One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab 87 Jangan Ucapkan Kata Pisah!



''Kau ingatkan kasus kematian Hendri dan beberapa rekan kita dulu sewaktu ingin mengungkapkan sebuah kasus besar?" tanya Komandan Aris.


"Mana mungkin saya melupakan kejadian itu, komandan. Mereka meninggal karena saya lalai dalam bertugas," jawab Emilio sedih. Inilah alasan dia mengundurkan diri dari kesatuan karena merasa tidak becus menjaga teman-teman seperjuangannya.


"Jangan terus menyalahkan diri sendiri," ujar Komandan Aris sambil menepuk punggung Emilio.


"Nah kasus yang akan kita tangani ini berhubungan dengan kasus itu," lanjut Komandan Aris. Hal itu membuat Emilio mengangkat kepala menatap pria yang berdiri di sampingnya.


Komandan Aris lalu menyuruh Ana menyalakan proyektor. Di sana nampak susunan sebuah kepengurusan mafia.


"Dulu kalian ingin mengambil bukti keterlibatan seorang jenderal dalam kartel jual beli narkoba. Untuk mengelabui pemerintah mereka membuat orang-orang di sekitar terlihat sedang melakukan perlawanan dengan pemerintah. Daerahnya di jadikan daerah rawan konflik agar tidak ada petugas keamanan yang bertugas. Ada pun itu adalah anak buah mereka."


Emilio menganggukkan kepalanya.


"Di saat itu, kita ingin melakukan penggrebekan gudang obat terlarang milik mereka. Sayangnya, ada yang membocorkan hal ini sehingga semua terjadi diluar perkiraan kita. Beberapa anak daerah itu melakukan pembakaran dan kerusuhan di desanya. Membuat panik penduduk dan tentunya kita juga. Kalian terjebak dalam masalah ini dan akhirnya ... Bamm! Semua menjadi korban kejadian itu." Aris mengingatkan Emilio kembali pada kejadian itu.


Emilio menutup mata dan mengepalkan tangannya mengingat hal itu. Itu adalah trauma mendalam yang dia alami selama ini. Membuat dia tidak bisa tidur dengan nyenyak setiap malam. Namun, setelah ada Rose semua terasa berbeda. Dia menjadi sosok yang lebih tenang.


"Kini bukan hanya bisnis barang terlarang yang mereka lakukan. Mereka juga membuat bisnis judi online dengan omset ratusan trilyun. Presiden sengaja memintaku untuk membuka kembali kasus ini dan membawa mereka yang terlibat di dalamnya. Secara khusus dia memintaku untuk membawamu kembali bergabung."


"Ini bukan kasus mudah karena lawan kita bukan orang biasa," sela Emilio. "Sudah cukup beberapa orang rekanku yang terbunuh sia-sia, aku tidak ingin lagi ada yang dikorbankan dalam misi ini. Apalagi rekan yang kukenal. Kami semua dijadikan tumbal untuk masalah ini. Mereka meninggal tanpa tanda jasa padahal sedang berjuang demi kesatuan negara kita. Aku difitnah sebagai penyebab misi dulu gagal. Sudah cukup! Aku tidak mau terlibat lagi."


Emilio berdiri berjalan meninggalkan tempat itu. Semua yang ada di sana saling menatap, bingung.


"Hanya kau yang tahu seluk beluk masalah ini. Apakah kau ingin banyak orang yang jadi korban dengan dalih pemberontakan padahal itu hanya sebagai pengalihan masalah."


"Aku sudah tidak tergabung dalam TNI lagi, jadi sudah bukan kewajibanku untuk ikut masalah ini. Di sini aku hanya bekerja sebagai Informan bukan sepenuhnya ikut terlibat. Kau bisa menghubungi orang lain yang lebih berkompeten."


"Jika kau tidak membantu maka nama enam sahabatmu yang terbunuh akan tetap buruk. Mereka tercatat sebagai pemberontak. Adalah kewajibanmu untuk memperbaiki nama baik semua orang yang pernah bekerja bersamamu," ujar Jendral Handika yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu menghentikan langkah kaki Emilio.


"Komandan!" Semua orang lalu berdiri memberi hormat.


"Hanya ini satunya caramu untuk memperbaiki nama baikmu dan rekan-rekanmu yang gugur itu. Aku yakin kau bisa." Jendral Handika menepuk bahu Emilio.


Emilio hanya terdiam.


"Kali ini kau hanya perlu masuk menjadi anak buah kepercayaan dari Samson. Dia adalah tangan kanan dari orang penting ini. Melalui Samson semua kejahatan orang ini dilakukan. Orang ini hanya bekerja dibalik layar," terang Jendral Handika.


Dua jam kemudian dia sudah berada halaman rumahnya. Pintu rumahnya mulai terbuka. Sosok cantik berdiri di sana, menyambutnya dengan seulas senyum yang indah.


Emilio menarik nafas panjang. Dia lalu turun dari mobil dan pergi mendekat ke arah istrinya.


"Kau pulang lebih awal?" tanya Rose.


"Tidak banyak pekerjaan." Emilio mencium kening Rose.


Rose sendiri terdiam. Nampak berpikir. "Sebenarnya apa pekerjaanmu? Satu bulan menikah dan kau tidak pernah mengatakan apa pekerjaanmu itu? Aku jadi khawatir."


"Sesuai dengan kemampuanku. Sebagai menjaga keamanan."


"Menjaga keamanan?"


"Mengapa tidak bekerja bersama dengan Kau lagi?" tawar Rose.


"Aku tidak punya harga diri jika bekerja pada keluargamu."


"Huft, harga dirimu memang sangat tinggi sekali."


"Itulah yang dipegang oleh seorang pria sejati. Kehormatan dirinya. Sedangkan kehormatan seorang pria ada pada istrinya. Jika dia bisa membuat istrinya senang dan bangga padanya maka pria itu menjadi pria berhasil dalam hidupnya."


Pipi Rose mulai memerah. "Kau selalu pandai berkata-kata."


"Hanya denganmu," ujar Emilio.


"Aku tidak percaya," kata Rose.


"Tidak, aku memasaknya sendiri tadi." Rose lalu memperlihatkan kuku tangannya yang pendek padahal biasanya panjang dan penuh dengan hiasan indah.


"Kau tidak perlu melakukan ini," ujar Emilio memegang tangan Rose dan menciumnya.


"Aku hanya ingin seperti wanita lainnya, memasakkan sesuatu untuk suaminya."


"Terimakasih, tapi tidak perlu memaksakan diri. Aku bisa melakukannya untukmu," ujar Emilio. Selama ini memang Emilio yang memasak jika pria itu ada di rumah.


"Aku bosan berdiam diri terus di rumah tanpa melakukan sesuatu. Mbok Ijah pun melarangku membantunya," ujar Rose menekuk wajahnya.


Emilio lalu membuka tudung saji itu dan melihat ada telor dadar di atas meja dan sayur asam.


"Aku hanya bisa memasak ini."


Emilio tersenyum, lalu menarik kursi untuk istrinya baru dirinya. Mereka lalu duduk berdekatan. Ini adalah pertama kalinya Rose memasak untuk dirinya. Terasa sesuatu sekali baginya.


Rose melayani Emilio dengan baik. Emilio melihat masakan itu dan mulai makan. Dia mulai mengunyah pelan. Terdiam.


"Bagaimana rasanya? Enakkan?" tanya Rose antusias.


"Enak sekali," jawab Emilio memakan masakan itu dengan semangat. Hati Rose berbunga.


"Tadi aku bingung untuk memasaknya. Padahal sebelumnya aku sudah melihat tutorial cara memasaknya di internet. Akhirnya aku menghubungi ibu untuk mengajarkannya. Jadi selama aku masak, Ibu ...." Perkataan Rose terhenti ketika dia mulai memasukkan makanannya ke dalam mulut. Seketika dia memuntahkan kembali makanan itu. Meminum air tawar dari gelas di depannya.


Setelahnya, dia hendak mengambil piring milik Emilio, tapi oleh pria itu dicegah.


"Buang saja, ini tidak enak."


"Kata siapa, aku memakannya. Ini enak," jawab Emilio memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya. Mengunyahnya seperti biasa.


"Ini sangat asin dan rasanya ...," ungkap Rose sambil menjulurkan lidah.


"Ini adalah masakan pertamamu. Kau memasaknya dengan sepenuh hati untukmu hingga kau rela mengorbankan tanganmu yang indah ini. Lihat ada luka irisan pisau di sini." Emilio memegang tangan Rose dan menunjuk ke arah luka kecil di jarinya.


"Padahal selama ini kau hidup sebagai putri raja, tapi demi diriku kau mau melakukan hal sepele ini. Ini bukan sekedar sepiring nasi yang kau sajikan, tapi sebuah pengorbanan besar yang kau lakukan untukku. Mana mungkin aku mengabaikannya. Terimakasih karena telah melakukan semua ini untukku."


Mata Rose berkaca-kaca. Mungkin di luar sana ada banyak pria yang lebih menarik dari Emilio. Namun, hanya dia yang bisa membuatnya menjadi seorang Dewi yang sangat dipuja dan dicintai. Dengan Emilio dia merasa menjadi wanita yang paling sempurna.


Rose tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia memeluk Emilio, berharap hidup mereka berdua akan semakin baik ke depannya. Tiba-tiba dia merasa takut jika pria itu pergi dari hidupnya.


"Aku merasa beruntung bisa hidup bersamamu, menghabiskan waktu bersamamu. Andai pun aku akan mati esok hari, aku tidak takut lagi dan menyesalinya karena aku sudah merasakan kebahagiaan ketika bersamamu."


"Kau tidak akan mati semudah itu karena aku tidak akan pernah mengijinkan mu pergi lebih dulu dariku," jawab Emilio.


"Namun, penyakitku ini ...."


"Umur itu adalah urusan Tuhan. Namun, sebisa mungkin aku akan menjagamu seumur hidupku dengan raga dan jiwaku. Kau harus punya keyakinan besar jika kau bisa melewati semuanya dengan baik."


"Jadi berjanjilah kau tidak akan meninggalkan aku selamanya."


"Aku berjanji akan selalu berada di sisimu walau aku mungkin aku tiada nanti."


"Mengapa kau mengatakan ini? Aku tidak suka!" ujar Rose melepaskan pelukannya.


"Umur orang tiada yang tahu, tapi percayalah aku akan selalu berada di sisimu, menemanimu."


Rose menutup mulut Emilio dengan tangannya. "Kau membuatku takut saja. Di sini aku yang sakit bukan kau, seharusnya aku yang mengatakan itu. Tapi kau malah ...." Rose tiba-tiba menangis.


"Kok malah menangis?" ujar Emilio mengusap pipi Rose. Bukannya menjawab Rose malah memasukkan dirinya pada tubuh Emilio.


"Jangan katakan soal perpisahan padaku di saat hubungan kita baru di mulai. Aku takut." Emilio mengusap kepala Rose dengan penuh kasih sayang.


Dia menghela nafas panjang. Misinya kali ini memang bertaruh dengan nyawa. Jika sampai gagal maka dirinya tidak bisa menjamin keselamatannya sendiri.