
"Oh iyakah? Banyak yang mengatakan demikian tapi Maulana memang anak saya," ujar Uyun dengan dada berdebar. Dia mendekati Maulana dan meletakkan tangan di bahu anak itu.
Biasanya dia akan ringan saja menjawab pertanyaan orang tentang hal ini. Namun, di depannya sepertinya bukan orang biasa. Terlihat dari penampilannya yang luwes.
Alisa juga menempel dekat dengan wanita paruh baya itu, mengindikasikan jika wanita itu kemungkinan besar Nenek Alisa. Sepertinya ibu dari Kaisar.
Kalau dia salah sedikit atau tergelincir ketika berbicara, maka itu akan sangat parah dan bahaya.
"Kau anak Ibu kan, Sayang?" tanya Uyun sambil tertawa kaku.
"Iya, aku anak dari Ibu. Ibuku yang melahirkan aku," jawab Maulana tegas.
Dara memicingkan matanya sedikit. Hal itu membuat Uyun semakin grogi. Setelah itu wanita itu tersenyum ramah.
"Maaf jika menyinggung kalian," ujar Dara.
"Tidak apa-apa Nyonya." Uyun melihat ke arah Alisa. "Apakah Alisa cucu Anda?"
"Ya, dia cucu saya, cucu pertama di keluarga kami."
Mereka terdiam. Maulana mengajak bicara Uyun. Sedangkan, Alisa bertanya pada neneknya mengapa neneknya menjemputnya.. Biasanya pelayan.
"Nanti malam ada acara lamaran Aunty Rose. Jadi Nenek menjemputmu kemari agar kau bisa ikut menghadirinya."
"Wah ... Aunty mau menikah?" tanya Rose semangat.
Dara menganggukkan kepalanya.
"Dengan siapa?"
"Kau pasti mengenalnya, Emilio. Kau tidak boleh memanggilnya seperti itu lagi. Harus pakai kata uncle," kata Dara.
"Apakah nanti Tante cantik juga datang?" tanya Alisa.
"Siapa Tante Cantik?"
"Tantenya Maulana, bawahan Ayah, teman Ibu," jelas Alisa membuat Dara terkejut.
Jadi benar keluarga Maulana ada hubungan dengan Kaisar.
Mendengar hal itu, Uyun langsung menyela. "Kami punya perusahaan kecil di bidang jasa pengiriman barang. Sedangkan Tuan Kaisar ingin mendirikan perusahaan jasa pengiriman barang skala nasional. Dia butuh orang yang berpengalaman di bidang ini. Maka dari itu, dia merekut perusahaan keluarga kami untuk bergabung dengan perusahaan miliknya."
Dara menganggukkan kepala faham dengan apa yang Uyun terangkan.
"Nah, adik bungsu kami, Farida yang ditunjuk oleh kakaknya untuk mengurus masalah kerjasama ini. Cucu Anda memanggilnya dengan sebutan Tante Cantik." Uyun tertawa canggung. Oksigen di tempat itu terasa semakin menipis. Berharap semoga wanita paruh baya di depannya tidak menghubungkan Maulana dan ayah kandungnya.
"Oh, jadi adikmu kerja bersama Kaisar. Siapa namanya tadi?"
"Berliana Farida."
Dara tersenyum lagi. "Senang rasanya bertemu dengan orang yang saling mengenal dan berhubungan. Jadi terasa dekat."
Uyun menganggukkan kepalanya.
"Maulana, ayo kita pulang sekarang."
"Pulang," jawab Maulana lemas. Dia masih menatap nenek di depannya.
"Iya, kita harus bersiap."
"Lho kok mau pulang? Bukankah sebentar lagi masih ada satu jam pelajaran lagi?"
"Maulana sudah keluar dari sekolah ini."
"Kenapa?" tanya Dara terkejut.
"Kami akan pindah ke rumah orang tua saya di kampung."
"Pindah? Bukankah katamu kalian punya usaha di sini?"
"Iya, saya harus menemani orang tua saya di kampung."
Dara menganggukkan kepalanya.
Maulana lantas berjalan mendekat ke arah Alisa.
"Alisa aku pergi ya. Jangan suka menangis lagi, jika tidak teman yang suka nakal akan senang menjahilimu. Kau harus kuat," ujar Maulana. Anak itu tiba-tiba memeluk Alisa.
"Kau benar-benar mau pergi? Apa kita tidak bisa bertemu lagi?"
Maulana menggelengkan kepalanya. Suasana terasa haru karena kedua anak itu menangis. Dara ikut hanyut di dalamnya. Dia ingat dulu Kaisar dan Rose juga seperti ini.
Maulana terasa enggan untuk melepaskan pelukannya.
"Maulana kita pulang, Alisa juga harus masuk ke kelasnya," ujar Uyun sambil memegang satu lengan Maulana..
"Maaf, Bu, saya harus pulang."
Dengan berat Maulana melepaskan pelukannya. Uyun menariknya menjauh dari Alisa.
"Alisa sampai jumpa lagi," seru Maulana.
"Kau akan kembali kan?" balas Alisa dengan berderai airmata.
"Aku pasti akan kembali. Ingat itu," ujar Maulana sambil mengusap pipinya yang basah.
"Aku akan menunggumu kembali di sini," teriak Alisa.
Dara yang melihat hanya bisa menarik nafas panjang. Rasa-rasanya dia ingin menarik Maulana ke dekatnya dan melarang orang yang katanya ibunya itu membawa anak itu pergi.
Namun, dia bukan siapa-siapa anak itu. Andaikan Kaisar melihat anak itu, apa reaksinya?
Sedangkan di ruang sidang. Kali ini sidang tentang pemeriksaan isi gugatan perceraian oleh hakim yang bertugas. Nama hakim yang menangani perceraian itu adalah hakim Santoso. Pria paruh baya yang terkenal bijak dalam menentukan keputusan di pengadilan negeri agama.
"Jadi alasanmu menggugat cerai istrimu karena kalian sering bertengkar?" tanya Hakim itu.
"Betul Pak Hakim," jawab Kaisar yang kini duduk di tengah ruang sidang.
"Faktor apa yang menyebabkan kalian bertengkar."
"Dari awal pernikahan kami ini tidak dilandaskan cinta."
Semua terlihat terkejut mendengar jawaban Kaisar. Terdengar dengungan ketidaksenangan dari jawaban itu dari pengunjung yang ada di ruang sidang.
"Tidak saling mencintai, tapi menikah selama enam tahun dan mempunyai seorang putri bernama Alisa yang cantik." Hakim itu membaca data yang ada di tangannya.
"Betul Yang Mulia."
"Apakah istri Anda mencintai Anda? Atau Anda sendiri yang beranggapan jika kalian tidak pernah saling mencintai?"
Kaisar terdiam.
"Interupsi Yang Mulia. Klien saya sangat mencintai suaminya bahkan beberapa kali meminta suaminya untuk membatalkan rencana perceraian ini."
"Betul apa yang dikatakan pengacara istri Anda?"
"Betul yang mulia," jawab Kaisar lemah.
"Jadi perasaan tidak cinta itu dari diri Anda sendiri, bukan dari diri istri Anda. Pertanyaannya adalah apakah waktu enam tahun itu tidak bisa menumbuhkan cinta di hati Anda untuknya?"
"Tidak bisa dan itu sulit. Saya sudah mencobanya berkali-kali, tapi tetap gagal," terang Kaisar.
Cantika sendiri hanya bisa menunduk sambil menangis.
"Kalau begitu, sebaiknya kita akan adakan sidang mediasi untuk sidang berikutnya. Kami berharap dengan sidang ini akan ditemukan titik temu dari hubungan kalian yang telah rapuh dan mulai runtuh."
"Baik, Yang Mulia," balas Kaisar.
Setelah itu, sidang ditunda hingga Minggu depan. Kaisar segera bangkit dan pergi mendekat ke arah Farida.
Terdengar sorakan tidak suka para pengunjung. Kaisar mengabaikannya.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir.
"Aku baik-baik saja," ujar Farida.
"Dasar wanita ******, beraninya kau datang kemari untuk merusak hubungan anakku dengan suaminya!" teriak Ira kesal.
Cantika yang melihat itu hanya bisa menangis sambil terisak di kursinya. Dia terlihat enggan untuk menatap sejoli itu.
"Kau lihat apa yang kau lakukan membuat rumah tangga anakku hancur seketika."
"Bu," tunjuk Kaisar gelap mata. Farida menurunkan jari Kaisar dan mengusap dada pria itu untuk bersabar.
"Kau mau mengatakan apa, kenyataannya dia yang datang untuk merusak rumah tangga anakku. Aku jadi penasaran ingin melihat wajahnya." Ira bergerak maju dengan cepat lantas meraih masker Farida tapi dihalangi oleh anak buah Kaisar.
Di saat yang sama seorang Ibu membantu Ira. Dia melepas masker di wajah Farida sehingga masker itu turun hingga ke dagu.
Wajah Farida langsung terlihat terang. Beberapa wartawan yang meliput mengabadikan momen itu.
Ira tercengang. Dia seperti terkena sambaran Petir di siang bolong, menatap bingung ke arah Farida yang menutup kembali wajahnya.