One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 89 Rindu Sekali



Farida hanya bisa menarik nafas atas semua yang terjadi tadi di pengadilan. Semua rencananya telah berhasil. Dia bisa duduk dengan tenang sekarang.


"Bu ... kenapa Ayah membawa pergi Alisa padahal dia bukan anak Ayah?" tanya Maulana yang menyaksikan semua itu kejauhan. Mereka menyaksikan semuanya tadi karena diajak oleh Kaisar. Namun, pria itu meninggalkan mereka begitu saja.


"Ibu tidak tahu, Nak. Hanya ayahnya mu yang tahu alasannya."


"Sekarang kita pulang," ajak Farida.


"Pulang kemana, Bu? Aku capai harus bertengkar dan mengalah dengan Alisa terus-menerus," ungkap Maulana lemas.


Farida menaikkan satu alisnya keatas.


"Ke rumah Ibu," jawab Farida sambil menggandeng anaknya keluar dari gedung pengadilan.


"Rumah kita? Bersama dengan Bapa Tua dan Ibu Uyun?" tebak Maulana ketika melihat mobil Hanafi berhenti di depan mereka.


"Bukan. Ke rumah Ibu, rumah Kakek, ayah dari Ibu," jelas Farida.


"Apakah aku terlambat?" sapa Hanafi tersenyum. Kedua orang itu menggelengkan kepala.


"Kalian baik-baik saja kan?"


"Sangat baik," jawab Farida bersemangat. Mereka lalu masuk ke dalam mobil. Hanya saja sebelum Farida menutup pintu Alehandro datang menghampiri Farida.


"Ida, kau mau kemana? Kenapa tidak bersama dengan Kaisar tadi?"


"Dia melupakanku," jawab Farida tenang. Alehandro menarik nafasnya.


"Aku harap kau tidak salah mengerti," ungkap Alehandro.


"Aku sangat mengerti jika kami memang tidak berharga baginya," jawab Farida.


"Kaisar hanya sedang kacau, nanti dia pasti akan menghubungimu."


"Hidupku dan Lana sudah tenang tanpa dirinya, Om Ale. Aku harap kau pun bisa mengerti perasaanku terutama Lana."


Mendengar penjelasan Farida membuat Alehandro terdiam. Dia pun marah pada Kaisar karena telah lupa pada calon istri dan anak mereka.


"Ayo, Uda, kita pergi," kata Farida pada Hanafi.


"Lana, kau tidak ingin ikut bersama Kakek dan Ayah?"


"Hmm, biar nanti Ayah jemput Lana saja," jawab Lana bijak. Farida mengusap kepala anaknya.


"Maaf, Om, kami pergi dahulu."


"Dah, Kakek ...." Mobil berjalan pergi meninggalkan tempat itu.


"Apakah semua sudah siap?" tanya Farida.


Hanafi hanya menganggukkan kepalanya.


"Memang kita mau kemana, Bu?" tanya Lana.


"Ke Singapura."


"Singapura?''


"Negara kecil dekat dengan pulau Batam. Kakekmu sakit dan kita akan membawanya berobat ke sana," terang Farida.


Satu bulan kemudian. Di Singapura.


Di sebuah apartemen kecil di tengah kota. Farida hidup bersama dengan Fadil dan Maulana. Semua terasa istimewa karena dilalui dengan bersama-sama. Kehangatan kasih sayang ayahnya kini bisa Farida rasakan lewat gestur dan tatapan Fadil.


Kemarahan yang puluhan tahun bersarang di dadanya kini mulai mengendap dan hilang. Dia menikmati saat ini.


"Ayah, aku buatkan bubur kacang hijau untukmu." Farida berjalan mendekat ke arah Fadil yang sedang menemani Maulana bermain. Lebih tepatnya Maulana yang menemani kakeknya.


"Uh, aku tidak mau kacang hijau, tidak enak," ujar Lana menutup mulut.


"Kau harus memakannya. Ini bagus untuk kesehatan," tegas Farida.


"Tidak....," kata Maulana menggelengkan kepalanya sambil berlari menjauh.


Bel pintu berbunyi.


"Lana, buka pintunya, mungkin itu Bapa Tua yang datang," teriak Farida. Dia mulai menyuapi Fadil.


"Enak kan, Yah?" tanya Farida pada ayahnya. Fadil tersenyum, mengangguk. Farida mulai menyuapi lagi.


"Ini bagus untuk syaraf ayah, agar bisa cepat pulih. Ayah harus semangat untuk kesembuhan Ayah sendiri. Jangan patah semangat."


Farida mendengar suara langkah kaki mendekat.


"Uda, kau sudah mengambil obat ayah kan? Kalau sudah tolong taruh di kamar Ayah. Ehm, aku sudah menyiapkan semangkuk bubur untuk Uda di dapur."


"I ... Ida," panggil Fadil cadel menatap ke arah belakang Farida.


Farida menoleh.


"Hai, apa kabar? Sepertinya kau terlihat baik tinggal di sini," ujar Kaisar sambil menggendong Maulana.


"Hidupku tenang tanpamu!" tegas Farida.


Kaisar hanya bisa mengambil nafas panjang. Dia faham dengan rasa kecewa yang Farida rasakan.


"Ayah mertua," sapa Kaisar pada Fadil. Dia lalu mencium tangan Fadil. Fadil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana keadaan Ayah mertua?" tanya Kaisar.


"B...ba-baik," jawab Fadil terbata. "Su-sudah bi-bisa bi... cara ssssdikit."


"Semua memang butuh proses yang lama Ayah. Maaf jika selama beberapa waktu ini aku tidak menjenguk Ayah mertua."


Fadil menganggukkan kepalanya. Kaisar sendiri melirik ke arah Farida yang masih dingin padanya.


"Lana, kangen Ayah atau tidak?" tanya Kaisar. Lana melihat ke arah ibunya, seperti meminta jawaban.


"Tidak," jawab Maulana sambil mengangguk.


Kaisar tertawa. "Semua merindukanmu pulang," ujar Kaisar.


"Oh ya? Apa Ayah rindu, Lana juga?" Dia menatap ayahnya dalam.


"Tentu saja, Ayah rindu jagoan Ayah." Kaisar duduk di salah satu kursi tanpa meminta ijin pada yang punya.


"Kan ada Alisa di sana yang menemani Ayah," ujar Maulana.


"Namun, Lana kan anak Ayah, kenapa tidak menemani Ayah? Malah pergi tanpa pamit."


Lana kembali menatap ke arah ibunya meminta bantuan untuk menjawab pertanyaan ayahnya.


"Kakek harus segera diobati, jadi perginya cepat-cepat, kata Ibu," terang Lana.


Kaisar menaikkan satu alisnya. "Ayah membawakanmu banyak mainan coba lihat ini," kata Kaisar memberi perintah anak buahnya untuk memberikan paper bag di tangan mereka.


"Ini untuk Ibu dan ini untuk Kakek."


"Wah, ini pesawat drone?" ujar Maulana antusias.


"Kau suka?"


"Suka sekali. Ehm ... tapi tidak, aku tidak suka Ayah datang jika hanya buat Ibu sedih," ujar Maulana tegas.


Kaisar melihat ke arah Farida. "Ayah berjanji tidak akan membuat ibumu sedih."


Farida sedikit terkejut mendengar apa yang Maulana katakan. Dia tidak menyangka anaknya bisa sedewasa itu menyingkapi suatu masalah yang ada.


"Ayah, aku akan menaruh mangkuk ini ke belakang," ujar Farida yang ogah dekat dengan Kaisar. Jika saja tidak ada Ayahnya dan Maulana yang terlihat senang karena sudah merindukan kedatangan Kaisar, Farida pasti sudah mengusir pria itu. Namun, dia menahan perasaannya sendiri. Tidak ingin anaknya melihat pertengkaran orang tuanya yang membuat sang anak trauma, seperti yang pernah dia rasakan dulu.


Dia lalu pergi ke dapur di ruang sebelah. Sedangkan, Kaisar membantu Maulana memasang perlengkapan drone.


"Nah, sudah selesai. Kau bisa ajak Om Bima untuk bermain ini diluar," ujar Kaisar.


"Ini sudah bisa dimainkan, Ayah?" tanya Maulana. Dia lalu pergi bersama Bima untuk mencoba drone barunya.


Setelah melihat Maulana pergi bersama dengan pengawalnya. Kaisar menatap ke arah Fadil.


"Ayah mertua. Kau tahu jika aku punya hubungan lebih dengan Farida. Aku minta kau merestui hubungan kami ini," kata Kaisar.


Fadil menganggukkan kepala.


"Terimakasih, Ayah mertua. Aku berjanji akan menikahi Farida secepat mungkin. Kalau dia bersedia mungkin besok kami bisa menikah."


Fadil tertawa lebar tanpa suara. Lalu, Kaisar meminta ijin pada Fadil untuk berbicara dengan Farida. Setelahnya, dia pergi ke dapur untuk bertemu dengan pujaan hatinya.


Farida sendiri sedang meremas kesal spon cuci piring sehingga banyak gelembung di bak pencucian piring.


"Aku kira, marah pada spon itu bukan solusinya."


Farida melirik kesal pada Kaisar. Seharusnya dia bersikap tenang karena ini semua sudah direncanakan dari awal. Namun, melihat Kaisar melupakan dirinya dan Maulana ketika ada di gedung pengadilan meninggal luka baginya.


"Aku marah padamu? Itu hanya menghabiskan energiku saja. Tidak perlu!''


"Kalau begitu kenapa kau menghindariku," tanya Kaisar mendekat sehingga tubuh mereka hampir bersentuhan.


Farida menegang dalam tatapan Kaisar.


"Aku tidak menghindarimu. Aku hanya tidak ingin bertemu dan mengenalmu lagi."


"Sungguh?" cecar Kaisar kedua tangannya diletakkan diantara tubuh Farida, memegang pinggiran meja dapur. Mengungkung wanita itu.


"Kai, apa yang kau lakukan! Pergilah!" dorong Farida. Bukannya menyingkir, Kaisar malah mendekatkan wajahnya ke bibir Farida yang merah seperti cerry.


Farida mendorong kuat Kaisar, tapi pria itu tidak bergeming sedikit pun.


"Aku merindukanmu," bisik Kaisar.