One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 39 Bukan Sekedar Kebetulan Semata



Kaisar kembali ke rumahnya dengan Cantika. Rumah ini nampak sepi dan gelap karena sudah menjelang fajar. Dia langsung menuju ke kamar Alisa.


Pintu kamar dibukanya dengan perlahan. Anaknya itu tidur pulas dengan memeluk sebuah bingkai foto. Kaisar mendekat dan duduk di sebelahnya. Lalu mengambil bingkai foto itu.


Ada noda basah yang masih ada di bantal bergambar kartun kesayangan Alisa. Dada Kaisar terasa nyeri seketika.


Di sana ada foto dirinya bersama dengan Alisa ketika acara ulang tahun Alisa ke empat. Kaisar mendesah. Dia bahkan lupa telah melewatkan hari ulang tahun anaknya Minggu lalu.


Rasa sesal menyelimuti dadanya. Seharusnya anak ini tidak ikut dalam lingkaran masalahnya, tapi belum apa-apa dia sudah menjadi korban.


Kaisar mencium dahi Alisa dengan lembut. Anak itu lantas membuka matanya lebar.


"Ayah pulang?" panggil Alisa terkejut. Dia hendak bangun tapi dicegah oleh Kaisar. Pria itu meletakkan foto mereka di atas nakas, lantas berbaring di sebelah anak perempuannya.


Alisa masuk ke dalam pelukan Kaisar. "Aku rindu Ayah," ujarnya menatap Kaisar dalam yang memancarkan kesedihan.


"Ayah juga merindukanmu," balas Kaisar memeluk balik Alisa.


"Ayo tidur lagi, ini masih sangat pagi untuk kau bangun."


"Aku takut tidur lagi. Takut jika aku bangun nanti, melihat Ayah sudah tidak ada di sini lagi."


"Ayah akan menemanimu tidur sampai pagi nanti."


"Ayah janji?"


"Ayah janji."


"Berarti ini bukan mimpi," ucap polos Alisa.


Kaisar merapikan helaian rambut yang menutupi wajah cantik Alisa.


"Tentu saja tidak. Aku benar-benar ada di sini untuk menemanimu."


"Berarti Ayah tidak akan pergi lagi, selalu bersamaku selamanya?" ujar Alisa senang.


"Kita bicarakan ini besok lagi ya. Ayah mengantuk, ingin segera tidur."


Alisa terdiam. Dia masuk lebih dalam lagi ke dada Kaisar.


"Aku sayang, Ayah dan takut Ayah akan pergi meninggalkanku sendiri."


"Ayah akan menemanimu sampai kau dewasa nanti, Sayang. Sudah jangan berpikir aneh-aneh."


Mereka lantas memejamkan matanya. Ketika Alisa sudah nampak tertidur kembali, Kaisar mengirimkan pesan pada Betty. Setelah itu, dia kembali memejamkan mata.


Pagi harinya, Cantika membuka pintu kamar Alisa untuk membangunkannya. Betapa terkejutnya dia, ketika melihat Kaisar ada di sana. Dia menatap ayah dan anak itu lantas tersenyum.


Di saat yang sama, Alisa terbangun. Cantika memberi tanda agar Alisa diam dan bangun dengan pelan-pelan.


Alisa lantas bangkit dibantu oleh Cantika. Cantika langsung membawa Alisa keluar.


"Kita akan mandi di kamar Ibu saja agar ayahmu tidak terganggu."


"Okey, Bu. Tapi kenapa?"


"Ayahmu sangat lelah jadi dia butuh banyak istirahat."


"Apakah Ayah akan pulang selamanya, Bu?" tanya Alisa.


"Tergantung padamu. Jika kau mengikuti semua yang Ibu katakan maka ayahmu akan selalu pulang ke rumah."


"Kalau begitu aku akan mengikuti semua yang Ibu katakan."


Mereka lantas tersenyum senang. Alisa dimandikan oleh Ibunya.


Setelah Alisa terlihat siap dengan pakaian seragamnya. Dia langsung berlari ke kamarnya untuk menemui ayahnya. Langkahnya terhenti ketika melihat Kaisar keluar dari kamarnya.


"Ayah sudah bangun?" ujarnya sambil mendekat. Cantika berada di belakang Alisa dengan wajah yang terlihat cerah.


Kaisar tersenyum pada Alisa, tidak ingin menatap ke arah istrinya. Hanya mengusap kepala anaknya tanpa mengatakan apapun. Berjalan menuju ke kamar. Melewati Cantika, seperti tidak melihat keberadaannya malah.


Cantika hanya bisa tersenyum sedih. "Aku akan buatkan kopi untukmu," serunya saat Kaisar masuk ke dalam kamar pribadinya sendiri.


Kaisar tidak menjawab.


"Ibu, tenang saja. Kita akan buat Ayah berubah."


Satu jam kemudian mereka berada di meja makan. "Ayah tahu tidak, jika Minggu depan akan ada perayaan di sekolahku. Akan ada lomba anak dan orang tuanya. Semua diminta ikut datang, tidak terkecuali Ayah dan Ibu."


"Sepertinya Ayah tidak bisa datang, Sayang," potong Cantika menatap ke arah Kaisar yang masih diam.


"Benar kan?"


"Hah!" Kaisar terhenyak dari lamunannya. "Apa?"


"Ih, Ayah mulai lagi deh... aku bilang satu Minggu lagi akan ada acara ulang tahun sekolah dan kata Bu guru akan ada lomba. Ayah harus ikut karena semua ayah dan ibu akan ikut lomba itu. Lagi pula aku tidak mau kalah di sana."


"Tentu saja kau yang akan menang," ujar Kaisar.


"Tapi anak baru itu dengan sombongnya mengatakan jika dia akan mengalahkan ku."


"Anak baru siapa?"


"Namanya jelek, tidak keren. Lana," ungkap Alisa.


"Lana itu perempuan?"


"Bukan, dia itu anak cowok nakal. Aku tidak suka."


"Anak lelaki?" Kaisar menaikkan satu alisnya sambil makan bubur sereal yang ada di depannya.


"Maulana namanya Ayah, hanya saja mereka memanggilnya Lana. Aku tidak suka dia," ujar Alisa sambil bersedekap.


Kaisar tersedak. Cantika memberinya tisu dan air minum.


Kaisar. "Tidak akan ada yang bisa mengalahkanmu, apalagi anak baru itu. Ayah akan datang ke sana dan kita akan melawannya."


"Aku yang akan mengantar Alisa ke sekolahnya. Jadi kau bisa pergi ke kantor cepat."


"Bagaimana jika aku ikut denganmu," ujar Cantika mengambil kesempatan.


"Jalan ke kantormu dan aku berlainan. Lagipula aku harus melihat keadaan Rose, jadi aku terburu-buru. Tidak bisa mengantarkan mu ke kantor," ucap dingin Kaisar.


Cantika menghela nafasnya panjang. Dia benci Kaisar mengatakan nama itu. Namun, dia tidak bisa memulai pertengkaran lagi setelah Kaisar pulang ke rumah. Dia berharap ini adalah angin perubahan yang baru dan bisa membuat hubungan mereka membaik.


"Pak," panggil Betty yang baru masuk ke ruang makan.


Cantika mengangkat kedua alisnya ke atas. Terkejut melihat kedatangan sekretaris Kaisar yang datang pagi sekali. Untuk urusan apa dia datang?


Cantika melihat paper bag di tangan wanita itu.


Kaisar bangkit.


"Maaf, kemarin Ayah melupakan hari ulang tahunmu. Namun, Ayah sudah membelikan sebuah hadiah untukmu."


Kaisar memberi paper bag berukuran jumbo itu pada Alisa. Lalu mencium anaknya.


"Tidak apa-apa Ayah," jawab Alisa, melihat hadiah apa yang ayahnya bawakan untuknya.


Ternyata itu adalah sebuah boneka Barbie versi terbaru dan itu original.


"Terimakasih Ayah, aku suka hadiahnya." Alisa mencium pipi Kaisar.


Cantika melihat terharu ke arah Ayah dan anak itu.


Di perjalanan, Alisa bercerita panjang lebar tentang sekolahnya.


"Ayah aku ingin bercerita," ujar Alisa semangat.


"Aku sangat sedih ketika tidak ada yang mengingat hari ulang tahunku kemarin," ujar Alisa dengan wajah cemberut.


"Hanya Nenek dan Kakek yang ingat. Ibu pun terlihat sibuk."


"Maaf, Sayang."


"Tidak apa-apa karena Ayah sibuk ke luar negeri," ujar Alisa.


Kaisar menatap Alisa dengan penuh penyesalan. Andai bisa memutar waktu, dia tidak ingin mengecewakan putrinya di hari ulang tahunnya. Sedangkan alasan kepergiannya, hanya dibuat Cantika agar Alisa tidak sedih.


"Maulana juga ulang tahunnya sama denganku, Yah. Dia memberikan kuenya padaku. Bukan, tapi Tantenya yang memberikan kue beserta lilin dengan angka 5 untuk ku tiup. Dia cantik, sama seperti Ibu. Tante cantik itu bilang kalau dia kerja di tempat Ayah."


Kaisar terbatuk-batuk mendengarnya. Apakah ini semua kebetulan lagi? Sepertinya tidak.