
Setelah membersihkan diri Kaisar duduk di sofa bersama dengan Farida, menatapnya lalu tersenyum sendiri. Entah mengapa hatinya merasakan kelegaan yang teramat sangat.
"Ada apa?" tanya Farida sambil memberikan mangkuk berisi soto yang tadi dia pesan pada OB.
"Tidak apa-apa," ujar Kaisar mengambil soto itu dan makan. Kali ini dia makan dengan lahap. Baginya ini soto terenak yang pernah dia makan. Penyebabnya adalah karena dia merasa senang.
Setelah menghabiskan makannya dan membersihkan mulut dengan tisu, Kaisar mengambil tangan Farida dan memegangnya.
Farida menarik tangannya. "Bukan muhrim," ungkapnya.
Kaisar mengangkat satu alisnya lalu tertawa kecil. Dia tidak menyangka Farida akan mengatakan itu. Dia pikir Farida wanita bebas seperti kebanyakan wanita pada jaman ini. Lagipula tidak akan ada wanita yang berani menolaknya.
"Kalau begitu ceritakan padaku semua hal tentang kita dan aku akan mendengarkan."
Wajah Farida memerah. Dia tidak mungkin bercerita jika dia yang membawa Kaisar ke kamar dan kesalahan itu terjadi. Itu sama saja membuka aibnya sendiri.
Farida menggelengkan kepala. "Kau coba ingat sendiri saja. Itu adalah sebuah kesalahan yang tidak ingin kuingat lagi."
"Apakah aku berlaku buruk padamu? Memaksamu hingga kau tidak mau menceritakannya?" tanya Kaisar.
Farida meringis, menganggukkan kepala.
Kaisar menarik nafasnya panjang. Pantas saja dalam ingatannya wanita itu menatapnya dengan tatapan menyedihkan dan penuh dengan air mata.
"Maaf, kalau begitu."
"Semua sudah terjadi dan tidak perlu disesali karena aku sudah mencoba melupakan itu."
"Aku melupakan sebagian memori sewaktu kecelakaan menimpaku. Kata dokter itu akibat dari operasi otak yang dilakukan." Kaisar lantas memperlihatkan bekas luka jahitan yang tertutup oleh rambut. Memanjang.
Farida mengulurkan tangan menyentuhnya.
"Pasti sangat sakit," ujar Farida ngeri.
Kaisar tersenyum hambar. "Sebulan aku ditempat tidur dan tiga bulan masa pemulihanku, setahun kemudian baru aku bisa berdiri tegak dan berjalan normal kembali."
"Kapan itu terjadi?"
"Enam tahun lalu. Kau tahu, yang membuatku bangun dari koma saat itu adalah ingatanku akan dirimu yang sedang menangis. Bertahun-tahun aku mencarimu, tapi tidak kunjung kutemukan. Hingga aku merasa tidak asing melihat wajahmu sewaktu kita pertama kali bertemu di cafe waktu itu. Lama baru aku sadar jika wajahmu sangat mirip dengan wanita itu," terang Kaisar.
Farida hanya bisa tersenyum sedih.
"Kenapa kau tidak mengatakan jika kita punya hubungan?"
"Untuk apa? Aku sendiri ingin melupakan hal itu ... karenanya aku mencoba menjauh darimu."
Farida mengambil sebotol air mineral dan menenggaknya untuk mengatasi masalah grogi karena tatapan Kaisar terlalu dalam.
"Kenapa ingin menjauh? Apakah karena kau punya pria lain? Jangan katakan itu ada, demi apapun aku tidak ingin mendengarnya. Jikalau ada aku akan mengusir dia jauh dari dirimu," ujar Kaisar yakin, membuat Farida tertawa geli.
"Enam tahun sudah berlalu dan kita punya kehidupan sendiri-sendiri. Kau dengan istrimu dan aku dengan kehidupan pribadiku."
Kaisar tampak tidak setuju dengan pernyataan itu. Wajahnya yang tadi ceria kini berubah muram. Hal itu membuat Farida menghentikan tawanya.
"Ada apa?" tanyanya.
"Aku selalu mendapatkan apa yang aku mau, termasuk kau."
"Itu sangat menakutkan, tapi sayangnya aku bukan barang yang mau kau miliki. Hidupku adalah milikku sendiri," tegas Farida balik menatap kedua pupil mata Kaisar yang berwarna coklat.
Dia seperti melihat kedua mata Maulana di sana. Wajah mereka pun mirip. Bahkan 70 persen wajah Kaisar menurun pada Kaisar. Hanya bentuk alis dan senyum Maulana yang mirip dengan dirinya ujar semua orang yang tahu kenyataan itu.
"Aku bisa membuatmu mencintaiku hanya dalam waktu satu bulan, no ... satu Minggu saja cukup."
Farida menurunkan mulut dan dagunya ke bawah. Menahan senyum.
"Aku tidak akan jatuh cinta pada suami orang," bisiknya mendekat.
"Sudah kukatakan aku sedang mengurus perceraianku."
"Lalu, bagaimana kau akan menjadikan diriku tumbal perceraianmu? Orang mengira aku penyebab kau bercerai dengan istrimu?"
Kaisar merenggangkan tangannya di atas sandaran sofa sehingga satu tangannya berada di belakang punggung Farida.
Kepalanya menoleh ke arah Farida menatapnya intens.
"Aku slalu memikirkan setiap langkah sebelum maju ke depan."
"Maksudmu?"
Farida tidak mempercayainya. Setahu dia, semua pria akan mengatakan keburukan dari pernikahannya agar membenarkan sebuah perceraian. Dia ingin mencari simpati wanita yang dia sukai.
"Sungguh?"
Kaisar bisa melihat nada ketidakpercayaan Farida. Dia tersenyum miris.
"Mungkin saat ini kau tidak percaya apa yang kukatakan, tapi suatu hari kau akan percaya dengan apa yang kukatakan tadi."
"Hmm, aku sudah mengatakan tentang diriku. Kini giliran dirimu, katakan apakah ada yang kau sembunyikan dariku?"
Air muka Farida sedetik kemudian berubah, detik lainnya terlihat santai, seperti menutupi sesuatu hal.
"Sudah kukatakan tidak ada."
"Suami atau pacar?" tanya Kaisar lagi.
"Aku wanita yang sibuk dengan semua pekerjaan rumah dan juga mengurus usaha Kak Hanafi. Lagipula, kakakku adalah orang yang kolot dan punya pendirian agama yang kuat."
Semenjak kejadian tertembaknya Farida, Hanafi berhijrah, dia ingin menjadi pria yang lebih baik lagi dengan mendekatkan diri pada Tuhan.
"Dia pasti akan melarang pria yang hanya ingin bermain-main denganku. Dia sangat menjagaku."
"Baguslah kalau begitu, jadi aku tidak punya saingan."
"Bukan berarti aku akan menerimamu." Mereka terdiam untuk beberapa saat.
"Selesaikan dulu perceraianmu dengan Cantika. Aku tidak ingin ada fitnah yang terjadi."
"Baiklah jika itu maumu," kata Kaisar.
Kaisar merasa sedikit lega karena harapannya untuk bahagia sepertinya ada di depan mata.
"Pak, bolehkah aku meminta ijin pergi jam 2 siang."
"Untuk apa? Apa untuk menjemput Maulana, kalau iya, kita bersama saja karena aku juga ingin menjemput Alisa."
Tenggorokan Farida terasa tercekat, dia menggelengkan kepalanya. "Maulana ikut ibu dan ayahnya pergi ke luar kota."
Wajah Kaisar tampak terkejut, dia menyipitkan mata berusaha untuk membaca pikiran Farida.
"Kau pikir aku berbohong?"
"Aku tidak mengatakan apapun."
"Tapi wajahmu?"
"Kenapa dengan wajahku?"
"Akh tidak apa-apa." Farida jadi canggung sendiri.
"Kau tahu yang kupikirkan?"
Farida menggelengkan kepala.
"Bagaimana rasanya berada di atas tubuhmu? Aku berusaha mengingatnya," ledek Kaisar mengalihkan pembicaraan.
Semakin kau berusaha menutupi sesuatu, semakin kecurigaanku padamu semakin besar.
***
Fadil sedang menunggu Ira mengambil obat di loket apotik sebuah rumah sakit. Mereka baru saja melakukan pengecekan kesehatan bersama.
Dia melihat ke arah handphone untuk mengecek apakah ada pesan yang masuk ketika mereka berada di dalam ruang dokter.
"Ayah," panggil seseorang dari belakang.
Fadil tertegun. Jantungnya berhenti berdetak sejenak.
"Ayah, aku di sini," panggil Farida lagi untuk kedua kalinya.
Di saat itu, dengan leher yang bergerak naik turun, Fadil menggerakkan kursi rodanya memutar agar bisa melihat arah belakang tubuhnya.
Kedua netranya yang mulai berwarna abu-abu menatap tidak percaya pada wanita muda yang ada di depannya.
"Airlangga? Tidak itu bukan kau, dia sudah mati," ujarnya ketakutan.