One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 93 Musuh atau Sahabat



"Kau bisa langsung memesan hotel," jawab Farida ketus.


"Ibu, biarkan Ayah menginap di sini," bujuk Maulana.


"Tidak ada kamar."


"Aku bisa tidur di sofa ruang tamu," potong Kaisar cepat.


Farida menatap tajam ke arah pria itu. "Kukira kursi sofa tidak layak untuk seorang Kaisar," ejeknya.


"Aku hanya ingin menjadi Kaisar di hati kalian," balik Kaisar.


Farida mengerutkan bibirnya. "Ayo Maulana, kita pergi tidur."


"Bagaimana dengan Ayah?"


Farida tidak menjawab, hanya menarik tangan Maulana menuju ke kamar.


Kaisar sendiri berjalan keluar, memerintahkan anak buahnya untuk pergi mencari penginapan sendiri dan datang ketika dipanggil saja. Setelahnya, dia menuju ke sofa ruang tamu. Melepaskan jas yang dia pakai dan menyampirkan ke atas kursi. Mencopot sepatunya dan mulai berbaring di sofa. Menatap sedih ke atas langit-langit. Memikirkan semua yang telah terjadi di hidupnya.


Perlahan dia mulai memejamkan matanya. Berharap besok hidupnya akan berjalan lebih baik lagi.


Farida sendiri merasa tidak tenang di kamarnya hingga tengah malam dia tidak bisa memejamkan matanya. Dia bangkit mengambil selimut dan bantal di lemari. Lalu berjalan keluar dengan mengendap, tanpa memakai sandal.


Semua ruangan telah gelap, sepertinya Kaisar yang mematikannya tadi. Dia mengintip terlebih dahulu ke ruang tamu, memastikan pria itu sudah tidur atau belum.


Dia melihat pria itu berbaring dengan posisi terlentang. Kepalanya berada di sandaran sofa. Setelah memastikan pria itu tidur, baru Farida berjalan mendekat. Menyelimuti pria itu dan meletakkan bantal di kepala Kaisar dengan lembut, agar pria itu tidak terbangun.


"Keras kepala!" katanya sebelum pergi dari tempat itu. Namun, mendadak tangannya ditarik oleh Kaisar sehingga terjatuh dalam pelukan pria itu.


Mereka saling menatap sebelum sebuah ciuman mendarat di bibir Farida. Farida terdiam, tidak membalas ataupun menolak. Hal itu membuat Kaisar benar-benar menyalurkan kerinduannya.


Kaisar lalu menghentikan ciuman itu. Mengusap bibir Farida yang basah oleh air liur mereka. Farida langsung bangkit dan berjalan pergi dengan otak yang masih kosong dan wajah memerah, untung saja suasana gelap sehingga Kaisar tidak bisa melihatnya.


"Selamat malam, mimpikan aku dalam tidurmu," kata pria itu tersenyum.


Sedangkan di tempat lain, di rumah Samson. Hanafi berjalan masuk ke dalam sebuah ruangan yang lebih mirip seperti sebuah bar.


"Silahkan duduk, Pak Hanafi, sebentar lagi Tuan Samson akan datang," ucap salah seorang pria dengan tatto yang menyebar hingga menutupi tubuhnya dan sebagian wajahnya.


Hanafi lalu duduk di kursi bar. Pelayan datang menawarkan minuman. Hanafi menolaknya dengan halus. Dia lalu melihat ke seluruh ruangan itu. Rumah dengan gaya modern dengan semua pintu terbuat dari kaca yang mengarah langsung ke laut. Sangat indah dan sejuk. Rumah peristirahatan yang nyaman. Hanya saja ini bukan rumah orang biasa. Ini adalah rumah seorang bandar obat terlarang terbesar di Asia tenggara. Banyak penjaga yang terlihat hilir mudik di luar ruangan. Menjaga tempat itu dari serangan musuh atau polisi.


Tidak lama kemudian, terdengar suara mobil memasuki rumah. Terdengar suara wanita dan pria yang sedang berbicara.


"Biar Papa yang membawa Alisa," ucap Samson.


"Sudah biarkan Kakeknya yang membawa Alisa ke kamar," ujar Ira memegang tangan Cantika.


Cantika lalu membiarkan Samson membawa anaknya masuk ke rumah. Menatap pria dari belakang. Pria yang belakangan ini dia kenal sebagai ayah kandungnya. Sulit baginya menerima kenyataan pahit ini, tapi dia harus berdamai dengan kenyataan. Kenyataan yang membuatnya jatuh terpuruk ke dasar jurang kesedihan.


Bagaimanapun rasa kecewa dan marah bersarang di dadanya untuk wanita itu. Bahkan dia malas memanggilnya ibu, tapi hanya dia satu-satunya orang yang mendukungnya saat ini. Memberinya semangat untuk bangkit lagi.


Langkah kaki Cantika berhenti ketika melihat ibunya memarahi ayahnya.


"Kenapa kau panggil pria ini kemari? Dia adalah orang yang membuatku dan anakku menderita. Dia membantu musuhku untuk menjatuhkan aku!" tandas Ira pada Samson.


"Sstss, biar aku meletakkan cucuku ini ke kamarnya dulu, baru kita bicara!" ujar Samson tenang. Dia lalu naik ke atas membawa Alisa ke kamarnya.


Sedangkan Cantika melihat pria yang di tunjuk oleh ibunya nampak santai menanggapi semuanya. Dia duduk di kursi bar sambil memutar kursi itu. Tidak perduli dengan semua perkataan Ira dan tidak takut dengan ayahnya.


"Siapa dia, Bu?" bisik Cantika.


"Dia ... dia ...." Ira gregetan dan bingung untuk menjawabnya.


Hanafi bangkit dan berjalan mendekat ke arah dua wanita ini. Tubuhnya tinggi besar dan tegap. Rambutnya bergelombang dan sedikit panjang yang jatuh menutupi sebagain wajahnya yang tidak terlalu tampan hanya saja terlihat menarik. Seperti pria gentleman, dia pun menebak pria di depannya ini berumur diatas tiga puluh delapan tahun. Pria matang dengan segudang kharisma yang terlihat sekali menatap.


Cantika bisa langsung menebak jika pria di depan ini sangat berbahaya dan dia harus menjauhinya. Apalagi ketika mendengar ucapan ibunya yang sepertinya mengenal pria ini dengan baik. Namun, mengapa ayahnya malah terlihat tenang saja melihat hal ini.


Hanafi menyatukan kedua tangan di dada. "Kenalkan namaku Hanafi Purba. Mungkin kau belum mengenalku tapi aku sudah mengenalmu."


"Dia komplotannya Airlangga," potong Ira sengit.


Cantika menghela nafas panjang. "Oh, dia teman dari penjahat itu?"'


"Lebih tepatnya, aku adalah kakak angkat dari Farida," jelas Hanafi. "Takdir memang sangat lucu, Ibumu ini ingin membunuh Farida saat itu, tapi dia malah yang menyelamatkan aku. Lalu aku menjadikan dia adikku," jelas Hanafi sopan.


Mata Cantika melebar menatap ke arah ibunya, wajahnya seketika memucat. Dia tahu ibunya sangat, licik tapi tidak mengira ibunya sangat kejam seperti itu hingga dia pun seperti malu menyebut Ira sebagai ibunya.


Ira terlihat santai. "Aku adalah orang pertama yang ingin memastikan kau bahagia dan aku rela masuk neraka supaya hal itu bisa terwujud."


Cantika tidak bisa berkata-kata karena tidak tahu kenyataan apalagi yang harus dia terima mengenai ibu dan kejahatannya.


Samson terlihat sudah memasuki ruangan itu lagi. Mendekat ke arah tiga orang yang saling bersitegang dalam diam.


"Rupanya kalian sudah saling bicara," ucap pria itu sambil memeluk Hanafi.


"Kau sudah lama menunggu?" tanya Samson pada Hanafi.


"Belum terlalu lama, Om," jawab Hanafi tersenyum.


Ira membuka mulutnya lebar. "Sayang, kau tahu kan jika dia adalah musuhku, lalu kenapa kalian?" tanyanya curiga.


"Terkadang musuh itu dijadikan sahabat ketika saling membutuhkan."


"A-apa maksudmu?"


Samson berjalan menuju ke arah bar, mengambil satu botol Vodka dan menuangkan ke dalam dua gelas berbeda.