
Bagas menemani Cantika hingga wanita itu tertidur karena lelah menangis. Pria itu mengusap rambut Cantika dan mengecup pipinya.
"Sebenarnya apa yang kau hadapi selama aku tidak ada hingga membuatmu seperti ini?" Bagas menghela nafasnya.
"Bukankah semua kau miliki? Anak, suami dan harta, terlihat sempurna dari luar. Nyatanya, kini ku melihat sisi lemahmu ini."
"Katakan padaku semuanya. Sama seperti dulu kau selalu menceritakan masalahmu padaku. Kini katakan juga. Aku akan ada di sini mendengarkanmu dan mengatasi semua masalahmu, sebisaku membantumu."
Tubuh Cantika menggigil kedinginan karena terkena udara AC yang dingin. Bagas langsung menutupinya dengan selimut.
Hape yang dia letakkan di atas nakas terlihat bergetar. Dia lalu bangkit, mengambilnya. Membaca notifikasi yang masuk.
Ada sebelas panggilan masuk dan banyak chat. semua dari istrinya yang sedang mencarinya.
Sebuah panggilan kembali masuk. Bagas menimbangnya. Menatap ke arah Cantika. Lalu mematikan handphonenya.
Dia merasa menjadi pria Balingan saat ini karena mengabaikan istrinya yang sedang terbaring di rumah sakit dan menemani wanita lain. Namun, cinta ini tidak bisa dia tahan.
Apalagi setelah mendengar apa yang Farida katakan. Itu sedikit banyak mengganggu pikirannya. Alisa nama anak itu. Saat ini sedang membutuhkan kasih sayangnya.
Sedangkan Cantika, adalah cintanya. Alangkah indahnya jika mereka bisa bersatu setelah semua yang terjadi.
Namun, bagaimana dengan istrinya Nilam? Dia begitu baik. Mau menemaninya dari nol hingga kini bisa bangkit dan sesukses ini. Menjadi manager keuangan untuk sebuah perusahaan besar. Itu adalah impian banyak orang. Dia juga tidak bisa menyiakan istrinya begitu saja.
Di tempat lain.
Sebuah mobil taxi on line masuk ke sebuah rumah di dekat tebing pantai. Semua anak buah Samson tampak mengamati mobil asing itu dari kejauhan.
Mobil berhenti di depan teras rumah Samson. Pintu terbuka dan terlihat Ira keluar dari mobil itu dengan tergesa. Wajahnya nampak kacau, namun sedikit tertutup oleh kacamata hitamnya.
Ira, masuk ke rumah ini seperti dia pemiliknya. "Dimana Samson?" tanya Ira.
"Oh, Bos sedang ada di halaman belakang," jawab salah seorang penjaga rumah.
Ira langsung pergi ke halaman belakang rumah itu. Ketika dia berada di pintu belakang rumah itu. Ira melihat Samson sedang menembak seorang pria. Ira memekik keras karena terkejut.
Samson melirik wanita paruh baya itu. Lalu membersihkan senjata api miliknya dengan sapu tangan sebelum masuk kembali ke balik bajunya.
"Bawa mayatnya ke lubang buaya di bawah tanah agar di santap oleh Sweety dan Kencana," perintah Samson dengan ekspresi dingin pada anak buahnya.
Wajah Ira terlihat sumringah untuk sesaat. Detik kemudian dia mengacak sedikit rambutnya dan membasahi sudut mata dengan air liurnya.
Dia lalu mendekat ke arah Samson dengan langkah gontai dan wajah seperti orang tersiksa.
Anak buah Samson membawa dua orang tadi ke lubang buaya sedangkan beberapa pelayan membersihkan bekas darah yang bercecer. Samson mulai menyadari kedatangan Ira. Dia menoleh ke arahnya. Terkejut melihat penampilan wanitanya.
"Ada apa?" tanyanya berjalan mendekat. Ira sendiri tidak mengatakan apapun. Dia hanya memeluk Samson dan menangis. Akhirnya, Samson membawa Ira ke ruang kerjanya.
"Apa yang terjadi?" tanya Samson lagi sambil menuangkan segelas minuman keras dalam botol ke sebuah gelas. Dia lalu menyerahkan pada Ira. Ira langsung menenggak habis minuman itu.
"A... anak jelong itu dia merusak semua rencana yang telah kubuat selama puluhan tahun ini," ucapnya dengan berapi-api dan penuh kebencian. Tangannnya memegang erat pegangan gelas.
Samson duduk di kursi single yang lain, berhadapan dengan Ira. Berpikir.
Samson menyoroti Ira dengan tajam.
"Aku tahu, kau pasti tidak percaya," ujarnya.
"Setahuku, kau bukan wanita yang mau ditindas oleh orang lain." Dengan tenang Samson menenggak sedikit minumannya.
"Kau benar, aku mencoba melawan dan membela diri. Tapi lihat apa yang mereka lakukan," ujar Ira memperlihatkan tangannya yang memerah dan lututnya yang berdarah.
"Suami Cantika mencekalku dan mendorongku ke lantai ketika aku mencoba membela putriku yang dihina oleh mereka."
Samson menyipitkan matanya. "Kaisar Cortez ... ? Mengapa dia membela anak itu?"
Ira meletakkan gelasnya dengan keras ke atas meja kaca sehingga suaranya ketika dua benda itu bertemu terdengar.
"Cih... sebutan anak terlalu bagus untuknya. Dia seperti ibunya, perebut suami orang. Bacingan kecil yang mematikan. Dia merebut suami anakku dan kini ingin menguasai harta anakku. Kenyataan paling beratnya adalah.... dia memberitahu Cantika jika Fadil bukan ayahnya," ucap Ira berhati-hati ketika mengatakan bagian kalimat terakhir.
Samson tampak terkejut mendengarnya.
"Kau berselingkuh dengan siapa lagi?" tuduhnya.
"Aku bukan wanita murahan yang mau dengan banyak pria." Ira mencoba main tebak-tebakan dengan Samson.
"Lalu, putrimu itu...?" Samson mulai berpikir. "Sial! Kenapa kau tidak mengatakan hal ini dari dulu?"
Ira menundukkan wajahnya dengan penuh luka. "Maaf, saat itu aku kalut, kau dipenjara sedangkan aku di jodohkan dengan Fadil. Aku tidak tahu harus melakukan apa, jadi aku menerima semua perjodohan itu agar anakku mempunyai seorang ayah."
Dia harus mencari alasan tepat untuk masalah ini. Jika tidak, salah-salah dia yang akan menjadi makanan Sweety dan Kencana. Itu mengerikan.
"Kenapa kau merahasiakannya dariku! Itu yang kutanyakan!" bentak Samson mengerikan sambil melempar gelas ditangannya ke arah tembok. Hal itu, membuat semua orang yang mendengar pertengkaran itu, ngeri dibuatnya. Burung-burung di luar rumah pun ikut terkejut, terbang dan pergi dari lingkungan itu.
"Aku harus mengatakan apa? Bahwa Cantika Putrimu? Setelah itu kau pasti akan menemuinya dan mengatakan itu padanya. Lalu bagaimana dengan putriku? Dia pasti akan hancur mengetahui kenyataan ini. Selama ini dia mengira mempunyai orang tua yang sempurna dan saling mencintai. Jika dia tahu dari dulu, dia pasti akan hancur. Apakah kau ingin melihatnya hancur, mengetahui kenyataan jika ayahnya adalah mantan narapidana obat terlarang juga seorang pembunuh?"
Samson terdiam.
Ira lalu menangis. "Namun, apa yang kujaga kini hancur semua dalam sekejap. Iblis itu yang memberikan foto kebersamaan kita di sini."
"Di tempat ini?" seru Samson. Dia lalu duduk menyandarkan kursinya sambil memukul tangan satu ke tangan lainnya dengan geram. Siapa yang coba-coba bermain dengannya dengan menjadi seorang penghianat.
Ira melirik ke arah Samson, lalu menyeka air mata buayanya. "Lalu dia juga memberitahu hal ini pada putri kita. Lalu Cantika...."
"Kemana dia, aku ingin menemuinya?"
"Dia pergi dengan keadaan kacau, aku tidak tahu dia pergi kemana. Aku sangat mengkhawatirkannya."
Ira lalu berlari ke arah Samson dan bersimpuh di kakinya. "Ku mohon, cari putri kita dan tolong dia. Aku takut dia berbuat nekad setelah didera semua permasalahan hidup yang menderanya sekarang. Kasihan dia, hidup sendiri tanpa ada dukungan siapapun."
Samson langsung bangkit. "Dia punya aku! Ayahnya."
Ira tersenyum tipis jahat dibelakang Samson.