
Akhirnya Alehandro mengantar anak itu kembali ke rumah ibunya dengan berat hati. Dia berharap Kaisar akan memperjuangkan putra yang akan jadi pewaris perusahaannya. Bukan Alehandro tidak sayang pada Alisa hanya saja, Maulana sudah terlihat punya sikap dan pendirian yang kukuh. Itu adalah salah satu point baik bagi seorang calon pemimpin, selain soal gender.
Maulana juga anak yang cerdas terlihat dari cara berbicaranya yang teratur selain itu dia juga sopan, terlihat tidak penuh emosi ketika mengatakan sesuatu dan juga tidak memotong pembicaraan orang. Ini pasti dari didikan keluarganya.
Maulana hanya minta diantar sampai depan rumahnya saja.
"Kakek, aku punya satu permintaan lagi padamu."
"Apa itu?"
"Minta dia, maksudku ayahku untuk melupakan aku saja. Anggap aku tidak ada, biarkan dia bersama dengan Alisa. Alisa lebih butuh ayah daripada aku. Kakek jangan khawatir, di sini aku punya dua ibu dan satu ayah, juga paman-paman yang akan selalu menyayangiku," ujar Maulana dengan sedih.
Hal itu membuat hati Alejandro terasa miris. Bagaimana bisa anak sekecil itu mau mengalah?
Dia bingung merangkai kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Maulana.
"Kau tidak boleh melupakan aku karena aku adalah kakekmu."
"Tentu saja tidak, hanya saja ibu takut kalau aku bertemu ayah. Takut aku diambil olehnya," lanjut Maulana lagi dengan pelan.
Alehandro lalu memeluk Maulana. Tanpa terasa setitik air hampir lolos dari pelupuk matanya dan langsung dia usap.
"Kau tidak diambil oleh Ayahmu hanya saja tempatmu memang bersama anakku."
"Itu sulit karena ibu juga tidak bisa ikut, ada Alisa dan juga ibunya. Tapi kakek bisa kok temui aku, diam-diam ya ... jangan sampai ibu tahu. Kalau tidak aku akan dibawanya pergi jauh lagi."
Alehandro melebarkan matanya.
"Kau mau dibawa pergi?"
Maulana menganggukkan kepala.
"Aku mau pergi ke kampung, itu jauh sekali harus naik kapal milik Bapa Tua selama berhari-hari."
Alehandro tersenyum miris. "Tenang saja, kau tidak akan berpisah dari ayahmu dan ibumu. Aku akan pastikan itu."
"Jika membuat Alisa sedih, tidak usah. Ibu suka mengatakan jika pada anak perempuan harus mengalah, jangan sakiti mereka sebab menyakiti mereka sama seperti menyakiti ibu. Aku tidak mau menyakiti Ibu."
Alehandro yang gemas mendengar ucapan dewasa Maulana menjadi gemas sendiri. Dia penasaran seperti apa wujud ibu dari cucunya itu. Yang jelas cantik karena anak ini sangat tampan. Mungkin seperti almarhum Maria yang pengertian dan sabar. Kenapa ingatan tentangnya selalu tidak lepas dari diri Alehandro, terasa membekas sampai saat ini. Di tinggal pas lagi sayang-sayangnya.
Kalau begini sifat cucunya mana bisa Alehandro lepaskan.
"Baiklah, biar ayahmu yang menyelesaikan ini."
Anaknya itu harus dia hajar biar bisa berpikir normal. Semakin cepat Maulana kembali ke Kediaman Cortez maka akan semakin baik.
Pintu rumah nampak dibuka, seorang wanita nampak keluar dari pintu itu. Maulana dengan cepat melepaskan seat belt dan keluar mobil
"Dah, Kakek, sampai berjumpa lagi di lain waktu." Anak itu langsung pergi sebelum Alehandro mengatakan sesuatu.
"Lana, kau dari mana saja, membuat Ibu cemas," teriak wanita itu pada Maulana. Dia memeluk Maulana dan menciumnya. Memeriksa apakah anaknya baik-baik saja.
"Aku jalan-jalan sendiri. Ibu, dimana yang lain?"
"Mereka sedang mencarimu."
"Kau pulang dengan siapa?" wanita itu melihat ada mobil sedan putih yang terparkir di depan jalan rumah.
"Aku pulang sendiri," ujar Maulana berbohong.
"Oh, jangan pergi lagi. Kau buat aku cemas. Maafkan ibumu ini karena mengatakan hal yang membuatmu sedih. Ibu tidak akan pernah mengatakannya lagi."
"Ayo kita masuk dan beritahu Tante dan lainnya kalau kau sudah pulang, mereka sangat khawatir padamu terutama Tante, dia menangis terus."
Uyun lalu menggendong Maulana masuk ke dalam rumah. Maulana sendiri melambaikan tangan pada Kakeknya yang masih ada di dalam mobil tanpa sepengetahuan Uyun.
Alehandro hanya bisa menghela nafas panjang.
"Kembali ke rumah," perintah Alehandro pada sopirnya sambil terus menatap ke rumah itu.
Sesampainya di rumah, dia langsung ke kamar dan mendapati Kaisar sedang duduk dengan wajah kacau dan frustasi.
"Ayah tidak tahu apa yang terjadi, tapi sepertinya Maulana sangat terguncang dan sakit hati dengan semua yang terjadi."
Kaisar mengangkat wajahnya menatap pria paruh baya yang ada di depannya.
"Kenapa Dad membawa anakku pergi? Biarkan dia tinggal di sini! Dad, tidak ada hak melakukan itu!"
"Dad menyesal membawanya kemari kalau sikapmu seperti ini."
"Lalu aku harus bagaimana?" teriak Kaisar emosi dan putus asa.
"Kau harus selesaikan masalah yang kau buat enam tahun lalu. Kau hamili dua orang wanita di saat yang bersamaan dan kau biarkan wanita lain hamil dan melahirkan tanpa pertanggungjawaban darimu."
"Dad, kau tahu aku hilang ingatan waktu itu," ujar Kaisar geram.
"Oh ya, aku lupa," ujar Alehandro duduk di kursi single dekat jendela. Dara sendiri lalu memberikan segelas air putih pada suaminya.
"Terimakasih, Sayang, kau memang selalu tahu apa yang kubutuhkan."
"Maulana mengatakan jika kau harus melupakannya karena tidak ingin melihat ibunya sedih. Jika tidak, ibunya akan membawa Maulana pergi jauh."
Kaisar bangkit dari tempat duduknya dengan wajah merah padam setelah mendengar itu.
"Tidak akan kubiarkan dia menjauhkan anakku dariku!"
"Maulana juga tidak ingin kau menjadi ayahnya. Sepertinya dia kecewa padamu. Andai kau membawa dia dengan paksa, yang ada dia akan membencimu seumur hidupnya."
Kaisar menghentikan langkahnya. "Dad, jangan menghentikan langkahku. Aku tahu apa yang harus kulakukan."
"Yang perlu kau lakukan adalah selesaikan dulu masalahmu dengan Cantika baru kau dekati Maulana dan juga ibunya yakinkan mereka bahwa mereka layak untuk bersamamu. Itu jika kau memang benar menginginkan mereka."
Alehandro tadi sudah mendengar jika Farida beberapa bulan ini bekerja bersama dengan Kaisar dan ada indikasi kedekatan mereka. Bahkan berita dan rumor itu sempat terdengar santer di pemberitaan media karena basic Cantika sebagai mantan Puteri kecantikan negeri ini.
"Apakah sebutan haram dari Alisa yang membuat anak itu sakit hati?" gumam Kaisar yang masih bisa didengar yang lainnya.
"Mungki, soalnya tadi dia mengatakan jika di rumah itu dia sudah orang tua dan orang-orang yang menyayanginya. Dia tidak membutuhkanmu," timpal Dara membuat Kaisar terkejut dan membuang nafas keras.
Pria itu menghela nafasnya panjang.
"Nampaknya ini akan menjadi PR untukmu."
Alehandro membuka jas yang dia gunakan dan memberikan pada istrinya. "Ingat Kai, kau harus bisa membawa cucuku itu tanpa paksaan kemari secepatnya. Namun, sepertinya itu tidak mudah karena dia sangat cerdas. Semua tergantung dari ibunya."
Alehandro melirik ke arah Kaisar. "Dia mengatakan jika dia tidak akan memaafkan orang yang buat ibunya menangis." Plintirnya.
Wajah Kaisar nampak tegang.
"Dia anak yang baik," imbuh Dara.
"Dia mirip denganku, tidak suka melihat seorang wanita menangis," tandas Alehandro. "Aku suka anak itu."