One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 97 Kepergok



Terdengar bunyi pintu kamar dibuka. Fadil keluar dari kamar dengan dibantu oleh satu orang perawat pria. Fadil sudah terlihat rapih dan bersih.


Kaisar dan Farida seperti sepasang sejoli muda mudi yang kepergok tengah berpacaran oleh orang tuanya. Wajah mereka tampak merah muda karena malu.


"Ngga," panggil Fadil. Dia masih terbiasa dengan nama Airlangga bukan Farida.


"Ayah," jawab Farida mendapatkan jalan keluar untuk melarikan diri dari pertanyaan Kaisar. Dia melihat ke arah perawat di belakang kursi roda Fadil.


"Aku yang membawanya kemari untuk membantu pekerjaanmu," ujar Kaisar.


"Aku bisa melakukannya sendiri," ujar Farida tidak senang. Jika dia mau, dia sudah membawa langsung dari Indonesia untuk menemaninya dan sang ayah tinggal di Singapore. Namun, Farida memang ingin mengurus sendiri ayahnya.


Fadil nampak menggelengkan kepala pada Farida.


"Ni-niat nya ba-baik," ujar Fadil terbata. Dia lalu menganggukkan kepala agar Farida setuju. Dia juga suka merasa kasihan melihat Farida yang kepayahan mengerjakan semua sendiri.


"Kau lihat, ayahmu tahu apa yang aku pikirkan. Aku tidak berniat buruk padamu."


"Kau siapkan semuanya di meja makan dan aku akan membangunkan Maulana," perintah Kaisar seperti pemilik rumah ini. Farida ingin menjawab tapi dicegah oleh Fadil.


Akhirnya Farida membawa Fadil ke ruang makan. Apartemen kecil ini terasa sempit setelah Kaisar datang dan membawa anak buahnya, termasuk perawat pria ini.


"Kau boleh pergi keluar dulu, nanti jika aku butuh, aku akan memanggilmu," ucap Farida.


Perawat itu tampak bingung.


"Cepat pergi, sebelum aku mengusirmu," usir Farida kesal.


Perawat itu hanya bisa mematuhi perintah majikan wanitanya. Menunggu di luar pintu apartemen bersama dengan anak buah majikannya yang lain.


Farida lalu mulai membuatkan bubur sereal untuk ayahnya dan menyuapi nya. Fadil menggerakkan mata ke arah kamar Farida. Seperti bertanya tentang Kaisar.


"Dia melamarku, tapi setelah semua yang terjadi aku ragu untuk bersamanya," ungkap Farida.


Fadil menggerakkan kepala dan matanya sambil tersenyum. Seperti mengatakan jika dia setuju jika Farida bersama dengan Kaisar.


"Aku ingin hidup tenang, Yah. Bersama Ayah dan Maulana saja."


"Du-dulu di-dia cin-ta ka-kamu se-ka-rang ju-ga," lanjut Fadil patah-patah.


Farida tersenyum miris. Bertanya pada dirinya sendiri apakah pria itu memang mencintainya atau hanya sebatas hasrat belaka. Terlalu dini untuk mempercayainya. Namun, dia teringat jika dulu, Kaisar lah yang membantunya mengurus pemakaman Ibunya dan dia juga terkena kecelakaan karena ingin menolongnya.


Entahlah, pikiran dan hatinya mulai goyah. Mengapa semudah ini? Seharusnya dia tetap kekeh untuk tidak terpengaruh dengan ucapan siapapun.


Fadil telah menghabiskan makannya. Farida melihat ke arah kamar.


"Kenapa lama sekali?" gumamnya.


"Ayah, aku lihat dulu Maulana," ujar wanita itu meninggalkan meja makan menuju ke arah kamar.


Farida langsung membuka pintu kamar ketika Kaisar baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk milik Farida yang dia pakai di pinggangnya.


Farida ingin berteriak, tapi Kaisar langsung menutup mulutnya.


"Sstt, nanti Lana bangun," ujarnya.


Kaisar menggarukkan tengkuk. "Aku belum mandi sedari kemarin dan belum mengganti bajuku. Tubuhku gatal semuanya."


"Makanya, aku bilang, kau tidur di hotel saja," ujar Farida sewot dengan suara pelan.


"Lalu sekarang kau mau pakai baju apa? Pakaian ayah tidak akan muat untukmu," jawab Farida.


"Memakai kaosmu," jawab Kaisar dengan wajah nakal. Suka melihat wajah kesal Farida.


"Atau aku pakai handuk ini saja sepanjang hari. Mungkin kau akan tertarik setelah melihat bentuk tubuhku dan menyetujui pernikahan kita."


"Ish, narsis."


"Aku akan menyuruh anak buahmu membelikanmu pakaian," ujar Farida hendak keluar.


Kaisar dengan cepat menahan pintunya dan kembali mengungkung Farida. Aroma sabun dan sampo yang digunakan oleh Kaisar membuat Farida terlena. Padahal itu sabun yang biasa dia gunakan kenapa digunakan pria ini terasa berbeda.


Rambut basah serta dada pria itu yang basah juga membuatnya terlihat bertambah seksi. Farida tidak memungkiri dengan daya tarik Kaisar yang luar biasa besar pada dirinya. Ingin rasanya dia masuk ke dalam pelukan pria itu andai dia tidak ingat jika masih bersitegang dengan Kaisar.


"Aku pikir ada baiknya aku kembali," kata Kaisar melihat tubuh Farida dari bawah hingga ke atas, "Ck," Wajah Kaisar mendekat ke wajah Farida dan mulai menyentuh bibir wanita itu.


"Kai, jangan seperti ini," ucap Farida gemetar dan jantungan. Kakinya seperti lemas ketika dipojokkan seperti ini. Apalagi ketika berbicara bibirnya bergerak dibibir Kaisar. Dia serasa ingin jika pria itu langsung menciumnya saja agar tidak ada drama. Farida menutup matanya ketika Kaisar menciumnya.


Maulana yang memang sudah bangun, melihat pemandangan yang seharusnya tidak dilihat. Tangan kecilnya langsung menutup matanya sambil tersenyum. Berharap setelah ini hubungan keduanya akan membaik. Baginya semua akan terasa indah jika mereka bertiga bersama tanpa ada anak kecil itu.


"Bisakah kalian lakukan nanti setelah menikah?" seru Maulana membuat pasangan sejoli itu membeku untuk beberapa saat. Hanya kedua mata mereka yang saling menatap lalu menoleh ke arah sumber suara.


Maulana berbaring telungkup dengan posisi tertutup selimut tebal yang berbentuk seperti awan. Hanya kepalanya saja yang terlihat dengan kedua telapak tangan menahan dagunya.


Farida langsung mendorong tubuh Kaisar menjauh. Tangannya memegang dada naik turun dengan cepat seraya mengatur nafasnya.


Kaisar sendiri menyisir rambut ke belakang dengan gaya cool. "Hei, jagoan. Kau sudah bangun?"


"Ya, dari tadi," ucap Maulana.


"Ish, Ayah itu kan dosa. Tidak boleh pacaran sebelum menikah. Kalau tidak, Alloh akan marah!" jelas Maulana bangkit berdiri diatas tempat tidur. Tangannya bergerak-gerak menunjuk ke arah orang tuanya.


Semburat merah terlihat jelas di wajah Farida. Dia adalah ibunya, mengapa jadi anaknya yang mengajari tentang agama. Parah.


"Itu yang Ayah coba jelaskan pada ibumu. Ingin mengajaknya menikah agar tidak melakukan dosa."


"Kalau begitu menikah sekarang saja, biar Ayah boleh mencium ibu lagi," ujar Maulana turun dari tempat tidur berjalan melewati orang tuanya, keluar kamar.


"Kau mau kemana?" tanya Kaisar.


"Aku mau telepon Bapa Tua, bilang Ayah melakukan hal buruk di rumah ini. Bapa Tua pasti akan memarahi Ayah," ujar anak itu.


Kaisar dan Farida saling melempar pandangan. Farida lalu keluar dan mengejar Maulana.


"Lana, kau tidak bisa melakukan itu," larang Farida. Dia pasti akan malu jika kakaknya sampai mendengar yang terjadi di sini.


Kaisar sendiri menyisir rambutnya ke belakang dengan jarinya sambil tersenyum geli. Dia bangga dengan putranya yang mengerti tentang agama, itu pasti tidak lepas dari ajaran orang di sekitarnya, terutama Hanafi. Seharusnya dia banyak mengucapkan terimakasih pada pria itu karena telah menjaga orang yang dia cintai.