One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 95 Pria Misterius



Emilio berjalan memasuki pekarangan rumahnya yang sudah satu Minggu ini dia tinggal. Tampak sepi.


Dia hendak memutar kunci rumah ketika pintu terbuka. Emilio tertegun ketika di peluk oleh istrinya. Tangannya membelai punggung Rose dengan lembut.


"Kau di sini? Aku kira kau masih di rumah ayahmu," tanya Emilio lembut. Rose menggelengkan kepalanya. Pundak Emilio mulai terasa basah.


"Aku sangat merindukanmu," bisik Emilio, sambil menghirup aroma tubuh Rose. Dia lalu mengangkat tubuh wanita itu dan membawanya ke kamar mereka. Rose mengalungkan tangan ke leher Emilio dan menyembunyikan wajahnya di bahu pria itu


"Ini sudah malam dan kau belum tidur?"


"Aku tidak bisa tidur," jawab Rose dengan suara parau.


"Kenapa?"


Rose tidak bisa menjawab. Setelah terbiasa dengan kehadiran pria itu, Rose merasa kehilangan jika tidak ada Emilio. Sulit baginya untuk tidur dan makan tanpa ditemani pria itu.


Setelah masuk ke dalam kamar, Emilio duduk di pinggir ranjang dengan posisi memangku Rose.


"Aku pulang, kau malah menangis," katanya.


"Kau lama sekali perginya. Aku kira hanya satu atau dua hari saja," ujar Rose dengan nada manja dan sedih.


"Makanya, aku menitipkan mu di rumah ayah mertua agar kau tidak kesepian." Emilio menyeka pipi Rose yang basah. "Kapan kau kembali kemari?"


"Sehari setelahnya."


Emilio menaikkan kedua alisnya ke atas. Dia tidak mengira jika Rose yang keras kepala, mandiri dan sangat sombong ini ternyata sangat manja serta lembut. Mungkin sebelum ada masalah dengan Kaisar, Rose terbiasa manja dengan saudaranya itu sehingga ketika berpisah dia membuat dinding tebal dengan sifat buruknya, untuk menutupi rasa kecewa.


Emilio yang gemas mengecup bibir lalu Rose bertubi-tubi. Lalu ******* bibir merah itu, memulai awal dari kebersamaan mereka. Melepaskan kerinduan selama seminggu ini.


Ketika Emilio hendak menyatukan tubuh mereka, Rose menatapnya dan berbicara. "Jangan keras-keras," lirihnya.


Emilio tidak mengerti. Biasanya mereka melakukan itu tanpa batas, mengapa sekarang dilarang.


"Pelan saja," lanjut Rose. Dia seperti memikirkan sesuatu.


Mata Emilio tiba-tiba berbinar. "Apa ... apa di sini ... ." Emilio menyentuh perut Rose.


Rose menganggukkan kepalanya.


"Tapi aku menyuruhmu meminum pil KB ... ini ...." Wajah Emilio tampak tidak senang.


"Kau tidak senang?"


"Kita gugurkan saja," ujar Emilio tiba-tiba membuat Rose terkejut. Dia langsung menyingkirkan tubuh Emilio yang berada di atas tubuhnya lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Tidak, aku tidak mau," jawab Rose. "Apa kau tidak menyayangi anakmu?" Dia memeluk perutnya sambil menangis. Kata menggugurkan terdengar kejam untuknya.


Emilio mengacak rambutnya kesal. "Bukan seperti itu. Aku lebih baik kehilangan anak itu daripada dirimu. Ini sangat berbahaya bagi kesehatanmu."


Hal ini ditambah dengan posisi dirinya yang sedang menjalani misi penting. Dia tidak bisa selalu menjaga Rose di rumah.


"Ini adalah wujud cinta kita, tegakah kau membuangnya?" lirih Rose.


Emilio memegang kedua pipi Rose dan menatapnya penuh cinta.


"Sayang, mengertilah."


Rose menggelengkan kepalanya. "Umur ku pun tidak tahu sampai kapan, tapi sebelum pergi aku ingin memberikan sesuatu untukmu sebagai tanda cintaku."


"Kau akan berumur panjang, hanya butuh pengobatan secara teratur dan kesabaran agar kesehatanmu stabil."


"Aku tidak bisa selalu bergantung dengan obat-obatan itu."


"Itu salah satu yang membuatku tidak menyetujui kehamilan ini." Emilio menyentuh perut Rose dengan gemetar sebentar dengan mata merah. "Bukan karena aku tidak mencintai calon anak kita, tapi dirimu lebih berharga untukku."


Netra Rose berkaca-kaca, antara terharu dan sedih. Dia tahu apa yang dipikirkan oleh Emilio, tapi dia juga ingin merasakan menjadi istri yang sempurna yang bisa memberikan seorang anak untuk suaminya serta merasakan menjadi ibu. Dia akan melakukan itu walau nyawa yang akan jadi taruhannya.


Emilio memeluk Rose. "Kau adalah hal terindah pertama yang kumiliki. Aku tidak ingin kehilanganmu. Mengertilah."


"Aku tahu, tapi dalam diri anak ini ada diriku," balas Rose.


Emilio menutup matanya sejenak. "Ini pertama kalinya aku takut akan satu hal."


"Tidak perlu takut untuk sebuah anugerah yang Tuhan berikan pada kita. Terima itu dengan bahagia. Yakinlah, setiap ada masalah pasti ada jalannya."


Emilio merenggangkan pelukannya agar bisa melihat wajah Rose.


"Namun, ini kasusnya berbeda. Sangat berat untuk menyetujui kesalahanmu ini."


"Ini bukan kesalahan, tapi anugerah," ulang Rose kesal.


Emilio tersenyum sedih. "Baiklah, jika kau bersikeras untuk ini. Hanya kau harus janji padaku."


"Janji apa?"


"Janji jika kehamilan ini membuatmu tidak baik, kita harus mengeluarkannya," ucap Emilio.


Rose terkejut mendengarnya, tapi wajahnya sedetik kemudian terlihat tenang.


"Baiklah, jika kehadiran anak ini mempengaruhi kesehatanku maka aku setuju dengan apa yang kau usulkan. Namun, kau harus janji jika aku baik-baik saja selama masa hamil, kita harus menjaganya dengan baik. Satu lagi, jangan bahas masalah menggugurkan calon anak kita ini karena aku sudah jatuh cinta padanya ketika tahu dia ada di sini."


Emilio tersenyum. "Bau-baunya aku sudah punya saingan sebelum anak ini lahir."


"Ish, kau tidak perlu cemburu dengan anak sendiri."


Emilio terdiam sambil menatap ke arah perut Rose. "Sejak kapan kau tahu tentang kehamilan ini?"


"Semenjak di rumah Ayah, aku merasa tidak enak badan lalu memeriksa keadaanku di sana dan mereka mengatakan aku hamil. Awalnya aku tidak percaya, tapi setelah aku melihat tubuh kecilnya ketika di USG, aku mulai mempercayai kehadirannya."


"Jadi kau sudah memeriksakan keadaanmu?'


"Ya, bersama dengan Papa Kris," jawab Rose.


"Seharusnya aku yang menemanimu," kata Emilio merasa bersalah.


"Tidak apa jika kau memang tidak bisa. Hanya saja ...." Rose menautkan ujung jari-jarinya.


"Hanya saja?" Rose terlihat ragu untuk mengatakannya.


"Hanya saja, ini kasusnya berbeda."


Emilio menunggu apa yang akan Rose katakan dengan tidak sabar. "Katakan yang jelas."


"Janji kau tidak akan marah?"


"Pernahkah aku marah padamu?" balik Emilio.


"Kau tidak marah hanya saja sangat menakutkan."


Mendengar itu membuat Emilio geli. Dia lalu memeluk tubuh Rose dan mencium pucuk kepalanya.


"Katakan saja apa yang ingin kau tanyakan."


"Janji kau tidak akan marah."


"Mana mungkin aku memarahi istri secantik dirimu. Kau itu adalah anugerah terindah dalam hidupku. Melihat kau menangis itu menyakiti hatiku."


Rose menyatukan jari mereka. Lalu mengangkat wajahnya agar bisa melihat wajah suaminya.


"Bisakah kau keluar dari tempat kerjamu sekarang?" Emilio tidak terlalu terkejut mendengarnya, tersenyum kaku. "Aku tidak tahu apa yang sedang kau kerjakan di luar, berbahaya kah atau tidak. Bahkan pekerjaanmu apa, aku pun tidak tahu. Padahal kan aku adalah istrimu. Kau sangat misterius."


"Aku bahkan bingung harus menjelaskan apa pada Papa ketika ditanya apa pekerjaanmu dan mengapa kau meninggalkanku di sana padahal kita baru menikah. Tidak sesuai dengan apa yang kau ucapkan dulu ketika melamarku."