One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 76 Penghalang Terbesar



Kaisar terkejut melihat ayahnya berada di rumah ini. Farida mengikuti arah pandang Kaisar. Dia langsung merasa grogi melihat kedua orang tua pria itu. Bingung harus bagaimana.


Maulana sendiri langsung berlari ke arah Alehandro. "Kakek, kau datang."


Alehandro lalu bangkit menyambut cucunya itu. "Ya, aku kemari setelah tahu kau ada di sini. Aku merindukanmu, jagoan kecilku."


"Lihat, cucu Kakek sudah bertambah besar," puji Alehandro yang hanya mendapatkan wajah manyun Maulana.


"Tidak mungkin langsung berubah besar Kakek. Lihat aku masih kecil."


"Oh, ya kau masih sama seperti kemarin," ujar Alehandro memasang kembali kacamata.


Dara sendiri tersenyum melihat hal itu.


"Nenek," sapa Maulana.


"Hallo, Sayang. Bajumu basah, kau ganti baju dulu. Nenek membawakanmu banyak pakaian."


"Pakaian dari ayah juga banyak dan belum kugunakan semuanya. Baru tiga yang kupakai."


"Kau mau beli pakaian seratus pun itu tidak masalah untuk kakek."


"Mom, Dad, kapak kalian datang," sapa Kaisar.


"Dari tadi."


"Tidak baru sepuluh menitan saja," timpal Dara.


Farida yang merasa canggung, gugup dan panik mendatangi mereka. Dia tersenyum canggung pada semuanya.


"Om Ale, Tante Dara," sapa Farida.


"Sepertinya aku mengenalmu," ledek Alehandro menurunkan kacamatanya.


Dara menyenggol lengan suaminya. Merasa tidak enak.


"Dad, kau sudah tahu siapa Farida, jangan dibahas lagi."


"Aku hanya bingung bagaimana transgender bisa hamil gitu lho, Sayang."


"Dad, Sayang!" Dara dan Kaisar memanggil Ale bersamaan dengan kesal.


Seorang pelayan datang membawa handuk untuk mereka. Dara langsung menyerahkan pada Farida.


"Permisi, saya mau ke kamar dahulu untuk mengganti pakaian."


Setelah Farida masuk ke dalam rumah. Alehandro langsung menonyor anaknya.


"Kenapa kau tinggal satu rumah dengannya? Bukankah kalian belum menikah?"


"Dad, kau yang bilang aku harus mendapatkannya dan jangan dilepaskan. Jadi aku membawa dan mengurungnya di sini."


"Kaisar!" seru Alehandro tertahan.


"Ekhem. Seperti ayahnya dulu," ujar Dara.


Alehandro yang diingatkan kejadian dulu lalu menyisir rambutnya ke belakang.


"Kau tahan mulutmu, agar aku punya sedikit wibawa di mata anakku," bisik Alehandro yang masih terdengar oleh Kaisar.


Kaisar sendiri menahan tawa lalu meninggalkan orang tuanya untuk mengganti pakaian.


"Kau, Dad belum selesai bicara."


"Nanti saja setelah makan siang," seru Kaisar.


Dia langsung menuju ke kamarnya dan membuka pintu begitu saja. Matanya melebar ketika melihat pemandangan indah di depannya.


Sayang untuk dilewatkan karena kedipan kedua sudah berdosa. Jadi asal belum berkedip maka itu halal. Pikirnya ngawur. Begitulah nasib orang yang sedang naksir dengan lawan jenis.


Jakunnya bergerak ke bawah melihat kulit putih tanpa penutup yang terkena sinar matahari. Sangat indah. Seketika adik kecil miliknya mulai bangkit dan menegak.


"Astaghfirullah, kau!" teriak Farida kesal. Dia langsung memakai kembali handuknya.


"Tidak sengaja maaf!'' kata Kaisar ikut gugup, dia lantas menutup pintu.


"Pak!" seru Farida.


"Maaf salah, harusnya keluar ya," ujar Kaisar kembali keluar kamar.


Sesampainya diluar dia mendengar suara pintu dikunci dari dalam.


Dia menyesali tindakan dirinya yang keluar dari kamar itu. Seharusnya dia merayu sedikit pada Farida. Walau awalnya menolak tapi biasanya wanita itu akan menerima. Sekedar ciuman tidak terlalu berdosa kan?


"Ekhem! Kau sedang apa di sana?" tanya Alehandro.


"Aku mau masuk kamarku," kata Kaisar.


"Dan di sana juga kamar Farida?"


"Iya, eh, maksudku kamarku sudah ku pindah di kamar sebelah ayah. Hanya saja barangku masih ada di dalam semuanya."


"Semalam kau tidur di mana?" interogasi Alehandro.


"Di sini," jawab Kaisar cepat lalu menutup mulutnya sendiri.


"Kai, jangan ulangi kesalahanmu untuk kedua kali." Bagaimana pun Kaisar tahu jika ayahnya adalah penganut agama yang baik. Dia melarang anak-anaknya untuk melakukan hubungan di luar pernikahan karena dia pernah nakal. Jadi dia tidak rela anaknya akan menjadi seperti dirinya.


"Tidak Dad, kau boleh percaya padaku kalau aku tidak akan menyentuhnya sebelum kami menikah."


"Percaya? Maulana buktinya," balik Alehandro.


"Itu dulu Dad?"


"Yes, Dad."


"Karena itu, aku ingin pulang kembali ke rumahku. Ku mohon," ujar Farida yang tiba-tiba menyela pembicaraan ayah dan anak itu.


"Ida," panggil Kaisar keberatan.


"Jangan tambah masalahku dengan fitnah yang akan berkembang. Kau mungkin tidak peduli tapi bagaimana dengan Maulana. Para pencari berita pasti akan menulis kebersamaan kita jika sampai mereka tahu dan melihatnya. Jejak digital tidak akan pernah hilang dan di sini yang akan sulit menerimanya adalah Maulana karena ibunya dikira sebagai perusak rumah tangga orang. Walau kenyataan aku sendiri tidak tahu. Apakah memang aku penyebab rumah tanggamu hancur atau sebelumnya memang sudah hancur?"


Semua terdiam. "Aku tidak bisa membiarkanmu pergi dan menghilang lagi."


"Om dengar sendiri kan? Aku sengaja dikurung di tempat ini," ungkap Farida menahan amarahnya.


"Lepaskan dia Kai, berikan dia kebebasannya karena dia bukan milikmu."


"Tapi Dad!" Kaisar tidak rela jika Farida pergi dari rumah ini.


"Terimakasih banyak atas pengertiannya , Om." Wajah Farida tampak berseri-seri.


"Namun, satu hal yang harus diingat Farida, Maulana itu putera keluarga kami, maka dia akan ikut dengan kami. Suka atau tidak suka."


Kini tinggal Kaisar yang bisa menarik nafas lega. Ayahnya sangat bijak dan pandai.


"Tidak, dia anakku, harus ikut bersamaku," tolak Farida.


Alehandro tersenyum tenang. Dia mendekat kepada Farida dan berkata lembut padanya.


"Kau tidak bisa seegois itu, lima tahun dia bersama denganmu dan kini ijinkan dia tinggal bersama dengan ayahnya dan kami. Jika kau ingin menemuinya kau bisa ke rumahku dan jika kau ingin tetap bersamanya maka menikahlah dengan Kaisar. Hanya itu pilihannya."


Netra Farida memanas dan memerah, dia menggigit bibirnya keras-keras agar air mata tidak keluar.


"Lagipula anakku tidak begitu buruk. Dia tampan, kaya, dan kau mengenal sifatnya. Aku yakin kau akan mencintainya dengan hatimu," lanjut Alehandro.


Dara yang melihat Farida terpukul mendengar hal itu lalu mengusap punggungnya.


"Maksud kami itu bagus, kami ingin kau menjadi bagian dari keluarga kami segera setelah perceraian Kaisar dengan Cantika. Apakah kau keberatan?"


"Lagipula kulihat kalian itu pasangan yang serasi tadi. Jadi tidak masalah kan?" imbuh Alehandro memastikan calon menantu barunya bersedia menerima ini. Dia sendiri juga tidak rela andai Maulana dibawa pergi oleh Farida walau dia ibunya.


"Aku ... aku ...." Farida menatap semua orang di sana.


"Bu, menikahlah dengan Ayah agar aku punya orang tua yang selalu bersama seperti yang lainnya," pinta Maulana tiba-tiba dari arah belakang Farida.


"Mungkin kau butuh waktu untuk memikirkan ini. Kami tidak akan memaksamu jika kau memang tidak ingin," ujar Dara.


Alehandro ingin mengatakan sesuatu tapi oleh Dara dicegah. "Sebaiknya kita turun untuk membuat makan siang. Kau mau ikut?" ajak Dara pada Farida.


Farida mengangguk.


Mereka lantas pergi ke dapur sedangkan Kaisar pergi membersihkan diri sebelum ikut bergabung bersama dengan Ayah serta anaknya.


Alehandro terlihat bermain catur dengan Maulana. "Kau lihat Kai, aku tidak menyangka dia sudah menguasai permainan ini."


Kaisar mengusap kepala anaknya dengan lembut, lalu mengangkat dan memangkunya.


"Seharusnya ini tidak di sini, ini kesini," bisik Kaisar pada Maulana. "Lihat jika ini melangkah ke sini maka kakekmu yang licik akan memakan ratumu."


"Kau tidak bisa membantunya, Kai!" ujar Alehandro.


"Aku hanya memberinya saran," ujar Kaisar.


Maulana menganggukkan kepalanya. Dia bisa memainkan catur, tapi mengalahkan kakeknya juga hal yang sulit.


Sedangkan dari dapur bersih, Dara dan juga Farida bisa melihat kegiatan para pria di ruang keluarga yang tidak berseket dengan ruang makan dan juga dapur.


Mereka berdua terlihat sibuk menyiapkan makan siang.


"Kau lihat mereka sangat mirip satu sama lainnya dan kompak. Keakraban langsung tercipta walau baru bertemu Maulana beberapa kali saja. Memang darah tidak bisa dibohongi."


"Tante, cuminya ini sudah dipotong," ujar Farida mengalihkan pembicaraan. Dia sudah tahu arah dari perkataan Dara.


"Panggil saja Mom, itu terasa akrab dan untuk ayahnya Kaisar, Dad. Agar terbiasa."


Farida tersenyum kecut menanggapinya.


"Kau beri perasan lemon ke cuminya Farida. Kau bisa masak itu kan? Itu salah satu makanan kesukaan Kaisar dan ayahnya."


"Dimasak apa?" tanya Farida.


"Apa yang kau bisa." Dara sendiri sedang menguji apakah Farida bisa memasak atau tidak. Sekalian mengakrabkan diri bersama calon menantunya. Namun, dilihat dari cara Farida bekerja dia bisa tahu kalau Farida terbiasa berada di dapur.


"Cumi asam pedas, cumi saus tiram, cumi asam manis, asam cabai hijau atau apa? Aku bisa semuanya. Soalnya Maulana juga menyukai cumi jadi aku suka memasaknya."


"Nah kan kesukaan ayahnya menurun pada anaknya. Kau masak saja yang Maulana suka, aku rasa Kaisar pasti akan menyukainya juga."


Farida tersenyum tipis. Dia mulai mengerjakan pekerjaan itu sambil sesekali melihat ke arah Dara yang bercerita tentang kehidupan masalalu Kaisar.


Walau Dara sebagai ibu tiri Kaisar, tapi dia terlihat sayang dan perduli dengannya. Dia juga terlihat hangat seperti ibu pada umumnya. Sebenarnya Cantika memiliki kehidupan yang menyenangkan hanya saja nasib mengatakan lain. Ibu dan ayah mertua yang hangat dan suami serta anak yang sempurna. Kembali lagi, tidak ada yang sempurna dalam hidup ini.


"Sudah matang, Mom," tunjuk Farida pada masakannya. Dara lalu mencicipi.


"Ini enak sekali, lebih enak dari masakanku. Kau memang seorang istri idaman. Kaisar itu pria rumahan pasti akan suka mendapatkan istri seperti mu yang bisa mengurus anak dan dirinya dengan baik."


Dara lalu membisikkan sesuatu ke telinga Farida. "Pria itu memang suka dengan wanita cantik, tapi yang mereka butuhkan hanya perhatian penuh. Mereka seperti anak kecil yang suka dimanja, jika kau manjakan mereka, mereka tidak akan lepas darimu."


"Itu kelemahan Cantika, terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak bisa melayani suaminya. Bukan aku menyudutkannya. Aku sudah memperingatkan dia sebelumnya tapi dia abaikan dan kini dia menyesal. Mungkin sudah takdir."


"Aku lihat kau berbeda dari kakakmu itu. Aku sangat yakin kau bisa membahagiakan Kaisar karena enam tahun ini, terus terang aku tidak pernah melihatnya tersenyum lepas seperti saat dia tertawa bersama kau dan Maulana."


Dara berharap perbincangan antar wanita kali ini bisa merubah pemikiran Farida. Dia merasa Farida menyimpan sesuatu yang membuatnya menghalanginya untuk mencintai Kaisar.