
Nyatanya, semua tidak seperti yang diharapkan. Acara yang harusnya terasa sakral tapi malah jadi ajang sindir menyindir.
Kane dan Dee hanya bisa menahan nafas. Pernikahan kakaknya yang mereka kira akan bahagia ternyata jauh dari apa yang mereka harapkan. Mereka terluka melihat Emilio diperlakukan seperti itu, seperti bukan pria berharga yang tidak layak dimiliki.
Terutama Dee, hatinya sangat terluka dan membenci kakak iparnya untuk kali pertama mereka bertemu. Dia tidak menyangka kakak iparnya akan punya sifat egois dan judes.
Rose memperlihatkan rasa tidak sukanya pada pernikahan ini, sedangkan Emilio malah bersikap tenang menghadapi Rose. Dia punya karakter sendiri diantara empat orang pria dalam ruangan ini.
"Aku hanya ingin meminta hal yang simpel, hal yang seharusnya seorang pria peroleh tanpa harus meminta pada calon istrinya."
"Apa itu, Nak Emilio?" tanya Dara dengan lembut.
"Aku ingin Rose tinggal di rumahku dan dia harus mau hidup dari apa yang aku hasilkan, bukan melalui pemberian kalian. Aku seorang pria, harga diriku akan terluka jika aku dan istriku harus hidup dari tangan orang lain."
Terdengar suara tepuk tangan yang keras dari Kaisar. "Aku suka itu."
"Aku setuju," seru Dara sambil berdiri untuk memberi dukungan.
Alehandro menoleh pada istrinya. Dia terlihat bingung.
"Aku setuju, dengan catatan kau harus bekerja di tempatku," ujar Kris membuat terkejut semua orang kecuali Alehandro. Sebenarnya itu yang dia pikirkan.
"Tidak, aku ingin berusaha sendiri sesuai dengan kemampuanku, bukan atas pertolongan Anda semua Tuan-Tuan yang terhormat. Walau Anda sangat ingin membantu putri Anda tapi maaf, ini adalah prinsip hidupku dan kehidupanku."
"Ku kira ini pilihan bijak dari Emilio, kalau aku jadi dia pun, aku tidak akan suka jika keluarga istriku selalu memberi bantuan. Hal itu bisa mematik pertengkaran. Bahkan rasa hormat istri pada suaminya menjadi berkurang karena istri merasa lebih hebat."
"Baiklah aku setuju, tapi kau tidak akan melarangku untuk bekerja kan?" tanya Rose.
"Kau sedang masa pengobatan jadi kau tidak diijinkan untuk berkerja fokus dengan pengobatanmu saja," tandas Alehandro dengan tatapan tegas membuat ciut nyali Rose.
"Nak Emilio, aku tahu niat baikmu untuk membentuk rumah tangga mandiri. Namun, dengarkan aku untuk kali ini saja." Alehandro menghela nafasnya.
"Aku tahu kau mampu untuk memenuhi kebutuhan Rose walau mungkin tidak seperti bersama kami. Kau juga bisa memberikan rumah yang nyaman untuknya. Namun, sebagai orang tua kami juga ingin membantunya." Emilio ingin menyela tapi tangan Alehandro bergerak menghentikannya.
"Bukan membantu dalam hal ekonomi rumah tangga. Namun, ingin membantu biaya pengobatan Rose. Hanya itu. Kami melakukannya karena khawatir dengan kesehatannya. Kau tahu sendiri kan biaya pengobatan itu tidak murah, tidak ... aku tidak bermaksud mengecilkanmu. Kami hanya ingin memastikan Rose dan kau hidup bahagia," imbuh Alehandro.
Kali ini Kaisar berdiri dan berdiri di sebelah Emilio, memegang pundaknya.
"Di pundak inilah Emilio akan memikul tanggungjawabnya sebagai seorang pria. Dia hanya ingin membuktikan diri jika dia pantas dan layak bersanding bersama Rose, kenapa kita tidak bisa menerimanya."
"Om Kris dan Tante Sheila, aku tahu kalian sangat menyayangi Rose dan juga sangat mengkhawatirkannya. Namun, yakinlah jika Rose akan mendapatkan pria yang tepat untuk menjaganya. Aku akan mendukungnya."
"Tapi bagaimana...," ucap Kris tertahan Sheila.
"Kalian memberikan putri kalian padaku maka aku akan menjaganya melebihi nyawaku sendiri. Sebisa mungkin aku akan memberikan yang terbaik yang bisa kulakukan untuknya."
Semua terdiam. Kris terlihat tidak puas dengan pembicaraan ini.
"Rose bagaimana menurutmu, apakah kau akan menerima itu. Jika tidak, Ayah akan mendukungmu," ujar Kris.
"Aku sebenarnya tidak ingin menikah dengan Emilio, hanya saja apa yang kukatakan tidak bisa kutarik lagi. Aku akan menikahinya. Namun, apabila sampai satu tahun pernikahan Emilio tidak bisa memberikan kebahagiaan seperti yang ku harapkan, aku akan meminta cerai darinya."
"Baiklah, hanya satu tahun masa percobaan," ujar Emilio. Emilio tersenyum mengejek.
"Ish, aku yakin tidak sampai enam bulan kau akan jatuh cinta pada suamimu," ujar Kaisar mengerlingkan satu mata pada Emilio.
"Aku tidak setuju hanya saja ini keputusan anak yang paling aku sayangi dan cintai. Sepertinya aku tidak rela, kau menikah dengannya, Rose," ucap Kris terus terang.
"Pah." Sheila menyentuh paha Kris sambil menggelengkan kepala. Mengatakan bahwa apa yang Kris katakan itu tidak baik.
Kris menghela nafas panjang.
"Aku akan pulang saja. Emosiku memuncak mendengar semua ini." Kris bangkit berdiri.
"Tunggu dulu, Kris acara belum selesai. Kau sebagai ayah kandung harus menjadi saksi bagi acara ini."
Kris menatap tajam ke arah Emilio. "Dari awal aku pun sudah tidak setuju. Namun, berhubung keadaan yang memaksa aku menyetujuinya. Aku kira dia akan mendengarkan ucapan para orang tua di sini ternyata dia begitu angkuh dengan kehidupannya yang jauh dari berbeda dari kehidupan yang biasa Rose dapatkan."
Kris lalu mendekat ke arah Rose dan menyentuh bahunya. "Jika kau butuh apapun, katakan pada Papa. Papa akan selalu ada untukmu. Kau harus ingat semua milik Papa adalah milikmu."
Rose menatap Kris sambil berkaca-kaca lalu berdiri memeluknya. Hanya Papanya yang selalu mengerti dan tahu perasaannya tanpa dia katakan.
Emilio sendiri menunduk, mengatup bibir erat sambil menarik nafas panjang. Dadanya terasa sesak sedari tadi. Seperti ada beban berat yang dia pikul.
Di saat itu, Kaisar menunduk dan berbisik padanya. "Bro, aku mendukungmu."
"Kau yang membuatku begini, Pak!" ujar Emilio pelan dengan suara kesal.
Kaisar terbatuk menahan tawanya.
"Karenanya apapun yang akan terjadi aku akan selalu berada di sisimu."
Dee melirik ke arah dua orang itu. Merasa sedih dengan nasib kakaknya. Umurnya sudah hampir 40 tahun. Tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Namun, di saat akan menikah malah wanita yang mau dinikahinya bertabiat sangat buruk.
Dalam hati Dee, ingin segera menarik kakaknya itu pergi dari tempat itu. Mereka punya harga diri yang tidak bisa diinjak-injak oleh siapapun.
Dara melihat Alisa yang mulai mengantuk. "Kai, bawa Alisa ke kamarmu," perintah Dara.
Kaisar melihat ke arah Alisa.
"Kita ke kamar dan tidur di sana," ajak Kaisar lembut, menggendongnya dan membawa ke lantai atas.
Ketika dia melewati kamar orang tuanya mendadak dia mendengar seperti ada benda yang jatuh lalu pecah.
Dia ingin membuka pintu kamar itu, tapi dikunci. Kaisar lantas membawa Alisa ke kamarnya terlebih dahulu, baru akan menanyakan hal ini pada orang tuanya.
Sedangkan di dalam kamar Alehandro, si kecil Maulana sedang kebingungan melihat banyaknya pecahan gelas di lantai.
Dia tadi haus dan ingin minum, hanya saja melihat ada laba-laba kecil. Makhluk yang paling dia takuti. Tanpa sengaja dia menjatuhkan gelas tadi.
Dia hendak pergi ke pintu, ketika kaki kecilnya menginjak pecahan gelas.
"Aww sakit ...."