
Kaisar merenggangkan pelukannya pada Rose. "Dengarkan aku, tidak baik kau seperti ini. Walau kau tidak mencintai Emilio tapi kau bisa sedikit menjaga perasaan calon suamimu di depan semua keluarganya."
Rose tersengal-sengal melepaskan pelukannya, lalu memutar tubuhnya dengan enggan ke arah Emilio. Pria itu memang sedang menatap tajam ke arahnya. Tubuhnya seketika bergidik horor. Rose yang biasanya berani dengan siapapun kini menundukkan wajahnya.
Kris dan Sheila mendekat. "Kau cantik sekali, Sayang," ujarnya pada putri semata wayang.
Pria itu memeluk putrinya, lalu membawa Rose ke tempat duduk di mana acara akad akan dilangsungkan.
Tidak terlihat mewah dekorasi tempat itu, tapi bunga berwarna putih dan harum ada hampir di setiap sudut rumah di hiasi oleh lampu dan juga tirai berwarna senada yang menjuntai indah di setiap sudut rumah. Walau mereka tidak menyiapkan resepsi, tapi Alehandro ingin semua terlihat sempurna di pernikahan putri sambungnya. Semua disiapkan dengan cepat walau acara ini seperti acara dadakan.
Beberapa kerabat dekat dari kedua pihak pun datang untuk memeriahkan acara ini. Dara dan Alehandro menerima keluarga Emilio yang notabene dari keluarga biasa dengan sambutan yang ramah dan baik.
Jadi ketika Rose mulai melakukan ulah, wajah mereka untuk sesaat memerah. Takut jika keluarga dari pihak Emilio berpikir macam-macam lalu membatalkan pernikahan ini. Selain itu, apa yang Rose lakukan bisa memancing penolakan dari sisi Emilio. Pria itu terlihat terluka.
Rose lalu duduk di sebelah Emilio. Pria itu mengusap wajahnya. Mencoba menenangkan hatinya yang tidak tenang. Kris duduk di depan Emilio, memberi beberapa kata sambutan.
"Aku akan menikahkanmu dengan Rose, satu-satunya anakku. Jaga dia dengan baik seperti aku menjaganya selama ini. Jangan sakiti dia, membentaknya atau memarahi jika dia berbuat kesalahan. Cukup beritahu. Jikalau dia tidak mau mendengarkannya sampai hilang batas kesabaranmu. Maka kembalikan dia padaku dengan baik-baik."
Kris mengatakannya dengan suara bergetar. Ternyata sesulit ini seorang ayah melepaskan anaknya gadisnya untuk menikah dengan seorang pria. Apalagi pria ini tidak masuk dalam kriterianya sama sekali. Yang dia harapkan hanya pria ini bisa bertanggungjawab dan mencintai Rose dengan hatinya. Dia tidak ingin apa yang dia lakukan pada Dara terjadi pada Rose. Ketakutan ini yang membuatnya tidak bisa menahan air mata.
Sedangkan Rose ikut terharu dengan apa yang Kris lakukan. Dia menyeka air mata di pipinya.
"Saya berjanji akan merawat dan menjaganya sesuai dengan amanah dari Anda. Namun, sebelum kita memulai acara akadnya. Saya ingin mengajukan satu pertanyaan pada Rose."
Rose menoleh ke arah Emilio.
"Apa yang ingin pria ini katakan? Terlalu banyak syarat dan tidak tahu diri. Sudah untung aku mau menikah dengannya, sehingga dia tidak jadi bujang lapuk selamanya."
Emilio tersenyum tipis. "Jika kau keberatan dengan pernikahan kau bisa mengatakannya sekarang."
Rose terkejut dengan pertanyaan Emilio, dia menatapnya sehingga dua bola mata mereka saling bertemu.
"Aku tidak mau kau menyesali apa yang kau lakukan setelahnya jika ini memang bukan dari dirimu sendiri. Menikah itu sebuah komitmen berdua, bukan hanya aku saja yang berjuang. Kau pun harus sama mau berusaha untuk membuat pernikahan ini berhasil."
"Pintar sekali Emilio menjebakku dengan pertanyaan ini."
Sejenak Rose terdiam, menatap ke seluruh anggota keluarga yang lain. Semua menganggukkan kepala.
Rose lalu kembali lagi menatap Emilio. Mencoba membaca pemikirannya.
"Walaupun kau tidak seperti yang ku harapkan, tapi aku tahu, kau adalah pria yang baik. Bukan pria yang suka mempermainkan wanita. Ini tidak terlalu buruk, hanya satu tahun dan itu akan terlewati dengan cepat."
"Aku bersedia," jawab Rose.
"Kau yakin? Karena ini bukan sebuah perjanjian. Ini sebuah komitmen seumur hidup dan sebagai seorang pria sejati, aku akan menjaga komitmenku dan aku harap ke depannya jika kau tetap ingin melanjutkan pernikahan ini maka kau hargai apa yang telah kulakukan," ujar Emilio tegas. Nampaknya dia tidak bermain-main dengan ucapannya dan mengatakan ketidaksetujuannya untuk berpisah setelah umur pernikahan mereka setahun.
Rose sedikit menyeringai. Calon suaminya ini ternyata sangat pintar menyudutkannya.
"Soal nanti, biarlah nanti. Yang penting sekarang aku dan dia menikah."
Rose menganggukkan kepala. Semua tampak lega melihatnya. Acara pernikahan lalu dilangsungkan dengan penuh khidmat. Hingga tiba saatnya Rose mencium tangan Emilio sebagai tanda penghormatannya pada suami yang akan menjadi tumpuan hidupnya ke depan.
Emilio lalu mencium kening Rose sesaat dan cepat. Itu membuat canggung keduanya. Soalnya ini pertama kali mereka bersentuhan secara fisik dengan keadaan yang sadar.
Mereka lalu bertatapan, entah apa yang ada di pikiran mereka masing-masing.
Dara nampak paling bahagia dengan pernikahan ini. Dia langsung memeluk putrinya dan menciumnya. "Sayangku, sekarang kau sudah jadi istri orang. Mulai saat ini, kau harus belajar mencintai dan menghormatinya."
Dia lalu beralih pada Emilio. "Aku tahu kau yang akan menjadi terbaik menjaganya karena selama ini pun begitu. Kau sudah tahu baik buruknya dan kini ku serahkan dia padamu."
"Rose memang anak yang angkuh, tapi yakinlah ketika dia sudah mencintaimu maka seluruh hidupnya akan dia serahkan padamu," bisik Dara di telinga Emilio.
Emilio menganggukkan kepalanya. Rose sendiri terlihat penasaran dengan apa yang ibunya bisikkan pada pria yang sudah menjadi suaminya kini.
Dalam hati dia meyakinkan diri bahwa ini tidak seburuk pemikirannya.
Lalu Dara bergantian dengan Kris, Alehandro, Sheila dan yang lain. Sedangkan Kaisar malah terlihat sedang merenung sendiri di sudut ruangan. Membayangkan dirinya yang ada di sana bersama Farida. Dia tidak tahu apakah mencintai wanita itu atau tidak. Namun, pikirannya tidak bisa lepas dari wanita itu.
Dari arah pintu muncul Cantika menggandeng tangan Alisha bersama dengan orang tuanya. Wanita itu mengenakan kain kebaya berwarna merah. Terlihat cantik dan anggun.
"Selamat siang semuanya," sapa Cantika pada semua orang.
Semua tampak terkejut, tidak terkecuali Kaisar. Dia sendiri yang enggan melihat Cantika setelah wanita itu menolak hak nya untuk mengasuh Alisha. Belum lagi wanita itu pura-pura tidak mengenali Farida di persidangan. Ada apa dengan keluarga itu? Itu yang masih menjadi misteri untuk Kaisar.
"Untuk apa wanita itu datang kemari?" ujarnya sendiri yang tanpa sengaja didengar oleh sang ayah.
"Oh, dia sengaja ku undang untuk datang karena bagaimanapun dia adalah menantuku."
Kaisar menatap ayahnya tidak senang. Alehandro menepuk bahu anaknya lalu berjalan mendekati sang menantu.
"Hallo, Sayang Kakek. Kau terlihat cantik sekali." Alehandro lalu mencium cucunya itu.
"Seperti biasa, Kakek juga terlihat cantik eh tampan," balik Alisha pada Alehandro.
"Nak, bagaimana kabarmu," sapa Alehandro pada Cantika.
"Baik, Dad," ujar Cantika sambil menarik rambutnya yang hitam lurus ke belakang telinga. Dia lalu melirik ke arah Kaisar yang nampak enggan untuk mendekat.
"Ayah ...," panggil Cantika berlari kecil mendekati Kaisar. Sudah beberapa hari ini ayahnya tidak terlihat dan menyapanya. Tidak seperti biasa yang walau tinggal beda rumah, tapi ayahnya selalu berusaha memberi waktu baginya untuk berkomunikasi walau lewat panggilan video.
"Hallo, Kai," sapa Cantika dengan perasaan tidak karuan. Antara terluka dan marah tapi rindu. Dia mendekat untuk mencium pipi suaminya. Namun, kaisar menarik ke belakang kepalanya sendiri.
Hal itu menjadi pusat perhatian orang. Membuat wajah Cantika menjadi merah padam karena malu. Dia menghela nafasnya.
"Kau tidak mengatakan jika hari ini Rose menikah."
Tadinya dia pikir Rose yang akan menggantikan posisinya, tapi setelah melihat kebersamaan Farida dan Kaisar, ternyata dia salah menduga.
"Oh, aku lupa."
"Aku masih sah menjadi istrimu dan bagian dari keluarga ini."
Kaisar tersenyum kecut. "Airlangga juga adikmu dan dia bagian dari keluarga mu, tapi kalian buang dan menganggap telah mati. Kenapa?"
Jawaban Kaisar membuat nyali Cantika dan keluarganya menciut.