One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 91 Mencoba Lagi



Kaisar sendiri memerintahkan anak buahnya untuk mencari kue brownies untuk Farida, dia sendiri pergi mencari bunga. Ketika berada di toko bunga dia terdiam memikirkan bunga apa yang tepat diberikan untuk Farida. Soalnya, selama ini dia hanya memberikan bunga sekedarnya saja, itu pun Betty yang memesankan. Dia hanya tinggal memberikan pada Cantika atau Ibu Dara juga Rose. Kali ini dia harus belajar banyak untuk mengambil hati seorang wanita.


"Mawar putih Bunga mawar putih mempunyai makna ketulusan, kesucian, keagungan, dan kemurnian dari sebuah cinta sejati. Bunga mawar ini bisa dijadikan hadiah untuk orang terkasih. Lalu, apabila kalian ingin melamar pasangan, bisa juga memberikan buket mawar putih sebagai hadiah lamaran untuk melanjutkan hubungan ke tahap pernikahan. Mawar merah ini memiliki arti "Aku mencintaimu" atau "Maafkan aku," dan perasaan lainnya yang mungkin enggan diucapkan langsung."


"Kalau begitu aku minta buket bunga mawar merah seratus batang," pesan Kaisar setelah mendengar ucapan penjual bunga.


"Siap, Tuan," jawab penjual itu bersemangat.


"Sepuluh menit selesai jika tidak, pesanan ini gagal." Penjual itu tertegun sejenak tapi dia langsung menggarap permintaan itu.


Kaisar melihat ke arah jam tangannya dengan was-was. Dia khawatir terlambat datang ke acara makan malam bersama dengan Farida. Jika iya, rencananya akan gagal.


Tidak lama kemudian anak buah Kaisar berlari mendekati Tuannya sambil membawa kotak berisi brownies.


"Tuan, ini kuenya," ujar anak buah itu sambil ngos-ngosan.


"Terlambat satu menit saja, kalian akan kupecat dan kubiarkan berkeliaran di sini sendiri."


"Jangan, Tuan," rajuk anak buah Kaisar.


"Tuan, ini bunganya telah siap," ujar penjual bunga menyerahkan buket bunga raksasa. Kaisar tersenyum senang. Dia lalu membawa bunga itu ke apartemen Farida yang lokasinya tidak jauh dari toko bunga itu.


Kaisar membunyikan bel setelah sampai di apartemen Farida.


"Siapa lagi itu?" tanya Farida yang sedang menyajikan makanan ke meja.


Maulana menatap ke arah kakeknya lalu mengendikkan bahu.


"Tolong buka pintunya, Lana," pinta Farida.


"Aku mau ke kamar mandi, Ibu," jawab Lana sambil turun dari kursinya dan berlari ke arah kamar mandi.


"Hati-hati, jangan lari, nanti jatuh," seru Farida. Dia lalu berjalan menuju ke arah pintu rumah. Hati kecilnya berharap jika itu Kaisar tapi sepertinya itu tidak mungkin.


Lalu muncullah sosok Kaisar dari belakang bunga itu.


"Kai, ini untuk apa? Kau tidak perlu membawanya," ujar Farida dingin. Dia lalu membalikkan tubuh sambil menggigit bibirnya, tersenyum tipis.


"Ini sebagai bentuk ucapan maafku, tolong terimalah," pinta Kaisar dengan wajah memelas. Farida membalikkan tubuhnya. Menatap Kaisar yang menekuk satu kaki ke belakang, menatapnya.


"Kau tidak punya salah apapun, jadi untuk apa minta maaf."


"Aku melakukan banyak kesalahan padamu dan aku mungkin tidak pantas untuk dimaafkan, tapi aku punya keyakinan kau akan memaafkan ku," ujar Kaisar penuh harap.


"Dari dulu dan sampai sekarang kita tidak punya hubungan dan ikatan apapun, jadi kau tidak perlu meminta maaf."


Kaisar menelan air ludahnya dengan sulit, menatap ke arah bunga di depannya.


"Aku menyukaimu, Farida dan ingin menghabiskan sisa hidup bersamamu," ujar Kaisar dengan suara rendah.


"Menghabiskan sisa hidup bersama itu sangat lama, tanpa cinta dan komitmen itu semua hanya omong kosong," jawab Farida.


"Aku baru sadar jika aku mencintai."


"Kau tidak mencintaiku. Kau hanya butuh putraku untuk menjadi pewarismu."


"Itu tidak benar, aku sangat mencintaimu."


"Jika kau mencintaiku, mengapa kau meninggalkanku dulu?"


Sejenak, Kaisar terdiam. "Aku memang salah saat itu. Tidak bisa berpikir jernih. Kenyataan itu sungguh memukulku dengan begitu dalam. Anak yang selama ini kukira anakku dan kuberikan cinta dan perhatian besar malah bukan darah dagingku. Itu memang kenyataannya, tapi sangat sulit untuk menerima hal itu. Aku tidak akan memaksamu untuk mengerti tentang perasanku, tapi aku hanya ingin kau bisa melihat cinta tulusku."


"Bagaimana aku bisa melihatnya kalau kau tidak pernah memperdulikan kami. Lana bahkan terluka karena ulahmu."