
Farida menjambak keras rambut Kaisar. Pria itu hampir jatuh dibuatnya. Namun, dia ikhlas menerimanya. Bahkan, jika bisa dia ingin menggantikan posisi Farida saat ini.
"Ayo, satu dorongan lagi, Bu," ucap Bidan yang menolong persalinan Farida.
Wajah Farida sudah memerah karena menahan sakit dan semua hal yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Kaisar pun terlihat pucat dan cemas. Sudah tiga puluh menit waktu persalinan, jika lebih maka anak dalam kandungan akan mengalami bahaya.
Sebenarnya, kakinya sudah lemas melihat semuanya, tapi dia berusaha terlihat kuat agar bisa menenangkan dan memberi kekuatan pada sang istri.
"Ayo, Sayang, kali ini kau bisa," kata Kaisar menyemangati istrinya.
Farida mengambil nafas panjang, lalu dengan segenap tenaga mendorong janin dalam perutnya agar bisa segera keluar.
"Ah, aduh, janinnya belum mau keluar, padahal ibunya sudah berusaha. Kepalanya juga sudah terlihat jelas. Sangat berbahaya jika dibiarkan seperti ini. Anak ini bisa tiada. Saya sarankan untuk melakukan vacum," ujar Dokter ahli kandungan yang turut serta membantu jalannya kelahiran ini.
Kaisar mengusap wajahnya kasar. Dia melihat ke arah Farida yang nampak lelah.
"Baiklah," jawab Kaisar dengan perasaan mengganjal. Bagaimana pun dia takut ada hal yang tidak baik terjadi pada istri serta calon anaknya yang mau lahir.
Setelah menandatangani surat pernyataan persetujuan. Tindakan Vacum dilakukan. Kaisar menatap ngeri pada alat itu. Dia sampai memalingkan wajahnya tidak tega.
Klop. Lalu jabang bayi keluar dari jalan kelahiran. Kaisar menarik nafas lega. Namun, perasaan takut kembali menjalaninya ketika melihat fisik anak keduanya.
"Itu kenapa Dokter?" tanya Kaisar menunjuk ke arah kepala sang anak.
"Oh, ini akan hilang sendiri. Dia normal kok, Pak."
"Kai? Anak kita," ucap Farida menangis.
"Tidak apa-apa, Bu. Paling tiga sampai tujuh hari akan normal seperti biasanya," ucap Dokter itu lagi.
"Jenis kelaminnya lelaki, seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya. Dia terlihat tampan sekali, seperti ibunya," ujar sang Dokter.
Farida tersenyum tidak lepas karena masih takut dengan bekas vakum di kepala putranya.
Tiga hari kemudian,
Farida mengusap sangat lembut bagian kepala anaknya yang kemarin terlihat aneh. Sekarang terlihat normal seperti bayi lainnya. Dia juga terlihat sehat karena rajin menyusu ASI.
"Ish, kau ini, memonopoli bagian kesukaan ayahmu ini," ucap Kaisar lirih sambil menyentuh ujung hidung putra keduanya.
"Ayah ngomong apa sih?" tanya Lana yang duduk di pinggir ranjang ibunya. Dia seperti tidak mau pisah dengan adiknya ini.
"Tidak apa-apa, ini adikmu selalu menyusu terus. Minum susu formula pun tidak mau, kasihan kan Ibumu, capek menyusui."
"Bagus dong, Yah," kata Farida tersenyum lucu melihat mimik Kaisar yang sedang merajuk.
Terdengar helaan nafas Kaisar. "Ini aku masih libur sampai empat puluh hari ya?" tanya Kaisar dengan wajah ditekuk.
"Enam bulan, Kai, bila ingin istrimu sehat total," jawab Alehandro yang baru masuk ke dalam kamar rawat Farida.
Dia mendekat ke arah Farida untuk melihat cucu keduanya. Farida menyalami kedua mertuanya dengan posisi masih duduk menyusui bayinya.
"Enam bulan? Ayah bercanda," ujar Kaisar tidak terima.
"Tanya pada ibumu," kata Alehandro.
"Betul, Bu?"
"Melahirkan bukan hal biasa. Seluruh syaraf dan uratnya ikut tertarik ketika melahirkan. Butuh waktu untuk masa pemulihan, jika kau ingin dia sehat total maka kau harus menjaganya sendiri. Kau tidak boleh membuatnya lelah dengan melayani mu. Biarkan organ dalam dan luarnya siap."
Kaisar hanya bisa menggaruk kepalanya. Namun, dia melihat ke arah Farida lagi dan tersenyum.
"Dia sudah rela mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan anakku. Enam bulan akan lama, tapi demi kesehatannya aku akan berusaha untuk kuat."
"Itu baru anak Ayah, jangan egois dengan diri sendiri."
Kaisar hanya bisa menatap langit-langit kamar dengan wajah memelas.
"Kalian sudah beri namanya siapa anak ini?" tanya Dara.
Kaisar menepuk dahinya.
"Aku sampai lupa memberi nama putraku ini karena takut ada kelainan dengannya kemarin. Namun, ketakutan itu tidak perlu karena setelah diperiksa, anakku baik dan sehat dan lihat bekasnya sudah hilang."
Dara dan Alehandro mengangguk lega.
"Aku belum punya nama pas," lanjut Kaisar. "Namun tadinya aku ingin beri dia nama Pangeran Sofyan."
"Nama yang bagus, semoga nama ini akan memberikan keberkahan untuknya dan untuk keluarga kalian."
"Amiin." Ucap semua orang serempak.
"Sekarang kita wajib berterima kasih pada Tuhan setelah semua yang terjadi pada kalian akhirnya kalian bisa menemukan kebahagiaan dan Sofyan ini adalah bentuk kebahagiaan yang datang pada kalian saat ini."
"Aku juga berterimakasih pada istriku karena telah hadir dan menyempurnakan hidupku. Terimakasih, Sayang. I Love you." Kaisar mencium kening Farida.
Setelah semuanya. Akhirnya Farida memperoleh kebahagiaannya lagi.
***
Terimakasih juga pada yang sudah baca cerita ini hingga selesai. Maaf jika ada kurang dan salahnya.
Ada cerita tentang Cantika di novel Hijrah. Mampir dan baca ya.... Silahkan menikmatinya....