One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 68 Aku Sangat Membencimu.



Kaisar menatap ke arah Farida. "Tidak boleh katanya, kalau begitu biar boleh harus menikah dulu? Hanya saja ibumu mau atau tidak?"


"Lana, kau bilang kau mau punya Virtual reality, lihat di sana ada," tunjuk Farida ke arah etalase di belakang kasir. Dia melakukan ini untuk mengalihkan pembicaraan.


"Wah, benar, Ayah aku mau itu," ujar Maulana menarik tangan Kaisar.


Tangan Kaisar yang lain memeluk erat pinggang Farida untuk mendekat. Membuat wanita itu terkejut.


"Kau pandai sekali mengalihkan pembicaraan. Aku kira harus menghukummu lebih karena telah menipuku!" bisiknya di telinga Farida membuat wanita itu meremang.


Sepanjang mereka belanja, tangan Kaisar selalu memegang tangan Farida atau memeluknya. Tidak sedetik pun dia lengah, membuat Farida merasa canggung.


Pria itu tidak perduli ketika ada orang mengambil foto kebersamaan mereka. Dia membiarkannya.


Farida sendiri berusaha untuk lepas dari Kaisar, tapi tetap tidak bisa.


"Pak, lepas!" ujarnya kesal ketika mereka ada di satu outlet pakaian anak-anak brand terkenal. Kaisar sengaja memakai kartu VVIPnya agar mereka bebas memilih apa saja yang mau dibeli.


Maulana seperti seorang anak raja yang sedang dilayani oleh semua pegawai toko itu. Sedangkan Kaisar memaksa Farida duduk di sebelahnya.


"Jangan harap aku lepaskan lagi!"


"Kau tidak ada hak melakukan ini padaku," ujar Farida dengan suara rendah agar tidak terdengar siapapun.


"Baiklah, kau akan kulepaskan, tapi tidak Maulana. Dia ikut bersamaku!''


Wajah putih Farida nampak memerah. Menahan marahnya.


"Seharusnya aku yang marah karena kau menyembunyikan Maulana dariku. Aku bisa saja menuntutmu," ujar Kaisar.


"Hah! Menuntut apanya? Kau bahkan tidak ingat apa yang terjadi. Jadi ada atau tidaknya Maulana tidak ada yang berbeda. Kau juga sudah punya Alisa."


Wajah Kaisar di dekatkan ke wajah Farida hingga hidung mereka saling bersentuhan. "Kau lupa aku bisa melakukan apapun!"


"Kau bukan Tuhan, Pak!" Farida memalingkan wajah ke samping sehingga pipinya tanpa sengaja bersentuhan dengan hidung Kaisar.


"Tapi mulai sekarang aku akan menjadikanmu milikku!"


Terdengar suara deheman dari arah depan membuat sejoli itu grogi. Mereka sejenak lupa kalau mereka ada di tempat terbuka.


"Tuan, Nyonya, Tuan Muda sudah memilih baju dan aksesoris yang dia sukai. Kalian bisa melihatnya."


Maulana lalu keluar dari ruang ganti dengan gaya barunya seperti seorang rapper.


"Ini bagus tidak Ayah?" tanya Maulana.


Kaisar memberikan tanda Okey dengan jarinya. Manajer itu lalu membawa sederet baju dan perlengkapan lainnya ke depan Kaisar.


"Semua ini sudah di pilih oleh Tuan Muda kecil. Dia punya selera yang bagus. Sama seperti Anda dulu, Tuan."


Kaisar menganggukkan kepala. Outlet ini adalah langganan keluarganya dulu jika ingin membeli pakaian anak-anak. Jadi managernya mengenal Kaisar.


Setelah puas berbelanja untuk Maulana, Kaisar mengajak Farida pergi berbelanja untuk dirinya, tapi wanita itu menolak. Dia ingin kembali ke tempat kost.


Bukan Kaisar jika tidak memaksakan apa yang dia mau. Dia membawa paksa Farida dengan menggendongnya di bahu. Maulana sendiri di gendong oleh anak buah Kaisar yang sedari tadi menjaga mereka.


Wanita itu dimasukkan ke dalam mobil setelahnya Maulana masuk dan Kaisar duduk di pinggir.


Maulana malah tertawa melihat ibunya diperlakukan seperti itu. Dia bahagia karena punya ayah dan ibu yang sebenarnya. Mereka memang terlihat mencintainya.


"Bu, kau jangan marah-marah terus. Ayah tidak nakal kok."


"Bagus, sekarang kau ada di pihaknya!" ujar Farida kesal.


"Ayah hanya ingin yang terbaik untuk kita. Benar begitu, Yah?"


"Anak yang pintar," ujar Kaisar bertos ria dengan putranya.


Mobil membawa mereka ke sebuah pemukiman kelas menengah ke atas. Lalu masuk ke sebuah rumah dan terus masuk ke garasi bawah tanah. Sedangkan di belakang mobil itu ada juga mobil anak buah Kaisar yang mengikuti mereka sedari tadi.


Pintu mobil di buka oleh para ajudan Kaisar. Mereka lalu keluar dari sana.


"Wah, ini rumah ayah?" tanya Maulana takjub. Baru di ruang garasi saja dia sudah dibuat melongo. Selain desain garasi yang seperti gotik di sana juga ada beberapa mobil mewah lainnya.


Maulana mengangguk.


"Kau bisa memilih mobil manapun yang ingin kau gunakan nanti."


"Wah, mobil-mobil ini seperti yang ada di mobil permainan milikku."


"Sekarang kau yang akan memilikinya secara nyata," ujar Kaisar. Pria itu lalu menggendong Maulana dengan satu tangannya dan tangan yang lain memegang tangan Farida dan mengajak wanita itu masuk ke dalam rumah.


"Ada empat lantai di rumah ini. Lantai pertama sebagai ruang basemen, ada garasi mobil dan juga ruangan bilyard, lantai kedua berisi ruang tamu, ruang utama, serta taman. Lantai kedua ada dapur, ruang santai keluarga dan ruang makan yang saling berdekatan. Lantai tiga ada lima kamar dan satu untuk ruang kerja ku dan lantai empat untuk kolam renang."


Kaisar menjelaskan semua detail rumah itu pada Farida dan putranya.


"Mungkin kalian lelah, sebaiknya kita langsung saja ke kamar." Mereka lalu menuju ke lantai ke tiga tempat di mana kamar mereka berada.


Mereka keluar dari lift yang membawa mereka langsung ke atas. "Aku sudah menyiapkan kamar untukmu, Lana."


"Kamar untukku? Aku sudah tidak sabar untuk melihatnya." Seorang pelayan lalu membuka salah satu pintu kamar. Maulana lalu masuk ke dalam kamar itu.


"Wah ini sangat bagus. Jendela kamarnya besar dan aku paling suka dengan gambar di tembok ini. Gambar ini seperti kita berada di luar angkasa. Lihat ke atas, seperti ada bintang dan bulannya."


"Kau suka?" Melihat tanggapan Maulana membuat Kaisar merasa lega karena anaknya ini tidak seperti Alisa yang susah untuk dimengerti keinginannya. Jika anak itu tidak merasa cocok pasti akan di rubah semuanya.


Maulana mengangguk senang.


"Kamar ini ada tiga ruangan. Satu ruang tidur, satu tempat kau meletakkan semua mainanmu dan satu ruangan lainnya berisi kamar mandi serta ruang ganti yang nantinya akan diisi semua pakaianmu."


"Kapan Ayah menyiapkannya?"


"Setelah aku bertemu denganmu, Nak."


Kaisar lalu menyuruh anak buahnya untuk membawa semua barang belanjaan milik Maulana ke kamar ini.


"Sekarang kau boleh menaruh dan mengatur semua barang yang kau beli tadi. Biar nanti dibantu oleh Mbak ini dan juga Agus."


"Okey, Ayah. Aku tidak menyangka kau akan sebaik ini padaku," kata Maulana.


"Kau harus tahu jika aku sangat menyayangimu, jangan pernah meragukan itu," ucap Kaisar sambil memegang kedua pipi Maulana lalu mencium dahi anaknya.


"Sekarang biarkan Ayahmu membawa ibumu ke kamarnya."


"Ingat! Jangan satu kamar kalau belum menikah Ayah," ingat Maulana pada ayahnya. Itu karena dia ingin ayah dan ibunya menikah lagi dan dia tidak dikatakan sebagai anak haram. Kaisar mengangguk, lalu membawa Farida keluar.


"Lihatlah, anakmu itu sangat pandai sekali. Kau mendidiknya dengan baik."


Kaisar lalu membawa Farida ke kamar yang ada di sebelah kamar itu. Sebuah kamar yang indah karena langsung tertuju ke sebuah balkon dengan tembok dari kaca. Sehingga bisa melihat pemandangan keluar dari kamar.


Balkon itu mengarah ke taman belakang rumah yang berisi dengan aneka binatang dan bunga-bunga. Ruangan kamar itu juga seperti kamar di hotel bintang lima. Sangat indah dan mewah.


Namun, bukan itu yang Farida pikirkan.


"Aku masih menahan diri karena tidak ingin terlihat bertengkar di depan Maulana, tapi tidak kali ini. Ini sudah sangat keterlaluan."


"Keterlaluan?" ejek Kaisar.


"Ya, kau memaksa kami untuk datang ke sini!"


Kaisar lalu menarik tangan Farida dan memeluk pinggangnya erat dengan kedua tangan.


"Aku tidak akan melakukan ini jika kau tidak mencoba memisahkan ku dari Maulana!"


"Maulana itu milikku, aku yang mengandungnya walau bertaruh nyawa, aku yang melahirkan, merawatnya dan aku pula yang membesarkannya."


Farida menatap berani pada dua bola mata Kaisar.


"Hanya karena kau menodaiku dan meletakkan cairan menjijikkan itu di rahimku, tidak langsung bisa mengatakan bahwa anak itu adalah milikmu, walau benar kau ayahnya!"


"Farida, aku sudah menahan emosi ku dan berusaha untuk memberikan yang terbaik untukmu. Jangan buat aku kehilangan kesabaran!"


"Aku tidak takut padamu dan satu lagi, aku membencimu, sangat membencimu!" seru Farida kesal berusaha melepaskan diri.


Bukannya dilepaskan pelukan Kaisar malah semakin erat, membuat tubuh Farida semakin menekan pada tubuh Kaisar.