
Hari demi hari dilalui oleh Farida dengan bahagia. Kesehariannya hanya berkisar tentang rumah saja. Mengurus ayahnya walau ada perawat yang membantunya. Mengurus putranya juga mengurus bayi besarnya yang lebih manja dari putranya. Suaminya ini lebih banyak mendominasi waktunya. Semua terasa mudah baginya.
"Kau akan mengajakku kemana?" tanya Farida pada Kaisar, suaminya. Mereka berada di dalam mobil, berbincang.
"Aku akan mengajakmu jalan-jalan ke mall kita pergi berbelanja."
"Berbelanja apa semua sudah ada di rumah."
"Uangku terlalu banyak jika hanya disimpan di dalam Bank saja. Aku ingin kau membantuku menghabiskannya." ujar Kaisar.
"Wii Sombongnya," timpal Farida.
Pria itu tersenyum kecil. Dia menatap putranya yang asik bermain gadget.
"Kau lihat Maulana. Dia bukan sekedar bermain permainan biasa, Dia sedang membuat aplikasi permainan dan mencobanya," terang Kaisar.
Maulana yang Mendengar pembicaraan orang tuanya menoleh dan menghentikan kegiatannya.
"Ayah sudah kubilang ini rahasia kita berdua," ucap anak itu.
Kaisar tertawa terbahak-bahak sedangkan Farida nampak tidak mengerti Apa arti perkataan suami dan anaknya.
" Lana membuat aplikasi?"
"Ya, Apakah kau tidak tahu bahwa anakmu ini sangat jenius?"
"Aku tahu kepandaiannya di atas rata-rata anak seusianya tapi tidak mengira akan sejauh ini."
Mengusap kepala putranya.
"Dia menuruni kepandaianku."
"Hah? Tidak salah, kepandaian itu diturunkan dari gen ibunya." Farida melipat tangan di dada sambil menekuk wajahnya.
"Oh, apakah iya? Kalau begitu seorang ayah menurunkan apa pada anaknya?"
"Bentuk fisik."
"Hmm, aku terlalu tampan dan menurunkan anak paling tampan di dunia ini."
"Kau harus mengakuinya."
Farida hanya terdiam.
Mereka lalu sampai di salah satu Mall terbesar di kota ini. Kaisar benar-benar menjadikannya ratu kali ini. Pria itu sengaja mengosongkan satu outlet brand baju terkenal dunia dengan kartu VIP nya. Menyuruh Farida memilih apapun yang dia mau. Hal yang sama dilakukan untuk Maulana.
"Kak Hanafi juga ingin bertemu kita di sini nanti, di restoran atas," kata Farida.
"Oh, Okay. kita akan menemuinya setelah ini," ujar Kaisar.
Mereka lalu berjalan menuju ke lantai khusus makanan. Menuju ke restoran yang Hanafi katakan.
Ketika mereka berjalan. Tanpa sengaja melihat ke arah Cantika dan keluarganya. Seketika la langkah kaki mereka terhenti.
Ayah ...." panggil Alisha. Dia lalu berhenti di depan Kaisar. Matanya berkaca-kaca menatap orang yang dia kenal sebagai ayah selama ini. Walau akhirnya dia tahu, pria ini ayah dari anak lain.
Tatapan Alisha beralih ke arah anak lelaki yang sedang di gendong oleh Kaisar. Air mukanya seketika berubah. Ada rasa iri yang jelas tergambar di wajahnya.
Kaisar berjongkok agar sejajar dengan Alisha. Dia tersenyum, merentangkan satu tangan lain ke arah Alisha.
"Hai, Sayang, kemarilah, ayah sangat merindukanmu," ujar Kaisar.
Namun, Maulana, putranya mengeratkan pelukannya pada Kaisar seolah enggan berbagi ayah dengan Alisha.
Alisha memundurkan langkahnya ke belakang. Mencoba tersenyum diatas rasa pedih yang menyayat hatinya.
Seharusnya anak seumurnya bahagia, tapi yang dirasakannya hanya beban berat. Selama ini dia tidak benar-benar mendapatkan kebahagiaan yang utuh.
Dulu, ada ayahnya di sampingnya, dan dia berdoa agar bisa dekat dengan ibunya. Kini, ibunya selalu ada untuknya, tapi ayahnya telah pergi meninggalkannya.
Alisha melihat ke arah istri baru ayahnya, Farida. Ada rasa marah di hatinya. Marah karena wanita itu telah menghancurkan hidupnya dan sang ibu.
Lalu menatap ke arah ibunya yang menatapnya dengan sedih. Alisha yang malang berlari ke arah Cantika dan memeluknya.
"Ibu, kita pergi," ujarnya menarik tangan ibunya pergi.
Cantika hanya melongo saja sambil mengikuti arah kaki anaknya. Sedangkan, Ira tersenyum sinis pada Kaisar serta keluarga barunya. Setelah itu, sang Nenek mengikuti anak dan cucunya.