One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 30 Kecelakaan



Farida berdiri dengan ragu di depan sebuah kamar hotel. Tertulis presiden suite room hotel.


"Masuk," perintah Kaisar yang berjalan maju terlebih dahulu.


Farida masih berdiri di tempat membuat pria itu menoleh ke belakang.


"Hei, buang pikiran negatifmu itu. Aku membawamu kemari agar kau bisa membersihkan tubuhmu dan mengganti pakaian bersih. Ini kulakukan agar kau tidak membuatku malu didepan relasi penting perusahaan."


Farida tersenyum lebih tepatnya meringis sedikit. Lantas masuk ke dalam ruangan itu.


"Aku tidak bawa pakaian ganti," ujarnya sambil menunduk.


"Itu soal gampang, nanti biar aku carikan."


"Ehm ...." Farida tampak ragu untuk mengatakan sesuatu."Satu lagi pembalut juga," lanjutnya.


"Hmm,"


"Yang bersayap dan bukan gel, aku tidak suka dengan yang gel," imbuhnya.


Tatapan tajam Kaisar membuat ciut nyali Farida. "Dimana kamar mandinya."


"Di dalam kamar," tunjuk Kaisar ke arah pintu yang ada di dalam ruangan itu. Kamar di dalam kamar.


Ruangan ini memang sesuai dengan namanya terlihat mewah, elegan dengan ornamen kekinian yang didominasi warna putih dan hitam.


Sebelum masuk ke kamar Farida, membalikkan tubuhnya, melihat lagi ke arah Kaisar. Pria itu duduk di salah satu sofa sambil menatap ke arah i phone yang ada di genggamannya.


"Jas ini akan kucuci saja di rumah ya."


"Kau buang saja," timpal Kaisar dingin.


"Tapi ini jas mahal," ujar Farida.


"Aku tidak suka dengan barang yang sudah ternoda."


Farida mengatupkan bibir rapat dan masuk ke dalam kamar. Di sana dia melepaskan jas yang menutup noda di rok putihnya.


Tadi dia merasa tersanjung ketika Kaisar rela merelakan jasnya untuk menutupi noda pakaian Farida. Namun, setelah mendengar ucapan pria itu barusan membuat Farida kesal.


"Dasar sombong!" ucapnya sambil melihat ke arah pantulan wajah di cermin besar dalam kamar mandi.


Farida menatap ke arah jas itu. Jas branded yang dijual eksklusif, hanya dibuat untuk pemesannya saja. Farida tahu karena dulu dia hidup dilingkungan kaum hedonis.


Dia menatap ke arah jas itu. Jas itu terlihat masih bersih. Tidak ada noda yang menempel. Sayang jika dibuang.


Jika dibawa pulang maka Uda Erick atau Uda Ryan pasti akan menyukainya. Dia bisa memberikan itu pada mereka daripada dibuang ke tempat sampah dan menjadi barang tidak berguna.


Dia memegang jas itu, bau harum tubuh Kaisar masih menempel di sana. Bau yang tidak pernah dia lupakan seumur hidupnya karena orang yang mempunyai bau ini yang telah menodainya dulu.


Tangan Farida mengepal erat jika teringat masa lalu. Masa lalu yang akan dia perbaiki hingga luka yang ada akan hilang.


"Nyawa harus dibalas dengan nyawa, mereka harus membayar apa yang telah mereka lakukan padaku secara kontan. Ibu, dukunglah aku dari alam sana agar aku bisa membalaskan kematian mu."


Lima belas menit kemudian, Farida keluar dari kamar dengan memakai bathrobe berwarna putih. Rambutnya yang basah dan panjang terurai dibelakang punggungnya. Wajahnya terlihat segar karena tetesan air yang masih ada di kulitnya yang bersih dan mengkilap.


"Pak?"


Kaisar yang sedang berdiri di dekat jendela kaca besar terkejut dengan panggilan dari Farida.


"Pak, apakah baju yang kau pesan sudah datang?" tanya Farida.


Mendadak kilasan bayangan seorang wanita terlintas di pelupuk mata Kaisar. Bayangan wanita itu penuh air mata. Seketika rasa nyeri menghujam kepalanya. Kaisar mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya.


Farida terkejut. Dia langsung berlari kearah Kaisar.


"Apa yang terjadi, Pak?" tanya Farida bingung dan panik. Dia membawa pria itu ke sofa. Tidak tahu harus melakukan apa.


"Biar aku panggilkan Dokter, Pak," ujar Farida.


Tangannya dipegang oleh Kaisar. "Tidak usah, nanti akan hilang sendiri aku hanya butuh istirahat. Hubungi saja Emilio agar menghubungi Dewa untuk menemui Pak Prasetyo, bilang aku tidak bisa datang. Pakai handphoneku."


"Ada kata sandinya, Pak."


"Rose, pakai huruf kecil semuanya."


Mendengar nama Rose membuat kedua sudut bibir Farida berkedut. Entah mengapa sesuatu terasa menghujam hatinya. Rasa asing menyergapnya membuat dia tidak senang dan nyaman.


Farida lantas menghubungi Emilio.


"Hallo, Pak, saya tinggal membeli pembalutnya," ujar pria itu dari arah seberang telepon. "Lima menit lagi saya akan datang."


"Hallo, ini Farida, asisten Pak Kaisar. Beliau mendadak sakit ...." Handphone ditangan Farida langsung diraih oleh Kaisar.


"Emilio, kau ambil obatku terlebih dahulu di apartment. Masalah pembalut, biar orang hotel yang membawakannya. Kau hubungi Dewa untuk menemui Pak Prasetyo, minta pada Pak Prasetyo agar menerangkan cara proses perizinan yang harus kita lakukan untuk membangun perusahaan ini. Dewa pasti sudah tahu apa yang harus dia lakukan. Satu lagi, titipkan saja baju itu pada petugas hotel lebih dahulu sebelum kau ambil obatku."


"Siap, Pak."


Kaisar membuang handphone itu ke kursi. Dia memegang kembali kepalanya, sambil meraih telepon yang ada di sampingnya.


"Kau bawakan pembalut wanita dengan sayap tanpa gel. Beserta ********** sekalian. Ukuran M, cepat! Lima menit harus sudah dibawa kesini atau kau ku pecat!"


Wajah Farida memerah. Pria itu tahu ukuran ********** dan dia meminta petugas hotel untuk membawakannya kemari. Apa yang akan mereka pikirkan tentangnya? Wajahnya mendadak panas.


"Apakah masih mengalir deras?" tanya Kaisar di sela rasa sakitnya.


Itu terasa manis karena pria itu peduli padanya padahal dia sedang tidak baik-baik saja.


"Belum banyak, tapi mungkin ...."


Kaisar kembali mengerang kesakitan. Farida mengambil bantal di dalam kamar lalu kembali lagi.


"Berbaringlah di sini," ujar Farida menepuk bantal diatas pangkuannya.


"Biarkan aku membantumu," lanjutnya.


Kaisar mulai berbaring diatas pangkuan Farida. Dengan lembut Farida mulai memijat pelipis serta kepalanya. Terasa nyaman. Dia mulai memejamkan kepalanya.


Petugas kamar hotel datang, Farida menyuruhnya untuk masuk saja. Petugas itu terkejut melihat Kaisar terpejam di atas pangkuan Farida. Dia juga dengan canggung menyerahkan paper bag berisi pembalut dan dalaman dan juga pakaiannya.


Farida tersenyum kaku. "Terimakasih."


Petugas itu pergi dari ruangan. Namun, kepalanya masih sempat terlihat lagi sebelum benar-benar keluar kamar hotel.


Farida menghela nafas panjang. Pasti nanti ada rumor aneh tentang dirinya.


Dia melihat ke arah bungkusan di atas meja. Itu juga akan membuat masalah karena memperjelas keberadaan dirinya di kamar bersama dengan Kaisar.


Dia lantas mulai bangkit dengan pelan agar Kaisar tidak terbangun dari tidurnya. Dia segera meraih paper bag dan mengganti pakaiannya. Setelah selesai, dia menemukan Emilio sudah ada di dalam ruangan.


"Nona," sapanya.


Farida mengangguk. Terdengar suara erangan Kaisar lagi.


"Apa yang terjadi?"


"Aku tidak tahu. Tadi dia sehat saja, tapi tiba-tiba saja dia berteriak kesakitan. Aku tidak tahu harus melakukan apa."


"Bapak pernah mengalami kecelakaan hebat, dia mendapatkan luka cukup parah terutama di kepalanya sehingga mempengaruhi keadaan otaknya. Kami bersyukur operasi yang dilakukan bapak berhasil dan keadaan bapak bisa kembali normal. Saya tidak tahu persis bagaimana keadaan bapak saat itu karena saya juga menderita luka cukup parah hanya saja tidak separah Bapak."


Tubuh Farida limbung ke belakang ketika mendengarnya. Nafasnya terasa sesak. Kecelakaan? Kapan?Wajahnya seketika memucat.


"Sudah cukup lama, sakit kepala Bapak tidak kambuh lagi. Ini cukup aneh. Nanti akan saya tanyakan lagi padanya. Jika beliau sudah bangun."


"Kecelakaan? Bagaimana itu terjadi? Maaf, jika aku banyak bertanya?" tanyanya gugup sambil melihat ke arah Kaisar yang terbaring.


"Saya rasa tidak perlu menceritakan itu secara detail, Nona karena bagaimanapun Anda adalah orang luar. Jika ingin tahu lebih lanjut, silahkan Anda tanya sendiri pada Tuan Kaisar."


Farida menarik nafas panjang untuk mengisi paru-parunya yang terasa berat sekali untuk bernafas.


"Nona, kau terlihat sangat pucat sekali? Apakah kau baik-baik saja?" tanya Emilio lagi.