
"Kalau begitu secepatnya aku akan membuat surat pengalihan harta kekayaan kepada Cantika karena hanya anak itu yang berpotensi serta hanya Cantika yang layak mendapatkannya. Biarlah nama Airlangga terkubur bersama ibunya. Dia tidak bisa kembali begitu saja dan meminta semuanya karena dari awal kedatangannya dulu juga penuh dengan kebohongan. Selamanya seorang penipu akan menjadi penipu," ujar Fadil emosi.
Fadil lalu memegang dadanya yang terasa nyeri dan sakit. "Ayah, kau harus tenang kalau tidak penyakitmu akan kambuh lagi. Aku akan mengambil obat untukmu," ujar Ira. Dia lalu berlari keluar ruangan. Sesampainya di kamar, Ira lalu menutup pintu dan bersorak sorai tanpa suara. Tuhan memang selama ini selalu mendukung langkahnya karena Tuhan selalu bersama dengan orang yang pintar seperti dirinya.
Ira lalu duduk dan tertawa. "Sara, kau kalah lagi. Aku selalu bisa mengunggulimu. Menangis lah dalam kuburmu melihat nasib anakmu ke depannya karena sebentar lagi aku akan membawanya padamu. Bukankah aku orang yang baik. Aku akan selalu membantumu untuk bisa bersama dengan anakmu," ucap Ira senang.
"Bukan hanya anakmu, cucumu pun akan turut serta bersamamu. Kau pasti akan senang melihatnya di alam sana, tunggu mereka datang Sara...."
Sedangkan di rumah Kaisar.
Farida nampak bosan karena dikurung di rumah pria itu. Walau di sini semua ada di rumah ini yang lebih mirip seperti istana, tapi hal itu tidak membuat dia bahagia.
Maulana merasa senang di sini. Dia bebas melakukan apapun daripada tinggal di kost an itu. Tawanya memenuhi rumah mewah ini. Dia terlihat jauh lebih bahagia ketika bersama dengan Kaisar. Farida bisa menangkapnya.
"Ayah, aku takut," kata Maulana saat akan memberi makan angsa.
"Tidak apa-apa, tinggal berikan saja," ujar Kaisar. "Lihat Ayah, nah seperti ini."
Maulana memberikan pakan hewan unggas itu. "Tidak ... tidak biar ayah saja. Aku akan memberi makan ikan saja," ujar Maulana menyerahkan wadah berisi pakan pada Kaisar.
Dia lalu berlari ke arah kolam ikan yang di desain seperti sungai dangkal yang mengalir mengelilingi rumah. Banyak batu cadas di sana sehingga bisa untuk dilewati oleh anak kecil. Di tepinya sengaja di tanami berbagai rumput liar agar seperti habitat asli para ikan.
Maulana lalu berdiri di pinggir sungai kecil buatan itu. Menatap berbagai macam ikan warna-warni berbagai ukuran. Mendadak dia melepaskan sandal miliknya lalu dengan pelan masuk ke dalam sungai buatan itu yang tingginya hanya selututnya bagian yang terdalam. Lainnya hanya sekitar mata kaki orang dewasa.
"Ayah, sepertinya aku bisa menangkap ikan ini. Nanti kita bakar ya," ujar Maulana berusaha menangkap ikan.
Farida yang duduk di kursi santai di teras halaman belakang lalu berlari mendekat.
"Hati-hati Lana, nanti bisa jatuh," ujar Farida.
"Biarkan saja dia mengeksplor dirinya sendiri."
"Tapi." Farida tampak keberatan.
"Dia anak lelaki harus menghadapi ketakutannya sendiri dan terbiasa dengan lingkungan yang ada di sekitarnya. Jangan terlalu memproteksinya, kalau tidak nanti dia akan jadi anak manja."
"Lana, coba tangkap salah satu ikan itu," ujar Kaisar ikut masuk ke sungai buatan itu.
Farida mengatupkan bibirnya. Anak lelaki memang butuh sosok ayah yang akan membimbingnya agar tidak lembek.
Lana dengan semangat berusaha mengambil ikan di sana dengan tangannya sendiri. Setiap kali ikan itu bisa dia raih maka ikan itu dengan gesit bisa lolos dari tangannya.
"Ayah, sulit," rengek Lana.
"Jangan katakan sulit, ayo kita berusaha lagi untuk meraihnya," ajak Kaisar.
Lana yang tidak hati-hati lalu terjatuh di sungai itu. Dia ingin menangis, sang ayah malah tersenyum.
Farida ingin meraihnya, Kaisar melarang dengan isyaratnya.
"Tidak sakit kan? Sedikit sakit tidak akan membuat seorang pria menangis. Pria itu kuat agar bisa menjadi sandaran para wanita."
Maulana mengusap matanya dengan kaos yang sudah basah. "Aku tidak menangis Ayah, aku anak kuat."
"Tentu saja, anak ayah yang terkuat. Kau itu lion kecil Ayah. Simba."
"Ya, aku pernah menontonnya. Simba berubah jadi kuat ketika dewasa."
"Itulah dirimu," ujar Kaisar.
Kaisar memberi tanda pada Maulana.
"Ibu, tolong aku ingin naik," ujar Maulana mengerti.
Farida lalu mendekat untuk menarik tangan Maulana, tapi tangannya malah ditarik kuat ke sungai sehingga dia hilang keseimbangan dan ikut tercebur ke dalamnya.
"Lana, ibu jadi basah."
Bukannya takut pada ibunya, Maulana malah memerciki dengan air sungai, begitu pula dengan Kaisar. Mereka akhirnya bermain di sungai itu dengan riang.
Tanpa mereka sadari ada yang menatap mereka sedari tadi.
"Mereka terlihat sangat senang sehingga tidak tahu kita datang," ujar Dara.
Alehandro melepaskan kacamata hitam besar yang bertengger di hidungnya yang tinggi dan besar.
"Itu memang lebih terlihat seperti keluarga daripada ketika bersama dengan Cantika. Keluarganya seperti tidak hidup, tidak ada ruhnya."
"Bukan berarti aku mendukung perselingkuhan Kaisar. Hanya saja aku tahu dia tidak bahagia bersama dengan Cantika."
"Atau sebenarnya Airlangga dan Kaisar yang saling mencintai sebelum ada kecelakaan itu. Kita tahu setelahnya kabar Airlangga pun menghilang."
"Ya, berarti Kaisar tahu jika saat itu Airlangga itu seorang wanita."
"Kalau tidak tahu mengapa wanita itu bisa hamil Maulana." Alehandro memilih duduk di kursi santai yang tadi di tempati oleh Farida menatap keluarga kecil anaknya.
"Tunggu aku menemukan keanehan disini."
"Keanehan apa, Mas," ujar Dara.
"Kaisar waktu itu kekeh menikahi Cantika apakah karena sudah menghamilinya?"
"Mungkin, karena hal itu hanya Kaisar yang tahu."
"Tapi jika hubungan mereka sedekat itu mengapa dia berselingkuh dengan adik dari calon istrinya."
"Itu juga yang kupikirkan. Namun, aku takut mengemukakan."
Mereka lalu terdiam. Fokus Alehandro pada Maulana lalu membandingkannya dengan Alisa.
"Maulana sangat mirip dengan Kai," celetuk Dara.
"Kau selalu mengatakan apa yang kupikirkan."
"Lalu, Alisa, aku tidak menemukan kemiripannya dengan Kai," lanjut Alehandro.
"Aku tidak berani untuk mengungkap kan itu. Itu terlalu sulit untuk kita bayangkan."
"Andai Alisa bukan anak Kaisar pasti putra kita akan terpuruk," imbuh Dara yang disetujui oleh Alehandro.
"Aku akan menyelidikinya." Alehandro menarik nafas dalam. Dia tidak bisa membayangkan jika cucu yang selama ini dia sayangi ternyata bukan cucunya sendiri. Sedangkan cucunya sendiri selama ini entah bagaimana hidupnya.
"Jika iya, kau harus menahan diri dan memikirkan kembali apa yang harus kita lakukan. Mengetahui anak sendiri ternyata bukan anak kita itu hal yang sangat menyakitkan. Lebih sakit daripada berpisah dengan pasangan kita," ungkap Dara lembut.
"Aku tahu. Sebelum aku melakukannya juga aku sudah merasa sakit lebih dahulu. Tidak bisa membayangkan jika itu memang yang sebenarnya terjadi," balas Alehandro.