One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 55 Dia anak Dad.



Setelah meletakkan Alisa di tempat tidur, Kaisar kembali lagi melewati kamar orang tuanya. Sayup-sayup dia mendengar suara tangisan seorang anak kecil.


Dia mengerutkan dahi, mendekatkan telinganya pada pintu kamar. Kedua alisnya disatukan lalu berjalan cepat ke lantai bawah tempat dimana acara lamaran Rose berlangsung. Walau tidak seresmi acara lamaran pada umumnya.


Ketika dia melangkahkan kaki ke ruang pertemuan itu, dia tidak melihat siapapun. Rupanya semua orang pergi ke ruang makan untuk memakan hidangan yang sudah tersedia.


Om Kris dan Tante Sheila tidak ada di tempat. Ternyata keduanya memang benar-benar pergi meninggalkan rumah ini. Benar-benar orang tua egois, pikir Kaisar.


Di ujung meja duduk Alehandro yang menjadi kepala rumah tangga rumah ini. Di sisi kanan duduk Dara, Jasmine dan Rose. Sedangkan di sebelah kiri ada Kane Yang, Dee dan terakhir Emilio. Ketiganya terlihat diam, tidak mengatakan apapun. Mungkin perkataan Kris tadi membuat ketiganya sakit hati.


Kaisar mengingat alasan dia cepat turun ke ruangan ini. Dia mendekat ke arah Dara yang sedang meletakkan sayur ke piring Alejandro.


"Pare ini baik untuk kolesterolmu," ujar Dara.


"Yang namanya pahit tetap saja pahit, aku tidak mau itu. Lebih baik aku minum pil saja yang pahitnya tidak terasa," ujar Alehandro.


Dara menajamkan matanya.


"Sayang aku ingin yang terba ...!" Perkataan Dara terhenti ketika Kaisar mengatakan sesuatu di telinganya.


Dia meletakkan sendok nya di piring hingga suara benturan keduanya berbunyi.


Semua menatap ke arah Dara.


"Ada apa?"


"Sepertinya, peliharaanku melarikan diri. Aku harus melihatnya."


"Peliharaan apa? Kau tidak suka dengan hewan," ujar Alehandro yang tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Dara.


Dara menendang tulang kering sahabatnya.


"Aww, kau ini kenapa?" Bukannya mendapatkan jawaban, Alehandro malah mendapatkan tatapan tajam dari Dara.


"Aku akan menengok kesayanganku di kamar. Biasanya dia ada disana," ujar Dara memberi kode.


Alehandro baru faham apa yang dimaksud oleh Dara. "Ya, kau tengok dia. Pastikan jangan sampai dia pergi, nanti kau akan menangis," sambung Alehandro.


Dara dan Kaisar akhirnya pergi ke kamar Dara. Sedangkan, tiga orang tamu dan Rose melihat ke arah Alehandro.


"Sejak kapan Mom punya peliharaan, "


"Tadi kami baru membawanya ke rumah." Alehandro tersenyum kaku.


"Binatang apa?"


"Setahuku dia sangat takut dengan binatang. Betulkan, Dek?"


"Dek!" ujar Rose lagi karena Jasmine tidak merespon.


"Ha... apa?" Jasmine tidak mendengar apa yang Rose katakan karena telinganya di tutup oleh airphone.


Rose lalu menyibak rambut Jasmine dan menemukan airphone itu.


"Ish tidak sopan!"


"Jasmine!"


"Maaf Dad," ujar Jasmine melepaskan kedua airphone itu dari telinganya. "Aku tadi pusing mendengarkan kakak bicara pada Kak Emilio. Jadi mending aku pikir lebih baik aku mendengar lagu yang indah karena aku suka dengan yang indah-indah. Bukan pertengkaran," sindir Jasmine.


Dee menahan tawanya mendengar ucapan. Jasmine yang apa adanya. Ternyata keluarga bos kakaknya tidak seburuk itu. Hanya Rose saja yang berbeda. Mungkin setelah menikah kakaknya bisa membuat perangai wanita itu jadi baik.


Rose seperti hendak mencekik adiknya.


"Rose ambilkan sayur dan nasi lagi untuk Emilio, kau harus belajar untuk menghargainya mulai sekarang karena nanti dia akan jadi suamimu."


Mengapa Rose mencintai Kaisar? Karena dia ingin memiliki suami yang mempunyai sifat seperti ayah sambungnya itu. Berhasil dalam kehidupan dunianya tanpa harus meninggalkan akhiratnya.


Rose menyendokkan banyak nasi ke atas piring Emilio. Pria itu mengangkat wajah dan menatapnya. Rose mengambilkan juga banyak sayur ke piring itu membuat semuanya melihat kasihan pada Emilio.


"Tidak apa-apa," ujar Emilio tersenyum kaku. "Aku akan menghabiskannya. Ini hari pertamaku dilayani oleh calon istriku."


Dee menatap kasihan pada kakaknya. Sedangkan Kane santai saja menghadapinya. Alehandro sendiri menggelengkan kepala. Jasmine menatap tajam kepada kakaknya.


"Jika kau nanti jatuh cinta padanya maka aku akan tertawa keras," bisik Jasmine.


Rose hanya menimpali dengan senyuman mengejek tidak peduli dengan apa yang dia lakukan barusan.


Di lantai atas, Dara segera membuka pintu kamarnya dan mendapati seorang anak yang duduk di lantai sambil memegang kakinya yang berdarah. Darah itu sampai membasahi sekeliling kakinya.


"Ya, Tuhan," pekiknya terkejut. Dia berlari mendekat memeriksa keadaan anak itu.


"Kau tidak apa-apa, Nak?" Maulana menggelengkan kepala.


"Kai, bantu aku membawanya ke kursi," pinta Dara mengambil kotak obat. Sedangkan Kaisar masih berdiri di pintu kamar.


"Mom, anak siapa ini?" tanya Kaisar bingung. Di saat yang sama Maulana mengangkat wajahnya.


Sesaat bola mata mereka bertemu. Kaisar melihat anak ini sangat mirip dengannya sewaktu kecil.


"Mom, apakah dia anak ayah yang lain?" tanya Kaisar ketika Dara kembali dengan kotak obat di tangannya.


Dara memukul punggung Kaisar keras.


"Kenapa kau memukulku?" tanya Kaisar tanpa rasa bersalah.


"Kenapa kau berpikir seperti itu?" balik Dara. Dia lantas mulai membersihkan luka Maulana.


Kaisar kembali lagi menatap Maulana. Di saat anak itu meringis nyeri karena tetesan obat antiseptik di lukanya, Kaisar ikut merasakan nyeri di tempat yang sama.


Sejujurnya dia pun bingung kenapa dia menebak hal itu. Namun, wajah itu mirip sekali dengan dirinya. Sama seperti fotonya yang terpajang di ruang keluarga.


"Karena dia mirip denganku," kata Kaisar santai.


Jika memang benar ini adalah adiknya dari wanita lain, dia akan memarahi ayahnya karena berani-beraninya menduakan Mom Dara. Mom itu baik dan cantik tidak pantas untuk disakiti.


"Kalau benar seperti itu, aku yang akan memarahi ayah," ucapnya tidak terima. Sambil memukulkan tangannya ke tangan yang lain.


Dara menegakkan tulang punggungnya dan menghela nafas. Dia menyematkan plaster ke luka Maulana.


"Sudah selesai. Apakah ada luka yang lain?" tanya Dara lembut.


"Mom, kenapa kau baik padanya?" tanya Kaisar tidak senang.


Dara menajamkan mata pada Kaisar. Dia bisa melihat ketakutan di mata Maulana ketika melihat Kaisar. Kedua tangannya lantas diletakkan ke pipi Maulana.


"Kau lapar atau haus biar nenek ambilkan," kata Dara.


"Nenek?" gumam Kaisar tidak mengerti.


"Kau Nenek Alisa yang tadi pagi di sekolah?" tanya Maulana. Suaranya terdengar merdu dan lembut.


"Ya."


"Dia kenal dengan Alisa?" Kaisar semakin tidak mengerti.


"Lalu Om galak ini?"


"Dia ayah Alisa," ujar Dara, membuat otak kecil Maulana mulai mengingat kejadian tempo hari.