One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 66 Hasratmu



Rose sampai di rumah Emilio. Sebuah rumah yang kecil bagi Rose tapi cukup besar dari rumah masa kecil bersama ibunya di Bali. (Cerita ini terusan dari novel mencintai calon Kakak Ipar jadi ada beberapa scene yang aku kembali untuk memori.)


Rumah peninggalan dengan tatanan dan bentuk dari rumah kuno. Sepertinya tidak ada yang di karena kebanyakan rumah jaman dulu seperti itu. Berjendela kayu besar dengan cat berwarna putih, atap dari genteng tanah liat. Namun, rumah itu terawat dan rapih.


Tidak seperti bayangan Rose. Mereka akan menempati sebuah rumah kecil yang sederhana. Ini memang terlihat sederhana dari luar tapi termasuk lumayan besar. Walau mungkin luasnya hanya sebatas kolam renang di rumah keluarga Cortez.


Emilio membuka pintu mobil, Rose lalu keluar. Dia mengamati semuanya dengan detail. Ada bagian baik dari depan rumah ini. Kebun mawar dengan berbagai jenis. Ini kebetulan atau apa.


Sepertinya Emilio tahu apa yang dipikirkannya. "Kebun ini peninggalan dari ibuku, jadi aku sengaja merawatnya. Dia sangat suka dengan mawar."


"Kau pun suka jadi meminangnya," timpal Rose naik beberapa anak tangga ke teras rumah yang terbuat dari tegel jadul yang mengkilap.


Emilio yang mendengar tersenyum tipis.


Dia masih bersikap bossy seperti biasanya. Emilio membuka pintu rumah dengan kunci yang dia pegang. Dia lalu membuka pintu untuk Rose.


"Selamat datang di rumah kita," ujar Emilio. Rose menekuk bibinya lalu masuk ke dalam. Mengamati semua yang ada di sana, terutama foto lama. Foto ayah Emilio yang memakai seragam dinas bersama dengan ibu Emilio. Foto Emilio ketika masih menjadi Paspampres Presiden dan sebagai pasukan TNI. Dia terlihat tampan dan gagah sewaktu masih muda. Namun, mengapa masih sendiri saja?


"Kenapa tidak ada foto adikmu, Dee di foto keluargamu?" tanya Rose merasa janggal.


"Dee adalah adik beda ibu, jadi tidak ada fotonya di sini. Namun, di lantai atas ada foto Dee dan anaknya sewaktu masih tinggal di sini."


"Kau dan Dee? Oh...." Rose tidak ingin mendengar lebih lanjut cerita itu karena sepertinya Emilio tidak nyaman untuk menceritakannya.


"Kenapa kau sampai keluar dari kesatuanmu, padahal jika kau teruskan karirmu mungkin akan bagus."


"Itu karena aku gagal dalam sebuah tugas, banyak rekanku yang meninggal karena kelalaianku. Aku adalah satu-satunya orang yang masih hidup kala itu. Kehadiranku membuat kontroversi karena ada yang ingin menggunakan itu untuk menjatuhkan komandan operasi itu. Semua tidak seperti yang direncanakan." Emilio memejamkan matanya mengingat ketika teman-temannya meninggal di depan mata tanpa bisa dia tolong.


"Pasti itu sangat berat bagimu."


Pria itu hanya tersenyum, tapi terlihat seperti sebuah seringai serigala yang menyedihkan. Pikir Rose.


"Aku sangat lelah, katakan di mana kamarku," kata Rose.


Emilio lalu membawa Rose ke sebuah kamar di antara ruang makan dan ruang keluarga. Dia membuka pintu kamar itu.


Rose tidak menyangka jika rumah kuno ini mempunyai kamar yang bagus. Kasur seperti miliknya di apartemen dan semuanya di desain hampir mirip dengan kamarnya walau kualitasnya mungkin di bawahnya.


Rose melihat ke arah Emilio.


"Aku hanya ingin agar kau nyaman di kamarmu sendiri."


"Aku menyukainya, tidak begitu buruk."


"Jendela di kamar ini langsung menghadap ke arah kebun, aroma mawar itu akan selalu terasa di kamar ini," terang Emilio.


"Aku juga sudah membawa beberapa bajumu dari apartemen. Lalu aku tambah dengan beberapa daster rumahan yang nyaman untuk di gunakan."


"Kau suruh aku menjadi emak-emak kampung?" sungut Rose.


Emilio tersenyum tipis.


"Okey, aku rasa kau bisa mengakrabkan diri dengan dunia barumu mulai sekarang. Kau bisa beristirahat dengan tenang. Andai kau butuh aku, maka kau bisa memanggil ku di lantai atas."


"Kau tidak tidur di kamar ini juga?"


"Tidak, aku ingin semuanya berjalan tanpa paksaan. Namun, jika kau ingin aku menemanimu, baiklah hanya saja aku tidak bisa menahan diri, mungkin."


"Impoten?" Emilio lalu menarik tubuh Rose di dekatnya. Sehingga mereka tanpa jarak, hanya baju mereka yang menghalangi. Wajah Rose yang biasa percaya diri kini memucat.


"Apakah kau bisa merasakannya?"


Rose merasakan sesuatu yang keras di perutnya karena Emilio jauh lebih tinggi darinya. Dia tahu benda keras apa itu. Seketika tubuhnya menggigil ketakutan.


"A-aku sedang berhalangan," ujar Rose berbohong. Dia sedang lelah dan tidak siap dengan ini. Hanya ini satu-satunya cara agar dia bisa selamat.


"Aku tidak akan memaksamu, aku akan menunggu kau untuk datang menyerahkan dirimu sendiri seperti waktu itu," bisik Emilio di telinga Rose membuat tubuhnya seketika meremang.


"Bukankan sudah kukatakan jika aku pernikahan ini hanya sebuah perjanjian belaka selama setahun. Aku tidak ingin... mmmph," bibir Rose sudah dimakan terlebih dahulu oleh Emilio sebelum wanita itu meneruskan ucapannya.


Dia ingin menolaknya, tapi sayang untuk disiakan. Terakhir dia berhubungan dengan seorang pria, Emilio merusaknya begitu saja.


Pria itu begitu liar dan kuat. Pelukannya terasa mantap dalam tubuh keras dan besar milik pria itu.


Tangan Rose bergerak di punggung pria itu. Sedangkan ciuman mereka semakin dalam. Hingga Emilio melepaskannya ketika Rose mulai terbuai ke dalamnya.


Rose membuka mata dengan kesal.


"Aku harus menghentikan ini karena takut keblabasan bukankah kau sedang berhalangan?"


Rose bingung untuk menjawabnya. Dia bisa saja mengatakan tidak, tapi itu berarti membuktikan jika dia sangat berhasrat pada pria itu. Harga dirinya sebagai seorang wanita terhormat akan turun.


"Ya."


"Kalau begitu, aku pergi dulu ke atas." Emilio mengusap bibirnya sendiri.


Rose ingin memanggil ketika Emilio keluar dari kamar. Namun, terhenti dan tersenyum sendiri.


Rose memegang bibirnya sendiri. Ini adalah ciuman terbaik. Dia lalu duduk di pinggir tempat tidur. Tubuhnya masih merasakan kuatnya pelukan Emilio.


Emilio sendiri masuk ke kamarnya. Dia membuka pesan yang tadi masuk ketika dia bersama dengan Rose.


Pesan dari seseorang dari masa lalunya. Kerutan terlihat jelas ketika dia membaca pesan di handphone itu. Dia lalu melakukan panggilan pada seseorang.


"Ya, komandan."


"Saya siap masuk ke kesatuan lagi."


"Siap!"


"Baiklah saya akan temui komandan besok."


"Saya juga bahagia bisa menjadi bawahan Anda lagi."


Emilio menutup panggilan itu. Dia lalu menarik sebuah papan lantai di kamar itu. Ketika papan itu terbuka, dia membuka kembali kotak besar yang tersimpan rapi dan apik di sana.


Kotak itu berisi semua senjata miliknya, dari Laras panjang dan pendek semua ada."


Dia mulai membersihkan semuanya dengan mengeluarkannya satu persatu. Mencobanya tanpa peluru.


Setelah lebih dari lima belas tahun berlalu, kini akhirnya dia membuka kembali kotak itu untuk mengambil barang yang akan dia gunakan mulai sekarang.


Ini yang harus dia bayar demi bisa membiayai hidup Rose ke depannya. Pekerjaan berbahaya yang dia tinggalkan dulu, kini harus dia mulai kembali walau nyawa taruhannya. Pantang bagi dia untuk meminta istri dan keluarganya.