
Tubuh Farida terdesak oleh orang-orang pendukung Cantika yang tidak suka dengan kehadirannya. Untung saja, anak buah Kaisar menjaganya dan Kaisar sendiri memeluk pinggangnya. Memastikan dia merasa aman.
Senyum penuh kemenangan tersemat di bibir Farida ketika melihat wajah Ira yang shock. Dia menutup kembali wajahnya dengan masker.
Sekilas dia juga melihat Cantika terlihat terkejut menatapnya sambil memegangi ibunya yang hampir terjatuh.
"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Kaisar khawatir takut Farida terluka karena serangan Ibu Cantika.
Farida memegang lengan Kiasar seolah dia sedang ketakutan.
"Aku ... ingin pulang," ujar Farida. Kaisar lalu memeluk Farida lebih erat hingga mereka sampai masuk ke dalam mobil.
Cantika dan Ira seperti tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Mereka bahkan tidak bisa berkata apa-apa menatap kepergian Airlangga yang masuk ke dalam mobil Kaisar.
"Ayo cepat pergi dari sini," perintah Kaisar pada sopir yang bertugas. Farida tersenyum kaku.
Farida memegang satu tangannya dengan tangan lainnya. Kaisar segera memeriksanya.
"Kau terluka?" ujarnya. Lalu meminta kotak obat dan menempelkan plaster pada luka Farida.
"Ini hanya luka kecil, tidak apa-apa."
Kaisar menghela nafasnya. "Aku tidak akan membiarkan orang yang Kusuka terluka. Ini juga salahku karena membawamu ke sana."
"Aku hanya ingin selalu mendukung apa yang kau lakukan," ujar Farida.
Kaisar menggenggam tangan Farida. "Terimakasih banyak karena kehadiranmu menguatkan aku."
Farida mengangguk. Baginya yang terpenting adalah melihat luka di wajah Cantika. Itu sudah sangat menghibur walau belum sepenuhnya. Ini baru permulaan saja. Mereka akan merasakan apa yang dia rasakan selama ini.
Kaisar menyandarkan tubuh dan kepalanya di sandaran kursi. Wajahnya tampak lelah, tidak seperti yang tadi dia perlihatkan sewaktu ada di gedung pengadilan.
"Kenapa?" tanya Farida.
"Ternyata, proses perceraian ini tidak seperti yang kupikirkan. Baru satu saja sudah membuat lelah. Alisa, hanya dia yang kupikirkan. Bagaimana jika dia tahu bahwa setelah ini orang tuanya tidak akan bersama lagi."
Farida menatap Kaisar dengan teduh.
"Kalian masih membesarkan Alisa bersama-sama. Berpisah bukan berarti meninggalkannya kan?"
"Kau benar, tapi bagi anak seumuran itu pasti sebuah pukulan berat."
Mereka terdiam sejenak. Kaisar larut dengan pikirannya sendiri sedangkan Farida sibuk membalas pesan dari Uyun tentang ibu Kaisar yang bertanya banyak tentang Maulana.
"Kai, bagaimana rencanamu untuk Alisa? Apakah dia ikut denganmu atau Cantika?" tanya Farida tiba-tiba.
"Aku tidak tahu. Hanya saja aku ingin Alisa ada berada bersama ku. Namun kembali lagi pada Alisa, dia ingin ikut bersama siapa."
"Cantika bukan ibu yang baik baginya," ujar Farida tiba-tiba membuat Kaisar terkejut.
"Maksudku dia bukan sosok Ibu yang diharapkan oleh Alisa. Jika tidak ada kau, dia akan kehilangan arah."
Kaisar menghela nafasnya, jari tangannya terus bergerak. "Dia memang punya kekurangan, tapi secara keseluruhan dia ibu yang baik bagi Alisa."
"Aku akan jadi ibunya jika kau mau," ujar Farida tiba-tiba membuat Kaisar kaget. Pria itu menoleh, menatap tidak percaya pada ucapan Farida.
"A-apa maksudmu?" tanya Kaisar curiga. Dia merasa ini aneh, tapi dia berusaha menepisnya.
"Tidak apa-apa, hanya saja aku ingin melihat kau bahagia dan kebahagiaanmu akan kurang jika harus berpisah dengan Alisa. Kau sangat menyayanginya kan? Aku janji akan menjadi ibu yang baik baginya," terang Farida.
Kaisar langsung memeluk Farida setelah mendengar apa yang Farida jelaskan. "Terimakasih sudah mengerti aku," ujar Kaisar.
Farida terlihat ragu untuk membalas pelukan Kaisar, tapi pada akhirnya dia mengusap punggung pria itu.
"Bukan kau yang kupikirkan, melainkan Alisa, yang dia butuhkan adalah sentuhan keluarga yang hangat," imbuhnya.
Namun, satu yang lolos dari pengamatan Kaisar, tatapan dingin Farida di belakang Kaisar.
***
Maulana tampak jengkel. Dia menolak makan siang yang Uyun berikan. Dia mengambek karena harus keluar dari sekolah barunya dan pergi meninggalkan rumah yang sedari kecil dia tempati.
"Aku suka di sini, tidak mau ikut Ibu!"
"Lana, kita harus pergi karena Ayah lebih sering berada di sana. Bukankah kau ingin selalu dekat dengan ayah?"
"Tapi aku lebih suka bersama dengan Bapa Tua serta Tante Ida dari pada ikut Ayah. Dia itu membosankan," ujar Maulana jujur.
"Lana, kau tidak boleh seperti itu pada ayahmu!"
"Tapi Ayah memang tidak menyayangiku, dia tidak pernah ada di saat aku butuhkan. Bahkan selama ini, di hari ulang tahunku dia tidak pernah datang."
"Lana!" bentak Uyun.
"Pokoknya aku tidak akan makan jika Ibu masih ingin kita pergi. Aku mau di sini, di sini saja!" seru Maulana sambil berlari ke arah kamarnya.
Beberapa detik kemudian suara pintu di banting terdengar. Di saat yang sama Farida masuk ke dalam rumah. Dia mendengar keributan itu walau sekilas.
"Kenapa dengan Maulana, Kak?" tanya Farida pada Uyun. Bukannya menjawab Uyun malah membenamkan wajahnya di meja makan dan menangis.
Rasa khawatir melingkupi diri Farida. "Kak, kau kenapa?" tanya Farida.
"Apakah aku tidak layak bahagia?" tanya Uyun.
" Kak...." Farida memeluk iparnya itu.
"Tentu saja kau berhak bahagia."
"Kalau begitu kenapa sulit sekali bagi diriku meraihnya. Padahal aku sudah melakukan semua yang kalian inginkan, tapi yang kudapatkan apa?" ujar Uyun.
"Maksud Kakak?"
"Aku menikah karena pilihan orang tuaku dan tidak boleh menolak, lalu setelah menikah aku mengikuti suamiku tinggal di Jakarta jauh dari orang tuaku agar bisa selalu bersama. Bukannya kebahagiaan yang kudapatkan, tapi suamiku malah lebih mementingkan pekerjaannya dariku. Tentu saja aku kecewa, Ida. Aku merasa tidak berharga di matanya. Aku mulai merasa jenuh dan lelah di sini, di tempat asing ini.
"Kak, selama ini kami menganggap mu sebagai keluarga bukan orang lain."
"Jika aku kalian sebut keluarga maka seharusnya kalian bertanya padaku apa yang aku inginkan. Tidak, kalian selalu ingin aku melakukan apa yang kalian mau." Uyun mengusap air matanya.
"Apa maksud Kakak?"
"Kau ingin aku mengasuh Maulana, aku lakukan. Aku menganggap anak sendiri karena aku juga mengharapkan kehadiran seorang anak. Namun, Maulana tetap bukan anakku. Aku tidak pernah punya hak atasnya. Semua hal kau yang menentukan. Sampai kau pun menyuruhnya pergi bersamaku tanpa kau tanya apa yang ku inginkan atau setidaknya mendengarkan saranku."
"Apa kakak tersinggung karena perkara ini. Jika kakak tidak ingin pergi maka jangan pergi. Kita bicarakan ini baik-baik."
"Bukan masalah tersinggung atau tidak tersinggung. Aku ingin kehidupanku sendiri tanpa tekanan dari siapapun. Jika kau ingin menyerahkan Maulana padaku, maka kau harus ikhlaskan dia bersamaku. Biarkan aku mendidiknya dengan caraku dan kau jangan mendekatinya. Kau tahu, jika kau seperti ini terus maka kau harus jujur pada anak itu bahwa kau itu ibunya. Kau rawat dia dengan baik karena aku juga ingin mencari kehidupanku sendiri. Aku ingin tinggal bersama suamiku dan punya anak sendiri. Jika masih di sini aku hanya akan menjadi pengasuh anakmu saja."
"Kak.... Aku tidak mengira kau berpikir seperti itu," ungkap Farida lemas.
"Maulana tidak ingin ikut bersamaku ke Bukit Tinggi. Dia ingin tetap bersamamu. Baginya kau yang lebih penting, bukan aku. Jika seperti itu, apa artiku bagi dirinya?"
"Lagi pula aku melakukan ini agar suamiku bertambah mencintaiku dan memperhatikan aku. Nyatanya, suamiku masih dingin seperti biasanya. Bahkan kehadiran Maulana tidak merubahnya menjadi lebih baik. Aku lelah dengan kehidupan seperti ini. Aku sampai tidak tahu apa yang harus kuperjuangkan. Suamiku? Atau Maulana yang jelas adalah anakmu. Aku bahkan lupa untuk mengasihi diriku sendiri."
"Uyun , diam!" bentak Uda Hanafi.
Farida langsung menoleh ke belakang di mana Uda Hanafi baru masuk ke dalam rumah. Dia baru pulang kerja.
"Kalian itu bertengkar tanpa melihat ada anak kecil yang melihat pertengkaran kalian sedari tadi."
Farida dan Uyun melihat Maulana berdiri di pagar pembatas lantai dua. Anak itu melihat ke arah mereka berdua.