One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 57



Sedangkan Farida menangis di depan kantor polisi setempat. Mereka kesana untuk meminta bantuan mencari Maulana. Namun, karena belum 24 jam dari waktu hilangnya Maulana, maka laporan itu tidak bisa diproses.


"Aku tahu kau sedang sedih dan cemas sama seperti kita semua. Kita bisa mencarinya lagi dengan mengililingi lagi daerah ini. Aku juga mengerahkan semua anak buahku untuk mencari keberadaan Maulana."


"Maafkan aku, Ida, kalau saja aku bisa menahan emosiku, semua ini tidak akan terjadi."


Farida hanya terdiam saja. Dia lalu bangkit dan berjalan meninggalkan Hanafi dan juga Uyun.


"Kau mau kemana?" seru Hanafi.


"Mencari putraku," balas Farida.


"Ini sudah hampir tengah malam, sangat bahaya jika kau pergi sendiri," lanjut Hanafi.


"Kita cari bersama-sama," ajak Uyun.


"Tidak, jauhi aku, aku ... sangat marah padamu. Yang kau lakukan sangat buruk. Kita tidak tahu apa yang Maulana alami di sana... Aku takut jika sesuatu yang buruk terjadi padanya," ujar Farida penuh emosi dan dengan suara serak.


Hanafi langsung memeluk wanita itu erat. Memasukkannya ke dalam dada. "Kak, di luar sana sangat berbahaya bagi anak kecil, kau tahu kan maksudku," ujar Farida.


"Aku mengerti."


Hanafi sebenarnya juga merasa tidak tega pada Uyun. Namun, dia tidak bisa membiarkan Farida pergi dalam keadaan kacau.


"Uyun, kau pulang dulu ke rumah dan lihat, siapa tahu Maulana sudah pulang ke rumah. Jika ada kabar hubungi aku. Aku akan menemani Farida mencari Maulana."


Uyun menganggukkan kepalanya. Merasa bersalah karena dia yang menyebabkan semua ini. Jika sesuatu terjadi pada Maulana maka dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri.


Bagaimana pun dia sudah menganggap Maulana ini anaknya sendiri dan ingin agar Farida melepaskan anak itu dengannya ikhlas. Namun, Farida seperti enggan.


Statusnya memang ibunya tapi dia tidak berhak apapun untuk urusan Maulana. Bahkan sekolah Maulana pun Farida yang menentukan dan yang membiayai. Jatuhnya dia seperti pengasuh Maulana saja.


Kini setelah semua terjadi. Uyun merasa menyesal. Andaikan dia menahan emosi semua tidak akan berakhir seperti ini.


Sedangkan di tempat lain.


Alehandro mengucapkan permintaan maafnya kepada keluarga Emilio karena acara lamaran itu tidak berlangsung sebagai mana mestinya.


"Maaf menyela sebelumnya, aku ingin mengatakan sesuatu. Aku tidak ingin membuat perayaan untuk pernikahanku. Jadi mari kita menikah diam-diam tanpa ada yang tahu."


"Kenapa seperti itu? Kau adalah anak perempuan tertua."


"Mom, aku sudah menyetujui pernikahan ini walau aku tidak menginginkannya. Jadi kumohon, mengertilah keinginanku."


Emilio menghela nafasnya. "Terserah apa maumu. Perlu kau ingat di sini bukan hanya kau saja korbannya. Aku juga. Namun, aku berusaha untuk meminangmu dengan cara yang baik sejauh kesanggupanku," tegas Emilio. "Jika kau kau resepsi pernikahan, aku akan melakukannya. Jika kau hanya ingin acara akad di KUA. Itu lebih baik karena uangnya bisa untuk makan kita selanjutnya," sindir Emilio.


Rose memalingkan wajah ke samping.


"KUA saja," ujar Rose melipat tangan di dada.


Emilio menghela nafas panjang.


"Nampaknya perjuangan cintamu akan sulit, Kak. Apakah akan lebih sulit dari pernikahanku?" bisik Dee.


Kane yang mendengar batuk kecil. Dee lalu melihat ke arah suaminya. "Hanya memberi semangat ayang bebep, Koko ganteng."


"Nak Emilio kau sudah kenal Rose bertahun-tahun kau tentu tahu bagaimana sifatnya. Selama ini hanya kau yang ku percaya menjaganya. Jadi menurutku hanya kau orangnya yang memang bisa menjaganya," ujar Dara.


Emilio terdiam, tersenyum kecut.


"Aku ingin pernikahan dilakukan secepatnya. Mungkin tiga hari lagi karena kita harus memasukkan berkas terlebih dahulu ke KUA," lanjut Dara.


"Tiga hari lagi?" ujar Rose nampak tidak setuju.


"Ya, agar aku bisa tenang ada orang yang akan menjagamu. Terus terang selama ini, Mom selalu mengkhawatirkan keadaanmu itu."


"Mom, yang benar saja." Sebenarnya Rose ingin mangkir dari rencana pernikahan ini. Hanya saja sepertinya dia tidak punya kesempatan. Semua orang seperti sedang menutup jalan untuknya kabur.


"InsyaAlloh, siap Tuan."


Emilio lalu berpamitan pulang dengan seribu kegalauan yang ada di hati.


"Kak, kau yakin mau menikahi wanita itu?" tanya Dee yang sudah duduk di kursi belakang bersama dengan Kane. Emilio sendiri duduk di depan bersama dengan supir dari Kane.


"Mau tidak mau," jawab Emilio.


"Kalau kau tidak suka, maka batalkan saja sebelum terlambat," ujar Dee khawatir.


"Mungkin cinta itu hadir seiiring kebersamaan kami, hanya butuh waktu saja dan mengajarkannya tentang hidup sebenarnya," ujar Emilio menatap Rose yang berdiri di depan pintu rumah.


Dia teringat perkataan yang mengatakan hanya Emilio saja yang bisa mengatasi Rose tidak ada yang lain. Mungkin ini jalannya.


"Semoga saja berubah," ujar Dee dengan nada kecewa, berharap kakaknya menemukan wanita tepat yang mencintainya bukan wanita manja macam Rose itu.


"Cinta bisa merubah seseorang, Sayang. Kau tidak perlu cemaskan kakakmu ini. Dia lebih tahu situasinya dibanding kita. Dia adalah ahli strategi tentu saja dia punya strategi untuk menjerat wanita itu agar menjadi jinak," ujar Kane.


Dee lalu tertawa. "Jinak ... ya ... dia itu kucing buas yang terus mencakar."


"Seperti kau dulu," lanjut Kane membuat Dee cemberut dan terdiam.


Mobil lantas melaju keluar meninggalkan kediaman keluarga Cortez diiringi lambaian tangan Alehandro dan Dara. Rose sendiri langsung pergi ke kamarnya.


"Hari yang melelahkan," ujar Dara menyeka keringat di dahinya.


"Apakah sudah fix jika itu keponakan baruku?" tanya Jasmine pada kedua orang tuanya.


Dara dan Alehandro menganggukkan kepala.


"Dia sangat imut sekali, seratus persen mirip dengan kakak."


"Ibu juga setuju. Sekarang dimana mereka?"


"Ruang keluarga, Kakak sedang mengambilkan makan untuk anaknya. Dia terlihat sangat kelaparan...," ujar Jasmine.


"Ya Tuhan, kita lupa memberinya makan dan minum. Kasihan sekali dia," ujar Dara berlari ke ruang tengah.


Di ruangan itu, Kaisar menatap anaknya tanpa berkedip. Hatinya merasa hangat, rasa berbeda ketika bersama dengan Alisa. Mungkin karena Maulana baru dia temui ketika sudah sedikit besar.


Rasa sesal berada dalam hatinya. Mengapa dulu dia melupakan Farida hingga membiarkan wanita itu hamil tanpa dirinya. Sebenarnya apa yang terjadi sebelum kecelakaan itu? Ya, dia ingat ketika mengejar mobil yang berisi Farida sebelum mobilnya menemui kecelakaan.


"Apakah kau marah pada ayah?" tanya Kaisar pada Maulana.


Maulana yang sedang makan sate menghentikan gerakannya.


"Ya, kau sangat sayang pada, Alisa tapi melupakan aku sebagai anakmu," kata anak itu.


Kaisar membersihkan noda di sekitar mulut Maulana dengan tisu.


"Karena aku tidak tahu kau ada."


"Apakah setelah tahu aku ada kau akan menyayangiku?" Maulana menatap Kaisar intens, penuh harap.


"Mana ada ayah yang tidak menyayangi anaknya. Tentu saja aku akan menyayangi dan mencintaimu, anakku," ujar Kaisar memeluk Maulana.


Alehandro, Dara, dan Jasmine ikut mendekat.


"Kami juga akan menyayangimu," ucap Dara memeluk anak dan cucu itu diiringi yang lainnya. Maulana tersenyum senang karena mendapatkan keluarga baru yang tidak dia sangka ada.


"Ayah ... ," panggil Alisa dari arah tangga, membuat terkejut semua yang ada di ruangan itu.


"Lana, kau ada di sini? Kenapa kalian semua memeluknya?"