
Seminggu sudah, Fadil belum juga sadar. Namun, Dokter mengatakan jika dia sudah melewati krisis. Ira sendiri merasa kesal karena pria itu tidak mati saja di meja operasi.
Sedangkan Cantika sendiri masih terpukul dengan keadaan ayahnya. Setiap waktu, dia berada di dekat Fadil. Menjaganya. Walau ayahnya punya banyak kesalahan yang tidak termaafkan seperti mengkhianati ibunya dan membawa anak wanita lain ke rumah ini, tapi dia termasuk sebagai salah satu ayah terbaik di dunia.
Apapun keinginan Cantika akan selalu ayahnya penuhi. Bahkan Cantika belum pernah mendengar penolakan dari ayahnya.
Ayahnya yang juga mendorongnya terjun mengikuti salah satu ajang kecantikan. Bukan dorongan semangat saja tapi secara finansial ,banyak yang ayahnya lakukan agar dia bisa menjadi yang terbaik.
Tangan Cantika menggenggam tangan Ayahnya dan menciumnya.
"Ayah bangunlah, apakah kau tidak merindukan aku?" ujar Cantika
Ira yang sedang duduk memainkan handphone melirik ke arah putrinya yang sedang meratapi sakit ayahnya.
"Walau kau panggil dia seribu kali pun ayahmu tidak akan mendengar."
"Ibu hentikan, kau seperti tidak bersimpati saja dengan keadaan ayah."
Ira lalu menurunkan handphone yang ada di tangan. Teringat jika seharusnya dia tidak memperlihatkan kemarahannya pada orang lain, sekalipun itu anaknya.
"Bukan begitu maksud Ibu. Kau hanya tidak perlu menangis setiap hari. Dokter sudah melakukan yang terbaik, kita hanya perlu menunggu hasilnya.'' Ira mengatakannya dengan lemah dan lembut.
Cantika melirik ibunya lalu dengan wajah di tekuk lalu meletakkan kepalanya di atas tempat tidur.
Kamar pintu mulai terbuka. Dokter spesialis yang sedang merawat ayahnya datang mengunjungi pasien untuk diperiksa.
Seorang Co-ast membantu melihat tensi darah dan memeriksa pergelangan tangan serta leher pasien, lantas Dokter berkata dengan suara berbisik dengan coast.
"Bagaimana keadaannya?"
"Belum ada perubahan yang signifikan, hanya saja denyut nadinya sudah mulai stabil artinya operasi pemasangan ring ini berhasil"
"Bagus. Aku ingin kau selalu melihat perkembangannya dan melaporkan pada ku," ujar Dokter itu.
"Baik Dokter," jawab suster itu .
Cantika melihat dan mendengar secara seksama apa yang dokter katakan barusan..
"Ibu mau keluar dulu, engap dan bosan di sini terus," bisik Ira, lalu pergi ke luar ruangan. Cantika hanya bisa menghela nafas panjang. Ibunya mulai berubah setelah ayahnya sakit. Emosinya mudah meletup-letup. Apakah dia punya dendam pada ayah yang ingin keluarkan setelah pria itu mengabulkan hidupnya selama bertahun-tahun.
Ibunya bukannya prihatin dengan keadaan.
Dokter melihat wajah ayahnya yang ayahnya malah terlihat seperti tertekan. Jadi emosi mudah tersulut. Cantika mencoba memahami itu.
"Apakah anda anaknya?' Cbatjka nenganggukma dan menegakkan kepalanya
"Bagaimana keadaan ayah saya dokter? Apakah ada perkembangannya?"
"Sudah semakin stabil namun yang saya herannya adalah ayahmu tidak kunjung mau membukanya. Akan khawatir ada persoalan pribadi yang membuatnya tidak mauembuka mata. Mungkin hak yang nenyakut jiwa yang membuatnya
.
"masa sih dokter? Sebelum sakit keadaan ayah baik-baik saja tidak punya riwayat gangguan jiwa."
.Setelah berbicara sedikit dengan dokter, dokter itu mengatakan jika Cantik harus menebus dosa yang dilakukan."
"Nona, Anda harus mengambil obat di resep ini ke apotik. Obat yang digunakan dosisnya sudah berbeda. Ayah Anda sebenarnya sudah membaik, tapi dia masih enggan untuk membuka mata. Mungkin kalian perlu mengajaknya bicara untuk memberi semangat,'' pesan dokter spesialis yang. menangani ayahnya. Dia lalu menyerahkan kertas berisi resep obat untuk ayahnya.
"Kau bisa mengambilnya sekarang. Aku akan memeriksa organ tubuhnya, apakah pen yang dipasang bisa bekerja maksimal?"
"Baik, Dokter."
Cantika lalu pergi keluar ruangan. Dia melihat ibunya sedang menelepon seseorang di pinggir taman. Cantika sebenarnya ingin bertanya siapa yang menghubungi ibunya secara terus menerus itu. Namun, dia tidak ingin membuat keributan di rumah sakit karena setiap kali dia bertanya akan hal itu, emosi ibunya naik seketika.
Farida langsung ke ruang tempat menebus obat.Setelah menyerahkan resep, dia lalu menunggu di kursi sambil membaca beberapa pesan yang masuk.
Alisa terlihat baik-baik sewaktu dia menghubungi Kaisar menanyakan keadaannya. Hal yang ditakutkannya adalah Farida merebut perhatian Alisa. Miliknya satu-satunya karena dia bisa melihat anak itu nampak nyaman bersama dengan Farida.
Apakah dia salah menitipkan Alisa pada Kaisar yang menyebabkan hal ini terjadi ? Ataukah seharusnya dia membawa Alisa ke rumahnya. Namun, di sana dia hanya bersama dengan pelayan. Anak itu malah semakin terpuruk nanti.
Cantika tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini. Semua serba sulit untuknya.
Sebuah tangan menyentuh bahu Cantika.
"Cantika," panggil sosok yang ada di sebelahnya.
Seketika tubuh Cantika membeku. Dia menoleh ke samping dan melihat sosok yang tidak asing baginya, tapi terlihat lebih dewasa.
"Hai, apa kabar?" sapa Bagas.
"A... aku baik-baik saja," ujar Cantika.
Bagas mengerutkan dahinya. Dia menatap penampilan Cantika yang tidak serapih biasanya.
"Aku sedang mengambil resep obat untuk ayahku."
"Tuan Fadil sakit?" tanya Bagas terkejut. Bagaimana pun Fadil yang membuat dia menjadi sekarang ini. Walau belum sukses seperti mereka tapi kini dia sudah menjadi direktur di salah satu perusahaan waralaba terbesar di Indonesia.
"Penyakit jantung ayah kambuh lagi dan kini dia masih tidak sadarkan diri semenjak dioperasi seminggu yang lalu," jelas Cantika sedih.
Bagas lalu memeluk Cantika.
"Aku tahu kau pasti kuat menjalani ini."
Cantika menganggukkan kepalanya. Merasa tenang dalam pelukan pria itu.
"Sekarang kau dimana?" tanya Cantika.
"Aku menjadi direktur keuangan di sebuah perusahaan waralaba Lafa April."
"Kau yang menjadi direkturnya. Itu keren," celetuk Cantika. "Sudah sukses dong?"
"Kau juga jadi pembisnis wanita yang sukses. Aku suka melihatmu tampil di laman media sosial. Usaha Make up milikmu sedang berkembang dan usaha pokok ayahnya di bidang garmen pun masih bertahan. Aku salut padamu."
"Namun, apa yang diraih terkadang tidak sesuai dengan apa yang harus dikorbankan."
Cantika lalu menangis. Hanya Bagas yang dulu bisa membuat dia tenang dan nyaman. Nyatanya setelah Bagas tidak ada, dia tidak bisa menemukan orang yang bisa diajak bicara seperti mantannya ini.
"Apa maksudmu, Cantika."
"Aku bercerai dengan suamiku," kata Cantika.
"Aku turut prihatin dan sedih." Bagas menatapnya dengan penuh kasih sayang, sama seperti dulu.
Cantika ingin mengatakan jika dia rindu Bagas, tapi terdengar suara seorang wanita memanggil pria itu.
"Sayang, ternyata kau di sini. Aku mencarimu sedari tadi."
"Maaf, tadi aku keluar untuk merokok."
Wanita itu lalu melihat ke arah Cantika. Seperti sedang memahami sesuatu dengan yang dilihatnya.
"Kenalkan, ini Cantika."
"Oh, Mba Cantika yang dulunya adalah Puteri kecantikan dan ikut dalam ajang Puteri internasional dan meraih juara ke lima belas?"
Cantika mengangguk.
"Kenalkan, aku adalah Rain, suamiku sangat memuja Anda sehingga dulu poster Anda di simpan di kamarnya. Tapi sekarang sudah diganti dengan foto pernikahan kami."
Rain menyindir telak wanita yang berpelukan dengan suaminya. Dia tahu jika Cantika adakah wanita yan yang sangat dicintai oleh Bagas.
Cantika nampak terkejut dan kecewa. Ternyata Bagas sudah punya istri. Tadi kira dia bertemu Bagas karena Tuhan mengirimkannya sebagai malaikat pelipur laranya. Nyatanya, dia malah tambah kecewa.
"Bagas kau tidak mengatakan jika kau punya istri?"
"Aku belum punya kesempatan untuk bercerita tentang itu. Lagian sekarang kalian sudah saling mengenalkan diri kan jadi tidak perlu ku kenalkan lagi."
Rain tersenyum kecut.
"Sayang, ayo cepat dokter sedang menunggu kita," ajak Rain menarik tubuh Bagas.
"Maaf Cantika aku harus pergi. Lain kali aku akan menghubungimu lagi."
Cantika tersenyum sedih melihatnya, entah mengapa dia merasa menyesal telah menyiakan semua cinta Bagas untuknya.
Cantika menganggukkan kepala. Di saat yang sama nama ayahnya dipanggil oleh petugas apotik.
Setelah mengambil obat Cantika kembali ke ruangan ayahnya. Tanpa sengaja dia melewati poli kandungan. Dia melihat Bagas masuk ke ruangan itu bersama dengan istrinya.
Pikir Cantika pria itu sedang menunggui istrinya yang sedang cek kehamilan.
Nasibnya seakan terasa buruk sekali. Dia meneruskan perjalanannya dan berpapasan dengan ibunya.
"Cantika kau jaga Ayahmu, Ibu ada urusan penting yang tidak bisa ditinggalkan."
"Tapi Bu, aku juga ingin menemui Alisa."
"Alisa bersama dengan mantanmu. Dia pasti baik-baik saja."
Mendengar kata mantan dari ibunya membuat hati Cantika merasa sakit. Kaisar ya kini akan menjadi suami dari adiknya. Terasa lucu sekali kan?
Terdengar suara derap langkah beberapa orang di koridor rumah sakit itu. Otomatis Cantika melihat siapa yang datang. Dia menoleh. Betapa terkejutnya dia yang datang ternyata Kaisar dan Farida.
"Untuk apa anak jelong bin jahat itu datang kemari?"