangsung nanti.


Seorang pembawa acara mulai berbicara. Dia memanggil Farida untuk masuk ke dalam.


Pintu besar mulai dibuka. Farida memasuki aula, tempat acara berlangsung. Semua mata tertuju ke arahnya, mengagumi kecantikan naturalnya yang tidak kalah dengan Cantika, mantan Putri kecantikan negeri ini.


Farida tampak menawan dengan gaun kebaya berwarna merah muda. Rambutnya disanggul sederhana, tapi berhiaskan mutiara yang bersinar indah. Sebuah gelang peninggalan ibu Kaisar yang sempat diberikan oleh Dara pun kini tersemat di tangannya. Seolah itu menggambarkan restu dari keluarga Kaisar pada Farida yang akan menjadi bagian dari keluarga ini.


Netra Kaisar tertuju pada Farida. Sebuah senyum lebar terbit di bibirnya. Tatapan penuh cinta dia layangkan pada wanita itu.


Tangannya di ulurkan dan disambut oleh Farida. Mereka saling memandang dengan penuh kasih sayang.


Lalu dimulailah acara lamaran dengan khidmat. Di mulai dengan sambutan dari Alehandro dan sambutan dari pihak keluarga Fadil, yang diwakilkan oleh Paman Farida.


Setelah itu, tinggal acara tukar cincin. Cincin yang diberikan kali ini adalah cincin pernikahan ibu kandung Kaisar. Farida sebelumnya telah menolak dengan mengatakan jika cincin yang diberikan Kaisar sudah cukup kemarin. Namun, Alehandro bersikeras untuk memberikannya karena hanya Kaisar yang berhak mendapatkan semua milik almarhumah ibunya. Jadi, semua perhiasan itu akan jatuh ke tangan Farida.


Farida merasa terhormat dengan hal itu. Dia merasa diterima dan disayangi oleh keluarga Kaisar. Keluarga yang dulu sempat dia inginkan kini dia akan menjadi bagian dari itu.


Kaisar ingin menyematkan cincin itu ke jari manis Farida, tapi sebuah suara membuat semua orang terkejut. Mereka melihat ke arah Hanafi yang berjalan mendekat ke arah keduanya.


"Tunggu, aku tidak setuju dengan acara ini."