One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 63 Biarkan Aku Melepaskanmu



"Dia hanya berpesan agar tidak memberitahukan keberadaannya."


"Uda, kumohon bantu aku," pinta Kaisar memelas. Selama ini, dia tidak pernah untuk mengiba pada seseorang.


"Untuk apa? Kalau hanya untuk menyakitinya dan Maulana maka lupakan saja. Lagipula ada pria lain yang sudah meminangnya. Kau tidak perlu mencarinya lagi. Kau juga sudah punya putri dan tanpa Maulana pun kau sudah merasa sempurna sebagai ayah, jadi kau tidak butuh keduanya dalam hidupmu."


Brak! Wajah Kaisar menegang dan memerah.


"Tidak perlu mencari keributan di rumahku. Satu kompi orangmu tidak akan membuat ku getar. Tanpa aku mengatakan siapa diriku, tentu kau tahu aku," ujar Hanafi menyeringai.


"Datang baik-baik sekarang pergi dari sini pun baik-baik jangan sampai apa yang kau lakukan akan membuat Farida dan Maulana makin membencimu," ujar Hanafi.


"Aku hanya minta kesempatan satu kali untuk memulai semuanya dengan baik."


"Kesempatan? Kesempatan itu ada jika Farida membukanya nyatanya dia dan anaknya memutuskan untuk tidak mengenalmu. Perjanjian soal perusahaan itu bukan hal penting bagi kami. Kami hanya ingin dimanusiakan. Jika kau memang mencintainya maka kau pasti bisa menemukan mereka mengerahkan semua daya dan upaya yang kau miliki karena mereka masih ada di negeri ini."


Kaisar memejamkan matanya sambil menghela nafas panjang dan mengeluarkan pelan. Menahan diri.


"Baiklah, saya akan melakukan seperti yang Uda katakan. Berurusan dengan wanita memang sulit. Mereka lebih butuh pembuktian bukan sekedar kata-kata. Mungkin Farida ingin mengujiku. Kalau begitu aku akan ikut permainannya."


Kaisar bangkit dengan kaku, dengan wajah dan tubuh menegang sebab kecewa. "Terimakasih atas waktu, Uda. Mungkin lain waktu kita akan bertemu lagi dengan kondisi yang lebih baik dan lebih akrab. Terimakasih banyak karena telah menjaga Airlangga dan anakku."


"Namanya Farida sekarang bukan Airlangga lagi."


"Apapun itu, awal aku mengenalnya sebagai Airlangga," ujar Kaisar meninggalkan tempat itu.


"Assalamualaikum," ucapnya sebelum keluar dari pintu rumah.


"Wa'alaikum salam."


Entah mengapa hati Kaisar merasa hampa dan kehilangan begitu mendengar kabar perginya Farida. Rasa kehilangan yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata. Antara rasa marah, kecewa, dan sakit yang teramat sangat. Apalagi ketika mengingat tentang Maulana. Walau pertama kali mereka bertemu, dia merasa sudah terikat dengan anak itu. Dia masuk ke dalam mobilnya.


Kepala keamanan sekaligus asisten pribadi yang ditunjuk sebagai pengganti Emilio, bernama Bima duduk di ruang kemudi.


"Kita akan kemana, Tuan?" ujar Bima.


"Kantor." Tatapan Kaisar kosong ke depan.


"Kau kerahkan semua orang untuk mencari Farida dan putranya secepat mungkin. Aku yakin mereka belum jauh dari sini."


"Baik, Tuan!"


Bima membawa pergi Kaisar melewati jalanan ibukota yang padat.


Tiga hari telah berlalu semenjak kepergian Farida. Orang-orang dari Kaisar telah dikerahkan untuk mencari keberadaan anak itu dan anaknya. Namun, mereka seperti menghilang ditelan bumi.


Ini adalah hari yang penting untuk keluarga Cortez, apalagi bagi Dara karena hari ini anaknya akan menikah dengan Emilio. Pria dari kalangan biasa yang telah meminang Rose.


Anak itu akan punya tujuan hidup yang jelas dan juga semangat untuk menjalani hari-harinya seperti dulu lagi.


Lama sekali Dara tidak melihat senyum di wajah Rose dan itu yang dia impikan. Rasanya sakit melihat anaknya sendiri menderita baik secara psikis dan juga lahir. Apalagi ketika tahu anaknya menderita penyakit hemofilia yang mungkin bisa membahayakan nyawanya.


Rose tidak takut mati karena berkali-kali dia mencoba bunuh diri. Hal itu yang membuat Dara shock. Ternyata masalahnya dengan Kaisar benar-benar mengguncangnya. Semoga setelah menikah dengan Emilio, anak itu akan menemukan cinta dan kedamaian, harap Dara.


Kali ini anaknya tidak memakai kebaya warna putih seperti yang kebaya yang dibawa oleh Emilio ketika acara lamaran kemarin. Rose memesan sendiri kebaya berwarna abu-abu, katanya itu sesuai dengan hatinya. Tidak ada yang bisa melawan keinginannya karena jika baju itu dilarang dia gunakan maka dia akan menggunakan kebaya warna gelap karena pernikahannya adalah saat berkabung baginya.


Satu hal yang menarik adalah sebuah kalung dengan liontin dari berlian yang Emilio berikan terlihat manis tergantung di lehernya. Walau itu bukan perhiasan mahal seperti punya keluarga Cortez, tapi itu terlihat manis di gunakan oleh Rose. Sangat serasi dengan pakaian yang dia gunakan.


Untung saja Rose tidak menolak memakainya sebab itu adalah permintaan khusus dari Emilio jika ingin mereka menikah. Katanya itu sebagai bentuk kehadiran dari ibu Emilio. Untungnya Rose menghormati keinginan Emilio setelah mendengar penjelasannya.


Dara mendekat ke arah Rose dan menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Tangannya memegang dagu Rose. "Kau tampak cantik sekali, Sayang."


Rose hanya memberi respon dengan senyuman kecut saja.


"Mom, ingin memberikanmu ini." Dara lalu mengambil anting berlian yang ada di kotak yang dia bawa. Dia memesan khusus dengan cepat anting ini. Anting yang sengaja disesuaikan dengan bentuk kalung milik Rose agar terlihat serasi.


Dara memakaikannya di telinga Rose. "Ini akan mempermanismu."


"Mom, aku seperti tidak siap," ujar Rose dengan suara memelas.


Dara memegang tangan Rose dan mengusapnya. "Mom tahu Emilio pria baik yang akan menjagamu dengan jiwa dan raganya. Walau kau belum bisa mencintainya saat ini, tapi kau bisa memulai dengan menghormati dia seperti cara Mom menghormati Ayah Ale dulu. Mungkin waktu akan menumbuhkan rasa itu antara kalian berdua."


"Ayo kita turun, semua sudah menunggumu di bawah."


Rose ditemani oleh Dara mulai keluar dari kamar. Berjalan melewati koridor lantai dua. Dari bawah semua orang menatap keduanya.Tidak terkecuali Emilio yang menatapnya tanpa berkedip.


Rose berhenti melangkah ketika melihat Kaisar. Walau dia masih marah pada pria itu, tapi cinta itu masih sulit dia hilangkan.


Cinta pertama yang terus bersemayam di hatinya. Cinta yang tidak bisa dia miliki karena alasan persaudaraan walau mereka berbeda darah. Tanpa terasa air matanya mengalir tanpa dia bisa mencegahnya.


"Tahan dirimu, Rose, hargai calon suamimu," bisik Dara kesal.


Begitu sampai di lantai bawah. Dara melepaskan pegangannya dari Dara dan berjalan cepat ke arah Kaisar memeluknya.


"Biarkan sejenak sebelum aku melepaskanmu selamanya," pinta Rose berbisik.


Kaisar hanya bisa menatap nanar pada Emilio.


Semua tidak terkejut melihat hal itu karena mereka tahu bagaimana hubungan keduanya, tapi berbeda dengan rombongan dari keluarga Emilio. Mereka terkejut melihatnya. Namun, bagi yang tidak tahu mengira jika itu hanya antara adik dan kakak saja.


Emilio sendiri mengepalkan tangan erat. Wajahnya menegang dan memerah. Rahangnya terlihat mengetat. Ini seperti sebuah penghinaan terburuk untuknya.