
Kaisar tidak bisa mengatakan apapun lagi. Dia sadar telah melakukan banyak kesalahan pada Farida, tidak ada alasan yang tepat untuk membenarkannya.
"Aku tahu sulit bagimu untuk memaafkan semua yang telah kulakukan. Aku akan menerima semua hukumannya. Aku pun tidak akan memaksamu untuk menerimaku lagi karena apa yang kau katakan memang benar. Cinta butuh bukti bukan sekedar kata-kata."
"Aku tidak akan menghukummu karena kita tidak punya hubungan apapun." Farida membuang wajah ke samping.
"Tapi kemarahanmu telah menghukumku," batin Kaisar.
"Mulai hari ini aku tidak akan memintamu untuk menerimaku, tapi jangan batasi hubunganku dengan Maulana," pinta Kaisar.
"Kau adalah ayahnya!" ujar Farida meninggalkan tempat itu. Seharusnya dia tidak kesal melihat pria itu menyerah, kenyataanya berbeda, dia ingin Kaisar memperjuangkannya bukan menyerah seperti itu. Moodnya bertambah hancur. Ingin dia berteriak marah, tapi tidak bisa.
Maulana yang mengintip dari tadi langsung pergi ke ruang makan ketika ibunya berjalan masuk.
"Ayah ke sini, Bu?" tanya Maulana sambil pura-pura memegang sendoknya.
"Ya, dia ada di ruang tamu," jawab Farida dengan wajah ditekuk. Wanita itu lalu duduk di kursi makan.
"Aku akan mengajak ayah makan di sini ya, Bu?'' tanya Maulana.
"Hmm."
Fadil mengedipkan mata ke arah Maulana. Anak itu langsung berlari ke ruang tamu. Di sana dia melihat wajah lesu ayahnya yang tertunduk di kursi, seraya memegang buket mawar besar.
Maulana lalu naik ke kursi dan duduk di sebelah ayahnya. "Apakah ayah akan menyerah?''
"Tidak," jawab Kaisar tersenyum kecut.
"Kalau begitu, jangan buat Ibu sedih lagi."
Kaisar mengusap kepala anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Wanita memang suka merajuk," bisik Maulana.
"Darimana kau tahu ini?"
"Ayah Erick dan Om Ryan suka bilang seperti itu," balas Maulana.
Kaisar menganggukkan kepalanya. Selama ini , putranya memang hidup diantara orang-orang dewasa sehingga ucapannya tidak seperti anak kecil pada umumnya.
"Lalu apa yang mereka lakukan?"
"Ibu Uyun diberi uang banyak untuk berbelanja," jawab Maulana polos.
Kaisar tertegun memikirkan saran Maulana. Farida tidak akan menerima uang darinya hanya saja cara lain mungkin berhasil. Dengan mengajaknya berbelanja.
"Ayah, kita makan yuk," ajak Maulana.
"Apa ibumu mengijinkan?"
Maulana menganggukkan kepalanya. Kaisar lalu bersemangat lagi. Dia hanya butuh sedikit kesabaran untuk menghadapi Farida.
Mereka lalu pergi ke ruang makan. Meja itu berbentuk bundar. Maulana memilih duduk dekat dengan kakeknya, membiarkan ayahnya duduk bersebelahan dengan Farida.
"Ayah, ambil nasinya," tunjuk Maulana yang melihat Kaisar hanya diam.
Farida menghela nafasnya. Dia lalu mengambilkan nasi dan lauk ke piring Kaisar dengan gerakan sedikit kasar.
"Sudah," kata Kaisar menghentikan tangan Farida yang mengambilkan banyak makanan untuknya.
Farida langsung menarik tangannya cepat dan mengelap bekas sentuhan Kaisar dengan tissue.
Maulana melihat ayahnya dengan kasihan. Namun, dia tidak bisa berbuat apapun. Ibunya jika marah memang diam dan lebih menakutkan daripada Ibu Uyun yang cerewet memarahinya.
Mereka makan dalam hening. Farida kehilangan selera untuk menghabiskan makannya.
"Ayah, tadi katanya mau membeli kue brownies untuk Ibu?" tanya Maulana.
"Oh, Ayah hampir lupa, ada di ruang tamu," jawab Kaisar bangkit mengambil kue brownies. Dia lalu meletakkan kue itu diatas meja.
"Jadi dia keluar untuk membeli bunga dan kue?" batin Farida.
Kaisar lalu menghabiskan makannya dengan lahap, seperti orang kelaparan. "Aku belum makan semenjak dari Jakarta," ujar Kaisar.
Sebenarnya, sudah beberapa hari ini dia hilang selera makan. Bahkan dua hari ini dia tidak makan nasi sama sekali, yang ada di pikirannya hanya ingin cepat menemui Farida dan anaknya. Namun, ada yang harus dia selesaikan terlebih dahulu sebelum pergi kemari. Dia bahkan menyerahkan semua tanggung jawab perusahaan pada ayahnya sampai dia bisa membujuk Farida untuk kembali padanya.
Tubuhnya memang terlihat lebih kurus dari biasanya dan sedikit kusut. Rambutnya tidak disisir dengan licin. Baju yang dipakai pun tidak serapih biasanya. Hanya memakai kemeja dan jas tanpa dasi.
"Aku rindu dengan masakan ibumu. Semua makanan jadi terlihat tidak menarik," lanjut Kaisar.
Farida menghentikan kunyahannya.
"Ayah, boleh aku memakan kue ini?" Kaisar menganggukkan kepalanya, membuka bungkus kue itu. Brownies itu terlihat cantik dengan hiasan bunga cokelat diatasnya. Bukan seperti kue brownies pasaran.
Maulana hendak menyendokkan kue brownies langsung, tapi Farida mencegahnya.
"Tidak makan dari sendok langsung," tegas Farida. Ini yang Maulana mau. Melihat perhatian ibunya.
Dia lalu bangkit mengambil pisau dan piring kue. Mengirisnya beberapa irisan lalu mengambilkan untuk Maulana. Lalu kembali duduk meneruskan makannya yang tidak kunjung habis.
"Ka-kau su-suka itu kan?" ujar Fadil. Farida melihat ke arah ayahnya.
"Dulu, sekarang tidak!" tandas Farida.
Kaisar telah menghabiskan makan malamnya tanpa meninggalkan satu butir nasi pun diatas piring. Dia lalu tersenyum menoleh ke arah Farida. Mengambil satu iris roti, menyendoknya lalu memasukkan kue itu ke mulut Farida langsung.
Farida terkejut. Namun, kue ini memang lezat, hanya saja dia tidak bisa mengatakannya.
"Ini enak, aku yakin kau pasti suka," ujar Kaisar.
"Aku tidak suka ya tidak suka!" ujar Farida sambil minum.
"Benar, Bu, enak kok," sambung Maulana.
Farida menyipitkan mata ke arah Maulana, membuat anak itu tertunduk. Dia merasa ayah dan anak ini sedang bekerja sama.
"Kalian saja yang habiskan, aku tidak mau!" tolak Farida hendak bangkit.
"A-ayah ma-mau itu," ujar Fadil.
Farida mau tidak mau harus melayani ayahnya untuk mengambilkan roti itu. Dia lalu menyuapi ayahnya.
Kaisar sendiri membawa piring kotor ke tempat cucian. Lalu mulai mencucinya.
"Biarkan aku saja," kata Farida.
"Kau pasti lelah melakukan semua sendiri, biarkan aku membantumu, lagipula ini bayaran aku ikut makan di sini," ujar Kaisar yang hanya mau melakukan ini semenjak bersama dengan Farida.
Farida menatap ke arah Kaisar yang mulai mencuci semua piring kotor itu. Pria itu selama hidup mendapatkan perlakuan sesuai dengan namanya, Kaisar. Tidak pernah melakukan suatu pekerjaan rumah. Semua sudah disiapkan oleh pelayannya. Namun, ketika bersama Farida, dia mau membantunya.
Di rumah pria itu pun, jika Farida memasak dia akan berusaha untuk membantu walau dia sendiri tidak pandai melakukannya. Setelah mengurus ayahnya, Farida kembali ke ruang makan untuk membereskan semuanya. Namun, semua sudah bersih rapih.
Kaisar dan Maulana terlihat asik bicara dan tertawa di ruang makan itu. Entah apa yang mereka bicarakan, hal itu membuat hatinya menghangat. Maulana memang butuh sosok ayah seperti Kaisar yang terlihat sempurna dalam segala hal.
Kaisar menyadari kehadiran Farida, menoleh sehingga mereka saling menatap untuk beberapa saat. Farida yang lalu menoleh ke arah Maulana.
"Lana, ayo bersihkan tubuh dan tidur," ajak Farida.
"Okey. Ayah tidur di sini kan?" tanya Maulana.
"Ayahmu akan kembali ke tempatnya," jawab Farida.
"Aku dari bandara langsung kemari, belum memesan hotel," jawab Kaisar. "Aku bahkan tidak membawa baju sama sekali karena langsung datang begitu tahu kau ada di sini."