One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 83 Kurang Cinta



Farida menyerahkan foto dan video Alisa ketika bersamanya.


Bagas menerimanya. Tersenyum. Jarinya membelai foto-foto itu. Rasa haru dan rindu yang dia tahan selama ini menjadi satu.


"Ini saat Alisa ulang tahun. Dia sendiri karena orang tuanya sangat sibuk dan lupa ulang tahunnya."


Tangannya gemetar memegang handphone itu. Satu tangan yang lain digigitnya. Matanya tiba-tiba merasa panas dan memerah. Dia bisa melihat wajah sedih Alisa.


Hati Bagas terasa sakit mendengarnya. Dia mengalah karena berpikir bahwa Alisa mendapatkan banyak cinta dan perhatian dari Kaisar dan ibunya. Nyatanya, anak itu kesepian. Rasa marah menggelora di dadanya. Membuatnya sesak seperti kehabisan oksigen.


Farida sendiri memakai trik mimik sedih. "Dia sangat butuh kasih sayang dan perhatian tulus. Bukan berarti Kaisar tidak mencintainya. Dia adalah ayah yang baik karena selalu ada di saat Kak Cantika sibuk. Hanya saja, kau tahu sendiri bagaimana pekerjaan seorang CEO perusahaan besar."


"Aku tahu dari awal kau dan Cantika tidak berhubungan baik. Aku tahu juga jika kini kau punya affair dengan Kaisar. Apa yang kau inginkan dengan memberiku foto anakku dan juga cerita sedih tentangnya?"


"Kau pintar juga Kak Bagas. Aku kemari bukan tanpa sebab. Aku juga tahu tentang masalahmu dan istrimu. Hmm. Cantika ingin hak asuh penuh atas Alisa."


"Seharusnya memang begitu. Tunggu dulu, kau tidak ingin jika Alisa ikut dengan Kaisar?" tuduh Bagas.


"Oh tidak, bagaimana pun dia adalah keponakanku. Aku tidak akan tega menyakitinya. Luka seseorang akan dalam jika itu terjadi diwaktu kecil serta akan menimbulkan trauma yang besar. Kau tahu, aku paling faham tentang itu. Oleh karenanya, aku ingin menjaganya agar tidak terluka andai suatu hari dia tahu jika Kaisar bukan ayahnya."


Bagas tertawa. "Kenapa aku sepertinya tidak percaya dengan niat baikmu."


"Ha... ha... ha... Kau memang harus curiga padaku. Temui dia dan lihat betapa dia butuh sosok yang selalu ada untuknya setiap saat."


Farida lalu berdiri. "Aku kemari karena berharap kau bisa mencintai anakmu ini dengan memberikan perhatian dan menjadi pelindungnya. Memberikan keduanya tidak harus dengan membuka kebenarannya kan?"


"Kau bisa melihat dan menyapanya di TK Internasional daerah xxx. Temui dia di jam kepulangan sekolah."


"Tidak perlu, aku sudah dengan kehidupanku kini. Tidak ingin mencampuri urusan Cantika."


Bagas sudah berjanji pada Cantika untuk tidak membahas ini sampai kapan pun juga. Lagipula, dia juga tidak bisa membuka hubungannya dengan Cantika dulu di depan istrinya di saat rahim istrinya baru diangkat. Apalagi kenyataan jika dia punya anak. Ini malah akan menambah luka bagi istrinya.


"Aku faham dengan apa yang kau alami. Aku hanya ingin kau bisa bertemu dan mengenal Alisa. Tidak lebih. Mungkin itu bisa menjadi pelipur laramu."


Farida lantas memakai maskernya dan pergi meninggalkan tempat itu. Bagas sendiri terlihat lemas setelah kepergian Farida.


Sedangkan di tempat lain, Kaisar kesal karena melihat video Farida yang duduk dekat seorang pria tampan. Rasa cemburu mulai menghantuinya. Membuat dia tidak tenang dan nyaman. Terlihat jika Farida dan pria asing yang belum pernah dia temui berhubungan akrab, di lihat dari gestur mereka berdua. berdua tampak serius melihat handphone di tangan Farida. Sebenarnya, apa yang Farida lihat dari handphonenya?


Dia memeriksa handphone Farida, sepertinya tidak ada gambar aneh. Malah semua yang ada di sana adalah foto anak-anak dan Farida. Kenapa tidak ada satupun foto mereka berdua atau bertiga. Padahal sebelumnya mereka sudah melakukan foto bersama di setiap kesempatan.


Pertanyaan itu yang membuat Kaisar tidak tenang. Hal itu diperparah dengan penolakan Farida untuk menikah dengannya serta wanita itu tidak pernah mengutarakan perasaannya pada dirinya.


"Emilio, Emilio!" teriak Kaisar beberapa kali memanggil asisten pribadinya itu. Dia nampaknya lupa jika Emilio sudah tidak bekerja lagi untuknya.


Sial!


Umpat Kaisar pada dirinya. Dia mulai berpikir akan menanyakan ini pada Farida atau mencari kebenarannya sendiri.


"Tuan, bagaimana tanggapan Anda dengan usulan yang baru saja saya terangkan," ujar salah seorang kepala bagian lapangan.


Kaisar masih terdiam di ruang rapat itu. Semua pasang mata tertuju padanya.


"Pak;" panggil pria itu lagi hinga memegang tangannya.


"Oh, maaf sampai dimana kita tadi?"


Betty lalu menjelaskan semuanya dengan suara berbisik. Namun, tetap saja tidak masuk di pikiran Kaisar. Jiwa profesionalnya tiba-tiba menghilang hanya karena satu wanita saja.


Dia tidak tenang. Akhirnya, Kaisar bangkit membuat semuanya takut.


"Apa yang kau sarankan sebaiknya di rundingkan dengan Betty lagi setelah ini. Aku kira dia bisa menjadi penggantiku di dalam rapat ini."


Wajah Betty yang jelek dan innocent nampak shock karena pasrahi tugas yang tidak mudah.


"Pak, saya ...." Belum juga Betty menjelaskan, Bosnya sudah terlebih dahulu meninggalkan ruang rapat itu.


Betty yang malang lalu tersenyum pada semua yang hadir di dalam rapat itu.


"Bapak ada sedikit masalah penting di yang harus segera di atasi. Untuk itu saya akan menggantikan beliau dalam rapat ini."


Kepala divisi pemasaran dan juga beberapa direktur nampak membuang wajah. Heran, kenapa Kaisar menyerahkan rapat penting ini pada seorang wanita yang belum berpengalaman dalam hal ini serta wajah wanita itu membuat pemandangan ruangan itu menjadi jelek.


"Aku sekarang dimana?" tanya Kaisar pada ajudannya yang sedang memantau Farida dari kejauhan.


"Masih di rumah sakit. Sepertinya, Nona akan menemui ayahnya."


"Ingat kau jaga dia dengan baik. Kalau ada hal yang membuat dia kesulitan kalian harus langsung menjaga dan membantunya."


"Siap, Pak!"


"Satu lagi cari tahu mendetail tentang pria tadi. Jangan sampai ada berita yang lewat sedikit pun dari pengawasan. Jika tidak, kau akan ku pecat."