One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 65 Berhemat



Perkataan Kaisar tadi memercik pertengkaran antara mereka.


"Kau tidak tahu apa-apa, disinilah kami yang dibohongi. Aku yang jadi korban bukan dia," ujar Cantika yang membuat semua orang melihat ke arah mereka.


Tidak terkecuali orang tua Cantika yang sedang menyapa pengantinnya.


Ira mendekati Cantika yang sedang menangis. "Dulu kau bermain gila dengannya, lalu aku maafkan. Kini setelah dia kembali, kau kembali berselingkuh dengannya. Aku kembali yang menjadi korbannya. Apa salahku, Kai?" ujar Cantika menangis tersedu dengan penuh emosi.


Kali ini tinggal Kaisar yang tidak bisa mengatakan apapun. Dia tersudut dengan ucapan Cantika. Terdengar kejam memang, menjalin hubungan dengan kakaknya tapi masih menghamili adiknya.


"Tenang, Sayangku. Jangan membuat keributan di sini," bujuk Ira.


"Bagaimana aku bisa tenang. Dia menuduh kita telah mengabaikan Airlangga, nyatanya anak itu yang selama ini membohongi kita demi merebut harta keluarga. Dia juga telah merayu suami kakaknya sendiri karena ingin memiliki semua yang kumiliki. Di sini kita korban, malah dijadikan tersangka. Kau sungguh kejam, Kai!"


Melihat ibunya menangis Alisha ikut menangis. Dia memeluk ibunya.


"Ayah jahat, kemarin ayah bawa anak lain sekarang ayah sakiti ibu."


Cantika menekuk kakinya. "Sudahlah, Sayang, sebaiknya kita pergi saja karena kehadiran kita tidak diharapkan oleh Ayahmu lagi," ujar Cantika memprovokasi anaknya.


Seketika Alisa menatap kecewa ayahnya. Kaisar ingin menyentuhnya tapi Alisa menolak. "Ayah, aku tidak suka padamu!" ujar anak itu.


"Sudah, sudah ini adalah acara bahagia kami jangan kacaukan dengan pertengkaran kalian." Alehandro menangani suasana itu.


Fadil lalu mendekat ke arah Alehandro masih tetap menggunakan kursi rodanya.


"Sebaiknya kami pulang saja. Kami cukup tahu diri untuk tidak membuat kekacauan. Maafkan salah saya dan anak saya, Tuan Ale, jika selama ini ada hal yang mengecewakan."


"Sayang sekali, saya mengundang kalian karena ingin berbagi kebahagiaan. Namun, ternyata perselisihan anak kita belum juga usai. Saya harap hubungan kita ke depannya akan tetap baik walau apa yang terjadi."


"Bagaimana bisa baik kalau anak Anda bukannya meminta maaf malah menyudutkan kami," timpal Ira sengit.


"Sesuatu yang diawali baik, kita berharap ke depannya akan menjadi baik juga." Balas Dara tidak termakan emosi.


Ira menghela nafasnya. Dia mulai muak dengan keluarga ini yang sok baik tapi menjadi toxic bagi keluarganya.


"Awalnya yang salah di sini adalah Kaisar yang menjalin hubungan terlarang dengan dua putri keluarga ku. Lalu kalian menimpakan kesalahan pada kami? Apa tidak salah? Didikan apa itu?"


"Nyonya Ira, jika kau ingin meneruskan perdebatan ini mari kita lakukan di ruang kerja agar tamu yang lain tidak terganggu." Kaisar juga kesal dikatakan seperti itu.


"Ayah, ayo kita pergi saja dari rumah ini sebelum ditendang keluar seperti seekor anjing. Mereka lupa dengan semuanya setelah anak haram itu meracuni pemikiran mereka." Ira mendorong kursi roda Fadil sebelum pria itu sempat mengatakan sesuatu.


"Alisha," panggil Kaisar pada putrinya. Sayangnya, Alisha malah memalingkan wajah dengan sengit lalu pergi dari rumah itu bersama dengan ibunya.


Kaisar terlihat terpukul dengan kejadian itu. Bagaimana pun selama ini Alisha paling dekat dengannya dan kini karena masalah ini, Alisha semakin menjauhinya. Walau begitu dia juga tidak bisa mengabaikan Maulana. Bertahun-tahun anak itu hidup tanpanya. Dia harus membayar waktu itu dengan perhatian. Yang terpenting dia harus menemukan mereka secepatnya.


"Kau hanya perlu bersabar dan berpikir dengan otak cerdasmu untuk mendapatkan keputusan yang baik dan bijaksana. Aku tidak akan pernah ikut campur dalam urusan masalah rumah tanggamu. Kau sudah dewasa, pasti tahu apa yang harus kau lakukan."


Hal itu ternyata cukup bisa mengalihkan perhatian orang yang ada di sana. Emilio menaikkan satu alisnya. Sedangkan Rose mengambil segelas air minum dan meneguknya habis.


"Aku tidak mengerti pria, mengapa mereka tidak bisa untuk setia saja pada pasangannya."


"Dan kau terlalu setia pada pria yang bukan menjadi pasanganmu. Ayo kita temui keluarga ku yang kini akan menjadi keluargamu," lanjut Emilio santai meninggalkan Rose untuk berbicara dengan Dee serta tamu dari pihak keluarganya yang lain.


Kaisar pergi ke kamarnya ketika orang suruhannya memberi kabar.


Kaisar sendiri mendapatkan berita kalau kemarin Farida terlihat menemui Cantika. Rasa tenang hadir di hati Kaisar karena hingga saat ini Farida masih ada di ibukota. Bukan di tempat lainnya.


Saatnya perpisahan. Hal yang sulit untuk dilakukan oleh Rose karena selama ini keluarganya selalu ada di sisi.


Rose kini melepaskan semua miliknya untuk hidup bersama dengan Emilio karena pria itu cukup tinggi hati untuk menerima bantuannya atau keluarganya.


Sepasang pengantin itu lalu masuk ke sebuah mobil berwarna silver merk sejuta umat. Mobil seharga sepatunya. Enggan rasanya meninggalkan kemewahan yang selama ini melekat pada dirinya, tapi ini semua demi senyum orang tuanya.


Dia sendiri tidak tahu kapan hidupnya berakhir karena penyakit yang dia derita bisa Apakah selama itu dia hanya akan menjadi beban orang tuanya? Pikiran ini yang tadi sempat terbesit dan membuat dia mantap untuk menikahi body guardnya sendiri. Lalu tinggal di rumah sederhana pria itu. Seperti pada cerita novel.


"Apakah tidak ada mobil yang lebih layak?" sindir Rose pada Emilio.


"Apakah ada yang kurang? Aku rasa tidak, AC menyala dengan baik ini juga mobil yang baru saja kubeli dari show room."


"Kursinya keras, tidak nyaman," ujar Rose dengan wajah ditekuk.


"Nikmati saja apa yang dulu ada. Namun, kau boleh mengeluh padaku dan akan selalu kudengarkan. Ingat hanya padaku bukan orang tuamu, karena harga diriku ada pada dirimu saat ini."


Rose mengatupkan bibirnya rapat. Dia mulai melihat ke seluruh isi di dalam mobil itu. Semua memang terlihat masih baru.


"Besok ganti wangi mobilnya dengan yang lebih lembut," ujarnya lagi.


"Kalau begitu besok kau bisa belanja kebutuhan apa yang perlukan, tapi aku tidak bisa memberikan semuanya. Aku hanya punya budget maksimal dan kau harus bertahan dengan itu."


"Memang berapa budget bulananku? 100 atau 50 juta?"


"Lima juta, itu dengan uang belanja."


"Kau gila? Itu uang sekali makanku."


"Kau harus banyak belajar mulai kini. Termasuk belajar berhemat."


Rose memegang kepalanya yang terasa pening. Ingin rasanya dia mengulang kejadian tadi saat Emilio mengajukan pertanyaan tentang kesiapan dirinya. Dia akan menolak pernikahan ini. Namun, nasi telah menjadi bubur. Cincin berlian sudah melingkar di jari manisnya.


Ingin rasanya dia menangis, tapi itu hanya sia-sia belaka karena Emilio tidak akan mendengarkannya seperti biasa.