
Farida membenarkan posisi tidur Maulana lalu bergerak keluar.
"Kau mau kemana?"
"Menyiapkan sarapan untuk Maulana," jawab Farida.
"Ada pelayan yang akan melakukannya. Kita teruskan lagi pembicaraan tadi malam yang terhenti."
"Maulana suka dengan masakanku. Aku bisa melakukannya jadi akan kulakukan sendiri karena dia anakku jadi aku yang akan mengurus semua keperluannya dengan tanganku sendiri."
Kaisar terkejut dengan pemikiran Farida. Dia memang lebih muda dari Cantika tapi pemikirannya sangat dewasa. Terlihat sekali jika wanita itu meletakkan Maulana sebagai prioritasnya.
"Kalau begitu, buatkan juga untukku dan jangan lupa seduh kopi hitam seperti biasanya."
"Aku bukan bawahanmu!" Farida melangkah keluar kamar. Kaisar mengikutinya. Sesampainya di dapur, ada pelayan yang sedang bersiap membuatkan sarapan untuk keluarga Kaisar.
Kaisar memberi isyarat untuk pergi. Kaisar berdiri di dekat Farida yang terlihat mulai mengambil teko untuk memasak air.
"Ish, kenapa kau mengikutiku," ujar Farida.
"Aku hanya ingin melihat seorang wanita menyiapkan makanan untuk keluarga yang dia cintai."
"Kau terlalu bermimpi."
"Bukankah ini bukan mimpi," ucap Kaisar.
Farida mulai membuka laci dapur mencari susu.
"Ini kopinya," kata Kaisar mengambil wadah kopi. "Ini gulanya."
"Kalau susu adanya yang cair, kau bisa menghangatkannya."
"Kenapa tidak mengatakannya dari tadi," ujar Farida.
"Kau tidak tanya," lanjut Kaisar santai.
Setelah menyeduh dua cangkir kopi dan segelas susu. Farida mulai melihat isi dalam kulkas. Berpikir.
"Kau mau masak apa?" Kaisar tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.
"Nasi goreng saja yang simple," kata Farida. Dia lalu mengambil kornet dan juga beberapa bahan lainnya.
"Simple?" batin Kaisar yang melihat berbagai macam barang diambil Farida. Dia tidak pernah masuk ke dapur sebelumnya.
Farida nampak menyibak rambutnya yang terus ke depan saat menyiapkan bahan. Kaisar yang sudah menunggu momen ini sedari tadi lalu mendekat dan mengambil helaian panjang rambut Farida.
Dia mengeluarkan ikat rambut dari balik saku celana. Beberapa kali Kaisar memang mengikat rambut Farida di kantor, kini pun juga dia akan melakukannya.
"Aku akan mengikatnya," ucap Kaisar. Momen seperti ini saja sudah membuat dia merasa deg-degan dan senang. Memang berbeda bersama dengan dilandasi perasaan cinta. Yang ada ingin menempel terus.
Betul-betul berbeda saat bersama dengan Cantika. Hal ini tambah membuat Kaisar yakin jika dia mencintai Farida sebelumnya bukan Cantika.
Kaisar melihat tubuh Farida menegang.
Setelah mengikat rambut Farida, dia lalu memeluk wanita itu dari belakang dan mencium tekuknya.
"Pak," ucap Farida dengan suara mendesah.
Setelah puas memberikan tanda merah di leher wanita itu, Kaisar lalu mengambil kopinya dan membawa ke meja makan. Dia tersenyum nakal pada Farida yang nampak cemberut.
"Sampai kapan kau menahan perasaanmu, aku tahu, jauh di dalam hatimu kau tertarik padaku." gumamnya pelan sambil menatap Farida yang memasak.
Kaisar jadi gregetan sendiri teringat jika mereka belum menikah. Andai sudah dia pasti akan memakan wanita itu setiap saat.
Dia mulai merencanakan sesuatu agar Farida bersedia. Ya, hanya Maulana kunci dari semuanya.
Di saat dia mulai memikirkan ini. Sebuah tangan kecil menarik celananya.
"Kau sudah bangun, Nak," sapa Kaisar pada putranya.
"Masa kalau masih tidur bisa berjalan di sini."
"Ayah, aku kira aku masih berada di mimpi tinggal di sebuah istana. Ternyata tidak."
"Kau bisa tinggal di sini selamanya," ujar Kaisar.
"Bersama Ibu?"
"Tentu saja."
"Lalu bagaimana dengan Alisha dan ibunya," tanya Maulana lagi.
"Ayah sedang mengurus perpisahan dengan Ibu Alisa, mungkin Alisa bisa ikut bersama kita, apa kau keberatan?"
"Tidak apa-apa kalau Alisha mau. Tapi kan dia membenciku," timpal Maulana.
"Dia hanya belum dekat denganmu. Ayah yakin jika dia nanti pasti mau bersama kita di sini. Namun, kau harus janji mau menjadi saudara yang baik untuknya."
"Lalu, ayah dan ibu akan menikah?" tanya Maulana.
Kalau bisa aku ngin mereka menikah sekarang, tapi sepertinya itu tidak mungkin. Bukan karena tidak mampu hanya saja membujuk Farida sangat sulit, tidak seperti yang aku bayangkan.
"Kau sudah bangun, Lana?" tanya Farida ketika meletakkan piring berisi nasi goreng ke atas meja. Aroma harum masakan langsung membuat Kaisar merasa lapar. Sepertinya ini lebih enak dari masakan chef di rumahnya bersama dengan Cantika.
Lana menganggukkan kepala. Mereka lalu makan bersama.
"Bu, tadi Ayah bilang mau menikahi Ibu," ujar Maulana membuat Farida tersedak.
Kaisar lalu memberi segelas air putih pada wanita itu.
"Ibu mau ya, biar kita jadi keluarga yang bahagia."
Kaisar duduk dengan tenang menunggu jawaban dari Farida.
"Kita bahas lain waktu, sekarang makan dulu."
"Tapi aku ingin Ibu menikah dengan Ayah cepat agar kita bisa seperti ini setiap hari. Aku juga tidak akan dikatakan lagi sebagai anak haram," ujar Maulana sedih.
Gini giliran Kaisar yang tersedak. Dia teringat perkataan Alisha yang menyebut jika Maulana anak haram. Jadi alasan ini yang membuat Maulana marah dan kembali pada Farida.
Farida tidak bisa mengatakan apapun. Dia lalu mendekat ke arah anaknya dan memeluknya. Dia tahu bagaimana rasanya dihina orang dengan sebutan anak haram.
"Janji ya Bu, menikah dengan Ayah. Ayah sudah mengatakan akan berpisah dengan Ibu Alisha."
"Lana, urusan orang dewasa tidak semudah itu. Kau tidak bisa memaksa ibu untuk melakukan sesuatu."
"Ayah baik, tampan dan juga kaya, dia juga sayang kita, kenapa tidak mau menikah dengannya?"
Kaisar mengangguk dengan ekspresi sedih. Dalam hatinya dia sangat mengagumi anaknya karena membantunya berbicara pada Farida.
Farida menatap tajam ke arah Kaisar dengan tatapan menuduh.
"Pak, bisakah kau tidak menghasutnya!"
"Aku tidak menghasutnya. Maulana yang mengatakan hal itu sendiri. Itu wajar bagi seorang anak yang ingin agar ayah dan ibunya bersatu lalu mempunyai keluarga yang lengkap."
Farida menelan air ludahnya.
"Yang tidak wajar adalah kau menolaknya untuk alasan yang tidak jelas. Kau abaikan kebahagiaan anakmu karena sebuah ego," imbuh Kaisar.
"Kita akan bicarakan ini setelah kau selesai bercerai dengan kakakku!"
"Baiklah, aku akan mempercepatnya dan aku harap kau tidak mangkir dari ini."
"Aku anggap ini sebuah syarat persetujuan darimu," lanjut Kaisar. Farida ingin mengatakan sesuatu, tapi dia tahan.
"Yeay, akhirnya Ibu mau menikah dengan Ayah. Aku ingin sebuah pernikahan yang mewah dan ada banyak bunga di sana. Aku juga ingin difoto bersama kalian, lalu foto itu dipajang di dinding agar semua orang tahu, aku punya Ayah yang tampan dan Ibu yang cantik," ungkap Maulana senang.
"Kau akan mendapatkan semua yang kau mau, anakku. Sebisa mungkin aku tidak akan mengecewakanmu," ujar Kaisar pada putranya. Dia lalu mendekatkan kepalanya pada Farida, berbisik.
"Kau lihat dia begitu bahagia mendengar berita ini. Jangan sampai kau kecewakan dia untuk kedua kalinya karena dia pernah kecewa padamu karena kau bohongi," tandas Kaisar.